Buku Brotopia Emily Chang, Perjalanan yang Terlupakan: Membongkar Stereotipe Programmer

Emily Chang
Ketika Programmer Pertama
Justru Perempuan
Bayangkan “programmer pertama”
dalam pikiran banyak orang: seorang
laki-laki introvert di ruangan remang,
hidup berdekatan dengan komputer.
Padahal sejarah justru menceritakan
kebalikannya.
Pada masa-masa awal komputer
modern, terutama pada era Perang
Dunia II, pemrograman dianggap
pekerjaan yang lebih dekat dengan
tugas administratif dan karena itu,
lebih “cocok” untuk perempuan.
Di laboratorium militer Amerika,
perempuan bekerja mengoperasikan
dan memprogram komputer
U.S. Army yang pertama. Mereka
menghitung lintasan rudal, menguji
kode, dan mengerjakan perhitungan
manual yang kemudian menjadi
dasar ilmu komputer modern.
Beberapa dekade kemudian, peran
penting itu seakan menghilang dari
ingatan publik.
Para Perempuan yang
Menggerakkan Komputer
Awal Dunia
Salah satu pencapaian paling
menonjol dari era ini adalah
keberhasilan meluncurkan
Astronaut John Glenn ke orbit pada
1962. Perhitungan trajektori Glenn
diperiksa ulang oleh para ahli
matematika perempuan sebelum ia
diizinkan terbang. Kisah ini
kemudian menginspirasi film
Hidden Figures.
Bahkan sebelum itu, para perempuan
telah membentuk fondasi teknologi
komputasi. Grace Hopper seorang
perwira Angkatan Laut AS
memprogram Mark I, komputer
besar di Harvard yang berperan
dalam proyek teknologi saat Perang
Dunia II. Ia bukan hanya “asisten
teknis”, tapi pionir yang membangun
struktur perangkat lunak modern
yang menjadi dasar pemrograman
masa kini.
Saat itu, pemrograman dipandang
sebagai pekerjaan yang menuntut
ketelitian, kesabaran, dan
kemampuan mengorganisasi
informasi. Media populer pada
1960-an bahkan menggambarkan
pekerjaan programmer sebagai
sesuatu yang mirip mengatur
sebuah acara makan malam:
tahu apa yang harus disiapkan,
bekerja rapi, dan memperhatikan
detail. Sebuah deskripsi yang kala
itu dianggap identik dengan
perempuan.
Bagaimana Sebuah Penelitian
Mengubah Citra Programmer
Lanskap historis ini berubah drastis
pada pertengahan 1960-an. Dua
psikolog, William Cannon dan Dallas
Perry, merilis penelitian yang
mengklaim bahwa karakter ideal
seorang programmer adalah pria
introvert, cenderung menghindari
interaksi sosial, dan lebih nyaman
bekerja sendirian dalam ruang
tertutup.
Hasil penelitian ini menjadi titik balik
besar. Perusahaan-perusahaan
teknologi mengadopsinya sebagai
standar rekrutmen. Mereka mulai
menggunakan tes psikologi untuk
menyaring kandidat yang dianggap
“memenuhi kriteria programmer
ideal” yang secara bias lebih sering
menggugurkan perempuan.
Dari sinilah muncul gambaran
programmer maskulin, antisosial,
dan jenius yang bekerja sendirian
di depan komputer. Citra itu melekat
kuat hingga hari ini, mengaburkan
fakta bahwa fondasi ilmu komputer
modern dibangun oleh tangan-tangan
perempuan.
Lahirnya Industri yang
Didominasi Laki-Laki
Sejak era itu, jalur menuju karier
pemrograman semakin menyempit
bagi perempuan. Lingkungan kerja
yang mulai dirancang dengan asumsi
bahwa “pria lebih cocok di bidang ini”
membuat perempuan tersingkir
secara perlahan.
Peran penting yang pernah mereka
pegang berubah menjadi catatan kaki
dalam sejarah teknologi. Kisah-kisah
tentang perempuan yang
memprogram komputer pertama,
mengatur perhitungan penerbangan
antariksa, dan menciptakan bahasa
pemrograman modern tidak lagi
masuk dalam narasi utama teknologi.
Kondisi yang dibentuk oleh paradigma
keliru ini kemudian menjadi apa yang
dibahas Emily Chang dalam Brotopia:
ekosistem teknologi yang sangat
maskulin, padahal sejarahnya dimulai
dari sekelompok perempuan yang
membuka jalannya.
Mengingat Kembali Akar Sejarah
yang Hilang
Membongkar stereotipe programmer
bukan hanya soal memberikan kredit
pada tokoh yang terlupakan.
Ini tentang memahami bahwa
industri teknologi yang kita lihat
hari ini tidak seharusnya
didefinisikan oleh satu tipe
kepribadian atau satu jenis kelamin.
Fakta bahwa perempuan pernah
menjadi kekuatan utama dalam dunia
pemrograman membuktikan bahwa
kemampuan teknis tidak ditentukan
oleh stereotipe psikologis. Yang keliru
adalah cara industri membentuk citra
tentang siapa yang dianggap “pantas”
bekerja sebagai programmer.
Dengan melihat kembali sejarah ini
sebagaimana ditekankan dalam
Brotopia kita bisa memahami bahwa
representasi perempuan dalam
teknologi bukanlah permintaan baru,
melainkan pengembalian terhadap
posisi yang dulu pernah mereka miliki.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Programmer Pertama Itu…
Seperti Tukang Cat Rumah,
Bukan Arsitek
Coba bayangkan zaman dulu ketika
komputer pertama dibuat. Pekerjaan
membuat kode komputer itu ibarat
mengecat rumah: rapi, teliti, dan
penuh langkah-langkah kecil. Karena
dianggap “pekerjaan yang butuh
ketelitian”, dunia menganggap
perempuan lebih cocok melakukannya.
Mirip seperti dulu profesi kasir atau
sekretaris, pekerjaan ini bukan dilihat
sebagai sesuatu yang “wah” atau
“jenius”. Maka perempuan lah yang
banyak melakukannya. Mereka duduk
di depan mesin besar seperti lemari,
menghitung angka, memprogram
jalur roket pekerjaan super penting
yang saat itu tidak diberi sorotan.
Perempuan yang Jadi
“Sopir GPS” Sebelum GPS Ada
Bayangkan kamu mau pergi ke luar
kota dan butuh seseorang memetakan
jalur yang tepat biar tidak nyasar.
Zaman dulu, sebelum pesawat
meluncur, perempuan-perempuan
inilah yang menghitung manual jalur
pesawat layaknya “GPS hidup”.
Ketika John Glenn mau terbang
ke luar angkasa, dia bahkan berkata:
“Kalau hitungan mereka cocok, saya
berangkat.” Ini seperti seorang driver
menolak jalan kalau Google Maps
belum diverifikasi ulang oleh ahlinya.
Dan ahli itu… adalah para perempuan.
Grace Hopper, misalnya, seperti
“chef yang menemukan resep dasar”
untuk hampir semua bahasa
pemrograman yang kita pakai hari ini.
Penelitian yang Mengubah
Segalanya
Seperti Tiba-tiba Mengatakan
Hanya Pria Boleh Masak
Pertengahan 1960-an, ada penelitian
yang bilang programmer ideal itu
adalah pria pendiam yang betah
sendirian. Analogi sederhananya:
Bayangkan tiba-tiba keluar penelitian
yang bilang:
“Koki terbaik itu harus pria pendiam
yang jarang bicara.”
Setelah itu, semua restoran hanya
mencari pria, padahal sebelumnya
banyak koki perempuan yang jago.
Itulah yang terjadi di dunia teknologi.
Tes psikologi mulai dipakai sebagai
“penjaga pintu”. Banyak perempuan
tersaring bukan karena tidak bisa,
tapi karena tidak sesuai “kepribadian
yang diinginkan”.
Citra “programmer laki-laki jenius
yang bekerja di ruangan gelap” mulai
terbentuk dari sini bukan dari
kenyataan historis.
Industri Teknologi Jadi Seperti
Klub yang Pintu Masuknya
Pelan-Pelan Menyempit
Setelah stereotipe baru menyebar,
lingkungan teknologi jadi seperti
klub yang aturan masuknya semakin
ketat dan makin mirip “dunia
laki-laki”. Perempuan yang dulu
memegang banyak peran perlahan
tersingkir, bukan karena
kemampuan mereka turun, tapi
karena standar rekrutmen berubah.
Ibaratnya:
Dulu lapangan bola terbuka
bagi siapa saja.Lalu ada aturan baru: hanya
yang memakai sepatu jenis
tertentu boleh main.Kebetulan sepatu itu banyak
dipakai laki-laki.Lama-lama perempuan makin
sedikit di lapangan.
Begitulah cara industri berubah.
Mengingat Akar Sejarah Itu
Seperti Mengingat Siapa yang
Membangun Rumah Ini
Jika kita melihat industri teknologi
hari ini yang didominasi laki-laki,
rasanya seperti melihat rumah besar
dan lupa bahwa yang menyiapkan
fondasi dan batu-batu pertamanya
adalah perempuan.
Mengoreksi sejarah programmer
bukan soal “memberikan jatah
pada perempuan”, tapi
mengingatkan bahwa:
mereka pernah menjadi
pemegang peran utama,mereka memiliki kapasitas
sejak awal,dan teknologi tidak pernah
dimaksudkan untuk satu
kelompok saja.
Seperti mengembalikan nama
seseorang yang hilang dari daftar
keluarga; bukan menambah orang
baru, tetapi mengembalikan posisi
yang memang seharusnya ada.
