Pertemuan dengan Sang Alkemis
Sang Penunggang Kuda
Berjubah Hitam
Setelah pertempuran usai dan oasis
kembali tenang, Santiago bergulat
dengan pikirannya sendiri. Di satu
sisi, ia telah menjadi pahlawan.
Ia dihormati. Ia memiliki emas hasil
hadiah dari para kepala suku.
Ia memiliki Fatima, perempuan yang
dicintainya dan mencintainya
kembali. Oasis Al-Fayoum bisa
menjadi rumahnya. Ia bisa menetap
di sini, membangun kehidupan yang
damai dan makmur, dan melupakan
semua tentang Piramida dan harta
karun. Bukankah ini sudah cukup?
Bukankah ia sudah menemukan
kebahagiaannya?
Di sisi lain, ada suara kecil yang tidak
bisa ia abaikan. Suara yang
mengingatkannya pada mimpinya
yang berulang. Pada kata-kata
Melkisedek tentang Legenda Pribadi.
Pada perjalanan panjang yang sudah
ia tempuh sejauh ini. Jika ia berhenti
sekarang, bukankah semua itu
sia-sia?
Saat Santiago duduk termenung
di tepi oasis, memandangi air yang
tenang, seorang penunggang kuda
muncul dari kejauhan. Kuda itu
hitam pekat, besar, dan gagah.
Penunggangnya mengenakan jubah
hitam yang berkibar-kibar tertiup
angin gurun. Wajahnya tersembunyi
di balik kain, hanya matanya yang
terlihat. Mata yang dalam. Mata yang
seolah bisa menembus jiwa.
Penunggang kuda itu berhenti tepat
di depan Santiago. Ia tidak
memperkenalkan diri. Ia tidak
memberi salam basa-basi. Ia hanya
menatap Santiago dengan tatapan
yang begitu intens hingga Santiago
merasa seluruh hidupnya sedang
dibaca seperti buku yang terbuka.
Lalu pria itu berbicara. Suaranya
tenang namun penuh wibawa.
Ia menyebutkan hal-hal yang tidak
seharusnya diketahui oleh orang asing.
Ia tahu tentang Santiago. Tentang
mimpinya. Tentang perjalanannya
dari Spanyol. Tentang pertemuannya
dengan Melkisedek. Tentang
penglihatannya tentang perang.
Tentang keraguannya saat ini.
Santiago langsung tahu siapa pria ini.
Ini adalah Sang Alkemis. Sosok
legendaris yang selama ini dicari oleh
pria Inggris dengan buku-buku
tebalnya. Sosok yang konon bisa
mengubah logam biasa menjadi emas.
Sosok yang memegang rahasia Batu
Filsuf dan Elixir Kehidupan. Selama
ini Sang Alkemis hanyalah nama dalam
cerita, bayangan dalam legenda. Kini ia
berdiri di depan Santiago, hidup dan
nyata.
Sang Alkemis turun dari kudanya.
Ia duduk di samping Santiago dan
mulai berbicara. Bukan tentang
rumus-rumus rahasia atau
formula-formula kuno. Bukan tentang
cara mengubah timah menjadi emas.
Melainkan tentang sesuatu yang jauh
lebih penting.
Sang Alkemis menawarkan diri untuk
membimbing Santiago ke Piramida.
Ia akan menemaninya melintasi sisa
gurun yang berbahaya. Ia akan
mengajarinya hal-hal yang perlu
diketahui. Ini adalah tawaran yang
luar biasa. Pria Inggris itu sudah
menghabiskan bertahun-tahun
mencari Sang Alkemis, dan kini Sang
Alkemis justru yang menawarkan diri
kepada Santiago.
Tapi Santiago ragu. Keraguannya
bukan tentang bahaya di depan.
Keraguannya adalah tentang apa yang
harus ia tinggalkan di belakang. Fatima.
Santiago mencoba menjelaskan kepada
Sang Alkemis tentang cintanya.
Ia sudah menemukan seseorang yang
membuatnya bahagia. Ia sudah
menemukan tempat di mana ia
diterima. Bukankah itu sudah cukup?
Bukankah cinta adalah harta yang
lebih berharga dari emas?
Sang Alkemis mendengarkan dengan
sabar. Lalu ia memberikan jawaban
yang akan terus diingat Santiago
sepanjang hidupnya.
Ia berkata bahwa cinta sejati tidak
akan pernah menghalangi seseorang
dari Legenda Pribadinya. Justru
sebaliknya. Cinta sejati akan
mendorong orang yang dicintai untuk
terus maju, untuk mewujudkan
takdirnya, untuk menjadi versi terbaik
dari dirinya sendiri. Jika Fatima
adalah cinta sejati Santiago, ia tidak
akan memintanya untuk tinggal.
Ia akan menunggu. Dan jika takdir
menghendaki mereka bersatu kembali,
mereka akan bersatu kembali.
Tidak ada yang bisa mencegahnya.
Sang Alkemis juga mengingatkan
Santiago tentang sesuatu yang
penting. Jika Santiago berhenti
sekarang, jika ia menyerah pada
Legenda Pribadinya demi cinta,
ia akan menyesalinya seumur hidup.
Penyesalan itu akan meracuni cintanya.
Perlahan tapi pasti, ia akan mulai
menyalahkan Fatima atas mimpinya
yang tidak tercapai. Cinta yang tadinya
indah akan berubah menjadi kepahitan.
Ini bukanlah akhir yang diinginkan
siapa pun.
Santiago teringat pada kata-kata
Fatima sendiri. Fatima juga
mengatakan hal yang sama.
Ia tidak meminta Santiago untuk
tinggal. Ia justru mendorongnya untuk
pergi dan menyelesaikan
perjalanannya. Fatima mengerti
bahwa laki-laki gurun harus pergi.
Bahwa ada hal-hal yang lebih besar
dari sekadar kenyamanan dan
keamanan.
Dengan berat hati namun penuh
keyakinan, Santiago menerima
tawaran Sang Alkemis. Ia akan
melanjutkan perjalanannya
ke Piramida. Ia akan meninggalkan
Fatima, bukan karena ia tidak
mencintainya, tapi justru karena ia
sangat mencintainya. Karena cinta
sejati tidak mengekang. Cinta sejati
membebaskan.
Sang Alkemis tersenyum. Ia tahu
bahwa keputusan ini adalah ujian
terbesar bagi Santiago. Lebih besar
dari ujian ditipu di Tangier. Lebih
besar dari ujian bekerja setahun
di toko kristal. Lebih besar dari
ujian mempertaruhkan nyawa demi
penglihatan tentang perang. Karena
ujian yang paling sulit adalah
meninggalkan sesuatu yang kamu
cintai demi sesuatu yang kamu
percayai.
Mereka pun bersiap untuk berangkat.
Sang Alkemis berpesan bahwa
perjalanan ke depan tidak akan
mudah. Mereka akan melintasi
wilayah paling berbahaya di gurun.
Akan ada ujian yang lebih besar.
Tapi Santiago tidak mundur.
Ia sudah melewati terlalu banyak
rintangan untuk menyerah sekarang.
Sementara itu, pria Inggris itu
akhirnya bertemu dengan Sang
Alkemis juga. Tapi pertemuan mereka
singkat. Sang Alkemis hanya
memberinya satu nasihat sederhana:
berhentilah membaca buku dan
mulailah melakukan sesuatu.
Pria Inggris itu akhirnya menyadari
bahwa ia telah menghabiskan terlalu
banyak waktu untuk mencari
pengetahuan dari luar, alih-alih
mendengarkan hatinya sendiri.
Ia memutuskan untuk tetap tinggal
di oasis. Ia akan memulai
perjalanannya sendiri. Bukan
perjalanan mencari Sang Alkemis,
tapi perjalanan mencari dirinya
sendiri.
Keesokan paginya, saat matahari
terbit di ufuk gurun, Santiago dan
Sang Alkemis menaiki kuda mereka.
Fatima berdiri di kejauhan, menatap
Santiago dengan mata yang penuh
cinta dan kepercayaan. Ia tidak
menangis. Ia tersenyum. Ia tahu
bahwa laki-laki yang dicintainya
sedang melakukan apa yang harus
ia lakukan.
Santiago menoleh sekali lagi
ke arah oasis yang menghilang
di belakang. Ia tahu bahwa ia akan
kembali. Entah kapan. Tapi ia akan
kembali. Dan ketika ia kembali,
ia akan menjadi seseorang yang
telah mewujudkan Legenda
Pribadinya. Seseorang yang utuh.
Seseorang yang layak untuk cinta
Fatima.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
