Pengantar I’rab
Pengantar I’rab
Kita akan mempelajari tentang i‘rab, yaitu ilmu yang membahas
bagaimana menjelaskan kedudukan, keadaan, dan tanda
kedudukan suatu kata dalam sebuah kalimat.
Indikator keberhasilan seorang penuntut ilmu dalam
mempelajari Ilmu Nahwu adalah ketika ia mampu menjelaskan:
1. Kedudukan kata dalam kalimat,
2. Keadaan kata tersebut (marfu‘, manshub, atau majrur),
3. Tanda kedudukannya (dhammah, fathah, kasrah, atau
tanda lainnya).
Sebagai contoh, perhatikan ayat kedua surat Al-Fatihah berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dalam mempelajari i‘rab, kita harus mampu menjawab
pertanyaan berikut:
1. Kenapa “الْحَمْدُ” (Al-Hamdu) berharakat dhammah?
2. Apa nama kedudukannya dalam kalimat?
3. Kenapa lafzhul jalalah “اللَّهِ” (Allah) dan kata “رَبِّ” (Rabbi)
berharakat kasrah?
4. Kenapa “الْعَالَمِينَ” (Al-‘Aalamiina) berbentuk kasrah dan
bukan “الْعَالَمُونَ” (Al-‘Aalamuuna)?
Semua pertanyaan seperti ini termasuk dalam pembahasan i‘rab.
Contoh I‘rab Singkat untuk Ayat
1. الْحَمْدُ
Berharakat dhammah ( ُ )
Karena ia memiliki kedudukan yang menyebabkan
ia marfu‘ (dibaca dhammah).
2. لِلَّهِ
Lafzhul jalalah اللَّهِ berharakat kasrah ( ِ )
Karena didahului oleh لِ, yang membuatnya dibaca majrur.
3. رَبِّ الْعَالَمِينَ
رَبِّ berharakat kasrah ( ِ )
الْعَالَمِينَ juga dalam keadaan kasrah ( ِ ), bukan الْعَالَمُونَ,
sesuai kedudukannya dalam kalimat.
