Bicaralah Berdasarkan Minat Orang Lain
Dale Carnegie membuka bab ini
dengan sebuah perumpamaan
yang sangat sederhana namun kuat.
Bayangkan Anda menyukai kue keju.
Rasanya enak, lembut, dan Anda
sangat menyukainya. Sekarang,
bayangkan Anda pergi memancing.
Apakah Anda akan mengikatkan
sepotong kue keju di ujung kail
Anda?
Tentu saja tidak.
Anda akan mengikatkan apa yang
diinginkan oleh ikan, yaitu
cacing. Anda menggunakan
umpan yang sesuai dengan selera
ikan, bukan selera Anda sendiri.
Lalu, mengapa kita sering
memperlakukan manusia dengan
cara yang berbeda?
Tentu saja Anda tertarik pada apa
yang Anda inginkan. Itu wajar.
Tetapi kenyataannya adalah:
tidak ada orang lain yang
sepeduli itu dengan keinginan
Anda. Semua orang lain sama seperti
Anda. Kita semua hanya
menginginkan apa yang kita
inginkan.
Maka, satu-satunya cara untuk
memengaruhi orang lain adalah
dengan membicarakan apa yang
mereka inginkan dan
menunjukkan kepada mereka
bagaimana cara mendapatkannya.
Pendekatan dari Sudut Pandang
Mereka
Setiap orang di dunia ini tahu apa
yang mereka inginkan dan peduli
pada apa yang mereka dapatkan.
Dekati mereka dari arah ini.
Sebelum Anda berbicara,
berhentilah sejenak dan
tanyakan pada diri sendiri:
“Apa yang bisa didapatkan oleh
orang lain dari situasi ini?”
Bahkan, tantang diri Anda untuk
tidak mengatakan apa pun
tentang apa yang Anda inginkan.
Tahan keinginan untuk berbicara
tentang kebutuhan Anda sendiri.
Sebaliknya, tunjukkan kepada
orang lain secara konsisten bahwa
Anda ingin membantu mereka.
Dunia ini penuh dengan orang-orang
yang hanya mementingkan diri
sendiri. Oleh karena itu, orang
yang langka, yaitu orang yang
tanpa pamrih melayani
orang lain, memiliki
keuntungan yang sangat besar.
Mereka menonjol seperti mercusuar
di tengah lautan keserakahan.
Kisah Cerdik Andrew Carnegie
Untuk mengilustrasikan prinsip ini,
Dale Carnegie menceritakan sebuah
kisah tentang Andrew Carnegie,
seorang industrialis baja yang sangat
sukses dan dermawan terkenal.
Andrew Carnegie memiliki seorang
saudara ipar perempuan yang
anak-anaknya tidak pernah mau
membalas surat yang dikirimkan
oleh paman mereka. Setiap kali
Carnegie mengirim surat, tidak ada
balasan sama sekali.
Merasa tertantang, Carnegie bertaruh
dengan seseorang bahwa ia bisa
mendapatkan balasan surat
tanpa harus meminta secara
langsung.
Apa yang ia lakukan?
Ia menulis surat seperti biasa kepada
keponakan-keponakannya. Namun,
di bagian akhir suratnya,
ia menuliskan sesuatu seperti ini:
“P.S. Aku menyertakan uang lima
dolar di dalam amplop ini untuk
kalian.”
Tetapi, ia sengaja tidak
memasukkan uang lima
dolar itu ke dalam amplop.
Apa yang terjadi?
Tentu saja, dalam waktu singkat,
ia menerima surat balasan dari
keponakan-keponakannya. Isinya
berterima kasih atas surat yang
dikirimkan, dan tentu saja,
menanyakan: “Paman,
di mana uang lima dolarnya?”
Carnegie mendapatkan balasan
surat yang ia inginkan bukan
dengan membujuk atau memohon,
tetapi dengan menyinggung
sesuatu yang menjadi
kepentingan mereka
(uang lima dolar). Ia berbicara
dalam bahasa yang mereka pedulikan.
Pelajaran dari kisah ini jelas: Jika
Anda ingin orang lain
melakukan sesuatu untuk
Anda, tunjukkan kepada
mereka apa keuntungannya
bagi mereka. Jangan bicara tentang
apa yang Anda inginkan. Bicaralah
tentang apa yang mereka inginkan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, lanjut! Kita masuk
ke Chapter 3 dari buku How to Win
Friends and Influence People. Di bab
sebelumnya kita udah belajar buat
gak ngritik dan giat ngasih
penghargaan tulus. Sekarang Dale
Carnegie ngajarin kita satu prinsip
yang jadi kunci utama buat bisa
mempengaruhi orang lain
tanpa bikin mereka ilfeel.
Judul prinsipnya:
“Bicaralah Berdasarkan Minat
Orang Lain.”
Ini kedengerannya simpel, tapi
dijamin lo (dan gue juga) sering
banget lupa. Karena secara natural,
kita tuh emang egois. Kita lebih
peduli sama apa yang kita mau,
daripada apa yang orang lain mau.
Pelajaran dari Si Pemancing
Cerdas
Carnegie ngasih analogi yang
gampang banget buat diinget.
Bayangin lo suka banget sama kue
keju. Cheesecake yang lumer
di mulut. Nah, suatu hari lo pergi
mancing. Terus lo mikir, “Gue suka
banget nih kue keju. Pasti ikannya
juga suka.”
Terus lo pasang tuh potongan kue
keju di kail. Lempar deh ke air.
Apa yang terjadi?
Ikan-ikan pada kabur. Gak ada
yang nyamperin. Karena ikan gak
suka kue keju. Ikan sukanya
cacing.
Ini logika yang sama persis dalam
hubungan antar manusia. Lo tau
apa yang lo mau. Tapi kalau lo mau
“mancing” orang lain biar mau
ngikutin kemauan lo, lo harus pake
umpan yang mereka suka,
bukan yang lo suka.
Masalahnya: Kita sering banget
lupa naruh cacing. Kita malah sibuk
ceramah soal kue keju kita ke
orang lain. Dan heran sendiri kok
mereka gak tertarik.
Semua Orang Cuma Peduli Sama
Diri Sendiri. Itu Fakta.
Carnegie bilang,
“Tidak ada orang lain yang
sepeduli itu sama keinginan lo.”
Ouch. Kedengeran keras. Tapi jujur,
itu bener. Setiap orang yang lo
temuin hari ini
—temen lo, bos lo, gebetan lo
—bangun tidur sambil mikir:
“Apa yang gue mau hari ini?”
Bukan “Kira-kira si X mau apa ya?”
Jadi, satu-satunya cara biar lo bisa
ngajak orang lain bergerak adalah
dengan nyambungin keinginan
lo ke keinginan mereka.
Lo harus bisa nunjukin ke mereka:
“Kalau lo bantu gue, lo bakal
dapet ini, nih.”
Latihan Simpel Sebelum
Ngomong:
Setiap kali lo mau minta sesuatu
atau ngajak orang, tahan lidah lo.
Jangan langsung ngomong
“Gue mau…” atau “Gue butuh…”.
Ganti pertanyaannya di kepala lo jadi:
“Apa yang bisa dia dapet dari
situasi ini?”
Kisah Cerdik Andrew Carnegie:
Si Raja Baja yang Tau Cara
Mancing
Di buku ini diceritain soal Andrew
Carnegie, salah satu orang terkaya
di Amerika pada masanya. Dia punya
adik ipar yang anak-anaknya
—sebut aja keponakan
—gak pernah bales surat.
Setiap kali dikirim surat,
diem aja kayak patung.
Orang lain mungkin bakal ngomel,
“Dasar anak gak tau terima kasih!”
Tapi Carnegie? Dia pake otak.
Dia bahkan berani taruhan sama
temennya kalau dia bisa bikin
keponakannya bales surat
tanpa minta.
Apa yang dia lakuin?
Dia nulis surat biasa aja ke mereka.
Obrolan ringan, basa-basi khas
paman. Tapi di bagian paling
bawah, dia nambahin catatan kecil:
“P.S. Paman selipin uang 5 dolar
di amplop ini buat kalian beli
es krim ya.”
Tapi, amplopnya dia kosongin.
Uang 5 dolarnya gak dia masukin.
Tebak apa yang terjadi?
Hitungan hari, surat balasan datang.
Isinya? “Paman, terima kasih
suratnya…” dan lanjutannya,
“…eh, uang 5 dolarnya di mana,
Paman?”
Misi sukses. Carnegie dapet balasan
yang dia mau. Bukan dengan ngomel
“Kalian kok gak pernah bales surat
sih?!” Tapi dengan menyinggung
kepentingan mereka (uang jajan).
Dia pake cacing, bukan kue keju.
Jadi Gimana Caranya Lo Pake
Ilmu Ini Hari Ini?
Ini aplikasi nyatanya, biar lo gak
cuma baca teori doang.
Contoh di Kantor:
Lo mau ngajak tim lembur ngerjain
proyek tambahan.
❌ Jangan bilang: “Temen-temen,
kita harus lembur. Deadline-nya
mepet. Bos juga nyuruh.”
(Ini cacing versi lo. Mereka gak
peduli).
✅ Bilang: “Temen-temen, gue tau
ini agak berat. Tapi kalau kita
beresin ini tepat waktu, kita bisa
nunjukin ke manajemen kalau tim
kita solid. Peluang buat naik gaji
atau dapet bonus proyek
selanjutnya bakal lebih gede buat
kita semua.”
(Ini cacing versi mereka: bonus
dan pengakuan).
Contoh ke Pacar/Gebetan:
Lo pengen nonton film action, tapi
dia sukanya drama romantis.
❌ Jangan bilang: “Kita nonton
yang action aja yuk. Yang
romantis itu bikin ngantuk.”
(Lo merendahkan selera dia).
✅ Bilang: “Eh, ada film action
baru. Katanya di dalamnya ada
adegan romantis yang bagus
banget, sampe bikin penonton
baper. Kayaknya lo bakal suka deh
sama chemistry dua pemerannya.
Mau coba?”
(Lo “jual” film action itu dengan
kemasan yang dia suka: romantis).
Intinya: Jadilah Pribadi yang
Langka
Dunia ini isinya orang-orang yang
sibuk mikirin “Gue, gue, gue.”
Begitu lo nemu orang yang beneran
mikirin “Lo” , orang itu bakal jadi
berlian di tumpukan kerikil.
Lo akan jadi orang yang paling
disukai dan paling gampang
“menggerakkan” orang lain.
Kuncinya cuma satu: Sebelum lo
bicara, tanya dulu:
“Apa untungnya buat dia?”
Gimana? Siap ganti umpan lo
dari kue keju jadi cacing? Coba
praktekin ke orang terdekat lo hari
ini. Misalnya pas ngajak temen
makan, jangan bilang “Gue pengen
makan bakso,” tapi bilang
“Eh, bakso langganan lo itu enak
banget. Lo mau kan nemenin gue
ke sana?”
