Kaidah yang berkaitan dengan Tamyiz:
Kaidah yang berkaitan dengan Tamyiz:
1. Tamyiz harus nakirah
2. Tamyiz harus dari isim jamid
Berikut contoh-contoh penggunaan tamyiz dalam kalimat:
تَصَبَّبَ زَيْدٌ عَرَقًا
Zaid itu mengalir keringatnya
تَفَقَّأَ بَكْرٌ شَحْمًا
Bakr itu berlapis-lapis lemaknya
اِشْتَرَيْتُ عِشْرِينَ بَقَرَةً
Saya membeli 20 ekor sapi
زَيْدٌ أَكْرَمُ مِنْكَ أَبًا
Bapaknya Zaid lebih mulia darimu
(Terjemah asalnya, Zaid itu lebih mulia darimu, Bapaknya.
Artinya yang lebih mulia darimu itu Bapaknya Zaid bukan si Zaid.
Kalimat dengan tamyiz bisa digunakan untuk memalingkan
maksud dari objek pembicaraan yang sudah sebutkan di awal.
Artinya, bukan objek pembicaraannya yang dimaksud, melainkan
hal lain yang berkaitan dengan objek pembicaraan)
إِشْتَرَيْتُ لِتْرًا عَسْلًا
Saya membeli 1 liter madu
تَصَدَّقْتُ بِصَاعٍ تَمْرًا
Saya bersedekah 1 sha’ kurma kering
مَحْمُودٌ أَجْمَلُ مِنْكَ وَجْهًا
Wajah Zaid lebih tampan darimu
كَرْمَ زَيْدٌ نَسَبًا
Zaid itu telah mulia nasabnya
شَرِبْتُ كُوْبًا مَاءً
Saya telah meminum segelas air
