Rasionalitas dalam Ekonomi Klasik
Dalam Misbehaving, Richard
H. Thaler membuka pembahasan
dengan memperlihatkan fondasi
utama ekonomi tradisional yang
sangat percaya pada rasionalitas
manusia. Salah satu tonggaknya
adalah expected utility theory yang
diperkenalkan oleh John Von
Neumann dan Oskar Morgenstern
pada tahun 1944. Teori ini berangkat
dari asumsi bahwa manusia
membuat keputusan ekonomi secara
logis dan konsisten, dengan tujuan
memaksimalkan utilitas atau
kepuasan.
Dalam kerangka ini, kekayaan
dipandang memiliki marginal utility
yang menurun. Artinya, tambahan
kekayaan akan memberikan manfaat
yang semakin kecil seiring
bertambahnya jumlah harta yang
dimiliki seseorang. Seratus ribu
rupiah sangat berarti bagi seseorang
dengan penghasilan rendah, tetapi
hampir tidak terasa bagi mereka
yang sudah sangat kaya. Model ini
rapi, matematis, dan terlihat masuk
akal itulah sebabnya ia lama menjadi
tulang punggung teori ekonomi arus
utama.
Namun, asumsi pentingnya adalah
manusia selalu mampu menilai
pilihan secara objektif dan rasional,
tanpa dipengaruhi emosi atau
konteks psikologis. Di sinilah Thaler
mulai menunjukkan bahwa dunia
nyata sering kali tidak berjalan
seideal itu.
Tantangan Psikologi terhadap
Manusia Rasional
Pandangan ekonomi klasik tersebut
kemudian mendapat tantangan
besar dari dunia psikologi,
khususnya melalui karya Daniel
Kahneman dan Amos Tversky.
Mereka memperkenalkan prospect
theory, sebuah pendekatan yang
tidak menolak ekonomi, tetapi
menolak asumsi bahwa manusia
selalu rasional.
Prospect theory menunjukkan bahwa
manusia tidak menilai kekayaan
berdasarkan jumlah absolut yang
dimiliki, melainkan berdasarkan
perubahan dari kondisi sebelumnya.
Kenaikan atau penurunan kecil
dalam kekayaan bisa terasa sangat
besar secara emosional, tergantung
dari titik awalnya. Dengan kata lain,
konteks lebih penting daripada
angka itu sendiri.
Thaler menggunakan perbedaan ini
untuk menegaskan bahwa manusia
bukanlah “mesin penghitung utilitas”,
melainkan makhluk yang bereaksi
terhadap perubahan, harapan, dan
rasa kehilangan.
Perubahan Lebih Berarti
daripada Jumlah Kekayaan
Salah satu inti dari prospect theory
adalah gagasan bahwa perubahan
dalam kekayaan berdampak lebih
kuat secara psikologis dibandingkan
tingkat kekayaan absolut. Seseorang
yang kehilangan satu juta rupiah
akan merasakan dampak emosional
yang jauh lebih besar dibandingkan
rasa senang saat mendapatkan
jumlah yang sama.
Dalam ekonomi rasional, untung dan
rugi seharusnya diperlakukan secara
simetris. Namun dalam praktiknya,
manusia tidak merespons keduanya
dengan cara yang seimbang.
Kehilangan terasa jauh lebih
menyakitkan dibandingkan
kesenangan dari keuntungan yang
setara. Inilah yang kemudian
menjadi landasan bagi konsep bias
perilaku yang dibahas Thaler.
Loss Aversion dan Perilaku
Tidak Rasional
Prospect theory memperkenalkan
konsep loss aversion, yaitu
kecenderungan manusia untuk lebih
membenci kerugian daripada
menyukai keuntungan. Rasa sakit
akibat kehilangan bisa dirasakan
sekitar dua kali lebih kuat
dibandingkan rasa senang karena
mendapatkan hal yang sama.
Thaler menyoroti bahwa bias ini
sering mendorong manusia
mengambil keputusan yang
bertentangan dengan prinsip
ekonomi rasional. Ketika mengalami
kerugian, seseorang justru bisa
mengambil risiko yang lebih besar
demi “balik modal”. Alih-alih
menghindari risiko, mereka justru
mengejarnya, bukan karena
perhitungan rasional, melainkan
karena dorongan emosional untuk
menghindari rasa kehilangan.
Perilaku ini sulit dijelaskan oleh
expected utility theory, tetapi
menjadi sangat masuk akal dalam
kerangka prospect theory yang
mengakui peran emosi dalam
pengambilan keputusan.
Ketegangan antara Model
Matematika dan Perilaku
Manusia
Thaler juga menyoroti ketegangan
yang muncul di dunia akademik
ekonomi. Banyak ekonom lebih
menyukai model matematis yang
bersih, konsisten, dan dapat
diprediksi. Model semacam itu terasa
aman dan ilmiah. Namun,
masalahnya, manusia nyata sering
kali tidak berperilaku sesuai dengan
model tersebut.
Prospect theory menunjukkan
bahwa emosi, bias, dan reaksi
psikologis manusia dapat
memengaruhi kinerja ekonomi
secara nyata. Keputusan konsumsi,
investasi, dan pengambilan risiko
tidak selalu mengikuti logika utilitas
maksimum. Justru, banyak
keputusan penting diambil
berdasarkan rasa takut, penyesalan,
dan harapan.
Dalam Misbehaving, Thaler tidak
sekadar mengkritik ekonomi
tradisional, tetapi menunjukkan
bahwa mengabaikan sisi manusiawi
justru membuat teori ekonomi
kehilangan daya jelaskannya
terhadap dunia nyata.
Dari Manusia Rasional
ke Manusia Nyata
Melalui perbandingan antara
expected utility theory dan prospect
theory, Thaler menegaskan
pergeseran penting dalam cara
memahami perilaku ekonomi.
Ekonomi berbasis rasionalitas
mengasumsikan manusia ideal,
sementara ekonomi berbasis
perilaku berusaha memahami
manusia sebagaimana adanya
emosional, bias, dan sering kali
tidak konsisten.
ini menjadi inti dari pesan
Thaler: untuk memahami ekonomi
dengan lebih akurat, kita tidak bisa
hanya bergantung pada angka dan
rumus. Kita juga harus memahami
cara manusia merasakan keuntungan,
menghadapi kerugian, dan bereaksi
terhadap perubahan. Di sanalah
ekonomi menjadi lebih manusiawi,
sekaligus lebih realistis.
Rasionalitas dalam Ekonomi
Klasik
Bayangkan seseorang masuk
ke warung untuk membeli air minum.
Jika ia sangat haus dan tidak punya
air sama sekali, satu gelas air terasa
sangat berharga. Tapi jika ia sudah
minum lima gelas sebelumnya, gelas
keenam tidak lagi terasa istimewa.
Inilah gambaran sederhana dari
cara ekonomi klasik melihat manusia.
Dalam Misbehaving, Richard
H. Thaler menjelaskan bahwa
ekonomi tradisional berangkat dari
asumsi bahwa manusia selalu
berpikir seperti itu: tenang, logis,
dan konsisten. Teori yang menjadi
fondasinya, expected utility theory,
menganggap manusia selalu memilih
opsi yang memberi kepuasan paling
besar bagi dirinya.
Tambahan kekayaan dianggap seperti
gelas air tadi. Semakin banyak yang
sudah dimiliki, tambahan berikutnya
terasa semakin kecil manfaatnya.
Seratus ribu rupiah bisa sangat
berarti bagi orang yang dompetnya
kosong, tetapi hampir tidak terasa
bagi orang yang saldo rekeningnya
sudah ratusan juta. Selama puluhan
tahun, cara berpikir ini dianggap
masuk akal karena rapi dan mudah
dihitung.
Masalahnya, teori ini berasumsi
manusia selalu berpikir jernih,
seperti kalkulator. Tidak marah,
tidak kecewa, dan tidak terbawa
perasaan. Di titik inilah Thaler
mulai menunjukkan bahwa manusia
nyata sering kali jauh berbeda dari
gambaran ideal tersebut.
Tantangan Psikologi terhadap
Manusia Rasional
Sekarang bayangkan dua orang.
Orang pertama mendapatkan bonus
500 ribu rupiah. Orang kedua
kehilangan 500 ribu rupiah karena
dompetnya jatuh. Secara angka,
perubahannya sama. Namun, secara
perasaan, dampaknya sangat
berbeda.
Inilah yang ditunjukkan oleh Daniel
Kahneman dan Amos Tversky
melalui prospect theory. Mereka
mengatakan bahwa manusia tidak
menilai uang dari jumlah akhirnya,
tetapi dari perubahan yang dialami.
Perasaan senang atau sedih muncul
karena naik atau turunnya kondisi,
bukan karena angka mutlak
di rekening.
Bagi manusia, titik awal sangat
menentukan. Kehilangan kecil bisa
terasa menyakitkan jika sebelumnya
merasa “aman”. Sebaliknya,
keuntungan kecil bisa terasa luar
biasa jika sebelumnya merasa
kekurangan. Thaler menggunakan
pemikiran ini untuk menegaskan
bahwa manusia bukan mesin hitung,
melainkan makhluk yang bereaksi
terhadap perubahan dan harapan.
Perubahan Lebih Berarti
daripada Jumlah Kekayaan
Coba bayangkan Anda sedang
berjalan membawa belanjaan.
Tiba-tiba uang satu juta rupiah jatuh
dari saku. Rasa kesalnya bisa
terbawa seharian. Sekarang
bandingkan dengan menemukan
uang satu juta rupiah di jalan.
Senangnya ada, tetapi sering kali
tidak sebanding dengan rasa sakit
saat kehilangan.
Secara logika ekonomi klasik,
untung satu juta dan rugi satu juta
seharusnya seimbang. Namun
dalam kehidupan nyata, perasaan
manusia tidak bekerja seperti itu.
Kehilangan terasa jauh lebih kuat
daripada keuntungan yang setara.
Prospect theory menjelaskan bahwa
otak manusia lebih peka terhadap
perubahan negatif dibandingkan
perubahan positif. Bukan karena
manusia bodoh, tetapi karena cara
kerja psikologinya memang
seperti itu. Thaler menempatkan
pengamatan ini sebagai dasar untuk
memahami banyak keputusan
ekonomi yang tampak “aneh” jika
dilihat dari kacamata rasional.
Loss Aversion dan Perilaku
Tidak Rasional
Bayangkan seseorang membeli motor
bekas seharga 15 juta rupiah. Setelah
beberapa bulan, harga pasarnya
turun menjadi 13 juta. Banyak orang
tetap menolak menjualnya, meski
tahu harganya tidak akan kembali
seperti semula. Alasannya sederhana:
“Sayang kalau rugi.”
Inilah contoh loss aversion. Manusia
cenderung lebih takut rugi daripada
ingin untung. Rasa tidak nyaman
karena rugi sering kali mendorong
orang mengambil keputusan yang
justru berisiko. Demi menutup rasa
kehilangan, orang bisa nekat
mengambil langkah yang sebenarnya
tidak masuk akal secara ekonomi.
Dalam kondisi seperti ini, manusia
bukan lagi menghitung untung-rugi
secara dingin, melainkan berusaha
menghindari rasa sakit emosional.
Expected utility theory sulit
menjelaskan perilaku ini. Namun
dalam kerangka prospect theory,
pola tersebut justru sangat wajar.
Ketegangan antara Model
Matematika dan Perilaku
Manusia
Di ruang kuliah dan jurnal akademik,
model ekonomi sering digambarkan
seperti garis lurus dan rumus yang
rapi. Semuanya terlihat bisa
diprediksi. Namun di dunia nyata,
manusia sering bertindak seperti
pengemudi yang emosinya naik
turun: kadang sabar, kadang nekat,
kadang takut, kadang berharap
terlalu tinggi.
Thaler menunjukkan bahwa banyak
keputusan ekonomi sehari-hari
belanja, menabung, berutang, atau
berinvestasi lebih dipengaruhi
perasaan daripada hitungan
rasional. Orang menunda menjual
aset karena takut menyesal, atau
membeli sesuatu bukan karena
butuh, tetapi karena takut
ketinggalan.
Ketika teori mengabaikan sisi
manusia ini, ia kehilangan
kemampuannya menjelaskan
realitas. Itulah kritik utama Thaler
terhadap ekonomi tradisional:
terlalu bersih di atas kertas, tetapi
sering tidak cocok dengan
kehidupan nyata.
Dari Manusia Rasional
ke Manusia Nyata
Melalui perbandingan expected
utility theory dan prospect theory,
Thaler mengajak pembaca
mengubah cara pandang. Ekonomi
klasik berbicara tentang manusia
ideal yang selalu tenang dan logis.
Ekonomi perilaku berbicara tentang
manusia nyata yang punya emosi,
bias, dan ketidakkonsistenan.
Dalam kehidupan sehari-hari,
keputusan jarang diambil murni
berdasarkan angka. Lebih sering,
keputusan dipengaruhi oleh rasa
takut rugi, harapan balik modal,
atau keengganan mengakui
kesalahan. Dengan memahami ini,
ekonomi menjadi lebih dekat
dengan realitas manusia.
Pesan utama Thaler sederhana tetapi
kuat: jika ingin memahami ekonomi
sebagaimana adanya, kita harus
memahami manusia apa adanya.
Bukan hanya lewat rumus, tetapi
lewat cara manusia merasakan
untung, menanggung rugi, dan
bereaksi terhadap perubahan.
Berikut contoh-contoh kasus
Contoh Kasus Rasionalitas
dalam Ekonomi Klasik
(Expected Utility & Marginal
Utility Menurun)
Bayangkan ada dua orang:
Ani, penghasilan
Rp3.000.000 per bulanBudi, penghasilan
Rp150.000.000 per bulan
Keduanya sama-sama mendapat
tambahan uang Rp100.000.
Secara ekonomi klasik:
Ani dan Budi sama-sama
mendapat “tambahan utilitas”.Namun manfaat
Rp100.000 bagi Ani jauh
lebih besar dibandingkan
bagi Budi.
Bagi Ani:
Rp100.000 bisa berarti lauk
seminggu atau ongkos kerja
beberapa hari.
Bagi Budi:
Rp100.000 hampir tidak
terasa, bahkan mungkin
hanya biaya parkir.
👉 Ini contoh marginal utility
menurun: semakin kaya seseorang,
tambahan uang memberi kepuasan
yang semakin kecil.
Model ini rapi dan masuk akal
selama manusia diasumsikan selalu
berpikir dingin dan logis.
Contoh Kasus Tantangan
Psikologi
(Prospect Theory & Titik Awal
Lebih Penting dari Angka)
Sekarang bandingkan dua situasi
berikut:
Skenario A:
Gaji bulanan Rp5.000.000
→ naik menjadi Rp6.000.000
(naik Rp1.000.000)Skenario B:
Gaji bulanan Rp50.000.000
→ naik menjadi Rp51.000.000
(naik Rp1.000.000)
Secara rasional:
Keduanya sama-sama untung
Rp1.000.000.
Dalam kenyataan:
Orang di skenario A merasa
hidupnya berubah.Orang di skenario B hampir
tidak merasakan perbedaan.
👉 Prospect theory
menjelaskan ini: manusia
menilai perubahan relatif dari
kondisi awal, bukan angka absolut.
Contoh Kasus Perubahan Lebih
Bermakna daripada Jumlah
Kekayaan
Bayangkan seseorang memiliki
tabungan Rp10.000.000.
Untung Rp1.000.000
→ tabungan jadi Rp11.000.000Rugi Rp1.000.000
→ tabungan jadi Rp9.000.000
Secara matematika:
Untung dan rugi sama besar.
Secara psikologis:
Rugi Rp1.000.000 terasa
jauh lebih menyakitkanBahkan sering terasa
“lebih dari Rp1.000.000”
Orang cenderung:
Mengingat kerugian lebih lama
Terus memikirkannya
berhari-hari
👉 Inilah alasan mengapa kerugian
secara emosional lebih kuat
daripada keuntungan.
Contoh Kasus Loss Aversion
(Mengapa Orang Mengejar
Balik Modal)
Misalnya:
Seseorang membeli saham dengan
modal Rp10.000.000.
Nilai saham turun menjadi
Rp7.000.000.
Sekarang ada dua pilihan:
Jual saham dan menerima
rugi Rp3.000.000Tetap bertahan (atau tambah
modal) dengan harapan
“nanti balik”
Secara rasional:
Keputusan harus berdasarkan
prospek ke depan, bukan
harga beli.
Dalam praktik:
Banyak orang memilih opsi
kedua, bahkan menambah
modal.
Alasannya bukan logika, tapi emosi:
“Kalau dijual sekarang,
ruginya nyata”“Kalau belum dijual, belum
benar-benar rugi”
👉 Loss aversion membuat
orang mengambil risiko lebih
besar saat rugi, sesuatu yang
sulit dijelaskan oleh ekonomi klasik.
Contoh Ketegangan Model
Matematika vs Manusia Nyata
Model ekonomi berkata:
Jika investasi A dan B punya
risiko sama, orang akan
memilih yang return lebih
tinggi.
Di dunia nyata:
Orang sering memilih investasi
dengan return lebih kecil asal
terlihat aman.
Contoh:
Deposito 4% vs reksa dana 8%
Banyak orang tetap memilih
deposito meski tahu hasilnya
lebih rendah.
Bukan karena tidak bisa menghitung,
tetapi karena:
Takut rugi
Trauma pengalaman
sebelumnyaTidak tahan melihat nilai turun
👉 Faktor emosi ini nyata
memengaruhi keputusan
ekonomi, meski tidak masuk rumus.
Contoh Peralihan dari Manusia
Rasional ke Manusia Nyata
Ekonomi klasik mengasumsikan:
“Jika untung lebih besar,
orang pasti memilihnya.”
Ekonomi perilaku melihat kenyataan:
“Jika untung lebih besar tapi terasa
menakutkan, orang bisa menolaknya.”
Misalnya:
Investasi dengan potensi untung
Rp5.000.000Tapi ada kemungkinan rugi
Rp2.000.000
Banyak orang menolak,
meski secara hitungan masih
“menguntungkan”.
👉 Di sinilah pesan Thaler terasa
jelas:
keputusan ekonomi bukan
hanya soal angka, tapi soal
rasa.
