Dua Belas Cara Memenangkan Orang Lain ke Cara Berpikir Anda
Pujian dan penghargaan memang baik
dan penting. Tetapi, apa yang harus
Anda lakukan ketika seseorang tidak
setuju dengan Anda? Itulah topik
selanjutnya dalam buku ini.
Ringkasnya: Kesampingkan naluri
Anda untuk melawan api dengan
api. Orang-orang tidak suka
dibuktikan bahwa mereka salah.
Mereka tidak suka mengakui bahwa
mereka harus mengubah pikiran
mereka, tidak peduli seberapa benar
Anda. Mereka haus akan rasa
penting, dan mengoreksi mereka
berarti menghina harga diri
mereka. Anda mungkin berpikir
penting untuk terlihat sebagai orang
terpintar di ruangan itu, tetapi Anda
justru akan dibenci karenanya.
1. Satu-Satunya Cara untuk
Menang dalam Perdebatan
Adalah dengan Menghindarinya
Berdebat dengan orang lain
sebenarnya tidak masuk akal.
Jika Anda kalah, Anda kalah dalam
perdebatan itu. Jika Anda menang,
orang lain akan merasa kesal dan
dendam karena harga dirinya
terluka. Pada akhirnya, Anda tetap
tidak benar-benar
memenangkan hati mereka.
Dan dalam sembilan dari sepuluh
kasus, perdebatan hanya akan
membuat orang lain semakin
teguh pada pendiriannya
daripada sebelumnya.
Oleh karena itu, satu-satunya solusi
adalah menghindari perdebatan
sejak awal.
Ketika sebuah perdebatan mulai
muncul, jangan percayai respons
pertama yang muncul dalam
diri Anda, karena itu biasanya adalah
reaksi defensif yang muncul secara
naluriah. Dan apa pun yang terjadi,
kendalikan emosi Anda.
Dengarkan apa yang dikatakan lawan
bicara Anda tanpa perlawanan
atau protes, dan berjanjilah untuk
mempertimbangkan pemikiran
mereka dengan saksama. Cobalah
untuk menemukan area di mana
Anda berdua setuju. Ini akan
membantu mengurangi sikap
defensif lawan bicara Anda.
2. Mulailah dengan Cara yang
Bersahabat
Sikap bermusuhan hanya akan
mengundang permusuhan
balasan. Orang-orang tidak ingin
dipaksa untuk mengubah pikiran
mereka. Mereka tidak bisa dipaksa
untuk setuju dengan Anda, tetapi
mereka bisa dituntun untuk
memikirkannya.
Bagaimana cara membuat seekor
binatang mendekati Anda?
Apakah Anda mengejarnya sambil
memasang jerat?
Atau Anda menawarkan
makanan?
Setetes madu menangkap
lebih banyak lalat daripada
satu galon empedu.
Pepatah lama ini benar adanya.
Carnegie mencontohkan seseorang
yang memiliki pemilik rumah yang
sulit dan baru saja menaikkan uang
sewanya. Alih-alih mengeluh tentang
betapa tidak adilnya kenaikan itu,
penyewa itu berbicara tentang
betapa ia menghargai rumah itu
dan cara sang pemilik mengelola
gedung. Ia mengatakan bahwa ia
ingin tinggal satu tahun lagi, tetapi
sayangnya ia tidak mampu membayar
harga sewa yang baru. Pendekatan
yang bersahabat ini membuka pintu
untuk negosiasi yang lebih baik
daripada sekadar keluhan.
3. Hormati Pendapat Orang Lain.
Jangan Pernah Berkata,
“Kamu Salah.”
Ketika diserang karena dianggap
salah, orang akan mempertahankan
pendapatnya sampai mati.
Mereka akan kehilangan fokus pada
poin utamanya, dan mulai
mencari-cari pengecualian kecil
untuk membuktikan bahwa
pernyataan mereka benar.
Kita seringkali membentuk keyakinan
secara sembarangan, tetapi kemudian
mengembangkan hasrat yang tidak
rasional untuk
mempertahankannya ketika ada
orang yang mengancam untuk
membuktikan bahwa kita salah.
Perhatikan kisah Carnegie sendiri.
Ia pernah menyewa seorang
dekorator interior untuk
membuatkan gorden di rumahnya.
Setelah selesai, ia terkejut melihat
besarnya tagihan. Ketika ia
menyebutkan harganya kepada
seorang teman, temannya itu berseru
bahwa ia jelas-jelas telah ditipu
dan membayar terlalu mahal.
Merasa terhina, Carnegie langsung
membela tindakannya.
Ia menjelaskan bahwa harga yang
tinggi adalah indikator kualitas.
Ia menolak untuk mengakui
kesalahannya.
Tetapi kemudian, teman lain mampir
dan mulai memuji gorden yang
sama. Kali ini, Carnegie justru
mengakui bahwa ia sebenarnya
merasa telah membayar terlalu
mahal dan menyesali pembelian
itu. Pendekatan yang positif dari
temannya yang kedua melucuti
pertahanannya, dan ia bisa dengan
bebas mengakui kesalahannya.
Anda lihat, setiap kali Anda memberi
tahu seseorang bahwa mereka salah,
pada dasarnya Anda mengatakan,
“Saya lebih pintar dari kamu.”
Ini adalah serangan langsung
terhadap harga diri mereka.
Mereka akan ingin membalas karena
Anda jelas-jelas
tidak menghormati pendapat
mereka.
4. Jika Anda Salah, Akui dengan
Cepat dan Tegas
Suatu kali, Carnegie sedang
berjalan-jalan dengan anjingnya,
Rex, di hutan terdekat. Rex suka
berlari bebas dan karenanya tidak
memakai penutup mulut atau tali
kekang. Sayangnya, mereka bertemu
dengan seorang petugas polisi
yang dengan tegas memberi tahu
bahwa tindakan itu melanggar
hukum. Namun, untuk kali ini saja,
petugas itu memaafkan mereka
dengan peringatan.
Carnegie mematuhinya. Tetapi Rex
tidak suka dengan penutup mulut itu.
Tidak lama kemudian, mereka
kembali ke kebiasaan lama mereka.
Saat itulah, petugas yang sama
memergoki mereka lagi.
Kali ini, bahkan sebelum petugas itu
membuka mulutnya, Carnegie
sendiri yang mengungkapkan
betapa menyesalnya dia dan
betapa tidak dapat diterimanya
perbuatannya itu. Biasanya, petugas
itu mungkin akan marah dan
memberinya denda. Namun berkat
pengakuan bersalah yang
disampaikan di awal, ia justru
melakukan hal yang sebaliknya.
Petugas itu mulai berargumen
bahwa anjing kecil itu tidak
benar-benar mengganggu
siapa pun, menerima permintaan
maaf Carnegie, dan membiarkan
mereka melanjutkan perjalanan
dengan gembira.
Mengakui kesalahan Anda membantu
karena biasanya orang lain sedang
berusaha untuk merasa penting
dengan mengkritik kesalahan
Anda. Tetapi begitu Anda mengakui
kesalahan Anda, situasinya berubah
total. Sekarang, untuk merasa penting,
mereka tidak bisa lagi menyerang
Anda. Mereka justru harus
menunjukkan kemurahan hati
dengan memaafkan Anda. Inilah
yang membuat petugas polisi itu
begitu lunak dalam contoh tadi.
Jadi, lain kali Anda menyadari bahwa
Anda salah, akuilah dengan
antusias. Itu akan menghasilkan
hasil yang lebih baik, dan Anda akan
merasa itu jauh lebih menyenangkan
daripada harus membela diri ketika
orang lain menunjukkan kesalahan
Anda.
5. Biarkan Orang Lain yang Lebih
Banyak Berbicara
Seseorang yang tidak setuju dengan
Anda tidak akan memperhatikan
Anda selama mereka masih ingin
menyuarakan pendapatnya sendiri.
Jadi, doronglah mereka untuk
mengungkapkan ide-ide mereka
sepenuhnya.
Saya yakin Anda pernah melihat
perdebatan di mana tidak ada
satu pun pihak yang
mendengarkan satu sama lain
karena mereka merasa poin-poin
mereka tidak diakui oleh pihak lain.
Karena itu, tahanlah godaan
untuk memotong pembicaraan
orang lain. Ini sangat merugikan.
Bayangkan setiap kali seseorang
berbicara, ada sebuah botol
kosong yang terisi. Ketika botol
itu penuh, ia akan menjadi jauh
lebih terbuka untuk menerima
pikiran baru. Sebelum botol itu
penuh, ia akan merasa tidak
didengar. Setiap kali Anda
memotong, Anda mengosongkan
botol itu, dan ia harus memulai
lagi dari awal.
6. Cobalah dengan Jujur untuk
Melihat Segala Sesuatu dari
Sudut Pandang Orang Lain
Jika Anda dilahirkan dalam tubuh
yang sama dengan pasangan Anda,
memiliki pengalaman yang sama,
dan melihat dunia melalui lensa
yang sama, Anda secara definisi
akan sampai pada kesimpulan
yang sama.
Anggaplah ide dan perasaan
orang lain sama pentingnya
dengan ide dan perasaan Anda
sendiri. Bayangkan Anda sedang
melihat ke luar dari dalam tubuh
orang lain.
Mengadopsi sikap ini sebenarnya
sangat produktif. Ini akan
membantu Anda menemukan minat
pasangan Anda dan merumuskan
argumen Anda agar sesuai dengan
minatnya.
Contohnya, tempatkan diri Anda pada
posisi si pewawancara kerja.
Apakah Anda pikir ia menikmati
proses wawancara dan berbicara
dengan puluhan orang?
Ia juga berharap bahwa orang
berikutnya yang masuk adalah
orang yang tepat. Ia juga ingin
segera mengakhiri sesi
wawancara.
Ubah perspektif Anda. Alih-alih
melihat wawancara sebagai
pertemuan untuk memecahkan
masalah Anda, lihatlah sebagai
pertemuan untuk memecahkan
masalah pihak lain. Jika Anda
fokus pada masalah mereka dan
menjelaskan bagaimana Anda akan
menyelesaikannya, maka
masalah Anda pun akan
terselesaikan dengan sendirinya.
7. Bersimpatilah pada Ide dan
Keinginan Orang Lain
Setiap orang yang sedang kesal merasa
sepenuhnya benar dalam
kemarahannya, tidak peduli apa
yang Anda yakini. Apakah ketika
Anda marah, Anda berkata pada diri
sendiri, “Saya tahu saya sedang tidak
masuk akal dan kemarahan saya
tidak beralasan, tetapi saya akan
tetap marah”?
Orang-orang lapar akan simpati.
Mereka ingin kita mengakui semua
yang mereka rasakan. Jika kita
bisa bersimpati kepada orang lain,
mereka akan menghargai sisi kita
juga dan seringkali akan beralih
ke cara berpikir kita.
8. Mulailah dengan Pertanyaan
yang Akan Dijawab “Ya” oleh
Orang Lain
Setiap kali seseorang mengatakan
“tidak” , mereka akan terkunci
dalam sikap defensif dan bias
konsistensi. Mereka akan
mempertahankan posisi “tidak” itu.
Karena itu, jangan mulai dengan
membicarakan area di mana
Anda berbeda pendapat. Mulailah
dengan apa yang Anda setujui.
Buatlah orang itu mengatakan “ya” .
Alih-alih memaksakan kesimpulan
Anda kepada orang itu, tuntunlah
dia menuju kesimpulan Anda
melalui serangkaian pertanyaan logis.
Namun, ini bisa terdengar seperti
jebakan jika orang itu menyadari apa
yang Anda lakukan. Lebih baik
lakukan ini dengan nada yang tulus
dan sabar, bukan dengan nada
seolah-olah Anda sudah tahu
jawabannya. Ajukan
pertanyaan-pertanyaan sulit dengan
jawaban yang tidak jelas sehingga
tidak terasa seperti Anda sedang
menjebaknya di sudut.
Teknik ini sering digunakan oleh para
tenaga penjualan. Contohnya,
bayangkan saya ingin menjual
ringkasan buku saya kepada Anda.
Saya akan berkata,
“Anda tampaknya orang yang suka
membaca, benar?”
Anda akan menjawab ya.
Lalu saya lanjutkan,
“Apakah Anda suka menghemat uang?
Apakah Anda suka menghemat
waktu?”
Kemungkinan besar jawaban Anda
akan ya lagi.
Setelah mendapatkan
jawaban-jawaban ya ini,
saya akan berkata,
“Belilah ringkasan buku saya. Ini
tepat yang Anda inginkan. Ini akan
menghemat waktu dan uang Anda,
dan Anda akan membaca buku
jauh lebih cepat.”
Bagaimana perasaan Anda pada
titik ini? Saya yakin Anda akan
merasa seperti dijebak ke dalam
sesuatu yang tidak Anda
inginkan. Bahkan jika Anda
menyukai produk saya, Anda
mungkin akan tidak suka
dengan pendekatan saya dan
kemungkinan besar akan pergi
begitu saja. Itulah sebabnya
keaslian dan ketulusan sangat
penting. Jangan terdengar seperti
robot penjualan.
9. Biarkan Orang Lain Merasa
Bahwa Ide Itu Adalah Idenya
Sendiri
Orang-orang lebih menyukai ide
mereka sendiri daripada ide
orang lain. Menciptakan ide
sendiri membuat mereka merasa
pintar dan penting. Mengeksekusi
ide mereka sendiri, alih-alih ide
orang lain, memberi mereka
perasaan memegang kendali.
Suatu kali, saya sedang bernegosiasi
dengan seseorang yang cukup
keras kepala dan tidak suka
berkompromi. Setelah beberapa saat,
saya menyadari bahwa akan sangat
sulit untuk mencapai kesepakatan.
Jadi saya memutuskan untuk
menerapkan taktik ini.
Saya berkata,
“Anda tahu lebih banyak tentang
topik ini daripada saya. Anda
adalah ahlinya di dunia ini. Jadi
saya ingin mendengar pendapat
Anda. Bagaimana kita bisa
mencapai kesepakatan?”
Orang itu berhenti sejenak, lalu mulai
memberi saya nasihat dan
pilihan-pilihan. Pendekatannya
berubah dari seorang lawan
menjadi seorang mentor.
Setelah mendengar semua pilihannya,
saya memilih salah satunya dan
memutuskan untuk menerapkannya.
Karena dia yang memberi saya
pilihan itu, dia menjadi jauh lebih
terlibat dan tertarik untuk
menerapkannya dengan sukses.
10. Tunjukkan pada Motif yang
Lebih Mulia
Seseorang biasanya memiliki dua
alasan untuk melakukan sesuatu:
satu alasan yang terdengar baik,
dan satu alasan yang sebenarnya.
Lupakan alasan yang sebenarnya.
Tunjukkan pada prinsip moral
tertinggi mereka.
Misalnya, ketika seseorang melanggar
perjanjian, katakan bahwa kesan
Anda terhadap karakter orang
itu adalah orang yang
berintegritas tinggi. Beri mereka
waktu untuk memikirkannya. Jika
mereka kembali dan ingin
melanjutkan, katakan bahwa Anda
akan menerimanya tanpa ragu dan
mengakui bahwa penilaian karakter
Anda salah. Tetapi katakan juga
bahwa Anda secara pribadi tetap
percaya bahwa mereka adalah
orang yang memegang teguh
kata-katanya dan tidak akan
melanggar perjanjian.
Kita manusia tidak ingin
kehilangan motif yang lebih
mulia yang kita pamerkan
kepada dunia.
11. Dramatisasikan Ide-Ide Anda
Perhatian manusia kini lebih langka
dari sebelumnya. Temukan cara
untuk menangkapnya tanpa
terlihat dibuat-buat. Sekadar
menyatakan kebenaran saja tidak
cukup. Kebenaran itu harus dibuat
hidup, menarik, dan dramatis.
Temukan cara untuk mewakili
taruhannya secara visual.
Seorang penjual mesin kasir
mengamati antrean kasir yang
lambat. Ia memberi tahu pemilik toko
bahwa ia kehilangan uang receh
dengan setiap pelanggan yang
mengantre. Ia lalu melemparkan
koin-koin receh ke lantai untuk
menegaskan poinnya. Bayangkan
betapa efektifnya jika ia terus
melakukan ini berulang kali untuk
mengilustrasikan uang yang hilang.
Steve Jobs dengan terkenal
memperkenalkan iPod sebagai
“seribu lagu di dalam saku
Anda” ,
bukan berbicara tentang
kapasitas penyimpanan
dalam gigabita.
Berikut beberapa taktik bagaimana
Anda bisa menerapkan prinsip ini:
Berikan analogi visual.
Tunjukkan benda untuk
menggambarkan ukuran,
kecepatan, dan biaya.Samakan peluang dengan nilai
uang (contoh: “Bisnis Anda
kehilangan satu mobil
Mercedes-Benz per hari dengan
tidak memperbaiki masalah ini”).
Saya pribadi menyukai taktik ini dan
telah sering menggunakannya di masa
lalu. Contohnya, ketika saya
menyelesaikan magang, saya harus
memberikan presentasi akhir tentang
hasil kerja saya. Total ada sekitar dua
puluh lima mahasiswa, dan di antara
mereka, presentasi saya adalah salah
satu yang paling menarik. Alasannya,
ketika saya presentasi, saya tidak
berbicara tentang tugas-tugas
membosankan yang saya
lakukan di Excel. Saya langsung
memulai dengan mengatakan bahwa
magang saya telah menghemat
seratus tiga puluh tiga ribu
dolar untuk perusahaan. Begitu
saya mengatakan itu, setiap manajer
di ruangan itu langsung
mendengarkan dengan saksama dan
mengajukan banyak pertanyaan
di akhir.
Sejujurnya, saya melakukan hal-hal
membosankan yang sama seperti
peserta magang lainnya
bahkan bisa dibilang saya melakukan
lebih sedikit. Satu-satunya perbedaan
adalah saya menghitung jumlah
jam yang saya habiskan dan
mengonversinya ke dalam nilai
uang. Karena itu magang tidak
berbayar, saya bisa dengan mudah
mengatakan bahwa saya menghemat
uang karena jika karyawan bergaji
yang melakukan pekerjaan yang sama,
perusahaan harus membayar gaji.
12. Berikan Tantangan
Ketika motivasi biasa tidak berhasil,
adakanlah kompetisi.
Ini membuat orang bergerak karena
mereka tidak ingin menjadi yang
kedua. Keinginan untuk
menguasai dan unggul adalah
pendorong dasar perilaku manusia.
Misalnya, jika seseorang ragu-ragu,
secara halus pertanyakan
kekuatan mereka.
Katakan sesuatu seperti,
“Saya tidak menyalahkan Anda
karena takut. Ini pekerjaan yang
berat. Butuh orang yang hebat
untuk menangani pekerjaan ini.”
Ini akan memicu harga diri mereka
untuk membuktikan bahwa mereka
mampu dan bukan penakut.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke Part Three dari
kitab sakti Dale Carnegie. Kalau
di Part Two kita udah belajar gimana
caranya bikin orang suka sama kita,
sekarang kita naik level: Gimana
caranya bikin orang setuju sama
cara berpikir kita, tanpa bikin
mereka benci.
Ini bagian yang krusial banget, apalagi
buat lo yang sering berantem
di kolom komentar atau debat sama
pasangan. Dale Carnegie ngasih
12 jurus di sini. Yuk kita bedah
satu-satu dengan bahasa yang
gampang dicerna.
1. Menang Debat Itu Sebenarnya
Kalah
Ini prinsip yang paling susah diterima
sama otak kita: Satu-satunya cara
buat menang dalam perdebatan
adalah dengan menghindarinya.
Logikanya gini:
Kalau lo kalah debat, ya lo kalah.
Kalau lo menang debat, lo bikin
lawan bicara lo malu dan harga
dirinya terluka. Dia bakal
dendam, dan lo tetep
gak menang hatinya.
Dalam 9 dari 10 kasus, setelah debat
selesai, masing-masing pihak malah
makin yakin kalau dirinya yang
paling benar. Jadi debat itu
buang-buang energi.
Yang Harus Lo Lakuin:
Begitu ada percik api perdebatan,
jangan turunin tangga. Jangan
ladeni. Tarik napas. Dengarin aja
dulu. Katakan, “Menarik juga sudut
pandang lo. Gue pikir-pikir dulu ya.”
Itu jauh lebih elegan daripada lo
ngotot ngejar kemenangan semu.
2. Mulai dengan Senyum,
Bukan Tinju
Sikap lo di awal percakapan nentuin
banget. Kalau lo mulai dengan nada
nyerang, lawan bicara lo langsung
pasang mode defensif. Bentengnya
udah tegak, mau lo masukin
apa juga bakal mental.
Tapi kalau lo mulai dengan ramah,
dia bakal nurunin bentengnya.
Analoginya: Lo mau nangkap
burung. Apa lo kejar-kejar sambil
bawa jaring?
Atau lo tabur biji-bijian sambil
diam di pojok?
Madu lebih ampuh
ngundang lalat daripada cuka.
Contoh di buku: Ada penyewa
rumah yang kaget sewanya naik.
Bukannya ngamuk, dia malah
mulai dengan muji rumahnya dan
berterima kasih atas pengelolaan
pemiliknya. Baru setelah itu dia
bilang, “Sayangnya, dengan harga
segitu, aku belum mampu.”
Hasilnya? Negosiasi jadi lancar
tanpa drama.
3. Jangan Pernah Bilang
“Kamu Salah!”
Ini refleks alami manusia. Begitu
dibilang “Lo salah,” otak kita
langsung sibuk nyari satu
pengecualian kecil buat
ngebuktiin “Gue bener.”
Fokus ke pokok masalah langsung
buyar.
Carnegie cerita pengalaman
pribadinya. Dia pasang gorden
mahal, terus ditagih harga yang
menurut temannya kemahalan.
Temannya bilang,
“Lo ditipu! Mahal banget!”
Carnegie langsung defensif
dan ngebelain keputusannya
mati-matian.
Tapi pas temen lain dateng dan
bilang, ”
Wah, gordennya bagus!
Pasti mahal ya?”
Carnegie malah ngaku,
“Iya, gue nyesel. Kemahalan.”
Kenapa? Karena kalimat kedua
gak menyerang harga dirinya.
Begitu lo bilang “Kamu salah”,
secara gak langsung lo bilang
“Gue lebih pinter dari lo.”
Itu penghinaan buat ego.
Gantinya Gimana?
Katakan: “Menurutku sih gini… tapi
bisa jadi aku yang keliru. Kita cek
bareng yuk.”
Itu kalimat ajaib yang langsung
nurunin tensi.
4. Kalau Lo Salah, Ngaku Duluan.
Cepet.
Ini senjata pamungkas buat ngehentiin
orang marah. Sebelum dia sempat
ngomel panjang lebar, lo duluan yang
“nembak diri sendiri”.
Carnegie cerita soal dia yang jalanin
anjingnya gak pake tali. Kena tegur
polisi. Besoknya, dia ulangi lagi. Pas
ketemu polisi yang sama, sebelum
polisi itu buka mulut, Carnegie
langsung bilang,
“Saya salah. Saya minta maaf.
Saya udah melanggar.”
Apa yang terjadi?
Polisi yang tadinya siap ngamuk malah
jadi baik. Dia bilang,
“Ah, anjing kecil gini gak terlalu
ganggu. Hati-hati aja lain kali.”
Psikologinya: Orang ngamuk itu
karena dia pengen ngerasa penting
dan benar. Begitu lo udah ngakuin
dia benar, kebutuhannya terpenuhi.
Dia gak punya alasan lagi buat marah.
Justru dia akan tunjukin kemurahan
hati dengan memaafkan lo.
5. Biarkan Dia yang Banyak
Ngomong. Lo Tutup Mulut.
Orang yang lagi gak setuju sama lo,
telinganya tutup rapat selama ide
dia belum keluar semua.
Jadi, jangan dipotong.
Anggap aja dia punya botol keluhan
di dalam dada. Setiap dia ngomong,
botol itu kosong dikit.
Kalau lo potong, botolnya penuh lagi,
dan dia harus ngulang dari awal.
Biarin dia kosongin dulu
botolnya.
Begitu botolnya kosong, baru dia bisa
nerima isi botol lo. Jadi, tahan diri lo.
Dengerin sampe tuntas. Ini susah,
tapi hasilnya manjur.
6. Coba Masuk ke Sepatu Dia
Ini yang disebut empati. Kalau lo
lahir dengan tubuh, pengalaman, dan
trauma yang sama kayak dia, lo bakal
sampai di kesimpulan yang sama
persis.
Jadi, sebelum lo nge-judge, coba
beneran bayangin lo jadi dia. Tanya
ke diri sendiri: “Kalau gue jadi dia,
gimana perasaan gue?”
Contoh Praktis di Wawancara
Kerja:
Jangan mikir, “Gue butuh kerjaan.
Tolong terima gue.” (Itu masalah lo).
Mikir kayak si pewawancara:
“Dia capek interview 20 orang.
Dia butuh orang yang bisa
langsung bantu selesain masalah
timnya.”
Begitu lo masuk dengan perspektif
“Gue di sini buat bantu lo”,
lo langsung beda dari 99%
kandidat lain.
7. Kasih Simpati, Bukan
Ceramah
Orang yang lagi kesel tuh ngerasa
dirinya paling benar. Lo mau
bilang dia salah juga percuma.
Dia lagi butuh diakui
perasaannya.
Jangan bilang:
“Ah, gitu aja kok marah.”
Tapi bilang:
“Gue ngerti kok lo kesel. Gue juga
bakal kesel banget kalau di posisi
lo.”
Kalimat simpati kayak gitu ibarat
garansi: “Perasaan lo valid.”
Begitu dia ngerasa didengerin,
bentengnya runtuh. Dia jadi jauh
lebih terbuka buat dengerin
perspektif lo.
8. Mulai dengan Pertanyaan
yang Jawabannya “IYA”
Ini ilmu lama tapi ampuh.
Setiap kali orang bilang “Tidak” ,
secara fisik dan mental dia
ngunci diri. Dia harus konsisten
sama penolakannya.
Jadi, jangan mulai dengan topik
yang kalian gak setuju. Mulai
dengan titik temu. Cari hal kecil
yang bisa lo tanya dan dia jawab
“Iya” , “Iya” , “Iya” .
Setelah dia rileks dan ngangguk
terus, baru lo arahin pelan-pelan
ke poin utama lo. Ini harus
dilakukan dengan halus, jangan
kayak interogasi. Kalau keliatan
kayak jebakan, dia malah makin
defensif.
9. Biarkan Dia Ngerasa Itu
Idenya Sendiri
Manusia tuh narsis. Kita lebih suka
ide yang lahir dari kepala sendiri
daripada ide orang lain. Eksekusi ide
sendiri bikin kita ngerasa pintar
dan memegang kendali.
Carnegie cerita, dia pernah negosiasi
sama orang keras kepala. Dia nyerah
debat. Dia malah bilang,
“Lo lebih ahli soal ini. Menurut lo,
gimana baiknya kita selesain ini?”
Seketika, orang itu berubah dari
lawan jadi mentor. Dia ngasih
saran dan opsi. Karena opsi itu dari
dia sendiri, dia jadi semangat
banget buat ngejalaninnya.
Pelajaran: Jangan maksain ide lo.
Tanam benihnya, biar dia yang
nyiram dan ngerasa itu tanamannya
dia.
10. Sentuh Sisi Mulia Mereka
Setiap orang tuh punya dua alasan
ngelakuin sesuatu: Alasan yang
kedengeran keren, dan alasan
sebenarnya (yang kadang egois).
Lupakan alasan sebenarnya. Sentuh
alasan kerennya. Motif mulia
mereka.
Misal, ada rekan kerja yang ingkar
janji. Jangan bilang, “Lo bohong!”
Tapi bilang, “Gue kenal lo sebagai
orang yang megang teguh
omongan. Pasti ada sesuatu yang
bikin ini terjadi. Gue hargai
integritas lo.”
Lo udah pasang standar tinggi buat
dia. Dia bakal berusaha mati-matian
buat gak ngecewain citra
“orang berintegritas” yang lo
tempelin ke dia.
11. Bikin Idemu
“Panggung Sandiwara”
Jaman sekarang, perhatian
orang tuh pendek banget.
Lo cuma ngomong datar?
Ditinggal scroll. Lo harus
dramatisir.
Contoh:
Penjual mesin kasir:
Dia gak bilang, “Antrean lo lama.”
Dia lempar koin receh ke lantai
satu per satu sambil bilang,
“Ini duit lo yang ilang setiap
ada pelanggan ngantre.”
Visualnya nempel di otak.Steve Jobs:
Gak bilang “iPod punya memori
5GB.” Dia bilang, “Seribu lagu
di dalam saku lo.”
Mindblowing.
Tips Praktis:
Pakai analogi visual.
Tunjukin benda fisik.
Ubah angka abstrak jadi nilai
uang (misal: “Keterlambatan
ini ngebuang Rp 5 juta per
hari.”).
12. Lempar Tantangan.
Singgung Harga Dirinya.
Kalau semua cara udah mentok, pakai
senjata terakhir: Kompetisi. Manusia
tuh punya hasrat alami buat
mengungguli dan gak mau jadi
yang terakhir.
Misal, lo punya tim yang lelet. Jangan
cuma nyuruh. Bilang aja,
“Kayaknya target ini rada berat
buat kita. Gue gak yakin deh kita
bisa ngalahin tim A.”
Harga diri mereka langsung terusik.
Mereka bakal kerja lebih keras cuma
buat ngebuktiin lo salah. Ini bukan
manipulasi jahat, ini cuma
mengakali psikologi dasar
manusia.
Nah, itu dia 12 jurus buat
memenangkan orang ke cara
berpikir lo. Intinya cuma satu:
Hormati ego mereka, dan lo
akan bisa mengarahkan hati
mereka. Coba praktekin satu-satu.
