Bab 5 Kehidupan di New York dan Kehancuran Maureen
Kenapa Maureen Menusuk
Rose Mary?
Maureen menusuk ibunya sendiri
bukan karena ia jahat. Ini adalah
ledakan dari semua rasa sakit
yang sudah ditumpuk sejak ia
bayi. Untuk memahaminya, kita
harus melihat kehidupan Maureen
dari awal.
Maureen adalah anak bungsu. Ia lahir
saat keluarga sudah sangat kacau.
Rex sudah menjadi pemabuk berat.
Rose Mary sudah sepenuhnya
tenggelam dalam lukisannya.
Tidak ada susu yang cukup. Tidak ada
makanan yang cukup. Tidak ada
rumah yang aman. Sejak ia bisa
mengingat, hidupnya selalu penuh
dengan kelaparan, kedinginan, dan
ketidakpastian.
Sementara kakak-kakaknya, Lori,
Jeannette, dan Brian, masih sempat
merasakan sedikit petualangan dan
kasih sayang dari Rex saat ia masih
agak waras, Maureen tidak
mendapatkan itu. Rex sudah terlalu
jauh tenggelam dalam minuman
keras saat Maureen tumbuh.
Rose Mary sudah terlalu jauh
tenggelam dalam dunianya sendiri.
Maureen tidak punya siapa-siapa.
Ketika Maureen akhirnya menyusul
ke New York, ia berharap segalanya
akan membaik. Tapi yang terjadi
justru sebaliknya. Kakak-kakaknya
sibuk dengan hidup mereka sendiri.
Lori sibuk bekerja. Jeannette sibuk
kuliah dan bekerja sebagai jurnalis.
Brian sibuk dengan pekerjaannya.
Maureen merasa sendirian di kota
besar yang asing.
Yang lebih parah, Rex dan Rose Mary
juga ada di New York sebagai
tunawisma. Mereka bukannya
membantu Maureen, malah kadang
meminta uang atau tempat tinggal
darinya. Maureen yang masih sangat
muda dan rapuh justru harus
menanggung beban orang tuanya.
Ini seperti menimba air ke dalam
perahu yang sudah bocor.
Hari demi hari, kemarahan Maureen
menumpuk. Ia marah pada ibunya
yang tidak pernah menjadi ibu yang
baik. Ia marah pada ayahnya yang
hanya bisa minum dan berjanji palsu.
Ia marah pada kakak-kakaknya yang
sepertinya baik-baik saja sementara
ia hancur. Semua kemarahan ini
disimpan di dalam hatinya, tidak
pernah dikeluarkan.
Puncaknya terjadi dalam sebuah
pertengkaran. Maureen dan Rose
Mary bertengkar hebat. Apa yang
mereka pertengkarkan tidak
diceritakan secara rinci di buku.
Tapi yang jelas, saat itu Maureen
sudah tidak bisa lagi menahan
semua rasa sakit, semua kemarahan,
semua kesedihan yang sudah
bertahun-tahun ia simpan. Semuanya
meledak sekaligus. Ia mengambil
pisau dan menusuk ibunya.
Ini bukanlah tindakan yang
direncanakan. Ini adalah ledakan
emosi dari seseorang yang sudah
terlalu lama disakiti, diabaikan, dan
tidak pernah mendapatkan
pertolongan. Maureen seperti panci
presto yang terus dipanaskan tanpa
pernah dibuka. Akhirnya, panci itu
meledak.
Rose Mary selamat dari penusukan
itu. Tapi insiden ini menghancurkan
keluarga yang sudah rapuh. Maureen
tidak dikirim ke penjara. Pengadilan
melihat bahwa ia sakit secara mental.
Ia membutuhkan perawatan, bukan
hukuman. Ia dimasukkan ke fasilitas
kesehatan jiwa.
Bagaimana Orang Tua Meminta
Bantuan pada Maureen
Setelah Rex dan Rose Mary ikut pindah
ke New York dan menjadi tunawisma,
mereka tidak bekerja. Mereka tidak
punya penghasilan tetap. Tapi mereka
masih perlu makan. Mereka masih
ingin kadang-kadang mandi air hangat.
Mereka masih ingin rokok atau
minuman keras. Dari mana mereka
mendapatkannya? Dari anak-anak
mereka.
Mereka tahu di mana anak-anak
mereka tinggal. Mereka tahu Lori,
Jeannette, Brian, dan Maureen punya
apartemen, sekecil apa pun itu.
Rex sering muncul di depan pintu
apartemen anak-anaknya tanpa
diundang. Kadang ia minta uang.
Kadang ia minta diizinkan tidur
di lantai untuk satu malam.
Kadang ia hanya minta ditemani
minum. Rose Mary juga
melakukan hal yang sama.
Ia kadang menelepon atau datang
untuk “makan siang”, yang tentu
saja dibayar oleh anaknya.
Ini bukanlah hubungan yang
sehat. Anak-anak yang sudah
susah payah membangun hidup
baru justru harus menanggung
beban orang tua yang menolak
untuk bertanggung jawab.
Kenapa Hanya Maureen yang
Paling Terjebak?
Kakak-kakak Maureen sudah belajar
untuk menjaga jarak. Jeannette,
misalnya, kadang masih memberi
bantuan, tapi ia sudah punya batasan
yang tegas. Ia tidak akan membiarkan
Rex tinggal di apartemennya. Ia tidak
akan memberikan uang dalam jumlah
besar karena ia tahu uang itu akan
habis untuk minuman keras. Lori dan
Brian juga sama. Mereka membantu
seperlunya, tapi mereka sudah tidak
lagi berharap bahwa orang tua
mereka akan berubah.
Tapi Maureen berbeda. Ia adalah
yang paling kecil, paling rapuh, dan
paling merindukan sosok orang tua
yang normal. Ketika Rex atau Rose
Mary datang padanya, Maureen
tidak bisa menolak. Ia masih
berharap bahwa di balik semua
kekacauan ini, ada seorang ibu dan
ayah yang benar-benar mencintainya.
Jadi ia memberi. Uang. Makanan.
Tempat berteduh. Perhatian.
Tapi setiap kali ia memberi,
ia dihadapkan pada kenyataan yang
sama. Rex tetap mabuk. Rose Mary
tetap egois. Mereka mengambil apa
yang Maureen berikan, lalu pergi
begitu saja tanpa mengucapkan terima
kasih yang tulus. Keesokan harinya,
mereka kembali lagi dengan
permintaan yang sama. Ini adalah
lingkaran setan. Maureen memberi
dengan harapan akan mendapatkan
cinta. Tapi yang ia dapatkan hanyalah
pengosongan, baik secara finansial
maupun emosional.
Puncak dari Lingkaran Setan Itu
Pertengkaran yang berujung pada
penusukan itu mungkin dipicu oleh
salah satu dari insiden ini. Mungkin
Rose Mary datang meminta uang,
dan ketika Maureen tidak punya,
Rose Mary mengatakan hal-hal yang
sangat menyakitkan. Mungkin Rose
Mary menyalahkan Maureen,
mengatakan bahwa ia adalah anak
yang tidak tahu berterima kasih.
Mungkin ia membandingkan Maureen
dengan Jeannette atau Lori yang lebih
sukses. Kata-kata itu, yang menimpa
luka lama yang belum sembuh,
menjadi pemicu ledakan.
Kontradiksi Rose Mary:
Menolak tapi Juga Meminta
Rose Mary menolak dan menerima
bantuan tergantung pada jenis
bantuan yang ditawarkan dan
siapa yang menawarkannya.
Bantuan yang Ditolak oleh
Rose Mary
Rose Mary menolak bantuan yang
bersifat formal, mengikat, dan
mengubah gaya hidupnya.
Contohnya adalah:
Tawaran Jeannette untuk
menyewakan apartemen.
Jika Rose Mary menerima
apartemen, ia harus tinggal
di satu tempat. Ia harus
membayar tagihan. Ia harus
mengikuti aturan. Ia harus
bertanggung jawab. Ini adalah
hal yang sangat ia benci.Tawaran uang bulanan dari
Jeannette. Jika Rose Mary
menerima uang bulanan, ia
harus mengakui bahwa ia
membutuhkan bantuan. Ia harus
berterima kasih. Ia harus merasa
berutang budi. Ini melukai harga
dirinya.Tawaran pekerjaan atau saran
untuk hidup normal.
Rose Mary tidak ingin menjadi
“orang biasa”. Ia bangga
menjadi seniman yang bebas.
Menerima bantuan formal berarti
mengakui bahwa cara hidupnya
salah.
Bantuan yang Diterima atau
Diminta oleh Rose Mary
Rose Mary menerima, dan bahkan
kadang meminta, bantuan yang
bersifat kecil, informal, dan
tidak mengikat. Contohnya
adalah:
Makan siang bersama.
Rose Mary tidak menolak
diajak makan di restoran.
Itu adalah kenikmatan sesaat
yang tidak mengubah gaya
hidupnya.Uang tunai dalam jumlah kecil.
Jika Rex atau Rose Mary
meminta uang receh,
itu bukanlah komitmen jangka
panjang. Itu hanya “tolong beri
aku sedikit uang untuk hari ini”.Izin untuk mandi air hangat
di apartemen anak-anaknya.
Ini adalah bantuan sementara
yang tidak membuat mereka
harus tinggal di sana selamanya.Bantuan darurat saat mereka
kedinginan atau kelaparan
di jalanan. Ini adalah permintaan
untuk bertahan hidup, bukan
permintaan untuk mengubah
hidup.
Perubahan Perilaku Seiring
Waktu
Perilaku Rose Mary juga berubah
seiring waktu. Saat Jeannette
pertama kali menawarkan bantuan
di Bab 1, Rose Mary masih merasa
bangga dan menolak
mentah-mentah. Tapi bertahun-tahun
kemudian, ketika mereka sudah
semakin tua, semakin lemah, dan
hidup di jalanan semakin keras,
mereka mulai lebih sering meminta.
Rex, terutama, tidak pernah malu
untuk meminta apa pun. Ia sering
muncul di apartemen anak-anaknya
tanpa diundang. Rose Mary,
meskipun lebih jarang, juga kadang
meminta. Terutama kepada Maureen.
Kenapa Maureen Menjadi Target
yang Mudah?
Dari semua anaknya, Maureen adalah
yang paling rentan dan paling
sulit menolak. Ini sebabnya Rose
Mary lebih sering meminta kepada
Maureen dibandingkan kepada
Jeannette atau Lori. Beberapa
alasannya adalah:
Maureen masih berharap bahwa
orang tuanya akan berubah.
Jeannette dan Lori sudah
menyerah. Mereka sudah
menerima kenyataan bahwa
orang tua mereka tidak akan
pernah menjadi normal. Tapi
Maureen masih punya harapan
kecil itu. Harapan inilah yang
membuatnya sulit mengatakan
“tidak”.Maureen merasa paling bersalah.
Ia melihat kakak-kakaknya
sudah mandiri dan kuat.
Ia merasa bahwa ia belum cukup
membantu. Jadi ketika ibunya
meminta sesuatu, Maureen
merasa wajib memberikannya.Maureen adalah yang paling
lemah secara finansial dan
emosional. Jeannette sudah
punya pekerjaan mapan. Lori
sudah stabil. Tapi Maureen
masih berjuang. Justru karena
ia paling lemah, ia paling
mudah dimanfaatkan.Rose Mary tahu bahwa Maureen
tidak akan menolak. Jeannette
bisa berkata, “Tidak, Bu. Aku
tidak akan memberi uang karena
uang itu hanya akan dipakai
untuk minuman.” Tapi Maureen
tidak bisa berkata seperti itu.
Ia takut menyakiti hati ibunya.
Ia takut ditinggalkan sepenuhnya.
Jadi ia memberi, meskipun
hatinya terluka.
Mengapa Permintaan Itu Sangat
Menyakitkan
Yang membuat Maureen sangat
terluka bukanlah jumlah uang yang
ia berikan. Bukan juga karena ibunya
meminta bantuan. Yang paling
menyakitkan adalah bahwa bantuan
itu tidak pernah dihargai. Rose
Mary mengambil uang atau makanan
dari Maureen, lalu pergi begitu saja.
Keesokan harinya, ia kembali lagi
dengan permintaan yang sama. Tidak
ada perubahan. Tidak ada rasa terima
kasih yang tulus. Maureen
memberikan cinta dan berharap
ibunya akan berubah, tapi yang ia
dapatkan hanyalah pengosongan
terus-menerus.
Setiap kali Maureen memberi,
ia berharap bahwa kali ini ibunya
akan berkata, “Terima kasih, sayang.
Aku mencintaimu.” Tapi kata-kata itu
tidak pernah datang. Yang datang
hanyalah permintaan berikutnya.
Lingkaran setan ini terus berputar,
menghancurkan Maureen sedikit
demi sedikit, sampai akhirnya
meledak dalam bentuk penusukan itu.
Maureen Bekerja sebagai Apa?
Pekerjaan Maureen di New York
Setelah pindah ke New York
menyusul kakak-kakaknya, Maureen
tidak seperti Jeannette yang bisa
kuliah dengan beasiswa, atau Lori
yang sudah punya pekerjaan stabil.
Maureen masih sangat muda dan
rapuh. Ia mencoba hidup mandiri,
tapi ia tidak punya keterampilan
khusus atau pendidikan tinggi. Jadi,
ia mengambil pekerjaan apa pun
yang bisa ia dapatkan.
Maureen bekerja sebagai
resepsionis di sebuah kantor
dokter. Tugasnya adalah menerima
telepon, mencatat jadwal pasien,
menyambut orang yang datang, dan
pekerjaan administrasi ringan
lainnya. Ini adalah pekerjaan yang
cukup baik untuk seseorang yang
baru memulai hidup mandiri.
Pekerjaan yang Tidak Stabil
Tapi pekerjaan Maureen tidak stabil.
Ia sering berganti-ganti pekerjaan.
Kondisi mentalnya yang rapuh
membuatnya sulit untuk bertahan
lama di satu tempat. Ia sering merasa
cemas, depresi, dan kewalahan oleh
tuntutan pekerjaan dan kehidupan
sehari-hari. Kadang ia tidak masuk
kerja tanpa alasan yang jelas. Kadang
ia tidak bisa berkonsentrasi. Akibatnya,
ia tidak bisa membangun karier seperti
Jeannette atau kestabilan seperti Lori.
Kenapa Maureen Tidak Ikut
Kakak-Kakaknya Saja?
Maureen sebenarnya sudah ikut
kakak-kakaknya. Ia menyusul
mereka ke New York. Ia tinggal
di kota yang sama dengan mereka.
Tapi “ikut secara fisik” tidak sama
dengan “merasa menjadi bagian”.
Ada beberapa alasan kenapa Maureen
tidak bisa bersandar pada
kakak-kakaknya.
Pertama, kakak-kakaknya sangat
sibuk bertahan hidup.
Lori, Jeannette, dan Brian harus
bekerja sangat keras untuk membiayai
hidup mereka sendiri. Mereka tidak
punya banyak waktu atau uang untuk
merawat Maureen. Mereka sendiri
masih berjuang untuk berdiri di atas
kaki mereka sendiri. Mereka bukan
orang kaya yang bisa santai dan
mengurus adiknya. Mereka adalah
para penyintas yang masih
menyembuhkan luka mereka sendiri.
Kedua, jarak usia dan
pengalaman. Lori, Jeannette, dan
Brian lebih tua. Mereka punya
kenangan tentang masa-masa ketika
Rex masih sedikit lebih waras, ketika
hidup masih terasa seperti
petualangan. Kenangan ini, meskipun
pahit, memberi mereka kekuatan.
Maureen tidak punya itu. Ia hanya
punya kenangan tentang kelaparan,
kedinginan, dan pengabaian. Ia tidak
bisa berbagi pengalaman yang sama
dengan kakak-kakaknya. Ia merasa
terpisah, bahkan di antara saudara
kandungnya sendiri.
Ketiga, Maureen adalah yang
paling lemah secara mental.
Setiap anak Walls menanggung luka
yang sama, tapi setiap orang
merespons dengan cara yang
berbeda. Lori merespons dengan
membaca buku dan merencanakan
pelarian. Jeannette merespons
dengan bekerja keras dan berambisi.
Brian merespons dengan menjadi
tangguh dan mandiri. Tapi Maureen
tidak punya mekanisme pertahanan
seperti itu. Ia rapuh. Ia mudah
hancur. Ia tidak tahu bagaimana cara
mengubah rasa sakit menjadi
kekuatan seperti kakak-kakaknya.
Keempat, Maureen masih terikat
pada orang tuanya. Sementara
kakak-kakaknya sudah belajar untuk
menjaga jarak dari Rex dan Rose
Mary, Maureen tidak bisa. Ia masih
berharap bahwa orang tuanya akan
berubah. Ia masih mencoba membantu
mereka. Tapi setiap kali ia membantu,
ia justru semakin terluka. Rex dan
Rose Mary tidak pernah berubah.
Mereka terus mengambil tanpa pernah
memberi. Maureen terjebak dalam
lingkaran setan ini.
Kelima, setelah penusukan,
Maureen merasa sangat malu
dan hancur. Ia telah menusuk
ibunya sendiri. Bagaimana ia bisa
menatap wajah kakak-kakaknya
setelah melakukan itu? Bagaimana
ia bisa duduk semeja dengan mereka
dan berpura-pura semuanya
baik-baik saja? Rasa bersalah dan
rasa malu itu membuatnya tidak
bisa tinggal. Ia harus pergi. Ia harus
menjauh. California adalah tempat
yang paling jauh yang bisa ia tuju
tanpa meninggalkan negara itu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
