Enam Cara Membuat Orang Lain Menyukai Anda
1. Tunjukkan Minat yang Tulus
kepada Orang Lain
Siapakah makhluk yang secara
universal dianggap ramah dan
mudah didekati oleh semua orang?
Jawabannya adalah
seekor anjing. (/kucing)
Anjing/kucing selalu gembira
melihat Anda dan bertingkah
seolah-olah Andalah hal paling
penting di dunianya. Mereka
tidak pernah pura-pura. Mereka
benar-benar tertarik pada kehadiran
Anda.
Menunjukkan minat kepada orang lain
membuat mereka merasa penting
dan dihargai. Dan semua dari kita
secara alami menyukai orang
yang mengagumi kita.
Kenyataannya, orang lain tidak
tertarik pada Anda atau saya.
Mereka tertarik pada diri mereka
sendiri, setiap hari, sepanjang hidup
mereka. Buktinya sederhana: ketika
Anda melihat foto bersama, wajah
siapa yang pertama kali Anda cari?
Tentu saja wajah Anda sendiri.
Ingatlah selalu: Anda akan jauh
lebih mudah mencari teman
dengan menjadi orang yang
tertarik pada mereka, daripada
berusaha keras membuat
mereka tertarik pada Anda.
Tanyakan kepada orang lain tentang
latar belakang mereka dan
tujuan hidup mereka. Ingatlah
masalah yang sedang mereka
hadapi, dan ketika Anda menemukan
solusinya, bagikan kepada mereka.
Berusahalah secara sadar untuk
berbicara dengan orang-orang yang
mungkin posisinya “di bawah” Anda
secara struktur, seperti karyawan
yang tidak melapor kepada Anda,
petugas kebersihan, atau pramusaji.
Untuk orang-orang yang posisinya
“di atas” Anda, tunjukkan minat
yang tulus pada mereka,
pekerjaan mereka, dan nasihat
mereka. Mereka akan merasa
penting ketika bisa mewariskan
rahasia kesuksesan mereka
kepada seseorang yang
mendengarkan dengan
sungguh-sungguh.
2. Tersenyumlah
Sebuah senyuman sederhana
mengandung pesan yang sangat kuat.
Pesan itu adalah:
“Saya menyukaimu. Kamu
membuat saya senang. Saya
bahagia bertemu denganmu.”
Ini adalah pesan niat baik yang
universal.
Dale Carnegie menceritakan kisah
seorang pialang saham di New York
bernama William B. Steinhardt.
Ia dikenal sebagai penggerutu
yang terkenal, jarang sekali
tersenyum dalam kehidupan pribadi
maupun profesionalnya. Suatu hari,
atas saran Carnegie, ia memutuskan
untuk mencoba sesuatu yang baru:
tersenyum lebih banyak.
Setiap pagi, ia memberikan
semangat pada dirinya sendiri
di depan cermin. Pada hari pertama
percobaannya, ia menyapa istrinya
dengan senyuman. Lalu ia tersenyum
pada penjaga pintu gedung
apartemennya, lalu pada kasir di loket
kereta bawah tanah, lalu pada para
pedagang di lantai bursa, dan
rekan-rekannya di kantor.
Apa hasilnya?
Orang-orang mulai membalas
senyumannya. Di rumah,
Steinhardt mengatakan bahwa ada
lebih banyak kebahagiaan
dalam dua bulan pertama
percobaan itu daripada
sepanjang tahun sebelumnya.
Lebih dari itu, di tempat kerja, ia
mendapati bahwa keluhan dan
masalah menjadi lebih mudah
ditangani. Pendapatannya pun
meningkat.
Singkatnya, ia menjadi orang yang
lebih kaya dan lebih bahagia.
Kisah ini membuktikan bahwa
sebuah senyuman bisa
berdampak sangat besar.
Jika seseorang yang baru kita temui
tersenyum kepada kita, kita
cenderung langsung menyukainya.
Senyuman seorang bayi membuat
hati kita hangat. Anjing yang
mengibaskan ekornya karena senang
melihat kita juga menimbulkan
perasaan yang sama.
Jadi, jika Anda ingin membuat diri
Anda langsung disukai oleh
seseorang, tunjukkan bahwa Anda
senang bertemu dengannya dengan
tersenyum. Ketika mereka melihat
betapa senangnya Anda bertemu
mereka, mereka pun tidak akan bisa
menahan diri untuk ikut merasa
senang melihat Anda.
3. Ingatlah Bahwa Nama
Seseorang Adalah Bunyi
Termanis dan Terpenting
dalam Bahasa Apa Pun
Nama adalah identitas seseorang.
Nama membuatnya unik di antara
miliaran orang lainnya.
Ini adalah prinsip yang dulu sering
saya abaikan. Setiap kali bertemu
orang baru, saya mendengar namanya,
dan lima detik kemudian langsung
lupa. Nanti, ketika saya
membutuhkan namanya, saya selalu
beralasan, “Maaf, saya payah sekali
soal nama. Bisa tolong sebutkan lagi
nama Anda?” Setelah membaca buku
ini, saya sadar bahwa itu adalah
kesalahan besar.
Ketika Anda mengingat nama
orang lain, itu menunjukkan bahwa
Anda benar-benar mendengarkan
dan peduli saat berbicara dengan
mereka. Menggunakan nama dapat
mengurangi jarak dan membuat
orang lain merasa lebih dekat
dengan Anda.
Sekarang, setiap kali bertemu
seseorang, saya benar-benar
memperhatikan detik-detik
pertama saat mereka
menyebutkan nama. Alih-alih
hanya berkata, “Senang bertemu
denganmu,” saya selalu berkata,
“Senang bertemu denganmu, Tom.”
Dengan mengulangi nama itu, saya
jadi lebih mudah mengingatnya.
Ditambah lagi, itu membuat
orang lain merasa terhubung
dengan saya.
Jadi, lain kali saat Anda pergi ke pusat
kebugaran atau tempat lain, jangan
hanya berkata, “Hai, apa kabar hari
ini?” Katakanlah, “Hai, Thomas, apa
kabar hari ini?” Anda akan mulai
melihat perbedaannya.
Menyebut nama adalah pujian yang
halus namun sangat diterima.
Melupakan nama atau salah
mengejanya adalah kesalahan yang
merusak. Itu menunjukkan bahwa
Anda tidak cukup peduli untuk
melakukannya dengan benar.
Orang-orang membayar banyak uang
agar nama mereka dikenang setelah
mereka meninggal. Mereka menamai
gedung, menamai taman, dan
sebagainya. Seorang pebisnis yang
tidak bisa mengingat nama klien
pentingnya sama saja dengan
mengatakan bahwa ia tidak peduli
pada sebagian besar bisnisnya.
Andrew Carnegie sendiri pernah ingin
merger dengan perusahaan mobil
bernama Pullman. Ketika Carnegie
menyebut bahwa perusahaan hasil
merger itu akan tetap bernama
Pullman, sang pemilik langsung
menjadi jauh lebih antusias.
Jika Anda kesulitan mengingat nama,
pastikan Anda menangkapnya saat
pertama kali disebutkan dalam
percakapan. Jangan ragu untuk
meminta diulang atau bahkan
dieja jika perlu. Lalu, ulangi nama
itu beberapa kali selama
percakapan. Terakhir, saat sendirian,
buatlah asosiasi tertentu di pikiran
Anda untuk mengingatnya lebih baik.
4. Jadilah Pendengar yang Baik.
Dorong Orang Lain untuk
Berbicara tentang Diri Mereka
Sendiri
Kehidupan seseorang adalah
kehidupan yang paling penting
bagi orang itu. Sakit kepala yang
ia alami lebih berarti baginya
daripada berita kelaparan yang
menewaskan jutaan orang
di tempat lain.
Membiarkan seseorang berbicara
membuat orang itu merasa penting
dan tersanjung. Setiap orang
pernah melalui apa yang mereka
anggap sebagai masa-masa sulit,
dan mereka suka
membicarakannya jika mereka
telah berhasil melewatinya.
Tanyakan tentang hal itu.
Lebih baik lagi, gabungkan prinsip ini
dengan prinsip sebelumnya: berikan
penghargaan dan pujian yang
tulus. Katakan kepada mereka betapa
menariknya kisah mereka dan
betapa Anda berharap memiliki
pengetahuan atau pengalaman
seperti mereka.
Ketika sedang bercakap-cakap,
kebanyakan orang terlalu sibuk
memikirkan apa yang ingin
mereka katakan selanjutnya
sehingga mereka nyaris tidak
mendengarkan lawan bicaranya
sama sekali. Mendengarkan dengan
sungguh-sungguh berarti melakukan
usaha sadar untuk memberikan
perhatian penuh kepada orang lain.
Manfaat dari pendekatan ini sangat
besar. Suatu kali, Carnegie menghadiri
pesta makan malam di New York dan
bertemu dengan seorang ahli botani.
Karena belum pernah bertemu
sebelumnya, Carnegie mendengarkan
ceritanya selama berjam-jam,
terpukau oleh deskripsi tentang
tanaman-tanaman eksotis dan
percobaan ilmiahnya.
Belakangan, ahli botani itu berkata
kepada tuan rumah bahwa Carnegie
adalah lawan bicara yang sangat
menarik. Padahal, Carnegie
hampir tidak mengatakan
apa pun. Ia hanya menjadi
pendengar yang baik dan
tertarik.
Sebelum membaca buku ini, saya
tidak pernah memperhatikan
prinsip ini. Setiap kali berbicara
dengan seseorang, saya selalu
menunggu orang itu selesai bicara
agar saya bisa mengganti topik
ke hal yang saya minati. Atau,
saat orang itu berbicara, saya terus
memikirkan hal-hal yang akan saya
katakan nanti. Ketika ia selesai, saya
langsung menumpahkan
informasi yang menurut saya
menarik, tanpa peduli apakah itu
relevan baginya atau tidak.
5. Bicaralah dalam Kerangka
Minat Orang Lain
Mari kita gunakan kembali
perumpamaan memancing. Mengapa
memancing dengan kue keju?
Pakailah umpan yang diinginkan
oleh ikan. Orang-orang biasanya
jauh lebih antusias membicarakan
topik yang mereka pedulikan
daripada topik yang hanya Anda
pedulikan.
Sebelum bertemu seseorang, cari
tahulah minat mereka secara
menyeluruh sehingga Anda
memiliki pengetahuan dasar tentang
bidang tersebut. Kenali tujuan
utama seseorang, lalu bicarakan
tentang bagaimana Anda dapat
membantu mereka mendekati
tujuan itu.
Contoh: tujuan saya dengan
blog/artikel ini adalah mencapai dua
ribu pembaca dalam empat bulan
ke depan. Jika saya mendatangi
Anda dan berkata, “Teman-teman,
tolong ikuti blog/artikel saya karena
saya punya target yang harus
dicapai,” Anda mungkin tidak akan
peduli. Itu tidak berarti apa-apa bagi
Anda.
Tetapi sebaliknya, jika saya bisa
memberi Anda informasi yang
berguna melalui blog/artikel ini,
menambah nilai positif dalam
hidup Anda, dan baru setelah itu
meminta Anda untuk mengikuti
agar bisa mendapat manfaat dari
blog/artikel saya berikutnya, maka
kemungkinan besar Anda akan
melakukannya.
Karena jika Anda membaca
blog/artikel ini, saya berasumsi
bahwa Anda tertarik pada
pengembangan diri, dan
membaca blog/artikel saya
selanjutnya mungkin menarik bagi
Anda. Perhatikan, saya bahkan
tidak menyebutkan target saya.
Saya hanya berbicara tentang
manfaat yang akan Anda
dapatkan.
6. Buatlah Orang Lain Merasa
Penting dan Lakukan dengan
Tulus
Hampir semua orang yang Anda
temui merasa lebih unggul dari
Anda dalam suatu hal. Biarkan
mereka menyadari, dengan cara
yang halus, bahwa Anda
menyadari pentingnya mereka.
Sebaliknya, hindari melakukan hal-hal
yang merendahkan orang lain dan
membuat mereka merasa kecil atau
tidak berarti.
Berikan pujian tanpa menginginkan
imbalan apa pun, semata-mata
untuk memancarkan kebahagiaan
dan mengangkat semangat
mereka. Prinsip ini sebenarnya
merupakan rangkuman dari
prinsip-prinsip sebelumnya,
jadi saya tidak akan menghabiskan
terlalu banyak waktu untuk
membahasnya.
Intinya sederhana:
Perlakukan setiap orang
seolah-olah mereka adalah orang
yang paling penting di ruangan
itu. Lakukan dengan tulus,
bukan karena Anda
menginginkan sesuatu dari
mereka.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, let’s go! Kita masuk
ke Part Two dari buku
fenomenalnya Dale Carnegie:
How to Win Friends and Influence
People. Kalau di Part One tadi kita
belajar fondasinya (jangan ngritik,
kasih apresiasi, dan pancing
minat orang), sekarang kita masuk
ke enam jurus sakti buat bikin
orang lain langsung suka sama lo.
Ini bukan jurus silat yang ribet.
Ini kebiasaan kecil yang dampaknya
luar biasa. Yuk kita bedah satu-satu.
1. Tunjukkan Minat yang Tulus
(Jangan Cuek Kayak Batu)
Lo tau gak makhluk apa yang paling
gampang disukai semua orang?
Anjing/kucing. Bukan geng motor,
bukan artis papan atas.
Kenapa? Karena setiap lo dateng, dia
kayak nyambut lo sebagai presiden.
Buntutnya goyang-goyang, mukanya
sumringah. Dia tulus seneng ngeliat
lo. Dia gak pura-pura.
Nah, itu kuncinya. Tunjukkan
minat yang tulus ke orang lain.
Kita sering kebalik. Kita pengen
orang lain tertarik sama kita, tapi kita
sendiri cuek bebek sama mereka.
Padahal faktanya: Orang lain tuh
gak peduli sama lo. Mereka
peduli sama diri mereka sendiri.
Coba deh buka galeri foto lo. Wajah
siapa yang pertama lo cari di foto
rame-rame? Pasti muka lo sendiri
kan?
Jadi, kalau lo mau orang suka sama
lo, lo duluan yang harus tertarik
sama mereka. Bukan pura-pura,
tapi beneran cari tahu.
Prakteknya gimana?
Tanya hobi mereka. Tanya lagi
lebih dalem. “Wah, main gitar?
Lagi belajar lagu apa nih?”Inget masalah yang pernah
mereka ceritain. Nanti lo
tanyain lagi, “Eh, gimana
urusan lo sama klien kemarin?
Lancar?”Jangan cuma baik sama bos.
Baik juga sama OB,
satpam, atau pelayan resto.
Tanya kabar mereka, panggil
namanya. Itu bentuk minat
yang tulus.
2. Tersenyumlah
(Bibir Lo Itu Magnet)
Senyum itu kayak notifikasi
“Teman Baru” di otak manusia.
Pesannya simpel: “Gue suka lo.
Lo bikin gue nyaman. Aman di sini.”
Carnegie cerita soal William
Steinhardt, seorang pialang saham
yang mukanya galak 24/7. Hidupnya
datar, istrinya bete, bisnisnya
gitu-gitu aja. Terus dia disaranin
buat senyum. Cuma senyum.
Apa yang dia lakuin? Setiap pagi
dia senyum di depan kaca
(agak gila dikit gak papa). Terus dia
senyum ke istrinya, ke penjaga lift,
ke kasir kereta, ke semua orang di kantor.
Hasilnya dalam dua bulan?
Rumah tangga lebih bahagia.
Masalah di kantor lebih
gampang diatasi.Penghasilannya naik.
Senyum itu viral sebelum ada viral.
Kalau lo senyum ke orang, 90% mereka
bakal balik senyum. Dan itu langsung
bikin lo keliatan ramah dan gampang
dideketin. Jadi, pas lo ketemu orang
baru, pasang muka “Gue seneng banget
ketemu lo.” Jangan pasang muka ”
Gue lagi nahan lapar.”
3. Ingat Nama (Jangan
“Eh… Siapa Namanya?”)
Ini penyakit kronis anak jaman
sekarang: Lupa nama 3 detik
setelah kenalan. Kita sibuk
mikirin mau ngomong apa, sampe
lupa nangkep nama dia.
Padahal, kata Carnegie, nama adalah
suara termanis buat telinga
manusia. Nama itu identitas.
Nama itu harga diri.
Kalau lo ingat nama orang dan
nyebutinnya pas ngobrol, itu kayak
ngasih pujian halus yang bikin dia
ngerasa “Wih, gue dianggep nih.”
Trik Biar Gak Lupa Nama:
Pas Kenalan, Fokus.
Begitu dia nyebut nama,
tangkep. Jangan sibuk
mikirin penampilan dia.Ulangin Langsung.
“Hai, seneng kenal lo, Tom.”
Jangan cuma “Hai, seneng
kenal.”Minta Dieja kalau Perlu.
“Wah, nama lo unik.
Tulisannya gimana?”
Ini nunjukin lo peduli.Bikin Asosiasi di Otak.
Tom yang brewokan?
Tom Brewok. Sari yang jago
masak? Sari Soto. (Ngawur
dikit gak papa, yang penting
nempel).
Andrew Carnegie (raja baja) aja bisa
merger perusahaan cuma gara-gara
dia janji pake nama perusahaan
partner bisnisnya (Pullman).
Nama itu powerful.
4. Jadi Pendengar yang Baik
(Bukan Cuma Nunggu Giliran
Ngomong)
Ini jurus pamungkas yang sering
dilupain. Kebanyakan orang tuh
“mendengarkan” sambil otaknya
sibuk nyusun kalimat buat nyaut.
Itu bukan dengerin, itu nungguin.
Padahal, orang tuh lebih suka
ngomong tentang diri sendiri
daripada dengerin lo ceramah.
Sakit kepalanya dia lebih penting
buat dia daripada berita kelaparan
di Afrika. Itu fakta.
Carnegie cerita, dia pernah di pesta
ketemu ahli botani. Dia sama sekali
gak ngerti tanaman. Tapi dia cuma
duduk, tatap mata, dan dengerin
dengan antusias selama berjam-jam.
Dia gak banyak ngomong.
Apa yang terjadi? Si ahli botani itu
bilang ke tuan rumah, “Carnegie itu
lawan bicara yang paling menarik
yang pernah gue temui.”
Lah? Dia kan cuma diem doang?
Ya, karena dia mendengarkan
dengan sungguh-sungguh.
Dia bikin si ahli botani ngerasa
penting dan pintar.
Praktek Jadi Pendengar Baik:
Taruh HP lo. Tatap mata.
Jangan potong pembicaraan.
Biarin dia kelar.Kasih respon sederhana:
“Oh gitu?”, “Wah, terus?”,
“Seru banget.”Tanya lanjutan dari cerita
dia. Itu bukti lo nyimak.
5. Bicara dalam Kerangka Minat
Mereka (Umpan Cacing Lagi!)
Ini lanjutan dari Chapter 3. Konsepnya
sama: Jangan jual kue keju
ke ikan. Kasih dia cacing.
Sebelum lo ketemu orang, cari tahu
dia suka apa. Stalking dikit gak
papa. Linkedin, Instagram, atau
tanya temennya.
Pas ngobrol, lo masuk ke dunianya.
Bukan dunia lo.
Contoh Pribadi (Ala Carnegie):
Misal gue punya channel YouTube
dan target 15.000 subscriber.
❌ Salah: “Teman-teman, subscribe
dong. Gue lagi kejar target nih.”
(Elo aja yang butuh).
✅ Benar: “Gue bikin video ini biar
lo makin jago komunikasi. Kalau lo
subscribe, lo gak bakal ketinggalan
tips-tips berikutnya yang bisa naikin
karir lo.” (Mereka yang butuh).
Kalau lo terus-terusan kasih nilai
tambah sesuai minat mereka, mereka
bakal dengan senang hati ngasih apa
yang lo mau.
6. Buat Orang Lain Merasa
Penting—Tulus
Ini sebenarnya rangkuman dari
semua jurus di atas. Intinya:
Perlakukan setiap orang seolah
dia adalah orang paling penting
di ruangan itu.
Semua orang yang lo temui hari ini
merasa lebih unggul dari lo dalam
satu hal. Mungkin dia lebih jago
masak, lebih fasih bahasa Inggris,
atau lebih rapi nyusun Excel. Akui
itu. Biarin dia sadar kalau lo
sadar akan kelebihannya.
Tapi ingat: TULUS. Jangan cuma
karena lo mau pinjam duit.
Cara Simpelnya:
Puji sekecil apa pun:
“Wah, rapi banget catatan lo.
Enak dilihat.”Minta nasihat:
“Menurut lo, gue harus gimana
ya ngadepin klien kayak gini?”
(Ini bikin dia ngerasa bijak).Ucapin terima kasih yang
beneran. Bukan cuma lewat.
Ini bukan soal menjilat. Ini soal
memancarkan energi positif bahwa
lo menghargai keberadaan orang lain.
Dan percaya deh, orang yang merasa
dihargai akan selalu mengingat lo
dengan hangat.
*Nah, itu dia enam jurus sakti dari
Dale Carnegie. Gampang kan? Intinya
cuma satu: Fokus ke orang lain,
bukan ke diri sendiri.
Coba praktekin satu per satu. Mulai
dari senyum ke satpam besok pagi,
atau ingat nama barista di kedai kopi
langganan lo
