Saya Rofiatul Mukaromah, anak seorang petani dari sebuah desa kecil di pelosok Indonesia, tepatnya di Pati, Jawa Tengah.
Saya tumbuh di antara hamparan sawah dan ladang, di tempat di mana hujan dianggap berkah, dan buku adalah barang mewah. Namun di sanalah saya belajar bahwa mimpi tidak ditentukan oleh tempat lahir, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar.

Bagi banyak keluarga seperti kami, membeli buku asli sering kali terasa seperti mimpi. Harga satu buku nonfiksi bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp200.000, sementara gaji buruh harian di desa kami kadang hanya Rp40.000 per hari. Artinya, untuk membeli satu buku saja, seseorang harus bekerja berhari-hari itu pun jika kebutuhan makan dan biaya sekolah anak tidak lebih mendesak.
Maka, wajar jika banyak orang memilih menyerah sebelum sempat membaca.

Tapi setiap kali ada waktu luang, saya akan mencari buku kadang pinjaman dari guru, kadang dari perpustakaan sekolah yang koleksinya bisa dihitung jari. Dari sanalah saya sadar, yang membuat banyak anak tertinggal bukan hanya soal ekonomi, tetapi karena akses terhadap pengetahuan masih sangat timpang.

Dari kenyataan itulah saya semakin yakin: masalah terbesar bangsa ini bukan hanya kemiskinan materi, tapi kemiskinan pikiran kondisi ketika banyak orang ingin belajar, tapi terhalang oleh akses, harga, dan kesempatan.
Data UNESCO (meski sudah lama, dan sayangnya belum banyak berubah) menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%.
Angka itu menyedihkan, tapi bagi saya, justru menjadi panggilan hati untuk bergerak.

Saya percaya:

“Ketimpangan pendidikan tidak dimulai saat seseorang gagal masuk universitas tapi jauh sebelumnya, ketika anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengenal dunia lewat buku.”

Dengan keyakinan itulah, saya mendirikan rofiatulmaos.com sebuah situs sederhana yang saya bangun tanpa investor.
Situs ini lahir dari uang pribadi, hasil saya menabung Rp5.000 dari uang saku setiap hari sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga menjadi mahasiswa.

Sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI), saya hanya mendapat uang saku Rp5.000 per hari. Dari jumlah kecil itu, saya mengambil keputusan yang mungkin terdengar sederhana, tapi sangat berarti bagi hidup saya: saya tidak pernah jajan di sekolah.
Saya takut, kalau saya jajan, tabungan saya akan berkurang, dan impian kecil saya akan tertunda.
Jadi setiap hari, ketika teman-teman membeli jajanan di kantin, saya memilih menahan diri dan menyimpan uang itu. Sedikit demi sedikit, uang saku itu saya kumpulkan, saya simpan, dan saya jaga seolah itu benih masa depan saya.

Kebiasaan itu saya teruskan hingga menjadi mahasiswa. Bertahun-tahun saya menabung tanpa tahu pasti akan digunakan untuk apa. Tapi saya selalu yakin setiap rupiah yang disimpan dengan niat baik, akan menemukan tujuan besarnya sendiri.
Dan benar saja, dari tabungan kecil itu, lahirlah sesuatu yang besar bagi saya:
Sebuah situs bernama rofiatulmaos.com. untuk berbagi ilmu, semangat, dan kesempatan belajar kepada siapa pun yang membutuhkannya.

karena saya percaya, ilmu hanya punya nilai jika dibagikan.

Situs ini tidak lahir dari sponsor atau investor.
Tidak dari bantuan lembaga, bukan pula dari proyek besar siapa pun.
Situs ini lahir dari uang pribadi saya sendiri hasil ketekunan seorang anak petani yang menabung Rp5.000 setiap hari demi sebuah cita-cita: membuka jalan bagi lebih banyak orang untuk mengenal dunia lewat buku.

Tujuan saya sederhana, namun bermakna besar:
✅ Menyediakan ringkasan inti dari buku-buku berkualitas mulai dari pengembangan diri, keuangan, sejarah, hingga investasi secara gratis dan mudah dipahami.

✅ Menumbuhkan kembali budaya literasi satu ringkasan, satu pembaca, satu langkah kecil menuju bangsa yang lebih cerdas.

Dulu, saya punya keinginan yang sangat besar untuk membuat audiobook atau channel YouTube yang membahas buku.

Seperti Kak Ferry Irwandi saat membahas Animal Farm.

Kak Maudy Ayunda yang sering sekali berbicara tentang buku.

Pak Anies yang juga kerap membahas buku dan ide-ide menarik.

Dan masih banyak YouTuber lain yang merangkum atau mengupas inti dari sebuah buku.

Saya melihat mereka mampu membuat buku menjadi lebih hidup dan menarik.

Dalam hati, saya bergumam:

“Kayaknya seru juga kalau saya bisa membuat sesuatu seperti itu.” 😆

Tapi masalahnya…

SAYA TIDAK PERCAYA DIRI. 😭

Tidak percaya diri berbicara di depan kamera.
Tidak percaya diri mendengar suara sendiri.
Tidak percaya diri membuat video.

Akhirnya saya berpikir:

“Kalau tidak percaya diri untuk berbicara, ya sudah… SAYA MENULIS SAJA.” 😂

Dari situlah akhirnya saya mulai membuat rangkuman buku dalam bentuk tulisan.

Sampai akhirnya lahirlah https://rofiatulmaos.com/buku/

Saat membuat website pada tahun 2023, saya hanyalah lulusan MA.

Bukan sarjana.
Bukan dari jurusan IT.
Bukan dari keluarga yang paham teknologi.

Saya hanyalah anak petani dari Pati yang tidak punya apa-apa.

Tidak punya tim.
Tidak punya modal besar.
Tidak punya latar belakang membuat website.

Hanya berbekal laptop second yang hampir rusak. 💻

Dan ijazah MA yang sering dianggap kurang oleh sebagian orang.

Tapi saya percaya…

Bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Saya belajar semuanya sendiri dari YouTube.

Satu per satu video tutorial saya tonton.

Soal hosting, domain, WordPress, tema, plugin, html…

Semua saya pelajari dari nol tanpa guru.

Saya nekat belajar sendiri.
Saya nekat mencoba sendiri.
Saya nekat membangun semuanya dari nol.

Perjuangannya juga tidak mulus-mulus saja.

Kadang saya coba otak-atik sedikit saja, eh tampilan web-nya malah rusak parah.

Ada masanya sampai menangis berhari-hari saking frustrasinya. 😭🤣

Tapi ya begitu…

Dibenahi lagi, belajar lagi, sampai akhirnya bisa berjalan normal lagi.

Dan sejujurnya, tujuan saya bukan sekadar membuat rangkuman buku.

Saya ingin ikut membangun budaya membaca.

Karena saya pernah merasakan sendiri betapa sulitnya mencintai buku ketika akses dan lingkungan tidak mendukung.

Dulu, saya bukan tipe anak yang suka membaca buku.

Bukan karena malas semata, tapi memang dari rumah tidak pernah ada budaya membaca.

Di rumah saya tidak ada satupun buku terpajang di rak.

Bukan karena keluarga saya tidak peduli pendidikan, tapi karena buku itu mahal, dan turun-temurun memang tidak terpikir untuk membeli buku.

Bagaimana bisa suka membaca kalau bukunya saja tidak pernah ada di depan mata? 📚❌

Titik baliknya sederhana sekali.

Jam istirahat sekolah, teman saya mengajak ke perpustakaan.

Saya menolak mati-matian, tapi dia terus memaksa.

Akhirnya saya ikut, dan dia memberikan saya sebuah komik untuk dibaca.

Dari situlah, sedikit demi sedikit, saya mulai jatuh cinta pada buku.

Dari komik, saya lanjut ke buku pengetahuan, sejarah, sampai hal-hal random seperti buku tentang jahe.

Novel juga masuk daftar bacaan.

Saya baru sadar, ternyata membaca itu sangat menyenangkan kalau kita menemukan pintu masuknya yang tepat. 🚪✨

Nah, dari pengalaman itu saya berpikir:

Kalau saya saja bisa berubah seperti ini hanya karena tidak ada akses buku di rumah, berarti di luar sana pasti banyak sekali orang yang mengalami hal yang sama.

Ingin membaca, tapi terbentur harga buku yang tidak murah, atau lingkungan yang memang tidak punya budaya membaca.

Karena itulah saya ingin membuat buku terasa lebih dekat.

Rangkuman ini bukan untuk menggantikan buku aslinya.

Tapi menjadi pintu masuk.

Kalau setelah membaca rangkuman ini kamu jadi penasaran dan berpikir:

“Wah, ternyata isinya menarik. Saya mau baca buku aslinya.”

Menurut saya, itu sudah menjadi langkah kecil yang sangat berarti.

Kalau kamu pernah membaca rangkuman saya di rofiatulmaos, pasti bisa membedakan mana rangkuman dan mana buku asli.

Saya tidak menyalin isi buku mentah-mentah 100%.

Saya mengupas inti pembelajarannya, menggunakan penjelasan saya sendiri, menambahkan contoh, dan berusaha membuat konsep yang rumit menjadi lebih sederhana.

Saya ingin tetap menghargai penulis yang sudah menghabiskan waktu, tenaga, pengalaman, riset, dan pemikirannya untuk menghasilkan sebuah buku.

Saya ingin orang yang awalnya hanya membaca rangkuman…

Perlahan-lahan akhirnya tertarik untuk membuka bukunya.

Lalu membeli bukunya.

Lalu membaca buku yang lain.

Lalu menjadi terbiasa membaca.

Dan mungkin suatu hari nanti…

Membaca bukan lagi terasa sebagai beban.

Tapi menjadi bagian yang alami dalam kehidupan sehari-hari.

Karena menurut saya, membangun budaya membaca tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Bisa dimulai dari satu orang yang menemukan satu buku yang membuatnya penasaran. 📚

Lalu mungkin ada yang bertanya:

“Apakah ada iklan AdSense?”

Ada. 😭

Tapi setelah lebih dari 3 tahun lebih berjalan, penghasilannya baru sekitar Rp100 perak. 😂
penghasilan

Perlu diketahui, pendapatan AdSense dari website memang jauh lebih kecil dibandingkan YouTube. Jadi wajar kalau hasilnya masih sangat minim.

Saya tetap memasang iklan karena berharap suatu saat penghasilannya bisa membantu membiayai website ini.

Sampai sekarang, semua biaya masih saya tanggung sendiri dari kantong pribadi.

Ini bukan proyek besar.

Ini proyek nekat dari seorang anak desa dari Pati, yang belajar otodidak dari YouTube, dan percaya bahwa ilmu seharusnya bisa diakses oleh lebih banyak orang.

Saya juga belum memiliki biaya untuk beriklan atau mempromosikan website ini.

Jadi kalau berkenan, bantu saya untuk membagikannya ke keluarga atau teman-teman yang mungkin membutuhkan. 🙏

Satu share dari kamu mungkin terlihat sederhana.

Tapi bagi saya, itu bisa membantu rofiatulmaos menjangkau satu orang lagi.

Siapa tahu…

Orang itu jadi tertarik untuk membaca buku.

Dan dari satu orang itu, lahir satu pembaca baru. ❤️📚

Saya ingin ikut membangun budaya membaca.

Karena saya sering merenung…

Kalau budaya membaca tidak dibangun, bagaimana orang bisa tertarik untuk membeli buku?

Kalau orang belum terbiasa membaca, mungkin melihat buku setebal 300 halaman saja sudah merasa:

“Waduh, kapan selesainya?” 😭

Karena itulah saya ingin membuat buku terasa lebih dekat.

Rangkuman ini bukan untuk menggantikan buku aslinya.

Tapi menjadi pintu masuk.

Kalau setelah membaca rangkuman ini kamu jadi penasaran dan berpikir:

“Wah, ternyata isinya menarik. Saya mau baca buku aslinya.”

Menurut saya, itu sudah menjadi langkah kecil yang sangat berarti.

Kalau kamu pernah membaca rangkuman saya di rofiatulmaos, pasti bisa membedakan mana rangkuman dan mana buku asli.

Saya tidak menyalin isi buku mentah-mentah 100%.

Saya mengupas inti pembelajarannya, menggunakan penjelasan saya sendiri, menambahkan contoh, dan berusaha membuat konsep yang rumit menjadi lebih sederhana.

Saya ingin orang yang awalnya hanya membaca rangkuman…

Perlahan-lahan akhirnya tertarik untuk membuka bukunya.

Lalu membeli bukunya.

Lalu membaca buku yang lain.

Lalu menjadi terbiasa membaca.

Dan mungkin suatu hari nanti…

Membaca bukan lagi terasa sebagai beban.

Tapi menjadi bagian yang alami dalam kehidupan sehari-hari.

Karena menurut saya, membangun budaya membaca tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Bisa dimulai dari satu orang yang menemukan satu buku yang membuatnya penasaran. 📚

Oh iya, ke depannya di website ini aku juga akan membahas berbagai topik lain yang aku pelajari, bukan cuma buku, tapi juga hal-hal menarik seputar kehidupan, belajar, dan pengembangan diri.

Saya tahu, biaya hosting dan domain bukan hal kecil bagi anak petani seperti saya. Tapi setiap kali saya ingin menyerah, selalu ada pesan yang datang dari pelajar, mahasiswa, bahkan guru di pelosok. Salah satunya pernah menulis:

“haloo kakak, terima kasih ya atas tulisan artikelnya. Sangat membantu dan mudah dipahami. Mantap”

Kalimat sederhana itu menguatkan saya. Saat itulah saya sadar, yang saya lakukan bukan sekadar membuat situs, tapi membangun jembatan antara mereka yang haus ilmu dan dunia pengetahuan yang selama ini terasa jauh.

Saya tidak menganggap diri saya hebat. Saya hanya seseorang yang percaya bahwa literasi bisa mengubah nasib, sebagaimana membaca mengubah pandangan saya tentang hidup.
Saya percaya setiap anak desa, setiap pelajar yang merasa kecil, bisa menemukan dunia baru lewat buku asal ada yang membuka jalan.

Jika Anda juga percaya bahwa pengetahuan seharusnya bisa diakses semua orang, bahwa membaca bukan kemewahan tapi kebutuhan, saya mengundang Anda untuk ikut menjaga api kecil ini tetap menyala.
Setiap dukungan, sekecil apa pun, membantu agar situs ini tetap hidup dan terus berbagi ringkasan bagi mereka yang membutuhkan.
Anda dapat mendukung gerakan literasi ini melalui:
💚 Donasi di Sociabuzz: https://sociabuzz.com/rofiatulmaos/donate

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca kisah saya.
Mari bersama, kita jadikan membaca bukan sekadar hobi, tetapi cara untuk tumbuh, memahami, dan memperbaiki dunia.

Rofiatul Mukaromah
🌱 Anak petani. Penjaga nyala literasi.