buku

Buku I’ll Be Gone in the Dark Michelle McNamara, Bagian Satu The Rat Czar

I'll Be Gone in the DarkMichelle McNamara
I’ll Be Gone in the Dark
Michelle McNamara

Michelle McNamara adalah seorang
penulis. Ia bukan polisi. Ia bukan
detektif. Ia adalah seorang ibu rumah
tangga yang tinggal di Los Angeles
bersama suaminya, seorang aktor
terkenal, dan anak perempuan
mereka. Tapi Michelle memiliki
kebiasaan yang tidak biasa.
Setiap malam, setelah suami dan
anaknya tidur, ia akan duduk
di depan komputer. Ruangan
menjadi gelap. Hanya cahaya layar
yang menerangi wajahnya. Ia akan
menghabiskan berjam-jam membaca
tentang pembunuhan, pemerkosaan,
dan kejahatan yang belum
terpecahkan. Ia menyebut dirinya
sebagai “detektif kursi”. Tapi
sebenarnya, ia jauh lebih dari itu.

Semua bermula dari sebuah forum
daring. Forum ini adalah tempat
berkumpulnya orang-orang yang
tertarik pada kasus kriminal yang
belum terpecahkan. Mereka
mendiskusikan petunjuk, berbagi
teori, dan kadang-kadang
menemukan hal-hal yang terlewat
oleh polisi. Di forum inilah
McNamara pertama kali membaca
tentang seorang pria yang dijuluki
East Area Rapist, disingkat EAR.
Begitu ia mulai membaca, ia tidak
bisa berhenti. Ia sendiri menyebut
pengalaman ini seperti jatuh
ke dalam “lubang kelinci”. Semakin
dalam ia turun, semakin gelap dan
aneh dunia yang ia temukan.

Melalui forum itu, McNamara mulai
terhubung dengan orang-orang yang
juga terobsesi dengan kasus ini.
Salah satunya adalah 
Paul Holes,
seorang detektif dari Contra Costa
County. Holes sudah menghabiskan
lebih dari dua puluh tahun hidupnya
untuk mengejar pria ini. Ia memiliki
ruangan khusus di kantornya yang
penuh dengan kotak-kotak arsip.
Di dalam kotak-kotak itu ada ribuan
halaman laporan polisi, foto-foto
tempat kejadian perkara, dan
bukti-bukti yang dikumpulkan selama
puluhan tahun. McNamara dan Holes
menjadi teman. Mereka sama-sama
tidak bisa berhenti memikirkan satu
pertanyaan: siapakah pria ini?

Pola Serangan: Bagaimana
Pelaku Beraksi

Untuk memahami kengerian kasus ini,
kita harus memahami bagaimana
pelaku beraksi. Penjelasan ini rinci,
karena detail-detail inilah yang
membuat kasus ini begitu menghantui.

Serangan dimulai pada tahun 1976
di Sacramento, California. Pelaku
tidak menyerang secara acak.
Ia sangat terencana. Begini
langkah-langkahnya.

Langkah pertama: Mengintai.
Pelaku akan memilih sebuah rumah
di lingkungan yang tenang. Biasanya
rumah dengan satu lantai, dekat
dengan jalur pelarian seperti lapangan
terbuka atau sungai kering. Ia akan
mengawasi rumah itu selama
berhari-hari, kadang
berminggu-minggu. Ia mempelajari
kebiasaan penghuninya. Jam berapa
mereka pulang kerja. Jam berapa
mereka mematikan lampu. Apakah
mereka punya anjing. Apakah
jendela samping selalu terkunci.
Tetangga kadang melihat pria
mencurigakan di sekitar lingkungan,
tapi tidak ada yang melapor karena
ia terlihat seperti orang biasa yang
sedang jogging atau berjalan santai.

Langkah kedua:
Masuk ke rumah.
 Pelaku hampir
selalu masuk melalui jendela atau
pintu belakang yang tidak terkunci.
Ia sangat ahli dalam hal ini. Ia bisa
membuka kunci jendela tanpa suara.
Jika jendela terkunci, ia akan
memotong kasa jendela dengan
pisau kecil. Begitu masuk, ia tidak
langsung menyerang. Ia akan berjalan
pelan di dalam rumah, membuka
lemari, melihat-lihat isi rumah.
Ia ingin tahu siapa yang tinggal
di sana. Kadang ia sudah masuk
ke rumah dan mengintai dari dalam
sebelum korbannya pulang.

Langkah ketiga: Membangunkan
korban.
 Pelaku selalu menyerang
setelah tengah malam, saat korban
sudah tidur lelap. Ia masuk ke kamar
tidur. Ia menyorotkan senter yang
sangat terang langsung ke wajah
korban. Senter ini membutakan
dan membuat korban tidak bisa
melihat wajahnya dengan jelas.
Ia selalu memakai topeng ski yang
menutupi seluruh wajahnya, hanya
menyisakan lubang untuk mata
dan mulut.

Langkah keempat: Mengikat
korban.
 Jika korbannya adalah
pasangan suami istri, pelaku akan
memerintahkan si istri untuk
mengikat suaminya terlebih dahulu.
Ia membawa tali atau menggunakan
apa pun yang ada di rumah, seperti
dasi, ikat pinggang, atau kabel listrik.
Setelah suami terikat, pelaku akan
mengikat si istri dengan lebih ketat.
Kadang ia menumpuk piring
di punggung suami yang sudah
terikat. Ia berkata, “Jika aku
mendengar piring jatuh, aku akan
membunuh kalian berdua.” Ini
membuat suami tidak bisa bergerak
sama sekali, karena gerakan sekecil
apa pun akan menjatuhkan piring.

Jika korbannya adalah perempuan
yang tinggal sendirian, pelaku akan
langsung mengikatnya.

Langkah kelima: Memerkosa.
Setelah korban terikat dan tidak
berdaya, pelaku akan membawa
si istri ke ruangan lain. Jauh dari
suaminya yang terikat. Di sanalah
pemerkosaan terjadi. Pelaku
melakukannya berkali-kali. Kadang
ia tinggal di rumah itu selama tiga
atau empat jam. Ia tidak terburu-buru.
Ia seperti menikmati setiap detiknya.

Langkah keenam: Perilaku aneh
di tempat kejadian.
 Di sela-sela
serangan, pelaku melakukan hal-hal
yang sangat aneh. Ia berjalan-jalan
di dalam rumah seolah-olah rumah itu
miliknya. Ia membuka lemari es dan
mengambil makanan atau minuman.
Ia makan roti. Ia minum susu langsung
dari kartonnya. Kadang ia mengambil
uang kecil atau perhiasan murah, tapi
barang-barang mahal sering ia
abaikan. Ia seperti ingin menunjukkan
bahwa ia bisa melakukan apa saja dan
tidak ada yang bisa menghentikannya.

Suara pelaku adalah hal yang paling
diingat oleh para korban. Ia berbicara
dengan cara yang sangat aneh.
Ia mengatupkan giginya dengan rapat
saat berbicara, sehingga suaranya
terdengar teredam dan mendesis.
Seperti suara seseorang yang sedang
menahan amarah yang sangat besar,
tapi dikeluarkan dengan pelan dan
dingin.

Ancaman yang menjadi judul
buku.
 Salah satu korban adalah
seorang wanita muda yang tinggal
sendirian. Setelah memperkosanya,
pelaku berbisik dengan suara
khasnya itu. Ia mengatakan bahwa
ia akan pergi sekarang. Tapi ia akan
kembali. Dan jika korban berteriak
atau mencoba mencari bantuan, ia
akan membunuhnya. Kalimat
persisnya adalah: 
“You’ll be silent
forever, and I’ll be gone in the
dark.”
 Artinya, “Kamu akan diam
selamanya, dan aku akan menghilang
dalam kegelapan.” Kalimat inilah
yang menjadi judul buku ini.

Ketakutan yang Menyebar
di Sacramento

Setelah serangan terjadi
beberapa kali, berita mulai menyebar.
Polisi mengumumkan bahwa ada
seorang pemerkosa berantai yang
berkeliaran. Ketakutan langsung
meledak di seluruh Sacramento.
Orang-orang tidak lagi merasa aman
di rumah mereka sendiri.

Perempuan takut tidur sendirian.
Mereka tidur di rumah saudara atau
teman. Pasangan suami istri tidur
dengan tongkat baseball atau pisau
di samping tempat tidur. Penjualan
kunci gembok, rantai pintu, dan
senjata api melonjak drastis.
Orang-orang memelihara anjing
penjaga. Lampu-lampu luar rumah
dibiarkan menyala sepanjang
malam. Tapi pelaku tetap menyerang.
Ia seperti mengejek semua tindakan
pencegahan itu.

Yang paling menakutkan adalah
pelaku sering menelepon korbannya
setelah serangan. Kadang beberapa
hari kemudian.
Kadang bertahun-tahun kemudian.
Ia akan menelepon di tengah malam.
Korban akan mengangkat telepon,
dan di ujung sana hanya ada suara
napas berat. Atau bisikan pelan:
“Aku masih di sini. Aku belum pergi.”
Ini adalah teror psikologis yang
membuat para korban tidak pernah
bisa merasa benar-benar aman,
bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.

Kegagalan Identifikasi Pelaku

Polisi berusaha sekuat tenaga. Mereka
mengumpulkan sidik jari dari tempat
kejadian. Mereka mewawancarai
ribuan orang. Mereka membuat sketsa
wajah berdasarkan deskripsi korban
yang sempat melihat sekilas wajah
pelaku. Tapi pelaku sangat cerdas.
Ia hampir tidak pernah meninggalkan
jejak yang cukup kuat. Ia memakai
sarung tangan. Ia membersihkan
tempat kejadian. Pada masa itu, belum
ada teknologi DNA seperti sekarang.
Polisi hanya bisa mengandalkan sidik
jari dan golongan darah, dan itu pun
sering kali tidak cukup untuk
menemukan tersangka.

Investigasi berjalan sangat lambat.
Ribuan pria diinterogasi. Tidak ada
yang cocok. Pelaku seolah-olah
adalah hantu.

McNamara Bertemu Para
Penyintas

Dalam pencariannya, McNamara
tidak hanya membaca laporan polisi.
Ia juga bertemu langsung dengan
para penyintas. Ia duduk di ruang
tamu mereka. Ia minum teh bersama
mereka. Ia mendengarkan cerita
mereka dengan penuh perhatian.
Para wanita ini sekarang sudah
berusia enam puluhan atau tujuh
puluhan. Tapi ketika mereka bercerita
tentang malam itu, suara mereka
masih bergetar. Mata mereka masih
berkaca-kaca.

Mereka ingat suara pelaku.
Suara aneh yang berbisik dengan gigi
terkatup. Mereka ingat baunya. Ini
adalah detail yang sangat aneh.
Pelaku tidak berbau busuk.
Ia tidak berbau alkohol atau keringat.
Ia berbau seperti sabun, seperti
seseorang yang baru saja mandi.
Beberapa korban bahkan mengatakan
ia berbau seperti losion atau parfum
murah. Detail ini sangat penting
karena menunjukkan bahwa pelaku
adalah orang yang peduli dengan
kebersihan dirinya. Ia bukan
gelandangan atau orang gila yang
hidup di jalanan. Ia adalah seseorang
yang memiliki rumah, yang mandi
setiap hari, yang mungkin memiliki
pekerjaan dan keluarga.
Ia bersembunyi di depan mata.

Arti Judul “The Rat Czar”

Judul bagian pertama ini adalah
“The Rat Czar” atau “Raja Tikus”.
Julukan ini merujuk pada seorang
detektif tua yang sudah pensiun.
Detektif ini dijuluki “Raja Tikus”
karena tugas khususnya adalah
menjebak predator yang licin. Tikus
adalah hewan yang sangat pintar.
Ia cepat, lincah, dan sangat sulit
ditangkap. Ia bisa menyelinap
ke dalam lubang kecil, bersembunyi
di tempat gelap, dan keluar lagi
tanpa diketahui.

East Area Rapist persis seperti tikus.
Ia selalu selangkah lebih maju dari
polisi. Ia selalu bisa menemukan
celah untuk lolos. Detektif-detektif
seperti sang “Raja Tikus” inilah
yang menghabiskan seluruh karier
mereka untuk mencoba
menangkapnya. Mereka memasang
jebakan. Mereka mengikuti petunjuk.
Tapi berkali-kali, tikus itu lolos.

Julukan ini melambangkan seluruh
upaya untuk menjebak predator
yang licin. Ini adalah pekerjaan
yang melelahkan, menjengkelkan,
dan sering kali membuat putus asa.
Tapi seseorang harus melakukannya.
Seseorang harus terus mencoba.
Dan McNamara, dengan caranya
sendiri, telah bergabung dalam
perburuan ini.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Guys, kali ini kita ngomongin buku
yang vibes-nya beda banget.
Ini bukan kisah inspiratif, bukan
juga memoar keluarga. Ini adalah
obsesi seorang penulis terhadap
kegelapan, tentang perburuan
seorang hantu yang meneror
California selama puluhan tahun.
Bukunya 
I’ll Be Gone in the Dark
karya Michelle McNamara.

Lo tau rasanya nggak, nemuin sesuatu
yang bikin lo penasaran setengah mati,
sampai-sampai lo rela begadang tiap
malem buat nyari tahu? Nah, itu yang
terjadi sama Michelle.

The Rat Czar: Ketika Ibu Rumah
Tangga Berubah Jadi Detektif
Hantu

Michelle McNamara bukan polisi,
bukan detektif, apalagi agen FBI.
Dia cuma seorang ibu rumah tangga
yang tinggal di LA, istri dari aktor
terkenal, yang punya kebiasaan aneh.
Setiap malem, setelah suami dan
anaknya tidur, dia duduk di depan
komputer. Ruangan gelap, cuma
cahaya layar yang nyorot mukanya.
Dia bakal ngabisin berjam-jam baca
tentang pembunuhan, pemerkosaan,
dan kejahatan yang belum kepecahin.
Dia nyebut dirinya “detektif kursi”.
Tapi buat gue, dia jauh lebih dari itu.

Semua berawal dari forum online.
Tempat nongkrongnya orang-orang
yang punya hobi sama: ngulik kasus
kriminal yang mangkrak.
Di situ Michelle pertama kali baca
tentang seorang pria yang dijuluki
East Area Rapist, disingkat EAR.
Begitu mulai baca, dia nggak bisa
berhenti. Dia sendiri yang bilang
rasanya kayak jatuh
ke “lubang kelinci”, makin ke bawah
makin gelap dan aneh.

Dari forum itu, Michelle mulai
kenalan sama orang-orang yang juga
terobsesi. Salah satunya Paul Holes,
detektif dari Contra Costa County
yang udah ngabisin lebih dari
20 tahun hidupnya buat ngejar
pria ini. Bayangin, dia punya
ruangan khusus penuh kardus arsip,
ribuan laporan polisi, foto-foto TKP.
Michelle dan Paul jadi temen.
Mereka sama-sama nggak bisa
berhenti mikirin satu pertanyaan:
“Siapa sih manusia ini?”

Pola Serangan Si Hantu: Detail
yang Bikin Lo Merinding

Buat ngerti kengerian kasus ini,
lo harus tahu gimana si pelaku
beraksi. Serangannya dimulai tahun
1976 di Sacramento, California. Dan
dia nggak asal neror, aksinya
terencana banget.

Pertama, ngintai. Dia milih rumah
di lingkungan tenang, biasanya satu
lantai, deket jalur kabur kayak
lapangan atau sungai kering.
Dia ngawasin rumah itu berhari-hari,
bahkan berminggu-minggu.
Dia pelajari kebiasaan penghuninya:
jam pulang, jam matiin lampu, punya
anjing apa nggak. Tetangga kadang
ngeliat orang mencurigakan, tapi
nggak curiga karena dia keliatan kayak
orang biasa yang lagi jogging.

Kedua, masuk. Hampir selalu lewat
jendela atau pintu belakang yang
nggak dikunci. Dia jago banget buka
kunci tanpa suara. Kalau jendelanya
terkunci, dia potong kasa-nya pake
pisau. Begitu masuk, dia nggak
langsung nyerang. Dia malah
jalan-jalan dulu, buka lemari, ngelihat
isi rumah. Dia pengen tahu siapa
yang tinggal di sana. Kadang dia udah
di dalem sebelum korbannya pulang.

Ketiga, membangunkan korban.
Selalu setelah tengah malem, pas
korban udah tidur lelap. Dia nyorot
senter super terang langsung
ke muka, bikin korban buta dan
nggak bisa liat jelas. Dia selalu pake
topeng ski, cuma kelihatan mata
dan mulut.

Keempat, ngiket. Kalau korbannya
pasangan, dia merintah si istri buat
ngiket suaminya duluan. Dia bawa
tali atau pake dasi, ikat pinggang,
kabel. Setelah suami terikat, si istri
diiket lebih kenceng. Kadang dia
numpuk piring di punggung suami,
sambil ngancem, “Kalau gue denger
piring jatuh, kalian berdua mati.”
Jadi si suami nggak bisa gerak sama
sekali. Kalau korbannya cewek
sendirian, dia langsung ngiket.

Kelima, memerkosa. Setelah korban
nggak berdaya, dia bawa si istri
ke ruangan lain, jauh dari suaminya.
Di sana pemerkosaan terjadi,
berkali-kali. Dia bisa tinggal
di rumah itu 3-4 jam. Nggak
buru-buru. Kayak menikmati setiap
detiknya.

Keenam, perilaku aneh.
Di sela-sela itu, dia ngelakuin hal
yang bikin merinding. Dia jalan-jalan
di rumah kayak rumahnya sendiri,
buka kulkas, ngambil makanan,
minum susu langsung dari karton.
Kadang ngambil uang receh atau
perhiasan murah, tapi barang mahal
diabaikan. Kayak dia pengen
nunjukin dia bisa ngelakuin apa aja.

Suaranya adalah yang paling diinget
korban. Dia ngomong dengan gigi
terkatup rapat, jadi suaranya aneh,
teredam, mendesis. Kayak orang
yang lagi nahan marah besar, tapi
dikeluarin dingin dan pelan. Dan
salah satu korban, seorang cewek
muda sendirian, setelah diperkosa,
denger bisikan yang jadi judul buku
ini: 
“You’ll be silent forever, and I’ll
be gone in the dark.”
 “Lo bakal
diem selamanya, dan gue bakal
ngilang dalam kegelapan.”

Ketakutan Meledak
di Sacramento

Begitu berita nyebar, seluruh
Sacramento panik. Cewek-cewek
takut tidur sendirian. Pasangan
tidur sambil megang tongkat baseball
atau pisau. Penjualan kunci gembok
dan senjata api meroket. Lampu luar
rumah nyala terus. Tapi dia tetep
nyerang. Kayak ngejek semua upaya
itu.

Yang paling ngeri, dia sering nelpon
korban setelah serangan.
Beberapa hari, bahkan
bertahun-tahun kemudian.
Tengah malem, telepon berdering.
Di ujung sana cuma napas berat,
atau bisikan, “Gue masih di sini.
Gue belum pergi.” Ini teror psikologis
yang bikin korban nggak pernah
ngerasa aman.

Polisi udah usaha mati-matian.
Sidik jari, wawancara ribuan orang,
sketsa wajah. Tapi dia terlalu pinter.
Hampir nggak ninggalin jejak. Pake
sarung tangan, bersihin TKP.
Masa itu belum ada teknologi DNA
canggih. Polisi cuma ngandelin
golongan darah, dan itu sering nggak
cukup. Ribuan pria diinterogasi,
nggak ada yang cocok. Dia kayak
hantu.

Michelle dan Para Penyintas:
Merekam Luka yang Tak Terlihat

Dalam pencariannya, Michelle nggak
cuma baca laporan. Dia ketemu
langsung para penyintas. Duduk
di ruang tamu mereka, minum teh,
dengerin cerita. Wanita-wanita itu
sekarang udah tua, 60-an atau 70-an.
Tapi pas cerita, suara mereka masih
bergetar. Mata mereka berkaca-kaca.

Mereka inget suara aneh itu.
Dan mereka inget baunya. Ini detail
yang aneh. Pelaku nggak bau busuk,
nggak bau alkohol. Dia bau sabun,
kayak orang yang baru mandi.
Bahkan ada yang bilang bau losion
atau parfum murahan. Ini krusial.
Artinya, dia bukan gelandangan.
Dia punya rumah, kerjaan, mungkin
keluarga. Dia bersembunyi di depan
mata, menyamar sebagai orang biasa.

Kenapa “The Rat Czar”?

Judul bagian pertama ini,
“The Rat Czar” atau “Raja Tikus”,
merujuk pada seorang detektif tua
yang udah pensiun. Tugas khususnya
adalah ngejebak predator licin. Tikus
itu pintar, cepet, susah ditangkep.
Bisa nyelip di lubang kecil, sembunyi
di gelap, keluar lagi tanpa ketauan.
East Area Rapist persis kayak gitu.
Selalu selangkah lebih maju.

Detektif kayak sang Raja Tikus inilah
yang ngabisin seluruh karirnya buat
nyoba nangkep dia. Bikin jebakan,
ngikutin petunjuk. Tapi tikus itu
lolos terus. Julukan ini melambangkan
seluruh upaya melelahkan, bikin
frustasi, dan kadang putus asa. Tapi
seseorang harus ngelakuinnya. Dan
Michelle, dengan caranya sendiri,
udah ikut nimbrung dalam
perburuan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *