buku

Menggunakan Skin in the Game untuk Keuntungan Investor

Bagaimana seorang investor dapat
menggunakan skin in the game
untuk keuntungannya sendiri?
Konsep ini sangat penting bukan
hanya bagi investor pasif yang
mempercayakan uangnya kepada
manajer investasi, tetapi juga bagi
investor aktif yang membuat
keputusan finansialnya sendiri.
Keduanya menghadapi risiko,
namun dengan cara yang berbeda.
Karena itu, memahami bagaimana
skin in the game bekerja menjadi
fondasi penting dalam dunia
investasi.

Skin in the Game bagi Investor
Pasif

Dalam konteks nasihat keuangan,
ada satu prinsip sederhana: jangan
hanya mendengarkan apa yang
dikatakan seseorang, tetapi lihat
di mana ia menaruh uangnya.
Mengetahui keyakinan nyata
seorang manajer investasi dapat
menjadi dasar yang kuat dalam
menyusun portofolio sendiri.

Memang ada perbedaan antara
setiap individu: toleransi risiko,
kondisi finansial, dan kebutuhan
masing-masing bisa memengaruhi
bentuk portofolio yang optimal.
Namun tetap, mengetahui apa
yang benar-benar dipercaya oleh
pengelola dana memberi gambaran
yang lebih jujur daripada sekadar
mendengar rekomendasi mereka.

Hal ini juga berlaku ketika
berinvestasi dalam dana kelolaan
aktif atau kemitraan investasi.
Pastikan manajer investasi memiliki
skin in the game: ia boleh menikmati
hasil ketika kinerja positif, tetapi juga
harus menanggung konsekuensi
ketika hasilnya negatif. Simetri
antara keuntungan dan kerugian
adalah inti dari prinsip ini.

Pelajaran dari Warren Buffett

Prinsip skin in the game pernah
diterapkan oleh Warren Buffett
ketika membentuk kemitraan
investasi pertamanya, Buffett
Associates. Kesepakatannya
sederhana: ia akan menerima
setengah dari keuntungan di atas 4%,
tetapi juga menanggung seperempat
dari kerugian yang dialami para
mitra. Ini menciptakan keselarasan
kepentingan antara pengelola dan
investor. Tidak ada pihak yang hanya
menikmati hasil tanpa menanggung
risiko.

Skin in the Game bagi Investor
Aktif

Ada ungkapan: tidak ada yang
mencuci mobil sewaan dengan
sungguh-sungguh. Artinya, jika
seseorang tidak benar-benar
memiliki sesuatu, ia tidak akan
menjaganya dengan penuh
tanggung jawab. Prinsip ini juga
berlaku dalam dunia saham.

Sebagai investor jangka panjang,
penting untuk mencari perusahaan
di mana manajemen puncaknya
juga merupakan pemegang saham
besar. Jika seorang CEO tidak
memiliki skin in the game, ia bisa
terdorong mengambil keputusan
yang menguntungkan jangka
pendek seperti memaksimalkan
bonus dan gaji tetapi merugikan
masa depan perusahaan.

Sebaliknya, CEO yang memiliki
kepemilikan besar berada
di perahu yang sama dengan para
pemegang saham lain. Ia ikut
merasakan dampak keputusan
yang diambil. Setidaknya, ini
memberi keyakinan bahwa ia
berusaha membuat keputusan
terbaik bagi perusahaan dan
pemilik sahamnya.

Dalam praktik investasi pribadi,
memilih perusahaan di mana
para eksekutifnya memiliki skin in
the game
menjadi salah satu dasar
kepercayaan dalam menempatkan
modal.

Simetri: Inti dari Skin in the
Game

Pada akhirnya, skin in the game
adalah tentang simetri. Menikmati
hasil positif harus selalu disertai
kesiapan menanggung akibat
negatif. Jika seseorang hanya
mengambil keuntungan tanpa
menanggung risiko, maka ada
ketidakseimbangan yang berbahaya.

Konsep ini juga melahirkan beberapa
konsekuensi lain. Dalam situasi
tertentu, kelompok kecil dapat
mengalahkan mayoritas. Seseorang
bisa menjadi lebih bijak karena ia
menanggung sendiri akibat
keputusannya. Dalam banyak
kondisi, karyawan sebenarnya
bertindak seperti kontraktor karena
tidak memiliki keterikatan risiko
jangka panjang.

Ketimpangan sering kali terasa tidak
adil ketika tidak ada skin in the game.
Sebaliknya, posisi penghasilan tinggi
tidak menimbulkan kecemburuan
bila posisi itu terbuka terhadap
persaingan dan risiko nyata.

Ergodicity dan Risiko
Kehancuran

Konsep ergodicity menegaskan
bahwa ada perbedaan besar antara
probabilitas kolektif (ensemble
probability
) dan probabilitas
seseorang sepanjang waktu
(time probability). Karena itu,
seseorang harus sangat
berhati-hati dalam mengambil risiko
yang berpotensi menyebabkan
kehancuran risiko yang bersifat
irreversible.

Bagi investor, ini berarti tidak
cukup melihat rata-rata hasil
di banyak orang. Yang lebih
penting adalah apa yang terjadi
pada satu individu dari waktu
ke waktu. Risiko kehancuran
tidak boleh dianggap remeh.

Kesimpulan

Baik investor pasif maupun investor
aktif dapat menggunakan skin in the
game
untuk keuntungan mereka.
Caranya adalah memastikan bahwa
orang-orang yang mengelola atau
memimpin uang mereka berada
di perahu yang sama. Mereka harus
ikut menikmati hasil, tetapi juga
ikut menanggung kerugian.

Prinsip sederhana ini menjadi
perlindungan alami terhadap
keputusan ceroboh, insentif yang
salah arah, dan risiko kehancuran
yang tidak perlu.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Bayangkan kamu dan teman-teman
mau patungan buka warung kopi
kecil.

1. Skin in the Game itu seperti
patungan modal warung

Ada dua tipe pengelola warung:

Tipe A:
Dia yang mengelola warung, tapi
tidak ikut menanam modal.
Kalau untung, dia dapat gaji dan
bonus.
Kalau rugi, dia tetap pulang bawa
gaji yang rugi kamu dan
teman-teman.

Tipe B:
Dia mengelola warung dan ikut
menanam uangnya sendiri
.
Kalau untung, dia senang.
Kalau rugi, uangnya sendiri
ikut berkurang.

Naluri kita pasti lebih percaya
Tipe B.
Karena dia tidak akan
sembarangan mengambil keputusan.
Itulah skin in the game:
ikut menanggung akibat dari
keputusan sendiri.

2. Investor pasif seperti titip
uang ke orang masak

Kamu tidak bisa masak, lalu titip
uang ke seseorang untuk buka
katering.

Logikanya:
“Jangan cuma dengar katanya
jago masak. Lihat juga:
Apakah dia ikut makan
masakan yang dia buat sendiri?

Kalau dia sendiri tidak mau makan
masakannya, kamu patut curiga.
Dalam investasi: kalau manajer
investasi tidak menaruh uang
pribadinya di produk yang dia
kelola, artinya keyakinannya
belum tentu kuat.

3. CEO tanpa saham seperti
sopir mobil sewaan

Ada dua sopir:

Sopir mobil sewaan:
Kalau mobil lecet sedikit, dia santai.
Bukan mobilnya sendiri.

Sopir mobil milik sendiri:
Lewat lubang kecil saja dia pelan.
Karena biaya perbaikan dari
kantongnya sendiri.

CEO yang tidak punya saham
perusahaan
→ seperti sopir mobil sewaan.
CEO yang punya banyak saham
→ seperti menyetir mobil sendiri.
Lebih hati-hati, lebih peduli masa
depan kendaraan.

4. Simetri: kalau boleh untung,
harus siap rugi

Adil itu sederhana:

Kalau boleh ikut makan kue saat
pesta,
juga harus ikut cuci piring
setelah pesta.

Kalau hanya mau makan tapi
tidak mau cuci piring,
itu tanda sistemnya timpang.

Skin in the game = makan kue
dan cuci piring.

5. Risiko kehancuran: jangan
berjudi dengan nyawa sendiri

Bayangkan dua permainan:

Permainan A:
100 orang lempar dadu.
Kalau satu orang kalah, dia yang
dihukum.
Secara rata-rata terlihat “aman”.

Permainan B:
Kamu sendiri lempar dadu
setiap hari.
Kalau sekali kalah
→ game over selamanya.

Walaupun peluang rata-ratanya
mirip,
Permainan B jauh lebih berbahaya
untuk satu individu.

Dalam investasi:
jangan ambil risiko yang bisa
membuat kamu “habis total”,
meskipun katanya rata-ratanya
bagus.

6. Intinya

Skin in the game itu prinsip
sederhana:

“Kalau kamu membuat
keputusan, kamu juga harus
ikut menanggung akibatnya.”

Dalam investasi, bisnis, bahkan
hidup sehari-hari 
orang yang ikut menanggung risiko
biasanya akan bertindak lebih bijak.

1) Investor Pasif
— Manajer Investasi Tanpa vs
Dengan Skin in the Game

Kasus A
— Tanpa skin in the game

  • Kamu menaruh Rp100 juta
    ke reksa dana.

  • Manajer investasi mendapat
    fee tetap 2% per tahun,
    apa pun hasilnya.

  • Tahun ini portofolio turun
    -20%.

Hasil:

  • Nilai uangmu → Rp100 juta
    → Rp80 juta (rugi Rp20 juta).

  • Manajer investasi tetap
    menerima:
    2% × Rp100 juta = Rp2 juta.

Masalah:
Kamu rugi besar. Manajer tetap
untung. Tidak ada simetri risiko.

Kasus B
— Dengan skin in the game

  • Kamu menaruh Rp100 juta.

  • Manajer investasi ikut
    menaruh uang pribadinya
    Rp20 juta di produk yang
    sama.

  • Skema:

    • Jika untung
      → manajer mendapat
      bonus 20% dari profit.

    • Jika rugi
      → manajer
      menanggung rugi
      sesuai porsi modalnya.

Ternyata hasil tahun ini -20%

Total dana = Rp120 juta
Turun 20% → menjadi Rp96 juta
Total rugi = Rp24 juta

Rugi kamu (100/120 bagian)
= Rp20 juta
Rugi manajer (20/120 bagian)
= Rp4 juta

Efek psikologis:
Sekarang manajer benar-benar
berhati-hati, karena uangnya
sendiri ikut terbakar jika salah
strategi.

Inilah skin in the game.

2) Gaya Warren Buffett
— Bagi Untung, Ikut
Menanggung Rugi

Skema kemitraan:

  • Investor menaruh Rp1 miliar.

  • Buffett:

    • Mendapat 50%
      keuntungan di atas 4%.

    • Menanggung 25%
      kerugian.

Jika hasil +20% setahun:

Keuntungan total
= 20% × Rp1 miliar
= Rp200 juta.

Batas bebas = 4% × Rp1 miliar
= Rp40 juta.

Sisa profit = Rp160 juta.
Bagian Buffett = 50% × Rp160 juta
= Rp80 juta.
Investor menerima:
Rp40 juta + Rp80 juta
= Rp120 juta.

Buffett mendapat besar
karena kinerja bagus.

Jika hasil -20% setahun:

Kerugian = 20% × Rp1 miliar
= Rp200 juta.

Buffett menanggung
25% × Rp200 juta = Rp50 juta.
Investor menanggung Rp150 juta.

Artinya:
Buffett tidak bisa asal spekulasi.
Kalau salah, uangnya sendiri ikut
terkena.

3) Investor Aktif
— CEO Dengan vs Tanpa
Skin in the Game

Kasus A
— CEO tanpa kepemilikan
saham

  • CEO digaji Rp5 miliar
    per tahun.

  • Bonus tergantung laba
    jangka pendek.

  • Ia mengambil utang besar
    demi menaikkan laba
    sementara.

  • Setahun kemudian krisis
    → harga saham turun 60%.

Siapa rugi?

  • Pemegang saham rugi besar.

  • CEO tetap sudah menerima
    gaji dan bonus.

Tidak ada skin in the game.

Kasus B — CEO punya saham
besar

  • CEO memiliki 10% saham
    perusahaan.

  • Nilai saham awal: Rp100 miliar.

  • Karena keputusan buruk,
    saham turun 60%.

Kerugian CEO:
60% × Rp100 miliar
= Rp60 miliar hilang.

Efek:
CEO akan berpikir sangat hati-hati
sebelum mengambil risiko ceroboh.
Ia berada “di perahu yang sama”
dengan investor.

4) Ergodicity
— Rata-rata Untung, tapi
Individu Bisa Bangkrut

Permainan investasi:

  • Modal awal: Rp100 juta.

  • Setiap tahun:

    • 50% peluang naik 50%.

    • 50% peluang turun 40%.

Secara rata-rata matematis:
(0,5 × +50%) + (0,5 × -40%)
= +5% expected return.
Kelihatannya menarik.

Tapi lihat jalur waktu individu:

Tahun 1: turun 40% →
Rp100 juta → Rp60 juta.

Tahun 2: naik 50% →
Rp60 juta → Rp90 juta.

Dua tahun berlalu → masih rugi 10%.

Kalau urutan buruk terjadi beberapa
kali di awal, modal makin kecil, sulit
pulih.
Bahkan bisa habis sebelum
sempat menikmati rata-rata
keuntungan
.

Inilah maksud Taleb:
Yang penting bukan rata-rata
banyak orang, tapi nasib satu
orang sepanjang waktu.

Inti Pelajaran untuk Pembaca

  • Jangan hanya lihat janji atau
    teori.

  • Lihat apakah pengelola uang
    ikut menaruh uangnya
    sendiri
    .

  • Jika untung mereka ikut besar,
    jika rugi mereka juga ikut sakit.

  • Hindari skema di mana hanya
    kamu yang menanggung risiko.

Itulah skin in the game dalam
bentuk paling praktis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *