Keterbatasan Manusia dalam Mengambil Keputusan
Dalam Misbehaving, Richard
H. Thaler menunjukkan bahwa
banyak keputusan manusia
termasuk dalam dunia bisnis tidak
mengikuti model rasional yang
selama ini diasumsikan oleh
ekonomi tradisional. Salah satu akar
persoalannya adalah cara manusia
memahami masa lalu dan cara
mereka memproses informasi ketika
harus mengambil keputusan. Dua
konsep penting yang muncul adalah
hindsight bias dan bounded
rationality, yang saling berkaitan
dan berdampak besar pada penilaian
serta evaluasi keputusan.
Hindsight Bias: Ilusi
“Sudah Tahu dari Awal”
Psikolog Baruch Fischhoff
mengemukakan bahwa manusia
cenderung mengalami hindsight bias,
yaitu kecenderungan untuk merasa
bahwa suatu hasil sebenarnya sudah
bisa diprediksi sejak awal, padahal
kenyataannya tidak demikian.
Setelah sebuah peristiwa terjadi,
manusia sering kali meyakini bahwa
hasil tersebut “sudah jelas” atau
“sudah bisa ditebak.”
Dalam konteks pengambilan
keputusan, bias ini menciptakan
ilusi pemahaman. Orang lupa bahwa
sebelum hasil diketahui, situasinya
penuh dengan ketidakpastian,
informasi yang tidak lengkap, dan
berbagai kemungkinan lain. Namun
setelah hasil muncul, pikiran
manusia menyusun ulang cerita
seolah-olah jalannya peristiwa selalu
mengarah ke satu titik akhir tersebut.
Dampak Hindsight Bias dalam
Dunia Bisnis
Hindsight bias menjadi sangat
bermasalah dalam organisasi dan
bisnis. Ketika sebuah proyek gagal,
pengambil keputusan sering kali
menilai bahwa kegagalan tersebut
seharusnya bisa dihindari. Akibatnya,
individu atau tim yang terlibat dalam
proyek tersebut dapat dikenai
hukuman atau penilaian negatif.
Masalahnya bukan sekadar kegagalan
proyek, tetapi cara kegagalan itu
ditafsirkan. Dengan hindsight bias,
evaluasi menjadi tidak adil karena
keputusan masa lalu dinilai
menggunakan informasi yang baru
tersedia setelah kejadian. Padahal,
pada saat keputusan diambil,
informasi tersebut belum ada.
Hal ini membuat pembelajaran
organisasi menjadi keliru. Alih-alih
memahami kondisi dan keterbatasan
saat keputusan dibuat, organisasi
justru terjebak pada penilaian
berbasis hasil akhir semata.
Heuristik dan Jalan Pintas
dalam Pikiran Manusia
Daniel Kahneman dan Amos Tversky,
rekan Fischhoff, menyoroti bahwa
manusia sering menggunakan
heuristics atau jalan pintas mental
dalam mengambil keputusan.
Heuristik membantu manusia
bertindak cepat, tetapi juga membuka
peluang munculnya bias dan
kesalahan yang dapat diprediksi.
Penggunaan heuristik ini menjelaskan
mengapa kesalahan dalam
pengambilan keputusan manusia
tidak selalu bersifat acak.
Cara manusia menyederhanakan
masalah justru menciptakan pola
kesalahan tertentu yang berulang,
bukan kesalahan yang tersebar secara
seimbang.
Bounded Rationality:
Rasionalitas yang Terbatas
Ekonom Herbert Simon
memperkenalkan konsep bounded
rationality, yang menyatakan
bahwa manusia tidak memiliki
kapasitas mental untuk memproses
seluruh informasi dalam masalah
yang kompleks. Keterbatasan waktu,
perhatian, dan kemampuan kognitif
membuat manusia hanya bisa
mengambil keputusan yang
“cukup masuk akal”,
bukan keputusan yang benar-benar
optimal.
Pendekatan ini mengakui bahwa
model rasional klasik terlalu
menuntut kemampuan manusia.
Dalam praktiknya, manusia harus
menyederhanakan masalah dan
membuat kompromi.
Perbedaan Pandangan tentang
Kesalahan dalam Keputusan
Dalam model ekonomi tradisional,
kesalahan dianggap bersifat acak.
Artinya, kesalahan perkiraan ke atas
dan ke bawah dianggap seimbang,
sehingga dalam jangka panjang tidak
menimbulkan pola tertentu.
Namun, temuan Kahneman dan
Tversky menunjukkan hal yang
berbeda. Kesalahan manusia tidak
netral dan tidak acak. Justru, karena
manusia menggunakan heuristik
tertentu, kesalahan yang muncul
menjadi sistematis dan dapat
diprediksi. Ini berarti model rasional
pengambilan keputusan bisa
menghasilkan bias yang berulang,
bukan sekadar kebetulan statistik.
Ketika Evaluasi Rasional
Bertabrakan dengan Psikologi
Manusia
Gabungan antara hindsight bias dan
bounded rationality menjelaskan
mengapa banyak evaluasi keputusan
menjadi bermasalah. Manusia
menilai keputusan masa lalu dengan
standar pengetahuan saat ini, sambil
mengabaikan keterbatasan kognitif
yang ada saat keputusan itu dibuat.
Akibatnya, keputusan yang
sebenarnya wajar dalam konteks
ketidakpastian sering dianggap
sebagai kesalahan fatal setelah
hasilnya diketahui. Pola ini
memperlihatkan bahwa penilaian
manusia terhadap keputusan bukan
hanya soal logika, tetapi juga sangat
dipengaruhi oleh cara pikiran
bekerja.
Mengapa Misbehaving
Menjadi Relevan
Melalui pembahasan tentang
hindsight bias, heuristik, dan
bounded rationality, Misbehaving
menegaskan bahwa perilaku manusia
dalam pengambilan keputusan tidak
sesuai dengan asumsi rasional
sempurna. Kesalahan manusia bukan
sekadar kebisingan acak, melainkan
pola yang dapat dipahami dan
diprediksi.
Pemahaman ini penting bukan untuk
menyalahkan individu, tetapi untuk
memperbaiki cara keputusan
dievaluasi dan dipelajari. Dengan
menyadari keterbatasan rasionalitas
manusia dan bias dalam menilai
masa lalu, organisasi dan pengambil
keputusan dapat membangun sistem
yang lebih adil dan realistis.
Cara Manusia Sebenarnya
Mengambil Keputusan
Richard H. Thaler dalam
Misbehaving menjelaskan bahwa
manusia bukan mesin hitung yang
selalu rasional. Dalam kehidupan
nyata, keputusan kita lebih mirip
keputusan orang biasa: terburu-buru,
informasinya setengah-setengah,
dan sering dipengaruhi perasaan.
Dua penyebab utamanya bisa
dianalogikan dengan sangat
sederhana: cara kita melihat
masa lalu dan keterbatasan
otak kita sendiri.
Hindsight Bias: Seperti Nonton
Ulang Pertandingan Bola
Bayangkan sedang menonton
pertandingan sepak bola
secara live.
Sebelum gol terjadi, ada banyak
kemungkinan: bola bisa meleset,
ditepis kiper, atau kena tiang.
Tapi setelah pertandingan selesai,
lalu ditonton ulang, kita sering
berkata:
“Harusnya dari tadi sudah kelihatan
bakal gol.”
“Beknya bodoh, jelas-jelas salah
posisi.”
Padahal saat kejadian belum
tentu sejelas itu.
Inilah hindsight bias.
Setelah tahu hasilnya, otak kita
menipu diri sendiri seolah-olah
hasil itu sudah pasti sejak awal.
Kita lupa bahwa sebelumnya
penuh ketidakpastian.
Dampaknya di Dunia Kerja:
Sekarang bayangkan ini:
Seseorang mengerjakan ujian
tanpa kunci jawabanSetelah ujian selesai, gurunya
membagikan kunci jawabanLalu gurunya berkata:
“Kok bisa salah?
Harusnya gampang.”
Masalahnya jelas:
penilaian dilakukan dengan
informasi yang tidak dimiliki
saat ujian dikerjakan.
Di dunia bisnis, ini sering terjadi:
Proyek gagal → “Harusnya
dari awal tahu ini bakal gagal.”Strategi tidak berhasil
→ “Keputusannya bodoh.”
Padahal, saat keputusan dibuat:
Datanya belum lengkap
Kondisinya belum jelas
Masa depan belum terlihat
Bukan berarti keputusannya benar,
tapi penilaiannya jadi tidak adil.
Heuristik: Jalan Pintas Seperti
Pilih Warung Ramai
Dalam kehidupan sehari-hari, kita
sering berpikir begini:
“Warung ini ramai, berarti
enak.”“Produk mahal biasanya
lebih bagus.”“Kalau banyak orang pakai,
aman.”
Ini bukan logika rumit.
Ini jalan pintas otak supaya
kita tidak capek mikir.
Daniel Kahneman dan Amos
Tversky menunjukkan bahwa
manusia sangat sering memakai
cara seperti ini. Dan biasanya
membantu… sampai suatu saat
meleset.
Masalahnya:
Jalan pintas ini dipakai
berulangKesalahannya jadi berpola
Bukan kebetulan, tapi bisa
ditebak
Bounded Rationality: Belanja
di Pasar dengan Otak dan
Waktu Terbatas
Bayangkan belanja di pasar:
Uang terbatas
Waktu terbatas
Harga berubah-ubah
Tidak mungkin
membandingkan semua
penjual satu per satu
Apa yang dilakukan?
Ambil harga “masuk akal”
Tidak paling murah, tapi
tidak kemahalanYang penting cukup baik
Herbert Simon menyebut ini
bounded rationality:
Manusia tidak memilih yang
paling optimal, tapi yang
cukup masuk akal sesuai
kemampuan otaknya.
Ekonomi klasik menganggap
manusia seperti:
Komputer super dengan data lengkap
Padahal kenyataannya:
Manusia seperti pembeli pasar yang
capek dan buru-buru
Kesalahan Manusia Itu Bukan
Acak, Tapi Berulang
Ekonomi lama menganggap:
Kadang salah ke atas
Kadang salah ke bawah
Rata-ratanya seimbang
Tapi psikologi menunjukkan
hal lain:
Kita salah dengan pola
yang samaSalah karena cara berpikir
yang samaSalah karena heuristik
yang sama
Ibarat:
Selalu salah belok di persimpangan
yang sama, bukan tersesat secara
acak
Masalah Besarnya: Menilai
Masa Lalu Pakai Otak Masa
Kini
Gabungan hindsight bias
+ keterbatasan rasionalitas
membuat manusia sering:
Menghakimi keputusan
lama terlalu kerasMenganggap keputusan
wajar sebagai kebodohanFokus ke hasil, bukan
proses berpikir saat itu
Seperti menyalahkan orang karena
tidak tahu masa depan.
Kenapa Misbehaving Penting
Misbehaving mengajarkan satu hal
penting:
Manusia tidak bodoh, tapi terbatas.
Kesalahan manusia bukan sekadar
“nasib buruk”, tapi hasil dari
cara otak bekerja. Dengan
memahami ini:
Penilaian jadi lebih adil
Evaluasi keputusan jadi lebih
masuk akalSistem bisa dirancang untuk
mengurangi bias, bukan
menyalahkan manusia
Karena masalahnya bukan
manusia yang “kurang pintar”,
melainkan harapan kita yang terlalu
menganggap manusia sempurna
rasional.
Contoh Kasus 1
Hindsight Bias dalam Proyek
Bisnis
Sebuah perusahaan ritel
memutuskan membuka
cabang baru di kota kecil.
Kondisi saat keputusan dibuat:
Biaya pembukaan cabang:
Rp2 miliarData riset pasar menunjukkan:
60% peluang cabang
untung40% peluang cabang rugi
Jika berhasil, estimasi laba
2 tahun: Rp1,2 miliarJika gagal, potensi kerugian:
Rp800 juta
Secara rasional pada saat itu,
keputusan masih masuk akal.
Banyak bisnis mau mengambil
peluang dengan probabilitas 60%.
Yang terjadi:
Setelah 1,5 tahun, cabang
ditutup.Total kerugian: Rp750 juta
Evaluasi setelah kejadian
(hindsight bias):
Manajemen berkata:
“Sebetulnya sudah kelihatan dari
awal kota itu daya belinya lemah.
Harusnya kita tahu ini bakal gagal.”
Padahal:
Data “daya beli melemah”
baru muncul setahun
setelah cabang dibukaInformasi tersebut tidak
tersedia saat keputusan
diambil
Masalahnya bukan kerugian
Rp750 juta, tetapi cara menilai
keputusan masa lalu seolah-olah
hasil buruk itu sudah pasti sejak
awal. Inilah hindsight bias.
Contoh Kasus 2
Hindsight Bias dan Hukuman
yang Tidak Adil
Seorang manajer investasi mengelola
dana Rp10 miliar.
Ia membagi portofolio:
70% (Rp7 miliar) ke obligasi
pemerintah30% (Rp3 miliar) ke saham
sektor teknologi lokal
Alasannya saat itu:
Obligasi stabil
Saham teknologi sedang
tumbuh dan prospeknya
menjanjikan
Yang terjadi:
Setahun kemudian, sektor
teknologi jatuh karena
regulasi baruKerugian di saham: -20%
Kerugian total portofolio:
Rp600 juta
Evaluasi setelah kejadian:
Atasan berkata:
“Kenapa masuk saham teknologi?
Kan sudah jelas sektor itu berisiko.”
Padahal:
Risiko memang ada, tapi
belum jelas hasilnyaBanyak analis saat itu juga
merekomendasikan sektor
yang sama
Di sini, hindsight bias mengubah
keputusan rasional dalam
ketidakpastian menjadi
kesalahan yang dianggap
bodoh setelah hasil diketahui.
Contoh Kasus 3
Heuristik: Jalan Pintas yang
Menyesatkan
Seorang pengusaha UMKM ingin
membeli mesin produksi baru.
Pilihan:
Mesin A
Harga:
Rp120 jutaKapasitas:
1.000 unit/hari
Mesin B
Harga:
Rp80 jutaKapasitas:
700 unit/hari
Karena berpikir cepat, ia memakai
heuristik harga murah:
“Yang penting lebih murah, selisih
Rp40 juta bisa buat modal lain.”
Ia memilih Mesin B.
Yang baru disadari setelah
6 bulan:
Permintaan pasar naik
Mesin B tidak sanggup
memenuhi pesananPotensi omzet yang hilang:
300 unit × Rp5.000 × 180 hari
= Rp270 juta
Keputusan cepat memang
menghemat Rp40 juta, tapi justru
menghilangkan potensi Rp270 juta.
Kesalahan ini bukan acak, tapi
sistematis akibat penggunaan
heuristik sederhana.
Contoh Kasus 4
Bounded Rationality dalam
Kehidupan Sehari-hari
Seseorang ingin membeli rumah
pertama.
Pilihan KPR:
Cicilan: Rp3,2 juta/bulan
Tenor: 20 tahun
Ia hanya fokus pada pertanyaan:
“Cicilan ini sanggup atau
tidak tiap bulan?”
Karena masih di bawah gaji
Rp6 juta, ia merasa aman.
Yang tidak diproses
(karena keterbatasan):
Biaya perawatan rumah:
± Rp500 ribu/bulanKenaikan suku bunga
Biaya pajak & asuransi
Setelah 2 tahun:
Cicilan naik menjadi
Rp3,8 jutaTotal beban bulanan
mendekati Rp4,5 jutaKeuangan mulai tertekan
Ini contoh bounded rationality:
Bukan karena bodoh, tapi karena
otak manusia memang tidak
sanggup menghitung semua
faktor kompleks sekaligus.
Contoh Kasus 5
Kesalahan Tidak Acak, Tapi
Berulang
Jika kesalahan manusia
benar-benar acak:
Kadang terlalu optimistis
Kadang terlalu pesimistis
Namun yang sering terjadi:
Terlalu percaya tren naik
Meremehkan risiko langka
Menilai masa lalu dengan
kacamata hasil akhir
Akibatnya:
Proyek gagal → dianggap
“bodoh dari awal”Proyek sukses → dianggap
“pasti bisa ditebak”
Padahal, hasil ≠ kualitas
keputusan.
Inti Pelajaran dari
Contoh-contoh Ini
Hindsight bias membuat kita
menghakimi masa lalu
dengan informasi masa kiniHeuristics membuat keputusan
cepat, tapi menciptakan pola
kesalahan yang samaBounded rationality
menjelaskan bahwa manusia
cukup rasional, bukan
sempurna
Kesalahan dalam keputusan manusia
bukan kebetulan, melainkan
konsekuensi dari cara pikiran bekerja
dan itulah pesan utama Misbehaving.
