buku

Bab 4 Pengerasan dan Rencana Melarikan Diri

Bab keempat ini menceritakan
bagaimana anak-anak Walls berubah.
Mereka tidak lagi menunggu
diselamatkan. Mereka memutuskan
untuk menyelamatkan diri mereka
sendiri. Ini adalah bab tentang
keberanian, perencanaan, dan tekad
yang luar biasa dari empat anak
yang masih sangat muda.

Bagaimana Anak-Anak
Mengembangkan Cara
Bertahan Hidup Sendiri

Setelah bertahun-tahun hidup dalam
kekacauan, masing-masing anak
Walls menemukan perannya sendiri
untuk bertahan hidup. Mereka
bekerja sebagai sebuah tim. Mereka
tidak bisa mengandalkan orang tua
mereka, jadi mereka mengandalkan
satu sama lain.

Lori adalah kakak tertua. Ia adalah
otak dari rencana pelarian.
Lori sudah cukup umur untuk
bekerja secara legal. Ia mendapatkan
pekerjaan dan mulai menabung.
Ia juga sangat suka membaca.
Dari buku-bukunya, ia belajar tentang
dunia luar. Ia tahu bahwa ada
kehidupan yang lebih baik di luar
Welch. Ia tidak ingin terjebak selamanya
di kota tambang batu bara yang suram
itu. Lori adalah orang yang paling serius
dan paling fokus. Ia seperti kapten dari
kapal kecil mereka.

Jeannette adalah tangan kanan Lori.
Ia bekerja di toko permen dan
melakukan berbagai pekerjaan kecil
lainnya. Setiap koin yang ia dapatkan,
ia simpan. Ia menjadi sangat ahli dalam
menyembunyikan uang dari ayahnya.
Jeannette juga membantu Lori
menyusun rencana. Mereka berdua
sering berbisik-bisik di malam hari,
membahas bagaimana caranya keluar
dari Welch. Jeannette juga melindungi
adik-adiknya. Ia memastikan mereka
mendapat makanan, meskipun harus
mengais dari tempat sampah.

Brian adalah pelindung.
Ia adik laki-laki Jeannette yang
tangguh dan pemberani. Brian tidak
banyak bicara, tapi ia kuat. Ia belajar
bertahan di alam liar. Ia bisa
menangkap ikan dan hewan kecil
untuk dimakan. Yang paling penting,
Brian melindungi adik bungsu
mereka, Maureen. Ia memastikan
tidak ada yang mengganggu Maureen
di sekolah atau di lingkungan sekitar.
Brian adalah tembok pertahanan
bagi saudara-saudaranya.

Maureen (Adik perempuan
bungsu)
 adalah yang paling kecil
dan paling rentan. Ia lahir saat
keluarga sudah dalam keadaan sangat
kacau. Ia tidak sekuat
kakak-kakaknya. Ia sering terlihat
bingung dan ketakutan. Tapi Brian
selalu ada untuk melindunginya.

Keempat anak ini membentuk ikatan
yang sangat kuat. Mereka tidak hanya
saudara. Mereka adalah teman
seperjuangan. Mereka adalah tim.

Di Mana Anak-Anak Walls
Dilahirkan, Terutama Maureen?

terutama Maureen yang lahir saat
keluarga sudah sangat kacau secara
ekonomi. 

Kelahiran Lori, Jeannette, dan
Brian

Tiga anak pertama, yaitu Lori,
Jeannette, dan Brian, lahir pada
masa-masa awal pernikahan Rex dan
Rose Mary. Pada saat itu, keluarga
mereka belum parah. Rex masih
kadang-kadang bekerja. Mereka
masih punya tempat tinggal yang
lumayan, meskipun tidak pernah
benar-benar stabil. Ketiga anak ini
lahir di rumah sakit biasa, seperti
kebanyakan orang. Rex belum
sepenuhnya tenggelam dalam
kebiasaan minumnya. Rose Mary
masih sedikit lebih terlibat dalam
mengurus anak, meskipun ia sudah
mulai menunjukkan tanda-tanda
lebih mementingkan lukisannya
daripada anak-anaknya.

Kelahiran Maureen: Lahir
di Tengah Kekacauan Total

Maureen adalah anak bungsu. Ia lahir
saat keluarga sudah benar-benar
kacau. Pada saat itu, Rex sudah
menjadi pemabuk berat. Uang selalu
habis untuk minuman keras. Mereka
sering tidak punya makanan. Mereka
sering berpindah-pindah tempat
tinggal. Rose Mary semakin tenggelam
dalam dunia seninya dan semakin
tidak peduli dengan tanggung jawab
sebagai ibu.

Lalu, di mana Maureen dilahirkan?

Maureen tetap dilahirkan di rumah
sakit
. Meskipun keluarga ini sangat
miskin dan kacau, mereka tetap pergi
ke rumah sakit saat Rose Mary akan
melahirkan. Tapi prosesnya tidak
seperti keluarga normal. Begini yang
terjadi.

Bagaimana Mereka Bisa
Melahirkan di Rumah Sakit
Tanpa Uang?

Ini adalah pertanyaan penting.
Bagaimana mungkin orang yang tidak
punya uang bisa melahirkan di rumah
sakit? Jawabannya ada pada
kebijakan rumah sakit
di Amerika Serikat
.

Di Amerika, rumah sakit tidak boleh
menolak pasien yang sedang dalam
keadaan darurat, termasuk ibu yang
akan melahirkan. Ini adalah hukum.
Rumah sakit wajib menerima dan
merawat ibu yang akan melahirkan,
meskipun ibu itu tidak punya uang
dan tidak punya asuransi. Rumah sakit
akan tetap menolong. Nanti, setelah
ibu dan bayinya pulang, rumah sakit
akan mengirimkan tagihan melalui pos.

Inilah yang terjadi pada Rose Mary.
Ia datang ke rumah sakit saat akan
melahirkan Maureen. Dokter dan
perawat merawatnya. Bayi Maureen
lahir dengan selamat. Rose Mary dan
Maureen dirawat di rumah sakit
selama beberapa hari. Tapi Rex dan
Rose Mary tahu bahwa mereka tidak
akan bisa membayar tagihan itu.
Mereka juga tidak peduli. Begitu
tagihan datang, mereka akan
mengabaikannya.

Pola yang Sama Seperti
Sebelumnya

Pola ini sama seperti yang terjadi pada
Jeannette saat ia masih kecil. Dulu,
saat Jeannette berusia tiga tahun dan
menderita luka bakar parah, ia dirawat
di rumah sakit. Rex tidak suka aturan
rumah sakit dan tidak mau membayar.
Maka ia “menculik” Jeannette,
menggendongnya keluar dari rumah
sakit tanpa izin, dan pergi begitu saja.

Hal yang sama terjadi setelah Maureen
lahir. Rex tidak menunggu sampai
semua urusan selesai. Begitu ia merasa
sudah waktunya pergi, ia membawa
Rose Mary dan bayi Maureen keluar
dari rumah sakit. Mereka pergi begitu
saja. Tagihan rumah sakit tidak pernah
dibayar. Mereka melanjutkan hidup
nomaden mereka, pindah ke kota
berikutnya, tanpa pernah melunasi
utang.

Kehidupan Maureen Setelah
Lahir

Maureen tidak pernah merasakan
kehidupan yang stabil. Begitu ia
lahir, ia langsung dibawa ke dalam
kehidupan yang kacau. Tidak ada
tempat tidur bayi yang layak. Tidak
ada susu yang cukup. Tidak ada
rumah yang aman. Ia tumbuh dalam
kemiskinan yang sama seperti
kakak-kakaknya, bahkan mungkin
lebih parah, karena saat ia lahir,
kondisi keluarga sudah jauh lebih
buruk dibandingkan saat Lori,
Jeannette, atau Brian lahir.

Inilah sebabnya Maureen menjadi
anak yang paling rentan di antara
semua saudaranya. Ia tidak sekuat
kakak-kakaknya. Ia tidak punya
kenangan tentang masa-masa yang
sedikit lebih baik. Sejak ia bisa
mengingat, hidupnya selalu penuh
dengan kelaparan, kedinginan, dan
ketidakpastian. Ini akan berdampak
sangat buruk pada kesehatan
mentalnya di kemudian hari.

Dari Mana Maureen
Mendapatkan Susu?

Ini adalah pertanyaan yang sangat
penting, karena keluarga Walls tidak
punya uang untuk membeli susu
formula yang mahal. Saya akan
jelaskan dengan rinci dan sederhana.

Sumber Pertama: ASI dari Rose
Mary

Sumber susu yang paling mungkin dan
paling utama adalah 
ASI dari Rose
Mary sendiri
. Rose Mary menyusui
Maureen. Ini adalah cara paling alami
dan paling murah untuk memberi
makan bayi. Tidak perlu membeli susu
formula. Tidak perlu membeli botol.
Tidak perlu mengeluarkan uang
sepeser pun.

Tapi ada masalahnya. Rose Mary
sering tidak makan dengan baik.
Ia juga sering mengabaikan
anak-anaknya. Jika ibunya kurang
makan, produksi ASI-nya bisa
berkurang. Kualitas ASI-nya juga
mungkin tidak baik. Jadi, meskipun
Maureen mendapatkan ASI, mungkin
saja ASI itu tidak cukup banyak atau
tidak cukup bergizi.

Sumber Kedua: Susu Formula
Gratis dari Rumah Sakit

Seperti yang sudah saya jelaskan
sebelumnya, Maureen dilahirkan
di rumah sakit. Sebelum Rose Mary
dan Maureen pulang, pihak rumah
sakit biasanya memberikan 
sampel
susu formula gratis
. Ini adalah
bungkusan kecil susu bubuk untuk
bayi yang diberikan secara
cuma-cuma kepada para ibu baru.
Rex dan Rose Mary mungkin
membawa pulang sampel-sampel ini
dan menggunakannya untuk Maureen
di minggu-minggu pertama.

Tapi sampel gratis ini hanya cukup
untuk beberapa hari atau beberapa
minggu. Setelah habis, mereka
harus mencari cara lain.

Sumber Ketiga: Program
Bantuan Pemerintah (WIC)

Di Amerika Serikat, ada program
bantuan pemerintah yang disebut
WIC, singkatan dari Women, Infants,
and Children. Program ini khusus
untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan
anak-anak di bawah lima tahun yang
berasal dari keluarga miskin.
Program ini memberikan 
susu
formula gratis
 setiap bulan.

Rose Mary mungkin mendaftar untuk
program ini. Dengan kartu WIC,
ia bisa pergi ke toko dan mengambil
susu formula tanpa harus membayar.
Ini adalah sumber yang sangat
mungkin, karena keluarga Walls jelas
memenuhi syarat sebagai keluarga
miskin.

Tapi masalahnya, keluarga ini sering
berpindah-pindah. Mendaftar
program WIC membutuhkan alamat
tetap dan dokumen-dokumen
tertentu. Rex dan Rose Mary mungkin
tidak selalu rajin mengurusnya. Jadi,
bantuan ini mungkin tidak selalu
tersedia.

Sumber Keempat: Susu Sapi
Biasa yang Diencerkan

Dalam buku, Jeannette menceritakan
bahwa kadang-kadang mereka tidak
punya susu formula sama sekali.
Dalam keadaan putus asa, mereka
memberi Maureen 
susu sapi biasa
yang dicampur air
. Ini bukan cara
yang sehat untuk bayi. Susu sapi
biasa sulit dicerna oleh bayi yang
masih sangat kecil. Tapi ketika tidak
ada pilihan lain, inilah yang mereka
lakukan.

Mereka membeli susu sapi murah,
mencampurnya dengan air agar lebih
banyak, dan memberikannya kepada
Maureen. Ini adalah taktik bertahan
hidup, bukan pilihan yang ideal.

Sumber Kelima: Bantuan dari
Tetangga atau Gereja

Kadang-kadang, tetangga yang
melihat kondisi keluarga ini merasa
kasihan. Mereka mungkin
memberikan bantuan berupa
makanan atau susu. Gereja setempat
juga mungkin memberikan
sumbangan. Tapi bantuan seperti ini
tidak rutin dan tidak bisa diandalkan.

Anggaran Pelarian dan Peta
ke New York

Jeannette dan Lori mulai membuat
sesuatu yang mereka sebut
“anggaran pelarian”. Ini adalah
rencana keuangan yang sangat rinci.
Mereka menghitung berapa biaya
tiket bus atau kereta ke New York.
Berapa biaya sewa apartemen murah
di sana. Berapa biaya makan untuk
bulan pertama. Mereka menulis
semua ini di selembar kertas yang
mereka sembunyikan dengan sangat
hati-hati.

Mereka juga menggambar rute
ke New York
. Mereka melihat peta
dan menandai jalan-jalan yang akan
mereka lewati. Kota-kota yang akan
mereka singgahi. Jarak yang harus
ditempuh. Mereka melakukan semua
ini secara diam-diam, tanpa
sepengetahuan orang tua mereka.
Ini adalah proyek rahasia mereka.
Proyek yang memberi mereka
harapan di tengah keputusasaan.

Bagaimana Rex Mencoba
Menghalangi

Rex mengetahui rencana
anak-anaknya. Ia tidak bodoh.
Ia melihat bahwa Lori dan Jeannette
mulai menabung. Ia melihat bahwa
mereka semakin serius. Dan ia tidak
menyukainya.

Rex tidak ingin anak-anaknya pergi.
Bukan karena ia mencintai mereka
dengan cara yang sehat. Tapi karena
ia membutuhkan mereka.
Ia membutuhkan anak-anaknya
untuk memujanya. Untuk
mendengarkan cerita-ceritanya. Untuk
menjadi saksi dari kebesarannya yang
ia ciptakan sendiri di dalam kepalanya.
Jika anak-anaknya pergi, kepada siapa
lagi ia bisa membual tentang istana
kaca?

Rex mulai menggunakan cara
manipulatif
 untuk menghalangi. Ia
mengatakan hal-hal seperti, “Kota
besar itu berbahaya. Kalian tidak akan
bertahan di New York.” Atau, “Kalian
akan hancur di sana. Kalian tidak
cukup kuat.” Ia mencoba menanamkan
rasa takut di hati anak-anaknya.
Ia mengatakan bahwa mereka tidak
akan berhasil tanpa dirinya.

Ketika cara itu tidak berhasil,
Rex meningkat ke 
kekerasan
emosional
. Ia berteriak. Ia marah.
Ia mengatakan bahwa anak-anaknya
tidak tahu berterima kasih. Bahwa ia
sudah bekerja keras untuk mereka.
Bahwa mereka mengkhianatinya.
Ia mencoba membuat mereka merasa
bersalah karena ingin pergi.

Insiden di Bar: Pelajaran yang
Merendahkan

Salah satu insiden paling menyakitkan
terjadi ketika Rex membawa Jeannette
ke sebuah bar. Saat itu Jeannette
sudah remaja. Rex ingin
“mengajarinya cara menghadapi pria”.
Tapi apa yang terjadi bukanlah
pelajaran yang membangun.

Di bar itu, Rex memaksa Jeannette
untuk bermain biliar melawan
pria-pria dewasa.
Uang dipertaruhkan. Rex menyuruh
Jeannette untuk bertingkah genit agar
lawannya terganggu. Jeannette
merasa sangat malu dan tidak
nyaman. Ia bukanlah pemain biliar
yang hebat. Tapi Rex terus
memaksanya. Ketika Jeannette kalah,
Rex malah menyalahkannya.
Ia mengatakan bahwa Jeannette
tidak cukup berusaha.
Ia mempermalukan putrinya sendiri
di depan orang-orang asing.

Ini adalah contoh bagaimana Rex
memperlakukan anak-anaknya bukan
sebagai manusia yang harus
dilindungi, tapi sebagai alat untuk
memuaskan egonya sendiri.

Rumah yang Fondasinya Runtuh

Insiden terberat lainnya terjadi pada
rumah reyot di Welch. Fondasi rumah
itu sudah sangat rapuh. Tanah
di bawahnya longsor sedikit demi
sedikit. Dinding-dinding mulai retak.
Lantai mulai miring. Seluruh
bangunan benar-benar bisa roboh
kapan saja dan menewaskan
siapa pun yang ada di dalamnya.

Anak-anak memberi tahu Rex tentang
hal ini. Mereka memohon agar sesuatu
dilakukan. Tapi Rex tidak melakukan
apa-apa. Ia mengatakan bahwa
rumah itu baik-baik saja. Ia menuduh
anak-anaknya melebih-lebihkan.
Ia menolak untuk memperbaiki
fondasi itu. Mungkin karena ia tidak
punya uang. Mungkin karena ia tidak
peduli. Mungkin karena ia terlalu
sibuk dengan dirinya sendiri.

Anak-anak terpaksa tetap tinggal
di rumah yang bisa runtuh kapan saja.
Setiap malam, mereka tidur dengan
ketakutan. Setiap kali hujan deras
turun, mereka mendengar suara
tanah yang bergeser. Mereka tahu
mereka bisa mati tertimbun kapan
saja. Tapi Rex tidak peduli.

Puncak Ketegangan dan
Keberangkatan Lori

Semua ketegangan ini akhirnya
mencapai puncaknya. Lori tidak bisa
lagi menunggu. Ia sudah cukup
dewasa untuk pergi. Ia sudah
menabung cukup uang untuk tiket
bus ke New York. Ia sudah tidak tahan
lagi tinggal di rumah yang penuh
jamur, kelaparan setiap hari, dan hidup
di bawah ancaman ayahnya sendiri.

Lori memutuskan untuk pergi duluan.
Ini adalah momen yang sangat
emosional. Lori dan Jeannette
berpelukan dengan erat. Mereka saling
berjanji bahwa ini bukan perpisahan
selamanya. Lori akan pergi dulu,
mencari tempat tinggal, dan
menabung lebih banyak uang.
Begitu semuanya siap, Jeannette akan
menyusul. Brian dan Maureen juga
akan menyusul setelah itu.

Lori naik ke bus dengan membawa
koper kecilnya. Ia menatap keluar
jendela saat bus mulai bergerak.
Welch, kota yang penuh dengan
penderitaan itu, perlahan menghilang
di belakangnya. Di depannya,
terbentang jalan panjang menuju
New York. Menuju kebebasan.
Menuju kehidupan yang lebih baik.

Keberangkatan Lori adalah
kemenangan pertama anak-anak Walls
melawan kemiskinan dan pengabaian.
Ini adalah bukti bahwa rencana
mereka bisa berhasil. Bahwa mereka
bisa keluar dari neraka itu. Jeannette
menatap bus kakaknya sampai hilang
dari pandangan, dan di dalam hatinya,
ia tahu bahwa suatu hari nanti,
ia akan mengikuti jejak yang sama.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Guys, kita lanjut lagi obrolan soal
keluarga Walls yang super chaos ini.
Kali ini, ceritanya udah mulai
bergeser. Anak-anaknya nggak cuma
diem nunggu nasib, mereka mulai
bergerak, bikin strategi. Ini adalah
bab tentang gimana mereka akhirnya
bilang, “Cukup, gue mau keluar dari
neraka ini.”

Bab 4: Pengerasan dan Rencana
Melarikan Diri

Setelah bertahun-tahun hidup dalam
kekacauan yang itu-itu aja,
masing-masing anak Walls akhirnya
nemuin perannya sendiri buat
bertahan. Mereka nggak bisa
ngandelin orang tua mereka, jadi
mereka ngandelin satu sama lain.
Mereka kerja sebagai tim. Solid.

Lori, si kakak tertua, adalah otaknya.
Dia yang paling serius dan paling
fokus, kayak kapten kapal kecil
mereka. Dia udah cukup umur buat
kerja, jadi dia kerja dan mulai nabung.
Dari buku-bukunya, dia tahu ada
dunia yang lebih baik di luar Welch.
Dia nggak mau selamanya terjebak
di kota tambang yang suram itu.

Jeannette, ya si penulis ini, adalah
tangan kanannya. Dia kerja di toko
permen dan kerjaan kecil lainnya.
Setiap receh yang dia dapet, dia
simpen mati-matian. Dia jadi jago
banget nyembunyiin duit dari sang
ayah. Dia juga yang bantu Lori
nyusun rencana, sering bisik-bisik
malem-malem ngomongin cara kabur.
Tugas dia juga ngelindungin
adik-adiknya, mastiin mereka dapet
makan, meskipun kadang harus
dari tempat sampah.

Brian, si adik laki-laki, adalah
pelindungnya. Dia pendiem,
tapi tangguh dan pemberani.
Dia yang jago bertahan di alam liar,
bisa nangkep ikan. Yang paling
penting, dia yang ngejagain si bungsu
Maureen dari gangguan di sekolah
atau di lingkungan. Dia kayak
tembok pertahanan.

Maureen, si bungsu, yang paling
rentan. Lahir pas keadaan udah
super kacau, dia nggak sekuat
kakak-kakaknya. Dia sering keliatan
bingung dan takut. Tapi Brian selalu
ada buat dia. Keempat anak ini bukan
cuma sodara, guys. Mereka adalah
temen seperjuangan. Sebuah tim.

Nah, Jeannette dan Lori mulai bikin
yang namanya 
“anggaran pelarian” .
Ini seriusan, rencana keuangan yang
detail. Mereka itung biaya tiket bus
atau kereta ke New York, perkiraan
sewa apartemen murah, biaya
makan buat bulan pertama. Semua
mereka tulis di selembar kertas yang
mereka sembunyiin rapet-rapet.
Mereka bahkan gambar-gambar rute
ke New York, nandain kota yang bakal
disinggahin. Ini proyek rahasia yang
super penting, proyek yang ngasih
mereka harapan di tengah
keputusasaan.

Tapi, lo pikir Rex nggak bakal tau?
Dia bukan orang bego. Dia ngeliat

anak-anaknya makin serius dan mulai
nabung. Dan dia panik. Dia nggak bisa
kehilangan “penonton”-nya. Dia butuh
anak-anaknya buat muja-muja dia dan
dengerin cerita-cerita besarnya. Kalau
mereka pergi, ke siapa lagi dia bisa
ngomongin istana kaca?

Rex mulai ngeluarin jurus
manipulatifnya. “Kota besar itu
berbahaya, kalian nggak bakal selamat,”
katanya. Dia nanem rasa takut. Pas itu
nggak mempan, dia naikin level
ke kekerasan emosional. Teriak-teriak,
bilang mereka nggak tahu terima kasih,
udah ngorbanin segalanya, dan mereka
penghianat. Dia bikin mereka ngerasa
bersalah.

Ada satu insiden yang bener-bener
nyebelin. Rex ngajak Jeannette ke bar.
Dia bilang mau “ngajarin cara ngadepin
pria”. Tapi ujung-ujungnya, dia maksa
Jeannette main biliar taruhan sama
pria dewasa, sambil disuruh genit.
Jeannette ngerasa malu dan risih
banget. Pas kalah, Rex malah nyalahin
dia. Benar-benar mempermalukan
anaknya sendiri demi egonya.

Nggak cuma itu, keamanan mereka
juga di ujung tanduk. Rumah reyot
mereka di Welch fondasinya udah
mau amblas. Tanahnya longsor,
dinding retak, lantai miring,
bener-beda siap roboh kapan aja.
Anak-anak udah bilang,
mohon-mohon supaya dibenerin.
Tapi Rex? Nggak ngapa-ngapain.
Bilang rumahnya baik-baik aja.
Dia nggak peduli. Anak-anak terpaksa
tidur saban malem dengan ketakutan,
sadar kalau mereka bisa mati kapan
aja. Tapi Rex cuek.

Semua ketegangan ini akhirnya
sampe di puncaknya. Lori udah nggak
tahan. Dia udah cukup umur,
tabungannya udah cukup. Dia mutusin
pergi duluan ke New York. Ini momen
emosional banget. Lori dan Jeannette
berpelukan erat, janji kalau ini bukan
selamanya. Lori bakal pergi, cari tempat,
nabung lagi, dan Jeannette bakal
nyusul. Brian dan Maureen juga nanti.

Lori akhirnya naik bus. Dia nengok
dari jendela, ngeliat Welch yang suram
perlahan mengecil di belakang.
Di depannya, jalan panjang menuju
kebebasan. Keberangkatan Lori adalah
bukti nyata kalau rencana mereka bisa
berhasil, kalau mereka benar-benar
bisa keluar dari neraka itu. Jeannette
cuma bisa natap bus kakaknya sampe
hilang, dan di dalam hatinya, dia tahu,
suatu hari nanti, dia pasti akan
mengikuti jejak yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *