buku

Cinta dan Pertanda Perang

Oasis Al-Fayoum dan Fatima

Oasis Al-Fayoum adalah dunia yang
sama sekali berbeda dari lautan pasir
yang baru saja mereka lintasi.
Pohon-pohon kurma menjulang
tinggi. Mata air mengalir jernih.
Rumah-rumah tanah liat berdiri dalam
keteduhan. Suara tawa anak-anak
terdengar di kejauhan. Setelah
berhari-hari di bawah terik matahari
gurun yang tanpa ampun, oasis ini
terasa seperti surga.

Aturan di oasis sangat ketat.
Oasis dianggap sebagai wilayah
netral, tempat berteduh yang aman
bagi para pelintas gurun. Tidak boleh
ada pertumpahan darah di sini. Tidak
boleh ada senjata terhunus. Siapa pun
yang melanggar aturan ini akan
dihukum mati. Keselamatan oasis
dijaga bersama oleh para pemimpin
suku yang tinggal di dalamnya.

Kafilah tempat Santiago dan pria
Inggris bergabung diperbolehkan
tinggal untuk beristirahat. Mereka
harus menunggu sampai kondisi
aman untuk melanjutkan perjalanan
melintasi sisa gurun.
Bisa berminggu-minggu.
Bisa berbulan-bulan.

Di sinilah, di tengah kedamaian
oasis yang tenang, Santiago
mengalami sesuatu yang tidak
pernah ia rencanakan. Sesuatu yang
tidak disebutkan dalam mimpinya
tentang Piramida. Sesuatu yang tidak
diceritakan Melkisedek tentang
Legenda Pribadi.

Suatu sore, Santiago pergi ke sumur
untuk mengambil air. Sumur adalah
pusat kehidupan di oasis. Di sanalah
orang-orang berkumpul, bertukar
kabar, dan bertemu satu sama lain.
Saat itulah matanya bertemu dengan
mata seorang gadis.

Gadis itu bernama Fatima. Ia berdiri
di dekat sumur, membawa kendi air.
Rambutnya hitam panjang tergerai
di bahu. Kulitnya berwarna gurun.
Tatapannya tenang dan dalam. Waktu
serasa berhenti. Santiago lupa pada
Piramida. Lupa pada harta karun.
Lupa pada seluruh dunia di luar oasis
ini.

Santiago jatuh cinta pada pandangan
pertama. Ini bukan cinta seperti yang
ia baca di buku-buku. Ini bukan cinta
yang penuh drama dan kata-kata
puitis. Ini adalah perasaan yang
sederhana namun mutlak. Ia tahu,
dengan keyakinan yang tidak bisa
dijelaskan dengan logika, bahwa
Fatima adalah belahan jiwanya.

Mereka mulai berbicara. Fatima
bercerita tentang kehidupannya
di oasis. Ia adalah perempuan gurun.
Ia sudah terbiasa dengan para
pelintas yang datang dan pergi.
Ia tahu bahwa laki-laki gurun
seringkali harus pergi untuk waktu
yang lama, atau bahkan tidak kembali
sama sekali. Ia telah menerima
kenyataan itu sejak kecil.

Santiago bercerita tentang mimpinya.
Tentang Piramida. Tentang harta
karun. Tentang perjalanannya yang
dimulai dari Spanyol dan
membawanya ke sini.
Fatima mendengarkan dengan
penuh perhatian. Ia tidak tertawa.
Ia tidak menganggap Santiago gila.
Ia hanya tersenyum.

Cinta yang tumbuh di antara mereka
membawa kebahagiaan sekaligus
kebingungan bagi Santiago. Untuk
pertama kalinya, ia meragukan
apakah ia harus melanjutkan
perjalanannya. Bukankah lebih baik
berhenti di sini? Bukankah lebih baik
tinggal di oasis, menikah dengan
Fatima, dan menjalani kehidupan
yang damai? Apa gunanya harta
karun di Piramida jika ia sudah
menemukan harta yang lebih
berharga di sini?

Santiago bergumul dengan pertanyaan
ini sendirian. Ia bahkan bertanya
kepada Fatima apakah ia sebaiknya
tetap tinggal. Jawaban Fatima
sederhana namun mengejutkan.
Ia berkata bahwa perempuan gurun
tidak meminta laki-lakinya untuk
tinggal. Jika Santiago berhenti
sekarang, ia akan selalu bertanya-tanya
tentang hartanya. Ia akan selalu
merasa ada yang hilang. Dan itu akan
meracuni cinta mereka perlahan-lahan.
Fatima ingin Santiago melanjutkan
perjalanannya. Ia akan menunggu.
Ia percaya bahwa jika takdir
menghendaki mereka bersatu,
mereka akan bersatu kembali.

Jawaban Fatima ini adalah bukti cinta
sejati yang pertama kali Santiago
pelajari. Cinta sejati tidak mengekang.
Cinta sejati tidak posesif. Cinta sejati
justru mendorong orang yang dicintai
untuk mewujudkan Legenda
Pribadinya, meskipun itu berarti
harus berpisah untuk sementara.

Pertanda Perang

Suatu hari, saat berjalan di sekitar
oasis sendirian, Santiago memutuskan
untuk menjelajah lebih jauh.
Ia meninggalkan keramaian dan
menuju ke tepi oasis yang lebih sunyi.
Di sana, ia berbaring di bawah pohon
kurma dan menatap langit.

Saat itulah ia melihat dua elang yang
sedang bertarung. Elang pertama
menukik tajam, sayapnya yang lebar
mengepak dengan garang. Elang
kedua membalas dengan paruh dan
cakarnya. Mereka berputar-putar
di udara, saling serang, saling hindar.
Bagi kebanyakan orang, ini hanyalah
pemandangan alam biasa.
Dua burung pemangsa yang berebut
wilayah atau makanan.

Tapi Santiago bukan lagi kebanyakan
orang. Ia teringat kata-kata Melkisedek
tentang Bahasa Dunia. Tentang
pertanda. Tentang bagaimana alam
semesta berbicara kepada mereka
yang bersedia mendengarkan.

Santiago menatap elang-elang itu lebih
dalam. Ia tidak hanya melihat dengan
matanya. Ia melihat dengan nalurinya.
Dan tiba-tiba, pandangan itu datang.

Dalam penglihatannya, ia tidak lagi
melihat dua elang. Ia melihat
pasukan bersenjata lengkap
menyerbu oasis
. Pedang terhunus.
Kuda-kuda meringkik. Tenda-tenda
terbakar. Orang-orang menjerit
ketakutan. Oasis yang damai ini
berubah menjadi medan perang.
Darah mengalir di pasir yang selama
ini dianggap netral dan aman.

Santiago tersentak kembali ke realitas.
Jantungnya berdebar kencang.
Keringat dingin membasahi dahinya.
Penglihatan itu begitu nyata, begitu
hidup, begitu mengerikan. Ia tidak
tahu apakah itu hanya imajinasinya
atau benar-benar pertanda. Tapi ia
tidak bisa mengabaikannya.

Di sinilah Santiago dihadapkan pada
dilema yang paling sulit. Ia hanyalah
seorang asing di oasis ini. Seorang
gembala dari Spanyol yang tidak
punya status, tidak punya pengaruh,
tidak punya senjata. Siapa yang akan
mempercayainya?
Jika ia menyampaikan penglihatannya
dan ternyata salah, ia bisa diusir.
Atau lebih buruk lagi, ia bisa dihukum
mati karena dianggap menyebarkan
kekacauan di wilayah netral.

Santiago teringat pada Urim dan
Tumim, dua batu pemberian
Melkisedek yang masih ia simpan.
Ia bisa menggunakan batu itu
sekarang. Ia bisa bertanya apakah ia
harus menyampaikan penglihatannya.
Batu putih berarti ya. Batu hitam
berarti tidak. Cukup mudah.

Tapi Santiago memilih untuk tidak
menggunakan batu-batu itu.
Ia teringat pesan Melkisedek:
“Cobalah untuk membuat
keputusanmu sendiri dulu.”
Dan Santiago sudah tahu apa
yang harus ia lakukan.

Ia berjalan menuju tenda para
pemimpin suku oasis. Langkahnya
berat. Jantungnya berdetak lebih
kencang dari sebelumnya. Ia meminta
izin untuk berbicara. Para kepala suku,
dengan jubah panjang dan sorban putih
mereka, menatap pemuda asing ini
dengan penuh selidik.

Santiago menceritakan penglihatannya.
Ia menceritakan dua elang yang
bertarung, dan gambarannya tentang
pasukan bersenjata yang akan
menyerbu oasis. Ia tidak berusaha
meyakinkan mereka dengan retorika.
Ia hanya menyampaikan apa yang ia
lihat dengan jujur dan rendah hati.

Para pemimpin suku berunding.
Suasana di dalam tenda tegang.
Beberapa dari mereka menganggap
Santiago hanyalah pemuda bodoh
yang terlalu banyak bermimpi.
Tapi yang lain, terutama kepala
suku tertua, memandang Santiago
dengan tatapan yang berbeda.
Tatapan seorang yang bijaksana,
yang tahu bahwa gurun berbicara
dengan caranya sendiri, dan
kadang-kadang ia berbicara melalui
manusia yang bersedia
mendengarkan.

Akhirnya, para pemimpin suku
mengambil keputusan. Mereka akan
menyiapkan pasukan. Mereka akan
berjaga-jaga. Dan mereka akan
menunggu. Jika penglihatan
Santiago benar, ia akan dihadiahi.
Ia akan menjadi pahlawan oasis.
Jika penglihatannya salah, ia akan
dibunuh. Ini adalah pertaruhan
terbesar dalam hidup Santiago.
Ia mempertaruhkan nyawanya demi
sebuah pertanda yang ia lihat di langit.

Malam itu, Santiago hampir tidak
bisa tidur. Ia memikirkan Fatima.
Ia memikirkan mimpinya yang belum
tercapai. Ia memikirkan betapa
anehnya hidup ini. Ia datang
ke oasis sebagai pencari harta karun,
lalu jatuh cinta, dan sekarang ia
mungkin akan mati besok pagi.
Apakah ini bagian dari Legenda
Pribadinya? Apakah inilah cara
alam semesta bekerja?

Di Ujung Pedang

Keesokan harinya, suasana di oasis
berubah. Para prajurit bersiaga
di pos-pos mereka. Ketegangan
menggantung di udara. Semua mata
menatap ke cakrawala, menunggu.

Dan kemudian, mereka datang.
Pasukan suku musuh muncul dari
balik bukit pasir, persis seperti yang
dilihat Santiago dalam
penglihatannya. Pedang terhunus.
Kuda-kuda berlari kencang. Teriakan
perang menggema. Oasis yang damai
berubah menjadi medan pertempuran.

Tetapi kali ini, oasis sudah siap. Para
prajurit oasis menyambut serangan
itu dengan perlawanan terorganisir.
Mereka berhasil mempertahankan
wilayah mereka. Darah tertumpah,
tapi tidak sebanyak yang akan terjadi
jika mereka tidak diperingatkan.

Santiago selamat. Penglihatannya
benar. Ia telah menyelamatkan oasis.

Para pemimpin suku menepati janji
mereka. Santiago tidak dibunuh.
Sebaliknya, ia dihormati. Ia diberi
hadiah berupa emas. Ia diundang
untuk tinggal di oasis sebagai tamu
kehormatan, bahkan sebagai calon
penasihat jika ia mau.

Tapi di tengah kemenangan dan
kehormatan ini, hati Santiago
bimbang. Ia mencintai Fatima.
Ia sudah menemukan tempat
di mana ia dihormati dan dicintai.
Bukankah ini saatnya untuk menetap?
Bukankah ini saatnya untuk
menikmati hasil kerja kerasnya dan
melupakan Piramida?

Sebelum ia bisa menjawab pertanyaan
ini untuk dirinya sendiri, seseorang
muncul. Seorang penunggang kuda
berjubah hitam yang menatapnya
dengan mata yang dalam dan
mengetahui segalanya. Penunggang
kuda itu adalah Sang Alkemis. Dan ia
datang untuk membawa Santiago
melanjutkan perjalanannya, menuju
Piramida, menuju harta karun, menuju
pemenuhan Legenda Pribadinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *