Buku How to Win Friends and Influence People Dale Carnegie, Jangan Mengkritik, Menghakimi, atau Mengeluh

Dale Carnegie
Ini adalah prinsip pertama dan paling
mendasar yang diajarkan Dale
Carnegie dalam bukunya. Prinsip ini
sederhana namun sangat kuat:
Jangan mengkritik, jangan
menghakimi, dan jangan
mengeluh.
Mengapa? Karena manusia memiliki
sifat dasar yang unik. Orang tidak
pernah mengkritik diri mereka
sendiri untuk kesalahan apa pun,
tidak peduli seberapa besar kesalahan
yang telah mereka buat. Sekalipun
mereka tahu bahwa mereka salah,
pikiran mereka akan otomatis
mencari pembenaran.
Ingatlah selalu bahwa manusia adalah
makhluk yang digerakkan oleh
emosi, bukan semata-mata oleh logika.
Tindakan mereka dimotivasi oleh ego
dan harga diri. Ketika Anda
mengkritik seseorang, Anda secara
langsung menyerang harga diri
dan rasa penting mereka.
Akibatnya, mereka hampir selalu akan
bersikap defensif dan mencari cara
untuk merasionalisasi tindakan
mereka.
Bahkan dalam kasus yang paling
ekstrem sekalipun, seperti anggota
keluarga dari seorang penjahat, reaksi
pertama mereka seringkali adalah
menyangkal. Mereka akan
menyalahkan sistem, lingkungan,
atau keadaan, alih-alih mengakui
kesalahan orang yang mereka sayangi.
Ini adalah bukti betapa kuatnya
dorongan manusia untuk melindungi
ego.
Kritik itu menyakitkan. Luka akibat
kritik bisa menimbulkan dendam
yang bertahan seumur hidup.
Seseorang mungkin akan melupakan
pujian yang Anda berikan, tetapi
mereka tidak akan pernah melupakan
penghinaan atau kritik pedas yang
Anda lontarkan.
Pelajaran dari Bob Hoover:
Teladan Pengampunan dan
Kepercayaan
Untuk menggambarkan prinsip ini,
Dale Carnegie menceritakan kisah
nyata tentang Bob Hoover, seorang
pilot uji coba pesawat terbang yang
sangat terkenal.
Suatu hari, Bob Hoover sedang
menerbangkan pesawatnya pulang
dari sebuah pertunjukan udara
di San Diego. Tiba-tiba, di tengah
penerbangan, kedua mesin
pesawatnya mati total. Situasi
sangat genting dan nyawa semua
orang di dalam pesawat terancam.
Dengan keahlian terbang yang luar
biasa, Hoover berhasil melakukan
manuver darurat dan mendaratkan
pesawat itu dengan selamat.
Sayangnya, pesawat itu mengalami
kerusakan parah akibat pendaratan
darurat tersebut.
Setelah diselidiki, penyebab dari
kegagalan mesin yang mengerikan itu
ternyata adalah sebuah kesalahan
manusia yang sangat fatal. Pesawat
baling-baling peninggalan Perang
Dunia II milik Hoover itu secara
tidak sengaja diisi dengan bahan
bakar jet, bukan bahan bakar yang
seharusnya.
Setibanya kembali di bandara, Hoover
melihat mekanik muda yang telah
melakukan kesalahan itu. Pemuda itu
berdiri sambil menangis. Ia tahu
betapa marahnya Hoover seharusnya.
Pesawat mahalnya hancur, dan nyawa
tiga orang di dalamnya hampir
melayang karena kesalahannya.
Lalu, apa yang dilakukan Bob Hoover?
Apakah ia berteriak padanya?
Apakah ia memarahi dan mengkritik
habis-habisan?
Apakah ia memecatnya saat itu juga?
Sama sekali tidak.
Hoover mendekati mekanik muda itu.
Alih-alih marah, Hoover justru
mengatakan sesuatu yang
mengejutkan. Ia berkata bahwa untuk
menunjukkan kepercayaannya
bahwa sang mekanik telah
belajar dari kesalahannya,
ia ingin mekanik yang sama itu
untuk menyervis pesawatnya
lagi keesokan harinya.
Mengapa Hoover Bersikap
Seperti Itu?
Alasan di balik kebaikan hati Bob
Hoover mungkin adalah karena ia
memahami sebuah prinsip psikologi
yang telah ditemukan oleh
B.F. Skinner jauh sebelumnya.
Skinner, seorang psikolog terkenal,
menemukan bahwa hewan yang
diberi penghargaan untuk
perilaku baik akan belajar jauh
lebih efektif daripada hewan
yang dihukum karena perilaku
buruknya.
Hal yang sama berlaku untuk
manusia. Mengkritik orang tidak
akan mendorong mereka untuk
mengubah perilakunya. Mengapa?
Karena manusia tidak terutama
digerakkan oleh akal sehat,
melainkan oleh emosi.
Kritik hanya akan melukai perasaan
mereka dan membuat mereka
menutup diri.
Siapa pun yang lemah mentalnya
bisa mengkritik, menghakimi,
atau mengeluh. Itu adalah tindakan
yang paling mudah dilakukan. Tetapi
dibutuhkan karakter yang kuat
dan kedewasaan sejati untuk
bisa memahami dan memaafkan.
Hoover memilih untuk tidak
menambah luka pada mekanik muda
yang sudah hancur hatinya. Sebaliknya,
ia memberikan kepercayaan dan
kesempatan kedua.
Tindakannya itu tidak hanya
menyelamatkan karier mekanik muda
tersebut, tetapi juga menciptakan
loyalitas dan rasa hormat yang
mendalam yang akan dikenang
seumur hidup.
Inilah inti dari Bab Pertama: Hindari
kritik. Bangunlah orang lain,
jangan hancurkan mereka.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Ini tuh kayak kitab sucinya anak
marketing, anak kantoran, atau
siapa pun yang pengen hidupnya
gampang bergaul dan disukai banyak
orang. Kita mulai dari prinsip paling
pertama dan paling dasar yang sering
banget kita langgar tiap hari, apalagi
di kolom komentar medsos.
Judul prinsip pertamanya simpel
banget: Jangan Mengkritik,
Menghakimi, atau Mengeluh.
Kedengerannya kayak nasihat
emak ya? Tapi coba deh renungin.
Ini sebenernya susah banget dilakuin,
apalagi di era di mana semua orang
ngerasa paling benar dan jempol
udah gatel pengen nyerang.
Kenapa Sih Kita Gak Boleh
Ngritik? Kan Dia Salah?
Nah, ini dia inti pemikiran Dale
Carnegie. Lo boleh aja ngerasa orang
lain salah. Tapi coba deh inget-inget:
Kapan terakhir kali lo ngaku
salah pas lagi dikritik pedes
di depan umum?
Hampir gak pernah kan? Pasti yang
ada di otak lo tuh langsung nyari
seribu alesan buat ngebela diri.
“Iya gue telat, tapi kan macet.”
“Iya gue salah ngomong,
tapi kan dia yang mulai duluan.”
Manusia tuh digerakin sama
emosi, bukan logika. Tindakan kita
dimotivasi sama ego dan harga diri.
Begitu lo ngritik seseorang, lo tuh
kayak lagi nancepin paku ke balon
harga dirinya. Dia bakal langsung
meletus dan defensif. Bukannya dia
dengerin lo, dia malah sibuk nyari
cara buat ngebelain dirinya sendiri.
Bahkan penjahat kelas kakap aja, pas
ditangkep, keluarganya sering bilang,
“Anak saya korban lingkungan, Pak.”
Mereka gak pernah ngaku,
“Iya, anak saya memang brengsek.”
Itu bukti betapa kuatnya manusia
menyangkal demi melindungi ego.
Inget ini: Kritik itu sakit. Luka fisik
bisa sembuh, tapi luka karena
dikata-katain itu bisa kebawa sampe
tua. Orang mungkin lupa lo pernah
muji dia, tapi dia gak akan pernah
lupa pas lo bikin dia malu atau sakit
hati.
Pelajaran Keren dari Pilot
Legendaris: Bob Hoover
Di buku ini, Carnegie cerita soal Bob
Hoover, seorang pilot uji coba
pesawat yang jago banget.
Suatu hari, Hoover lagi terbang bawa
pesawat tua peninggalan Perang
Dunia II. Tiba-tiba di tengah terbang,
DUA MESIN PESAWAT MATI
TOTAL. Bayangin seremnya. Nyawa
dia dan penumpang lain di ujung
tanduk.
Dengan skill dewa, Hoover berhasil
mendaratkan pesawat itu secara
darurat. Gak ada yang meninggal.
Tapi pesawatnya hancur lumayan
parah.
Setelah diinvestigasi, ketauan deh
penyebabnya. Ternyata seorang
mekanik muda yang ngisi bahan
bakar pesawat itu melakukan
kesalahan fatal. Dia ngisi pesawat itu
pake bahan bakar jet, bukan bahan
bakar yang seharusnya buat pesawat
baling-baling tua itu.
Pas Hoover balik ke bandara, dia liat
mekanik muda itu berdiri sambil
nangis bombay. Dia tau dia udah bikin
kesalahan gede. Pesawat mahal
hancur, nyawa orang hampir melayang.
Dia pasti udah siap-siap dimaki-maki,
dipecat, atau dituntut.
Apa yang Hoover lakuin?
Apakah dia ngamuk?
Enggak.
Apakah dia ngritik habis-habisan?
Enggak.
Apakah dia mecatiin dia saat itu juga?
Enggak.
Hoover malah ngelakuin hal yang gak
masuk akal. Dia deketin mekanik muda
itu, dan dia bilang: “Untuk nunjukin
kalau gue percaya lo udah belajar
dari kesalahan ini, gue mau
lo lagi yang servis pesawat gue
besok pagi.”
MIND BLOWN.
Kenapa Hoover Gak Ngamuk?
Ini Ilmunya.
Hoover paham banget sama prinsip
psikologi yang udah ditemuin
B.F. Skinner. Penelitian Skinner
nunjukin kalau hewan (dan manusia)
itu lebih cepet belajar dari
penghargaan daripada dari
hukuman.
Kalau lo cuma ngritik dan
marah-marah, orang itu gak akan
berubah. Dia cuma akan jadi takut,
benci, atau nyari cara buat balas
dendam. Tapi kalau lo kasih
kepercayaan di saat dia lagi
hancur-hancurnya, lo baru aja
ngebangun loyalitas seumur
hidup.
Ini fakta pahitnya: Orang lemah
gampang banget ngritik, nge-judge,
dan ngeluh. Itu refleks alami. Tinggal
buka mulut, nyinyir, selesai. Tapi
dibutuhkan karakter yang kuat
dan mental yang dewasa buat
bisa memahami dan memaafkan.
Hoover memilih buat gak nambahin
luka di hati mekanik muda yang udah
hancur. Dia kasih kesempatan kedua.
Dan lo tau hasilnya? Mekanik itu
pasti jadi orang yang paling setia dan
paling teliti di dunia buat Hoover.
Dia gak akan pernah ngulangin
kesalahan itu lagi, bukan karena
takut dimarahin, tapi karena dia
gak mau ngecewain orang yang
udah baik banget sama dia.
Pelajaran Buat Lo di Era Digital
Prinsip ini makin relevan di jaman
sekarang. Di Twitter, Instagram, atau
TikTok, godaan buat ngritik, nge-judge,
dan ngeluh tuh gede banget.
Lihat postingan orang dikit, langsung
komentar pedes. Lihat berita miring,
langsung nyinyir.
Coba mulai hari ini, sebelum lo ngetik
komentar negatif atau ngomong kasar
ke orang, inget cerita Bob Hoover.
Tanya ke diri sendiri:
“Gue mau jadi orang lemah yang
cuma bisa ngritik, atau gue mau jadi
orang kuat yang bisa ngerti dan
nguatin?”
Karena percayalah, dengan lo nahan
diri buat gak ngritik dan malah ngasih
dukungan, lo gak cuma bikin hari
orang lain lebih baik. Lo juga lagi
nge-upgrade kualitas diri lo
sendiri.
Gimana? Udah mulai ngerasa
susah kan buat gak ngritik?
Iya, emang susah. Tapi coba deh
praktekin pelan-pelan. Mulai dari
hal kecil, misal gak nyinyirin temen
yang telat, atau gak ngomentarin
gaya baju orang yang lo anggap
aneh.
