buku

Pelajaran dari Gurun, Badai Pasir, dan Perang

Perjalanan Melintasi Gurun
dan Pelajaran Tentang Hati

Sang Alkemis dan Santiago
meninggalkan oasis Al-Fayoum.
Di belakang mereka, pohon-pohon
kurma perlahan mengecil dan akhirnya
lenyap ditelan cakrawala. Di depan
mereka, lautan pasir membentang
tanpa akhir. Perjalanan ini berbeda
dari perjalanan kafilah sebelumnya.
Kali ini hanya ada mereka berdua.
Dua penunggang kuda. Dua jiwa yang
melintasi keheningan gurun.

Sang Alkemis bukanlah tipe guru yang
banyak bicara. Ia tidak memberikan
ceramah panjang. Ia tidak membuka
buku dan menunjukkan diagram.
Ajarannya sederhana, langsung, dan
seringkali membingungkan pada
awalnya.

Pelajaran pertama yang ia berikan
adalah tentang mendengarkan hati.

“Kenapa kita harus mendengarkan
hati kita?” tanya Santiago suatu hari,
saat mereka beristirahat di bawah
terik matahari.

“Karena di sanalah harta karunmu
berada,” jawab Sang Alkemis.
“Dan karena hatimu tahu segalanya.
Ia berasal dari Jiwa Dunia. Suatu hari
nanti ia akan kembali ke sana.”

Santiago mencoba mendengarkan
hatinya. Awalnya, yang ia dengar
hanyalah ketakutan. Hatinya takut
akan bahaya di depan. Hatinya
merindukan Fatima. Hatinya
meragukan apakah semua ini sepadan.
Hatinya seringkali seperti anak kecil
yang rewel, mengeluh tentang segala
hal.

Sang Alkemis tersenyum mendengar
keluhan Santiago. Ia menjelaskan
bahwa memang seperti itulah hati
manusia. Hati kita seringkali takut.
Ia takut kehilangan. Ia takut gagal.
Ia takut mati. Tapi justru karena
itulah kita harus terus
mendengarkannya. Bukan untuk
menuruti semua ketakutannya, tapi
untuk memahaminya. Untuk
menenangkannya. Untuk
meyakinkannya bahwa perjalanan
ini layak ditempuh.

“Kamu tidak akan pernah bisa
membuat hatimu diam,” kata Sang
Alkemis. “Bahkan jika kamu
berpura-pura tidak
mendengarkannya, ia akan tetap ada
di dalam dadamu, mengulangi apa
yang ia pikirkan tentang kehidupan
dan dunia. Jadi lebih baik kamu
mendengarkannya.”

Pelajaran kedua adalah tentang
Jiwa Dunia, atau Soul of the World.

Sang Alkemis menjelaskan bahwa
segala sesuatu di alam semesta ini
terhubung. Batu, pasir, angin,
matahari, manusia, semuanya
memiliki jiwa yang sama. Jiwa Dunia.
Ketika kamu mendengarkan hatimu,
kamu sedang mendengarkan sepenggal
kecil dari Jiwa Dunia. Dan ketika
kamu cukup dalam mendengarkan,
kamu akan bisa berkomunikasi dengan
seluruh alam semesta.

“Orang-orang sudah lupa bagaimana
melakukan ini,” kata Sang Alkemis.
“Mereka terlalu sibuk dengan pikiran
mereka sendiri. Mereka tidak
mendengarkan lagi. Tapi kamu,
Santiago, kamu sudah belajar.
Kamu mendengarkan gurun. Kamu
mendengarkan angin. Kamu
mendengarkan elang. Itulah Bahasa
Dunia.”

Suatu hari, Sang Alkemis meminta
Santiago melakukan sesuatu yang aneh.
Ia menyuruhnya membenamkan
tangannya ke dalam pasir. Santiago
melakukannya. Pasir itu panas
di permukaan, tapi dingin di dalam.

“Apa yang kamu rasakan?”
tanya Sang Alkemis.

“Pasir,” jawab Santiago.
“Panas. Dingin. Butiran-butiran kecil.”

“Itu adalah Jiwa Dunia yang berbicara
kepadamu,” kata Sang Alkemis.
“Ia memberitahumu bahwa di balik
permukaan yang keras dan panas,
selalu ada kesejukan. Selalu ada
kehidupan. Bahkan gurun yang
tampak mati pun sebenarnya hidup.
Kamu hanya perlu tahu cara
mendengarkannya.”

Semakin jauh mereka melintasi
gurun, semakin Santiago merasa
bahwa ia berubah. Ia tidak lagi
menjadi gembala sederhana dari
Andalusia. Ia tidak lagi menjadi
karyawan toko kristal yang pandai
berjualan. Ia menjadi sesuatu
yang lain. Sesuatu yang lebih
terhubung dengan alam semesta.
Sesuatu yang lebih dekat dengan
Jiwanya sendiri.

Dihentikan oleh Pasukan Suku

Suatu sore, saat matahari mulai turun
di ufuk barat, Santiago dan Sang
Alkemis melihat kepulan debu
di kejauhan. Debu itu semakin lama
semakin besar. Semakin dekat. Suara
derap kuda mulai terdengar.

Mereka dihentikan oleh pasukan
suku bersenjata lengkap
.
Puluhan penunggang kuda
mengelilingi mereka. Pedang
terhunus. Wajah-wajah keras
di balik sorban putih. Mata-mata
yang penuh curiga.

Komandan pasukan itu maju
ke depan. Ia menatap Santiago dan
Sang Alkemis dengan pandangan
yang tidak ramah. Siapa mereka?
Dari mana mereka berasal?
Apa yang mereka lakukan
di wilayah ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan
dengan nada yang tidak meninggalkan
ruang untuk basa-basi.

Sang Alkemis tetap tenang.
Ia menjawab dengan singkat bahwa
mereka hanyalah pelintas yang
sedang dalam perjalanan.
Tapi jawaban ini tidak memuaskan
sang komandan. Dua orang asing
yang melintasi gurun sendirian,
tanpa kafilah, tanpa pengawal,
itu sangat mencurigakan. Bisa jadi
mereka adalah mata-mata dari
suku musuh.

Sang komandan memutuskan untuk
menahan mereka. Mereka akan
dibawa ke kamp pasukan. Di sana
nasib mereka akan ditentukan.

Di kamp pasukan, situasi semakin
genting. Para prajurit menatap
Santiago dan Sang Alkemis dengan
kebencian yang tidak terselubung.
Beberapa dari mereka sudah siap
menghunus pedang. Udara
dipenuhi dengan ketegangan yang
bisa meledak kapan saja.

Di sinilah Sang Alkemis melakukan
sesuatu yang mengejutkan.
Ia melangkah maju dan berbicara
kepada sang komandan dengan
suara yang tenang namun penuh
wibawa.

“Kami bukan mata-mata,” katanya.
“Kami hanyalah pelintas. Sebagai
bukti niat baik kami, aku akan
menyerahkan semua emas yang
kami miliki.”

Sang Alkemis lalu menyerahkan
seluruh emas Santiago. Emas hasil
hadiah dari para kepala suku oasis.
Emas yang telah dikumpulkan
Santiago dengan susah payah.
Semuanya. Diserahkan begitu saja
kepada sang komandan.

Santiago terkejut. Emas itu adalah
satu-satunya harta yang ia miliki.
Tanpanya, ia akan tiba di Piramida
dengan tangan kosong. Tapi ia tidak
bisa memprotes. Ia hanya bisa
menonton saat emasnya berpindah
tangan.

Ternyata itu belum cukup. Sang
Alkemis masih berbicara.
Ia menunjuk ke arah Santiago dan
berkata sesuatu yang membuat
jantung Santiago hampir berhenti
berdetak.

“Pemuda ini,” kata Sang Alkemis,
“adalah seorang alkemis. Ia bisa
mengubah dirinya menjadi angin.
Jika kalian memberinya waktu tiga
hari, ia akan menunjukkan
kemampuannya ini kepada kalian.”

Keheningan menyelimuti kamp.
Semua mata beralih ke Santiago.
Santiago sendiri merasa darahnya
membeku. Ia bukan alkemis.
Ia tidak tahu cara mengubah
apa pun menjadi emas, apalagi
mengubah dirinya sendiri menjadi
angin. Kenapa Sang Alkemis
mengatakan hal itu?

Sang komandan menatap Santiago
dengan mata yang dingin. “Tiga hari,”
katanya. “Jika pemuda ini gagal
menunjukkan kemampuannya,
kalian berdua akan mati.”

Pasukan suku itu pun menahan
mereka. Santiago dan Sang Alkemis
diberi tempat di pinggir kamp,
diawasi oleh para penjaga bersenjata.
Tiga hari. Hanya tiga hari. Setelah itu,
hidup atau mati.

Menjadi Angin

Malam pertama, Santiago tidak bisa
tidur. Ia duduk di atas pasir, menatap
bintang-bintang yang berkelap-kelip
di langit gurun, dan merasakan
ketakutan yang paling dalam yang
pernah ia rasakan. Ia akan mati.
Ia akan mati di gurun ini, jauh dari
Fatima, jauh dari Spanyol, tanpa
pernah menemukan harta karunnya.

Ia berpaling kepada Sang Alkemis
dengan mata yang penuh keputusasaan.
“Kenapa kamu mengatakan itu?
Aku tidak bisa menjadi angin!
Aku bahkan tidak tahu harus mulai
dari mana!”

Sang Alkemis menatapnya dengan
tenang. “Kamu takut. Itu wajar. Tapi
jangan biarkan ketakutan
menguasaimu. Selama dua hari
pertama, jangan lakukan apa pun.
Duduklah. Dengarkan gurun.
Dengarkan hatimu.
Dengarkan Jiwa Dunia.”

“Tapi aku tidak tahu caranya!”

“Kamu tahu,” jawab Sang Alkemis.
“Kamu hanya belum percaya bahwa
kamu tahu. Selama ini kamu telah
belajar Bahasa Dunia. Kamu telah
membaca pertanda. Kamu telah
mendengarkan hatimu. Semua itu
adalah persiapan untuk momen ini.”

Dua hari pertama berlalu dengan
lambat. Santiago duduk di atas pasir,
mencoba mendengarkan. Awalnya,
yang ia dengar hanyalah ketakutannya
sendiri. Suara di kepalanya yang
berteriak bahwa ini mustahil. Bahwa
ia akan mati. Bahwa ia telah gagal.

Tapi perlahan, ia mulai mendengarkan
lebih dalam. Ia mendengarkan angin
yang bertiup di antara bukit-bukit
pasir. Ia mendengarkan desiran
butiran pasir yang bergeser.
Ia mendengarkan detak jantungnya
sendiri yang perlahan menjadi lebih
tenang.

Ia teringat pada semua yang telah ia
pelajari. Tentang Bahasa Dunia yang
diajarkan Melkisedek. Tentang
mendengarkan hati yang diajarkan
Sang Alkemis. Tentang Jiwa Dunia
yang menghubungkan segala
sesuatu. Tentang cintanya pada
Fatima yang tidak mengekangnya,
tapi justru membebaskannya.

Hari ketiga tiba. Seluruh pasukan
suku berkumpul membentuk
lingkaran besar. Di tengahnya,
Santiago berdiri sendirian. Sang
komandan duduk di atas kudanya,
menatap dengan mata yang tidak
menunjukkan belas kasihan. Sang
Alkemis berdiri di pinggir, tenang
seperti biasanya.

Santiago menutup matanya.
Ia mulai berbicara. Bukan kepada
para prajurit yang mengelilinginya.
Bukan kepada sang komandan yang
menghakiminya. Tapi kepada alam
semesta itu sendiri.

Pertama, ia berbicara kepada
gurun. Ia menceritakan tentang
perjalanannya melintasi pasir.
Tentang bagaimana ia telah belajar
bahwa gurun bukanlah tempat yang
mati, melainkan tempat yang penuh
kehidupan tersembunyi. Ia meminta
gurun untuk meminjamkan pasirnya,
agar angin bisa mengubahnya
menjadi badai yang menunjukkan
kekuatan.

Lalu ia berbicara kepada angin.
Ia menceritakan tentang bagaimana
ia telah mendengarkan bisikan angin
selama perjalanannya. Angin yang
membawa pertanda. Angin yang
membawa kabar. Ia meminta angin
untuk bertiup dengan sekuat tenaga,
untuk menunjukkan bahwa ia dan
angin adalah bagian dari Jiwa Dunia
yang sama.

Angin mulai bertiup. Pelan pada
awalnya. Lalu semakin kencang.
Pasir mulai beterbangan. Para
prajurit mulai gelisah. Kuda-kuda
meringkik tidak tenang.

Kemudian Santiago berbicara kepada
matahari. Ia menceritakan tentang
cinta. Tentang bagaimana cinta telah
mengubahnya. Tentang bagaimana
cinta adalah kekuatan paling dahsyat
di alam semesta, kekuatan yang
menggerakkan bintang-bintang dan
menumbuhkan pohon-pohon.
Ia berbicara tentang Fatima. Tentang
bagaimana cintanya pada Fatima
telah memberinya kekuatan untuk
melanjutkan perjalanan, meskipun ia
harus meninggalkannya.

“Matahari,” kata Santiago,
“aku tahu kau bijaksana. Kau yang
memberi kehidupan pada segala
sesuatu. Tolong bantu aku. Bantu
aku mengubah diriku menjadi angin.”

Matahari tidak langsung menjawab.
Tapi kemudian, sebuah suara
terdengar di dalam diri Santiago.
Suara yang hangat dan dalam.
Matahari mengatakan bahwa ia telah
menyaksikan segala sesuatu dari
atas sana. Ia telah melihat banyak hal.
Tapi ada satu hal yang bahkan
matahari pun tidak sepenuhnya
memahaminya: cinta.

Santiago membuka matanya. Angin
bertiup semakin kencang. Pasir
berputar membentuk pusaran
raksasa. Langit menjadi gelap.
Para prajurit berpegangan satu
sama lain. Kuda-kuda berlarian
ketakutan. Sang komandan terpaku
di atas kudanya, tidak percaya pada
apa yang dilihatnya.

Santiago tidak lagi takut.
Ia menyadari sesuatu yang mendalam.
Ia menyadari bahwa dirinya, angin,
pasir, matahari, dan seluruh alam
semesta adalah bagian dari satu
jiwa yang sama. tidak ada yang mustahil.
Karena Tuhan adalah segala sesuatu,
dan segala sesuatu adalah Tuhan.

Angin berhenti secepat ia mulai.
Pasir kembali tenang. Langit kembali
biru. Santiago masih berdiri di tempat
yang sama, tidak berubah menjadi
angin secara harfiah. Tapi sesuatu telah
berubah secara fundamental. Ia telah
berkomunikasi dengan kekuatan alam.
Ia telah berbicara dalam Bahasa Dunia.

Sang komandan turun dari kudanya.
Wajahnya yang tadinya keras dan kejam
kini dipenuhi dengan kekaguman dan
sedikit ketakutan. Ia mendekati
Santiago dengan langkah pelan. Para
prajuritnya menyingkir memberi jalan.

“Kamu bebas,” kata sang komandan.
“Kalian berdua bebas. Pergilah.”

Ia tidak hanya membebaskan mereka.
Ia juga memerintahkan prajuritnya
untuk mengantar Santiago dan Sang
Alkemis sampai ke tepi wilayah mereka
dengan aman. Sebagai tanda hormat.
Sebagai pengakuan bahwa ia baru saja
menyaksikan sesuatu yang melampaui
pemahaman manusia biasa.

Sang Alkemis mendekati Santiago.
Ada senyum tipis di wajahnya.
Seolah-olah ia sudah tahu bahwa
semuanya akan berakhir seperti ini.

“Kamu sudah belajar pelajaran
terakhirmu,” katanya. “Bahwa ketika
kamu benar-benar menginginkan
sesuatu dan bersedia menyerahkan
seluruh dirimu untuk itu, alam
semesta akan bekerja sama denganmu.
Bukan sebagai hadiah. Tapi sebagai
pengakuan bahwa kamu dan alam
semesta adalah satu dan sama.”

Mereka melanjutkan perjalanan.
Di depan, Piramida sudah menunggu.
Harta karun sudah menunggu. Tapi
Santiago tahu bahwa harta yang
sesungguhnya bukanlah emas atau
permata. Harta yang sesungguhnya
adalah pengetahuan.
Dan dengan pengetahuan itu,
tidak ada yang mustahil.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Pelajaran dari Gurun:
Hati Lo Itu Kompas,
Bukan Musuh

Sang Alkemis dan Santiago
meninggalkan oasis. Di belakang
mereka, pohon kurma mengecil lalu
hilang. Di depan, cuma lautan pasir
tanpa ujung. Kali ini nggak ada kafilah,
cuma mereka berdua, dua penunggang
kuda, dua jiwa melintasi keheningan
absolut.

Sang Alkemis bukan guru yang
cerewet. Dia nggak buka buku, nggak
ngasih diagram. Ajarannya simpel,
langsung, dan kadang bikin kepala lo
pusing dulu sebelum akhirnya ngeh.

Pelajaran pertama yang dia lempar:
dengerin hati lo.

Suatu hari, pas istirahat di bawah
terik, Santiago nanya,
“Kenapa gue harus dengerin hati gue?”

Jawabannya cetar:
“Karena di sanalah harta karun lo
berada. Dan karena hati lo tahu
segalanya. Dia berasal dari Jiwa
Dunia, dan suatu hari bakal balik
lagi ke sana.”

Santiago pun nyoba. Tapi bukannya
dapet pencerahan, yang dia denger
malah ketakutan. Hatinya kayak anak
kecil rewel. Takut bahaya, kangen
Fatima, ngeraguin apakah semua
ini sepadan. Pokoknya ngeluh terus.

Sang Alkemis malah senyum-senyum.
Dia bilang, ya emang begitu
hati manusia. Sering takut. Takut
kehilangan, takut gagal, takut mati.
Tapi justru karena itu lo harus terus
dengerin. Bukan buat diturutin
semua ketakutannya, tapi buat
dipahami. Ditenangin. Diyakinkan
kalau perjalanan ini layak.

“Nggak akan pernah bisa lo bikin hati
lo diem,” kata Sang Alkemis.
“Bahkan kalau lo pura-pura nggak
denger, dia bakal terus ada di dalem
dada lo, ngulang-ngulang apa yang
dia pikirin soal dunia. Jadi mending
lo dengerin.”

Berikutnya, dia ngajarin soal
Jiwa Dunia. Bahwa semua hal
di alam semesta ini nyambung. Batu,
pasir, angin, matahari, manusia,
semuanya punya jiwa yang sama,
yaitu Jiwa Dunia. Waktu lo dengerin
hati lo, lo sebenarnya lagi dengerin
secuil dari Jiwa Dunia itu. Dan kalau
lo cukup dalam, lo bakal bisa ngobrol
sama seluruh alam.

“Orang-orang udah lupa gimana
caranya,” katanya. “Mereka sibuk sama
pikirannya sendiri. Tapi lo, Santiago,
lo udah belajar. Lo dengerin gurun,
lo dengerin angin, lo dengerin elang.
Itu Bahasa Dunia.”

Suatu kali, Sang Alkemis nyuruh
Santiago nyelupin tangannya ke pasir.
Panas di permukaan, tapi dingin
di dalem. “Apa yang lo rasa?”
tanyanya. “Pasir,” jawab Santiago.
“Panas, dingin, butiran kecil.”

“Itu Jiwa Dunia lagi ngomong sama
lo,” jelasnya. “Dia ngasih tahu
bahwa di balik permukaan yang
keras dan panas, selalu ada
kesejukan. Selalu ada kehidupan.
Gurun yang keliatan mati pun
sebenernya hidup. Lo cuma perlu
tahu cara dengerinnya.”

Makin jauh mereka melintasi gurun,
Santiago makin ngerasa dirinya
berubah. Dia bukan lagi gembala
sederhana dari Andalusia, bukan
lagi penjual andal dari toko kristal.
Dia berubah jadi sesuatu yang lebih
terhubung dengan alam semesta,
lebih dekat dengan jiwanya sendiri.

Dihadang Pasukan Suku:
Nyawa Cuma Digantung
Tiga Hari

Suatu sore, saat matahari mulai
turun, mereka lihat kepulan debu.
Makin lama makin gede. Suara
derap kuda makin dekat.

Mereka dihadang. Puluhan
penunggang kuda bersenjata
lengkap ngepung mereka. Pedang
terhunus, muka-muka keras di balik
sorban, mata penuh curiga.
Komandannya maju, natap mereka
dengan tatapan dingin. Siapa?
Dari mana? Mau apa?

Sang Alkemis tetap tenang.
Dia jawab singkat, mereka cuma
pelintas. Tapi jawaban itu nggak
mempan. Dua orang asing ngelintasi
gurun sendirian, tanpa kafilah, tanpa
pengawal? Ini sangat mencurigakan.
Bisa jadi mereka mata-mata.

Mereka pun ditahan dan dibawa
ke kamp pasukan. Suasana makin
genting. Beberapa prajurit udah
siap hunus pedang.

Di sinilah Sang Alkemis ngelakuin
sesuatu yang bikin Santiago nyaris
jantungan. Dia nyerahin seluruh
emas Santiago. Semua hadiah dari
kepala suku oasis, emas hasil susah
payah, diserahin begitu aja.
Santiago cuma bisa melongo.
Itu satu-satunya harta dia. Habis
itu, dia bakal nyampe Piramida
pake tangan kosong.

Tapi yang lebih gila, Sang Alkemis
belum selesai ngomong. Dia nunjuk
Santiago dan bilang,

“Pemuda ini adalah seorang alkemis.
Dia bisa mengubah dirinya menjadi
angin. Beri kami waktu tiga hari,
dan dia akan tunjukin kemampuannya.”

Mampus. Santiago langsung ngerasa
darahnya berhenti ngalir. Dia bukan
alkemis! Dia nggak ngerti cara
ngubah logam, apalagi ngubah
diri sendiri jadi angin!

Komandan itu natap Santiago
dengan mata dingin. “Tiga hari.
Kalau dia gagal, kalian berdua mati.”

Menjadi Angin

Malam pertama, Santiago nggak bisa
tidur. Dia duduk di pasir, natap
bintang, ngerasain ketakutan paling
dalem seumur hidupnya. Dia bakal
mati di gurun ini, jauh dari Fatima,
tanpa nemuin hartanya.

Dia nyamperin Sang Alkemis
dengan panik. “Kenapa lo ngomong
begitu?! Gue nggak bisa jadi angin!
Gue bahkan nggak tahu harus
mulai dari mana!”

Sang Alkemis cuma natap dia dengan
tenang. “Lo takut. Wajar. Tapi jangan
biarin rasa takut lo yang megang
kendali. Dua hari pertama, jangan
lakuin apa-apa. Duduk. Dengerin
gurun. Dengerin hati lo. Dengerin
Jiwa Dunia.”

Dua hari berlalu. Santiago duduk
diam di atas pasir, sementara
orang lain mungkin panik setengah
mati. Awalnya, yang dia denger
cuma teror di kepalanya sendiri.
Tapi perlahan, dia mulai nangkep
suara angin di antara bukit pasir,
desiran butiran pasir, detak
jantungnya yang makin lama
makin tenang.

Dia ingat semua pelajaran. Bahasa
Dunia dari Melkisedek.
Mendengarkan hati dari Sang
Alkemis. Jiwa Dunia yang
nyambungin segalanya. Dan
cintanya pada Fatima yang justru
ngebebasin, bukan ngekang.

Hari ketiga tiba. Semua prajurit
suku ngumpul bikin lingkaran
besar. Di tengahnya, Santiago
berdiri sendirian. Komandan
di atas kuda, natap tanpa ampun.
Sang Alkemis di pinggir, tenang
kayak biasa.

Santiago nutup mata. Dia mulai
ngomong. Bukan ke para prajurit,
bukan ke komandan. Tapi
ke alam semesta langsung.

Pertama, dia ngomong ke gurun.
Dia cerita soal perjalanannya,
soal bagaimana dia belajar bahwa
gurun ternyata penuh kehidupan.
Dia minta gurun minjemin
pasirnya buat bentuk badai.

Lalu dia ngomong ke angin.
Dia cerita soal bisikan-bisikan yang
udah dia denger sepanjang jalan,
soal pertanda-pertanda yang dibawa.
Dia minta angin buat bertiup sekuat
tenaga, buat nunjukin bahwa dia dan
angin adalah bagian dari Jiwa Dunia
yang sama.

Angin mulai bertiup. Pelan, lalu
makin kencang. Pasir mulai
beterbangan. Prajurit gelisah.
Kuda meringkik.

Terakhir, dia ngomong ke matahari.
Di sini dia ngomongin cinta. Tentang
bagaimana cinta udah ngubah dia,
tentang bagaimana cinta adalah
kekuatan paling dahsyat di alam
semesta. Dia cerita soal Fatima,
tentang bagaimana cintanya pada
Fatima justru ngasih dia kekuatan
buat terus jalan, meski harus
ninggalinya.

“Matahari, gue tahu lo bijak.
Lo yang ngasih kehidupan buat
semuanya. Tolong bantu gue.
Bantu gue ngubah diri gue jadi
angin.”

Awalnya matahari diem.
Tapi kemudian, sebuah suara hangat
dan dalem nyampe ke dalam diri
Santiago. Kata si matahari, dia udah
nyaksiin banyak hal dari atas. Tapi
ada satu hal yang bahkan
matahari pun nggak sepenuhnya
ngerti: cinta.

Matahari bilang, ada kekuatan yang
lebih gede dari dirinya, yang disebut
Jiwa Dunia.

Santiago buka mata. Angin makin
kenceng. Pasir berputar bikin
pusaran raksasa. Langit gelap.
Prajurit panik dan pegangan satu
sama lain. Kuda lari ketakutan.
Komandan terpaku.

Dan di tengah semua kekacauan itu,
Santiago sadar. Dia sadar bahwa
dirinya, angin, pasir, matahari, dan
seluruh alam semesta adalah bagian
dari satu jiwa yang sama. nggak ada
yang mustahil. Karena Tuhan adalah
segalanya, dan segalanya adalah Tuhan.

Angin berhenti secepat dia mulai.
Pasir balik tenang. Langit biru lagi.
Santiago masih berdiri di tempat yang
sama, nggak berubah jadi angin secara
harfiah. Tapi di dalam, semuanya
udah berubah total. Dia udah ngobrol
sama kekuatan alam. Dia udah
ngomong pake Bahasa Dunia.
Dia udah sadar bahwa Jiwa Tuhan
adalah jiwanya sendiri.

Komandan turun dari kuda dengan
wajah penuh kagum dan sedikit takut.
Dia deketin Santiago, lalu bilang,
“Lo bebas. Kalian berdua bebas. Pergi.”

Nggak cuma bebas, mereka malah
dikawal sampai perbatasan aman.
Sebagai tanda hormat. Sebagai
pengakuan bahwa mereka baru aja
nyaksiin sesuatu yang melampaui
akal manusia.

Sang Alkemis deketin Santiago sambil
nyengir tipis, seolah dia udah tahu
akhirnya bakal kayak gini.

“Lo udah belajar pelajaran terakhir lo,”
katanya. “Ketika lo bener-bener
nginginin sesuatu dan lo rela nyerahin
seluruh diri lo buat itu, alam semesta
bakal kerja bareng lo. Bukan sebagai
hadiah. Tapi sebagai pengakuan
bahwa lo dan alam semesta adalah
SATU.”

Sekarang, di depan, Piramida udah
nunggu. Harta karun udah nunggu.
Tapi Santiago tahu, harta yang
sebenarnya bukan emas atau permata.
Harta yang sebenarnya adalah
pengetahuan Dan dengan itu,
nggak ada yang mustahil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *