Menjadi Pemimpin, Cara Mengubah Orang Lain Tanpa Menyinggung atau Menimbulkan Kebencian
1. Mulailah dengan Pujian dan
Penghargaan yang Jujur
Jauh lebih mudah bagi seseorang
untuk mendengarkan hal-hal yang
tidak menyenangkan setelah
mereka mendengar pujian
tentang sisi baik mereka.
Tanpa pujian terlebih dahulu,
kritik akan terdengar seperti
serangan yang kejam dan
menyakitkan.
Ketika Anda memberikan pujian,
hindarilah pendekatan yang terlalu
formal dan kaku. Ini cukup umum
terjadi di dunia korporat.
Anda mungkin pernah mendengar
pola seperti ini: pujian formal
di awal, lalu poin kritik besar
di tengah, dan diakhiri dengan
pujian kecil lagi. Pola ini mudah
ditebak dan terasa tidak tulus.
Sebaliknya, berikanlah pujian yang
tulus dan spesifik tentang hal-hal
tertentu, bukan pujian yang bersifat
umum dan kabur. Teknik ini menjadi
jauh lebih efektif ketika orang
tersebut tahu bahwa Anda
sebenarnya sedang kecewa
dengan pekerjaannya dan datang
untuk menyampaikan keluhan.
Dalam situasi seperti ini, jika Anda
memberikan penghargaan yang
tulus terlebih dahulu, itu akan
menjadi kejutan besar dan akan
membuka hati orang itu untuk
menerima masukan Anda.
2. Tunjukkan Kesalahan
Orang Lain Secara Tidak
Langsung
Hindarilah serangan langsung.
Orang-orang biasanya tahu apa
yang telah mereka lakukan
salah. Menunjukkannya secara
langsung dan eksplisit hanya akan
menimbulkan perlawanan
dan sikap defensif.
Ada dua taktik yang bisa Anda
gunakan.
Taktik Pertama: Gantilah kata
“tetapi” dengan kata “dan” setelah
pujian tulus Anda. Mungkin Anda
pernah mendengar bahwa apa pun
yang diucapkan sebelum kata “tetapi”
biasanya tidak dihitung. Bandingkan
dua contoh berikut.
Contoh dengan “tetapi”:
“Kamu telah melakukan pekerjaan
yang sangat baik dengan bekerja
keras, tetapi kamu seharusnya bisa
mencegah kesalahan-kesalahan
ceroboh ini.”
Contoh dengan “dan”:
“Kamu telah melakukan pekerjaan
yang sangat baik dengan bekerja
keras, dan jika selanjutnya kamu
fokus membuat daftar periksa,
tingkat akurasi kamu akan
meningkat.”
Pendekatan yang kedua menghindari
perasaan negatif akan kegagalan.
Kalimatnya terasa membangun,
bukan menjatuhkan.
Taktik Kedua: Jika sebuah tugas
mulai berantakan, kerjakan
sendiri tugas itu, lalu tunjukkan
hasil kerjanya kepada orang
tersebut. Ini adalah cara halus
untuk menunjukkan standar yang
diharapkan tanpa harus mengomeli
atau menegur secara langsung.
Contohnya, John Wanamaker,
seorang pengusaha sukses, melihat
seorang pelanggan diabaikan
di meja kasir sementara para sales
sibuk mengobrol di sudut. Ia tidak
memarahi mereka. Ia langsung
melayani pelanggan itu sendiri,
lalu menyerahkan barang
belanjaannya kepada para sales
untuk dibungkus. Tindakan
diam-diam ini berbicara lebih
keras daripada omelan.
3. Ceritakan Kesalahan Anda
Sendiri Sebelum Mengkritik
Orang Lain
Mengakui kesalahan Anda sendiri
menunjukkan bahwa Anda
menyadari bahwa tugas itu
sulit dan bahwa kesalahan orang
tersebut adalah hal yang wajar
dan bisa dipahami. Ini secara
tidak langsung mendorong orang
itu untuk naik ke level Anda.
Dale Carnegie menyarankan:
jika Anda ingin mengubah orang lain
ke cara berpikir Anda, selalu
ceritakan kesalahan Anda
sendiri terlebih dahulu sebelum
mengkritik. Jangan pernah berkata,
“Kamu melakukan hal yang salah,”
atau “Seharusnya kamu tidak
melakukan itu.” Ini hanya akan
mendorong orang lain masuk
ke mode defensif, dan ia akan
berusaha membuktikan bahwa
dirinya benar dengan segala
penjelasan yang ada.
Sebaliknya, ceritakan dulu tentang
kesalahan Anda sendiri. Ceritakan
bagaimana perasaan Anda ketika
berada di posisi mereka dan betapa
salahnya Anda saat itu.
contoh orang lain sebagai
gambaran;
Saya pernah menerapkan ini.
Dulu, saya sering merekrut
mahasiswa untuk program magang
di sebuah perusahaan tempat saya
bekerja beberapa tahun lalu. Selama
proses wawancara, saya bisa melihat
bahwa banyak mahasiswa yang
tidak bisa mengekspresikan diri
mereka dengan baik karena
stres dan tegang. Saya yakin Anda
akrab dengan perasaan itu. Begitu
masuk ruang wawancara, tingkat IQ
Anda serasa turun ke angka dua puluh
dan Anda bahkan tidak bisa menjawab
pertanyaan sederhana.
Ini membuat pekerjaan saya sulit juga,
karena saya jadi susah membedakan
apakah mahasiswa itu memang tidak
tahu jawabannya, atau ia hanya tidak
bisa menjawab karena stres. Situasi
bertambah sulit ketika mahasiswanya
introvert dan pemalu.
Saya selalu mencoba membuat mereka
rileks dengan mengatakan bahwa ini
hanyalah obrolan santai dan mereka
tidak perlu stres. Namun, itu tidak
pernah berhasil.
Suatu hari, saya memutuskan untuk
memulai wawancara dengan
menceritakan kisah memalukan
saya sendiri saat melamar posisi
yang sama dengan yang sedang mereka
lamar. Saya bercerita bagaimana saya
tidak bisa menjawab pertanyaan
pewawancara ketika ia bertanya apakah
saya bisa menyebutkan satu platform
media sosial yang terkenal saat itu.
Saat itu, Facebook adalah platform
media sosial terbesar dan saya
menggunakannya setiap hari. Tapi,
saya tidak bisa menjawab pertanyaan
sesederhana itu. Pewawancara
menunggu beberapa detik untuk
jawaban saya, lalu dengan pelan
berkata, “Facebook.” Sampai hari ini,
saya masih tidak mengerti
bagaimana saya bisa tidak menjawab
pertanyaan semudah itu.
Cerita itu membuat para mahasiswa
tertawa dan merasa rileks karena
mereka bisa melihat bahwa saya juga
pernah berada di posisi mereka.
Mengakui kisah memalukan saya
sendiri membantu mereka merasa
nyaman. Ini menunjukkan bahwa
kita semua manusia dan kita
semua pernah membuat
kesalahan dalam situasi yang
menekan seperti ini.
4. Ajukan Pertanyaan,
Jangan Memberi Perintah
Mengajukan pertanyaan, alih-alih
memberi perintah, memiliki
banyak sekali manfaat.
Pertama, ini memungkinkan pasangan
atau rekan Anda untuk sampai pada
kesimpulannya sendiri secara
mandiri. Seperti yang sudah dibahas
sebelumnya, orang-orang lebih
menyukai ide mereka sendiri.
Kedua, ini memberikan kendali
kepada orang itu dan membuatnya
merasa penting. Alih-alih merasa
seperti sedang mengikuti perintah
orang lain, ia merasa sedang
mengikuti kemauannya sendiri.
Ketiga, ini merangsang kreativitas
rekan Anda. Bisa jadi, ide-ide baru
yang lebih baik justru akan
muncul dari pertanyaan Anda.
Berikut adalah beberapa pertanyaan
yang bisa Anda gunakan:
“Apakah menurutmu itu akan
berhasil?”“Apa pendapatmu tentang ini?”
“Bisakah kita memikirkan cara
lain untuk melakukannya?”
5. Biarkan Orang Lain
Menyelamatkan Muka
Orang-orang haus akan rasa
penting. Jika Anda meruntuhkan
rasa penting ini dengan kasar,
orang itu akan membenci Anda dan
akan menjadi jauh lebih sulit untuk
dipengaruhi di kemudian hari.
Biarkan mereka mempertahankan
harga diri mereka.
Buku ini tidak memberikan arahan
langkah demi langkah yang kaku
tentang cara umum untuk melakukan
ini. Namun, intinya berpusat pada
menjaga harga diri orang
tersebut dan apa yang mereka
pedulikan.
Contohnya, ketika seorang karyawan
melakukan kesalahan, ia meminta
maaf atas kesalahan itu dan berkata
bahwa ia akan menyelesaikan laporan
yang baru sebelum rapat berikutnya.
Alih-alih mengkritik kecerobohannya,
sang manajer berterima kasih
atas pekerjaannya, mengatakan
bahwa kesalahan itu bukanlah hal
yang aneh untuk proyek baru,
menyatakan kepercayaannya pada
karyawan itu, dan mengatakan
bahwa ia tahu karyawan itu telah
melakukan yang terbaik.
Pendekatan ini menyelamatkan muka
sang karyawan. Ia tidak dipermalukan
di depan orang lain, dan justru diberi
kepercayaan untuk memperbaiki
kesalahannya sendiri.
6. Pujilah Setiap Peningkatan
Sekecil Apa Pun
Memuji setiap peningkatan, sekecil
apa pun, akan menginspirasi
orang lain untuk terus
berkembang. Sekali lagi, ingatlah
bahwa manusia lapar akan rasa
penting seperti mereka lapar
akan makanan. Memberi mereka
sedikit pujian akan membuat mereka
lapar untuk mendapatkan lebih
banyak lagi.
Saya secara pribadi percaya pada
kekuatan taktik ini karena saya
telah menyaksikan sendiri
bagaimana ini bekerja dalam
pengalaman saya. Taktik ini telah
mengubah saya dari seorang
pemalu yang tidak komunikatif
menjadi seorang team leader
yang mengelola dua puluh lima
orang dan memberikan presentasi
di depan ratusan orang.
Jika Anda akan menerapkan taktik
ini, berikanlah pujian yang
spesifik. Pilih satu pencapaian
tertentu untuk dipuji, alih-alih
memberikan sanjungan yang
bersifat umum dan kabur.
Ini membuat pujian Anda terdengar
lebih tulus.
contoh orang lain sebagai
gambaran;
Saya ingat ketika saya memulai
pekerjaan kedua saya. Banyak kolega
di kantor memperingatkan saya untuk
berhati-hati dengan salah satu
karyawan di India. Mereka bercerita
bahwa ia cukup malas, membalas
email dengan sangat lambat, dan
kualitas pekerjaannya tidak bagus.
Beberapa kolega saya bahkan sudah
mengeluh kepada manajernya, tetapi
tidak banyak yang berubah.
Begitu saya mulai bekerja dengannya,
saya bisa melihat bahwa kolega saya
benar. Tetapi alih-alih berfokus pada
kesalahannya, saya memutuskan
untuk menerapkan prinsip Carnegie
dan berfokus pada hal-hal
positif kecil serta memujinya
dengan tulus.
Jadi, setiap kali saya melihat bahkan
sekadar pekerjaan kecil yang
baik dari sisinya, saya memujinya
untuk pekerjaan spesifik itu.
Kadang-kadang, saya bahkan
menambahkan manajernya
di carbon copy (CC) email pujian
tersebut.
Setelah beberapa waktu, jumlah
pekerjaan baiknya mulai meningkat.
Dan setelah tujuh minggu, ia menjadi
orang yang benar-benar berbeda.
Ia menjadi sangat proaktif dan
ramah dalam komunikasinya.
Perubahan ini tidak hanya terjadi
kepada saya, tetapi juga kepada
orang lain. Ia bahkan menambahkan
saya sebagai teman di Facebook,
sesuatu yang belum pernah terjadi
pada kolega saya sebelumnya.
7. Beri Orang Itu Reputasi Baik
yang Harus Dijaga
Jika Anda ingin meningkatkan sesuatu
dari diri seseorang, bersikaplah
seolah-olah sifat itu sudah
menjadi salah satu karakteristik
luar biasanya sejak awal.
Contohnya, katakanlah ketika Anda
sedang mengobrol dengan
teman-teman Anda, salah satu dari
mereka mengatakan bahwa ia
mengenal Anda sebagai orang yang
bisa menjaga rahasia dengan
baik dan bisa dipercaya dalam
kondisi apa pun. Teman-teman
Anda yang lain juga setuju dengan
pendapat itu.
Setelah mendengar ini, bahkan jika
sebenarnya Anda bukanlah orang
yang pandai menjaga rahasia,
Anda akan mulai bertingkah
seperti orang yang bisa.
Anda akan sangat berhati-hati agar
tidak kehilangan status itu.
Anda akan selalu berbicara dengan
sangat hati-hati agar tidak
membocorkan rahasia seseorang
dan kehilangan gelar berharga Anda.
Reputasi baik yang diberikan
orang lain memaksa Anda untuk
hidup sesuai dengan standar
itu.
8. Buatlah Kesalahan Tampak
Mudah untuk Diperbaiki
Jika Anda memberi tahu seseorang
bahwa mereka tidak memiliki
bakat dan tidak akan pernah mahir
dalam suatu hal, Anda telah
menghilangkan minat dan
harapan mereka untuk
berkembang.
Sebaliknya, katakan kepada mereka
bahwa mereka memiliki bakat
dan dasar yang tepat, mereka
hanya perlu berlatih untuk
menjadi lebih baik. Buatlah
langkah-langkah perbaikannya
terlihat mudah untuk
dilakukan.
Contohnya, inilah yang bisa
dikatakan oleh seorang instruktur
dansa kepada seorang penari yang
payah: “Kamu memiliki rasa
ritme yang alami. Kamu adalah
penari alami dari lahir.”
Dengan mengatakan ini, instruktur
tidak berbohong. Ia menemukan
satu hal kecil yang benar
(mungkin penari itu memang bisa
mengikuti irama),
lalu memperbesarnya untuk
membangun kepercayaan diri.
Dengan begitu, penari itu akan
merasa, “Mungkin aku memang
bisa melakukan ini,” dan akan lebih
bersemangat untuk mencoba lagi.
9. Buatlah Orang Lain Senang
Melakukan Hal yang Anda
Sarankan
Prinsip ini mirip dengan salah satu
prinsip sebelumnya, yaitu tentang
menjaga minat orang lain
dalam pikiran Anda.
Secara pribadi, saya berpikir bahwa
hanya berbicara tentang
kepentingan orang lain bisa
menimbulkan kecurigaan.
Misalnya, jika seseorang hanya
berbicara tentang kepentingan Anda
tanpa menyebut kepentingannya
sendiri sama sekali, Anda mungkin
akan curiga bahwa tidak semuanya
terungkap dengan jujur.
Salah satu cara untuk menghindari
kesan tidak tulus adalah dengan
mengakui sejak awal mengapa
Anda menginginkan tindakan itu
dilakukan. Katakan terus terang apa
keuntungan bagi Anda. Lalu, lanjutkan
dengan membicarakan manfaat
yang akan dinikmati oleh Anda
berdua.
Pendekatan ini terasa lebih jujur dan
transparan. Orang lain tidak akan
merasa sedang dimanipulasi. Mereka
akan melihat Anda sebagai rekan yang
jujur dan tahu bahwa Anda juga
manusia yang memiliki kebutuhan.
Dengan begitu, mereka akan jauh
lebih senang untuk melakukan apa
yang Anda sarankan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita masuk ke Part Four alias
bagian pamungkas dari buku How to
Win Friends and Influence People.
Ini adalah puncak dari semua ilmu
yang diajarin Dale Carnegie.
Di bagian ini, kita belajar gimana
caranya menjadi pemimpin yang
bisa mengubah orang lain, tanpa
bikin mereka tersinggung atau
benci setengah mati.
Ini penting banget, entah lo bos, ketua
tim, guru, atau bahkan cuma pasangan
yang pengen doi-nya berubah. Yuk kita
bedah sembilan jurus terakhirnya.
1. Mulai dengan Pujian,
Baru Kritik
Jauh lebih gampang buat orang nerima
hal buruk tentang dirinya, kalau
sebelumnya lo udah ngakuin hal
baiknya. Tanpa pujian, kritik lo cuma
kayak pukulan godam yang
menyakitkan.
Tapi ingat: Jangan pakai pola
“Pujian-Tetapi-Kritik-Pujian”
kayak template HRD yang kaku.
Itu ketebak banget dan gak tulus.
Contoh template yang gagal:
“Kamu karyawan yang baik,
TETAPI kinerjamu turun. Tapi
kamu tetap aset berharga kok.”
Begitu kata “tetapi” keluar, semua
pujian tadi langsung hangus.
Lakukan ini:
Kasih pujian yang spesifik dan
tulus. Apalagi kalau si anak buah
udah deg-degan karena tau lo mau
ngomelin dia. Begitu lo buka dengan
pujian tulus, dia bakal kaget dan
langsung nurunin benteng
pertahanannya. Baru deh lo bisa
masuk ke inti masalahnya dengan
lebih halus.
2. Tunjukin Kesalahan Secara
Gak Langsung. Jangan Tampar.
Orang itu biasanya tahu mereka
salah. Lo gak perlu teriak-teriak
nunjukin ke seluruh kantor.
Taktik #1: Ganti “TETAPI”
jadi “DAN”
❌ “Laporan lo bagus, tapi
grafiknya kacau.”✅ “Laporan lo bagus, dan
kalau grafiknya dirapiin dikit,
ini bakal jadi presentasi yang
sempurna.”
Kalimat pertama bikin dia down.
Kalimat kedua bikin dia semangat
buat revisi.
Taktik #2: Kasih Contoh
Diam-Diam
Ini senjata pamungkas buat
pemimpin. Kalau ada standar yang
gak terpenuhi, lo gak usah ngomel.
Lo lakuin sendiri, tunjukin hasilnya.
Contoh di buku: John Wanamaker,
bos toko, ngeliat pelanggan diabaikan
karena kasirnya ngobrol. Dia gak
marah. Dia langsung layani pelanggan
itu sendiri, lalu kasih barangnya
ke kasir buat dibungkusin. Gak ada
kata-kata. Tapi tindakan itu nusuk
dalem dan bikin mereka malu
sendiri. Itu leadership.
3. Ngaku Salah Dulu Sebelum
Ngoceh
Ini senjata rahasia banget. Sebelum
lo ngomelin orang, ceritain dulu
kebodohan lo sendiri.
Ini nunjukin kalau lo ngerti tugas itu
sulit, dan bikin kesalahan itu
manusiawi. Dia gak bakal ngerasa
dipermalukan.
contoh orang lain sebagai
gambaran;
4. Ajukan Pertanyaan,
Jangan Nyuruh
Gak ada orang yang suka diperintah.
Rasanya kayak jadi robot. Ganti
perintah lo dengan pertanyaan.
❌ “Cepet selesaiin itu laporan!”
✅ “Menurut lo, kira-kira
laporan ini bisa selesai kapan?”
Dengan bertanya, lo ngasih mereka
kendali. Mereka ngerasa dihargai,
bukan cuma disuruh-suruh. Mereka
juga jadi mikir sendiri. Dan hebatnya,
ide yang muncul dari kepala mereka
sendiri itu jauh lebih mereka cintai
daripada ide yang lo perintahkan.
Pertanyaan ajaib yang bisa lo pake:
“Gimana pendapat lo soal ini?”
“Kira-kira ada cara lain yang
lebih efektif gak ya?”
5. Biarkan Orang Lain
Menyelamatkan Muka
Ini krusial. Manusia punya harga diri.
Kalau lo hancurin harga diri mereka
di depan umum, mereka gak akan
lupa, dan mereka akan dendam
selamanya.
Sekalipun mereka salah total,
jangan permalukan mereka.
Biarkan mereka mundur dengan
terhormat.
Contohnya, ada karyawan yang salah
besar. Dia udah sadar, minta maaf,
dan berjanji bikin laporan baru.
Manajer yang baik gak akan
nambahin luka dengan bilang,
“Dasar ceroboh! Untung masih
gue maafin.”
Manajer yang baik akan bilang,
“Gak apa-apa, ini hal biasa
di proyek baru. Gue percaya kok
lo bisa beresin. Lo udah ngelakuin
yang terbaik.” Dengan begitu,
si karyawan keluar ruangan dengan
kepala tegak dan motivasi berlipat
buat memperbaiki diri.
6. Puji Kemajuan Sekecil
Apa Pun. Pelit Itu Dosa.
Ingat, manusia itu lapar pujian.
Kalau lo pelit, mereka akan kering
kerontang dan gak termotivasi.
Puji setiap peningkatan, sekecil
apa pun. Ini akan memicu mereka
buat ngelakuin lebih banyak lagi
demi dapet “candu” pujian dari lo.
Kuncinya: SPESIFIK. Jangan
cuma bilang “Good job!” Tapi bilang,
“Wah, cara lo nyusun tabel di slide
ketiga itu rapi banget. Bikin
gampang dibaca. Keren!” Pujian
spesifik itu terdengar tulus dan
mahal harganya.
contoh orang lain sebagai
gambaran;
Gue pernah ngalamin sendiri.
Ada rekan kerja di India yang
katanya pemalas, lambat, dan
kualitasnya payah. Semua orang
udah komplain. Gue masuk, dan
gue putuskan buat cari hal-hal kecil
yang dia lakukan dengan benar, lalu
gue puji secara spesifik. Kadang gue
CC-kan bosnya di email pujian itu.
Hasilnya dalam 7 minggu?
Dia berubah total. Jadi super
proaktif, ramah, dan komunikatif.
Dia bahkan nambahin gue sebagai
teman di Facebook
—padahal ke orang lain gak pernah.
Pujian yang tulus itu ampuh, gengs.
7. Kasih Reputasi Tinggi yang
Harus Dijaga
Kalau lo mau seseorang naik kelas,
perlakukan dia seolah-olah dia
sudah punya reputasi setinggi
itu.
Contoh, lo pengen anggota tim lo
lebih bisa jaga rahasia. Sesekali
di depan umum, lo bilang,
“Oh, soal itu, gue percaya banget
sama si A. Dia tuh orangnya bisa
dipercaya banget.”
Begitu dia denger lo ngasih stempel
“Dapat Dipercaya” ke dia, dia bakal
mati-matian jagain reputasi itu.
Dia gak mau ngecewain lo. Dia jadi
hati-hati banget. Reputasi baik
yang lo tempelkan itu adalah
standar yang akan dia hidupi.
8. Bikin Kesalahan Terlihat
Gampang Diperbaiki
Jangan pernah bilang ke orang,
“Lo tuh gak berbakat.” Itu artinya
lo udah ngebunuh harapan dia.
Bilang aja, “Lo tuh sebenernya punya
dasar yang bagus. Cuma kurang
latihan dikit aja di bagian ini.
Gampang kok, ntar juga bisa.”
Buat langkah perbaikannya terlihat
seringan kapas. Misal instruktur
dansa ngomong ke murid yang kaku:
“Kamu punya ritme alami.
Kamu penari alami.” Itu bukan
bohong, dia cuma nemuin satu hal
kecil yang bener (misal, muridnya
bisa ngetuk kaki sesuai irama) dan
memperbesarnya. Begitu muridnya
percaya, dia jadi berani dan
semangat mencoba lagi.
9. Bikin Orang Lain Senang
Mengerjakan Apa yang Lo Mau
Ini mahkota dari semuanya. Gimana
caranya nyuruh orang, tapi dia
ngerjainnya dengan gembira dan
sukarela?
Transparan itu penting. Jangan
cuma ngomongin untungnya buat dia.
Akui juga untungnya buat lo. Ini bikin
lo keliatan jujur, bukan manipulator.
Contoh: “Gue mau jujur, kalau proyek
ini sukses, karir gue kebantu banget.
Tapi gue yakin lo juga bakal dapat
exposure dan portofolio keren yang
bisa dipake buat naik gaji nanti. Jadi
kita sama-sama untung. Mau bantu
gue?”
Dengan ngomong gitu, lo gak keliatan
kayak serigala berbulu domba.
Lo keliatan kayak partner yang
jujur. Dia tau posisi lo, lo tau posisi
dia. Dan dia akan jauh lebih rela
membantu.
Nah, itu dia jurus-jurus kepemimpinan
dari Dale Carnegie. Intinya cuma satu:
Hormati manusia seutuhnya,
maka mereka akan berjalan
bersamamu, bahkan ke medan
perang sekalipun. Sekarang lo
udah punya toolkit lengkap. Dari
gak ngritik sampe bikin orang senang
disuruh. Siap jadi pemimpin idaman?
