Berikan Penghargaan yang Jujur dan Tulus
Salah satu pendorong terkuat dari
perilaku manusia adalah keinginan
untuk dihargai oleh orang lain.
Kita semua senang menerima pujian
dan mendengar bahwa kita telah
melakukan pekerjaan dengan baik.
Bahkan, beberapa orang menyatakan
bahwa seluruh peradaban manusia
pada akhirnya bertumpu pada
keinginan manusia untuk merasa
penting. Rasa lapar kita akan
pengakuan dan pujian inilah yang
mendorong kita untuk mendaki
gunung tertinggi, menulis novel,
dan mendirikan perusahaan
bernilai jutaan dolar.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu
memberikan seseorang gelar mewah
untuk menunjukkan penghargaan Anda.
Cukup gunakan frasa-frasa sederhana
seperti “terima kasih” dan “maaf” ,
sambil sesekali memberikan pujian
yang tulus dan jujur.
Hindari Sanjungan Palsu, Fokus
pada Kebaikan Nyata
Ada satu hal penting yang harus
diingat: Jangan menghujani orang
dengan sanjungan palsu.
Orang lain akan dengan mudah
melihat kepalsuan itu dan justru
akan kehilangan rasa hormat kepada
Anda.
Alih-alih memikirkan diri sendiri dan
ingin terlihat baik, berhentilah sejenak.
Alihkan perhatian Anda dan fokuslah
pada poin-poin baik yang ada
pada orang di hadapan Anda.
Temukan sesuatu yang benar-benar
bisa Anda hargai dari mereka, sekecil
apa pun itu.
Pastikan juga untuk membuat
orang lain merasa penting.
Perasaan dihargai adalah kebutuhan
dasar manusia yang seringkali
terabaikan.
Belajar dari Cara Berpikir Ralph
Waldo Emerson
Untuk masuk ke dalam pola pikir yang
tepat, cobalah meniru cara berpikir
Ralph Waldo Emerson, seorang
filsuf dan penulis terkenal.
Emerson pernah berkata bahwa setiap
orang yang ia temui adalah lebih
unggul darinya dalam hal-hal
tertentu. Oleh karena itu, selalu ada
sesuatu yang bisa dipelajari dan
dihargai dari orang lain.
Tidak peduli siapa orang itu, selalu ada
sisi baik yang bisa Anda temukan jika
Anda mau mencarinya.
Pola pikir lain yang bisa membantu
adalah Aturan Emas atau The Golden
Rule: Perlakukan orang lain
sebagaimana Anda ingin
diperlakukan. Anda sendiri pasti
ingin dihargai dan diperhatikan. Maka,
berikanlah hal yang sama kepada
orang lain.
Percikan Kecil Penghargaan
di Sepanjang Hari
Jadi, lain kali Anda melihat seorang
karyawan layanan yang tampak
lelah, bosan, dan kurang
dihargai di suatu tempat, cobalah
untuk mencerahkan hari mereka
dengan sedikit penghargaan.
Ucapkan “terima kasih” dengan tulus.
Beri komentar positif tentang
pelayanan mereka.
Tinggalkan percikan-percikan
kecil penghargaan di sepanjang
hari Anda. Anda akan terkejut
melihat betapa positifnya reaksi
orang-orang ketika rasa lapar
mereka akan pengakuan akhirnya
diberi makan.
Dengan melakukan ini secara
konsisten, Anda akan segera menjadi
seseorang yang disukai dan
disenangi untuk diajak bekerja
sama oleh orang lain. Dan yang
paling penting, Anda akan
memberikan dampak positif
pada kehidupan orang-orang
di sekitar Anda.
Ini adalah kekuatan dari penghargaan
yang jujur dan tulus. Sederhana, tidak
memerlukan biaya, tetapi hasilnya
luar biasa.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke Chapter 2 dari
How to Win Friends and Influence
People. Setelah di Chapter 1 kita
belajar keras buat gak ngritik,
sekarang Dale Carnegie ngasih tau
kita gimana cara ngisi kekosongan
itu dengan sesuatu yang jauh lebih
ampuh: Penghargaan yang
Jujur dan Tulus.
Lo pasti pernah kan ngalamin, habis
kerja keras, presentasi lancar, atau
cuma sekadar pake baju baru, terus
ada yang bilang, “Wih, keren
banget!” Rasanya gimana? Mekar.
Dunia kayak lebih berwarna.
Nah, itu bukan cuma perasaan
sesaat. Itu adalah kebutuhan
dasar manusia.
Semua Orang Lapar, Tapi Bukan
Lapar Nasi Padang
Carnegie bilang, salah satu pendorong
terkuat manusia itu keinginan
untuk dihargai (the desire to be
important). Ini yang bikin orang mau
jungkir balik kerja lembur, mendaki
gunung, sampe bikin startup yang
valuasinya triliunan.
Mereka gak cuma butuh duit. Mereka
butuh pengakuan. Butuh ngerasa
“Gue ada gunanya. Kehadiran gue
berarti.”
Kabar baiknya: Lo gak perlu kasih
mereka medali emas atau
jabatan direktur buat
memenuhi rasa lapar itu.
Lo cukup kasih “makanan ringan”
penghargaan, yang murah tapi
mengenyangkan secara emosional.
Contoh makanannya:
“Terima kasih.”
(Beneran diomongin,
bukan cuma di hati).“Maaf.”
(Ini juga bentuk penghargaan,
karena lo ngakuin perasaan dia).“Wah, idemu bagus banget.”
(Spesifik).
Itu udah cukup buat bikin baterai
sosial mereka terisi ulang.
Kenapa “Maaf” Termasuk
Penghargaan?
Karena ketika lo minta maaf
dengan tulus, lo sebenarnya
sedang bilang:
“Gue sadar tindakan
gue berdampak ke lo.”“Perasaan lo itu valid.”
“Gue gak ngegas atau
ngeyel, gue mau ngerti
posisi lo.”
Itu adalah bentuk penghormatan
tertinggi ke eksistensi
emosional orang lain. Mereka
jadi ngerasa didengerin dan
dianggep.
Contoh Simpel:
Bayangin lo lagi buru-buru, gak
sengaja nyenggol orang sampe
kopinya tumpah.
Respons tanpa penghargaan:
“Waduh, sori. Buru-buru nih.”
(Sambil tetap jalan cepat, gak peduli).
→ Orang itu ngerasa lo cuma
formalitas. Perasaannya diabaikan.
Respons dengan penghargaan
(maaf tulus):
“Aduh, maaf banget. Gue ceroboh.
Bajunya kena ya? Sini gue bantu
bersihin. Gue yang bayarin kopinya.”
→ Lo ngakuin kesalahan, lo tunjukin
empati, lo kasih solusi. Orang itu
ngerasa dihargai meskipun
kopinya tumpah. Dia bakal lebih
respect sama lo.
Jadi, “Maaf” di sini bukan cuma
kata, tapi sikap rendah hati yang
mengakui bahwa lo gak selalu benar
dan orang lain pantas diperlakukan
dengan hormat. Itu adalah kunci
emas buat ngejaga hubungan tetap
adem.
Bedakan Antara Pujian Tulus
dan Sanjungan Palsu
Ini penting banget. Jangan sampe lo
kayak penjual minyak ular yang
mulutnya manis tapi matanya duitan.
Orang tuh pinter. Mereka bisa
ngendus kepalsuan dari jarak
10 meter.
Sanjungan Palsu: “Wah, Bapak
pintar sekali. Bapak adalah orang
terhebat yang pernah saya temui.”
(Diucapkan sambil merhatiin jam
tangan bos).
Hasilnya? Lo malah dianggep
penjilat. Hormat hilang.
Penghargaan Tulus: Lo berhenti
mikirin diri sendiri. Lo beneran
nyari sesuatu yang bisa lo kagumi
dari orang itu, sekecil apa pun.
Misal: Lo liat temen lo rapi banget
nyusun kabel di mejanya. Lo bisa
bilang, “Gila, rapinya. Enak
banget diliatnya.”
Itu tulus. Itu spesifik. Itu gak
lebay. Dan itu diterima.
Kuncinya: Fokus ke poin baik
orang lain. Jangan fokus ke
“Gue harus keliatan baik di mata
dia.”
Belajar dari Si Tua Bijak:
Ralph Waldo Emerson
Dale Carnegie ngasih contoh tokoh
favoritnya, Ralph Waldo
Emerson. Ini filsuf jagoan yang
pola pikirnya patut ditiru.
Emerson tuh punya prinsip sakti:
“Setiap orang yang saya temui,
pasti lebih unggul dari saya
dalam satu hal tertentu.”
Bayangin. Emerson yang pinter dan
terkenal aja mikirnya gitu.
Dia selalu berangkat dengan asumsi
“Pasti ada yang bisa gue pelajari
dari nih orang.”
Dengan pola pikir kayak gitu, lo
jadi lebih gampang nemuin
sisi baik orang. Lo jadi gak
sombong. Lo jadi tulus ngasih
pujian, karena lo beneran ngeliat
ada yang bisa lo hargai.
Aturan Emas
(The Golden Rule):
Sederhana banget: “Perlakukan
orang lain sebagaimana lo mau
diperlakukan.”
Lo mau dihargai? Hargai duluan. Lo
mau diperhatiin? Perhatiin duluan.
Jangan nunggu. Tebar duluan.
Misi Hari Ini:
Tebar “Percikan Kecil”
Carnegie ngasih misi simpel yang
dampaknya gede.
Coba deh, nanti pas lo beli kopi
di kedai, atau ketemu satpam
di kantor, atau cleaning service
di kampus. Lihatin mereka.
Seringkali muka mereka datar,
lelah, dan kayak… gak dianggep.
Nah, lo jadi orang yang
“menyalakan korek api”
di tengah kegelapan mereka.
Caranya?
Tatap mata.
Senyum dikit.
Bilang, “Makasih banyak ya.”
Atau kalau memungkinkan:
“Wah, kopinya enak banget.
Makasih ya.” atau “Rapi banget
mejanya, Pak. Makasih.”
Itu namanya “Percikan Kecil
Penghargaan.”
Lo gak bakal percaya efeknya. Muka
mereka yang tadinya layu langsung
mekar. Mereka ngerasa dilihat.
Mereka ngerasa penting.
Dan lo? Lo akan jadi magnet
manusia. Orang-orang bakal suka
kerja sama lo. Suasana di sekitar lo
jadi lebih positif. Dan itu semua
dimulai dari hal-hal remeh yang
gak pake modal.
Intinya: Penghargaan yang tulus
itu sederhana, gratis, dan hasilnya
luar biasa. Jangan pelit. Karena
dengan lo ngasih “makan” rasa lapar
mereka akan pengakuan,
lo sebenarnya lagi nge-invest
dalam hubungan jangka panjang
yang berkualitas.
Siap tebar percikan kecil hari ini?
Coba mulai dari hal receh: ucapin
terima kasih yang beneran
ke siapa pun yang bantu lo hari ini.
