Lahirnya Budaya “Bro Culture” di Dunia Teknologi
Industri teknologi sering
digambarkan sebagai tempat yang
meritokratis siapa pun yang paling
pintar dan paling rajin akan menang.
Namun kenyataannya tidak
sesederhana itu. Emily Chang, lewat
Brotopia, menunjukkan bagaimana
budaya yang tercipta di Silicon Valley
justru membentuk lingkungan yang
lebih memihak laki-laki.
Stereotip perempuan dianggap
kurang kompeten, bias yang tidak
disadari, hingga kebijakan yang tidak
mendukung keluarga membuat
perempuan harus bekerja lebih keras
hanya untuk mendapatkan pijakan
yang sama. Di balik cerita sukses
besar perusahaan-perusahaan
teknologi, ada cerita lain: perempuan
yang berjuang dalam sistem yang
tidak dirancang untuk mereka.
Bias Gender yang Menghambat
Karier Perempuan
Salah satu masalah paling besar
adalah asumsi keliru bahwa
perempuan “kurang mampu” dalam
bidang teknis. Di banyak
perusahaan, pekerjaan perempuan
kerap dianggap perlu diperiksa
dua kali, seolah kompetensinya
masih diragukan.
Padahal data membuktikan hal
sebaliknya. Dalam penelitian GitHub,
ketika identitas gender
disembunyikan, kode yang ditulis
perempuan justru memiliki tingkat
penerimaan lebih tinggi daripada
milik laki-laki. Yang menurunkan
angka penerimaan itu adalah
ketika identitas gender perempuan
terlihat.
Dengan kata lain: bukan kualitas
pekerjaannya yang menjadi
masalah, tetapi prasangka terhadap
siapa yang menulisnya.
Jarangnya Sorotan untuk Tokoh
Perempuan Sukses
Industri teknologi sering menonjolkan
sosok laki-laki sebagai wajah utama
inovasi. Ketika ada perempuan yang
berhasil, seperti Marissa Mayer atau
Susan Wojcicki, keberhasilan mereka
justru dianggap “pengecualian langka.”
Narasi seperti ini memperkuat
anggapan bahwa perempuan tidak
wajar berada di puncak industri
teknologi. Prestasi mereka sering
dibandingkan secara tidak adil
dengan laki-laki, padahal tekanan,
standar, dan hambatan yang
mereka hadapi jauh berbeda.
Ketimpangan Akses Pendanaan:
Tantangan bagi Perempuan
Pendiri Startup
Bidang investasi pun tidak lebih
ramah. Data menunjukkan jurang
pendanaan yang amat besar:
Perusahaan rintisan yang
didirikan laki-laki:
$58 miliarPerusahaan rintisan yang
didirikan perempuan:
$1,46 miliar
Selisih yang sangat timpang ini
memperlihatkan bahwa sistem
pendanaan masih memihak satu
kelompok tertentu. Pertanyaannya
sederhana: bagaimana perempuan
bisa berkembang jika dukungan
modal saja begitu tidak seimbang?
Lingkungan Kerja yang
Dirancang Tanpa Memikirkan
Orang Tua
Banyak perusahaan teknologi
membangun budaya kerja yang
mengaburkan batas antara kantor
dan rumah. Fasilitas mewah seperti
ruang bermain, laundry, makan
gratis, dan layanan internal lain
sering dianggap sebagai bentuk
“kenyamanan.” Namun di balik
itu ada pesan samar: semakin lama
kamu berada di kantor, semakin
baik.
Model kerja seperti ini lebih cocok
untuk pekerja lajang, terutama
laki-laki yang tidak dibebani peran
pengasuhan. Bagi orang tua
terutama ibu ritme kerja semacam
ini tidak realistis. Struktur perusahaan
seakan tidak memikirkan bahwa
seorang pekerja juga memiliki
keluarga.
Standar Ganda terhadap Ibu
Bekerja
Contoh yang diangkat Emily Chang
adalah pengalaman Janika Alvarez,
CEO Naya. Saat mencari pendanaan,
ia sering ditanya bagaimana cara ia
mengatur waktu antara bisnis dan
anak-anaknya. Pertanyaan itu
hampir tidak pernah diberikan
kepada suaminya yang sekaligus
menjadi rekan bisnis.
Inilah bentuk bias yang paling halus
namun paling merugikan:
ibu dianggap kurang fokus, kurang
gesit, atau kurang mampu karena
memiliki tanggung jawab keluarga.
Padahal laki-laki dengan kondisi
serupa tidak pernah disudutkan
dengan cara yang sama.
Hambatan Masuk bagi
Perempuan di Dunia
Teknologi
Bukan hanya naik jabatan yang sulit
masuk ke industri ini saja sudah
penuh tantangan. Budaya kerja,
perekrutan, hingga jaringan yang
didominasi laki-laki menciptakan
gatekeeping yang membuat
perempuan sulit menembusnya.
Ketika kultur pergaulan, ruang
diskusi, hingga keputusan bisnis
dibentuk dalam lingkungan homogen,
suara perempuan sering hilang
bahkan sebelum didengar.
Mengapa Penting untuk
Mengubah Sistem Ini
Ketidaksetaraan gender bukan hanya
masalah moral; ini juga merugikan
perkembangan teknologi itu sendiri.
Industri yang dibangun oleh satu
kelompok tanpa perspektif beragam
akan kehilangan ide, kreativitas,
dan inovasi yang bisa datang dari
kelompok lain.
Perempuan tidak kekurangan
kompetensi yang kurang
adalah kesempatan yang adil.
Brotopia mengajak kita melihat akar
masalah ini secara jernih: bukan
pada perempuan itu sendiri, tetapi
pada struktur sosial, budaya
perusahaan, dan ekosistem
pendanaan yang perlu dibenahi.
Menuju Masa Depan yang
Lebih Setara
Perubahan hanya bisa terjadi jika
kita berani mengakui adanya
ketimpangan. Dengan
menghadirkan lebih banyak
perempuan dalam posisi
kepemimpinan, memperbaiki
kebijakan kerja, menyediakan
dukungan bagi orang tua, dan
menyingkirkan bias dalam
perekrutan serta pendanaan, industri
teknologi bisa menjadi tempat yang
benar-benar inklusif.
Masa depan teknologi seharusnya
dibangun oleh semua orang,
bukan hanya oleh satu kelompok
tertentu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Budaya “Bro Culture”: Seperti
Klub yang Hanya Membolehkan
Anggota Tertentu
Bayangkan sebuah klub nongkrong
yang katanya terbuka untuk semua
orang. Tapi ketika perempuan datang,
mereka merasa ditatap aneh, tidak
diajak bicara, atau diajak ngobrol
hanya sebagai formalitas.
Kira-kira seperti itulah sebagian
perempuan masuk ke dunia
teknologi: tempat yang katanya
adil dan terbuka, tapi praktiknya
lebih memihak laki-laki.
Walaupun pintar dan rajin,
perempuan sering harus bekerja
dua kali lebih keras hanya
untuk diakui setara.
Bias Gender: Seperti Kue
Buatan Perempuan yang
Selalu Dicicip Dua Kali
Bayangkan seseorang membawa
kue ke acara keluarga. Kalau yang
bawa laki-laki, orang langsung
bilang,
“Wah pasti enak nih!”
Tapi kalau yang bawa perempuan,
orang mencicipnya sambil bertanya,
“Kamu yakin nggak salah resep?”
Padahal rasanya sama bahkan
kadang lebih enak.
Begitu pula di teknologi: kode yang
ditulis perempuan lebih diterima
ketika orang tidak tahu siapa
penulisnya. Begitu tahu penulisnya
perempuan, tiba-tiba banyak yang
ragu.
Masalahnya bukan di “kodenya”,
tapi di prasangkanya.
Minimnya Sorotan untuk Tokoh
Perempuan: Seperti Acara
Sekolah yang Hanya Menyebut
Satu Nama
Ibarat pentas seni sekolah: banyak
siswa tampil bagus, tapi yang
diumumkan sebagai “bintang
panggung” hanya laki-laki.
Saat perempuan tampil luar biasa,
komentar netizen malah:
“Lah kok bisa? Tumben banget.”
Prestasi perempuan dianggap
keberuntungan langka,
bukan hasil kerja keras.
Ketimpangan Pendanaan
Startup: Ibarat Warung
Perempuan Dapat Modal
Seadanya
Bayangkan dua orang mau buka
warung.
Yang satu laki-laki diberi modal
58 juta,
yang satu perempuan diberi
modal 1,4 juta saja.
Terus orang bilang,
“Loh kok warungnya si perempuan
sepi?”
Tentu saja timpang modalnya saja
sudah tidak adil.
Beginilah gambaran dunia investasi
startup saat pendiri perempuan
mencari dana.
Lingkungan Kerja yang Tidak
Ramah Orang Tua: Seperti
Warung yang Tutupnya Jam
1 Pagi
Bayangkan tempat kerja seperti
warung yang buka sampai larut
malam, dan karyawan dipuji
kalau pulangnya jam 11 malam.
Siapa yang paling cocok?
Ya jelas yang belum berkeluarga.
Bagi ibu yang harus mengurus anak,
sekolah, dan rumah ritme kerja
seperti ini jelas tidak masuk akal.
Tapi budaya kerja teknologi sering
memaksakan “harus selalu ada
di kantor”.
Standar Ganda untuk Ibu
Bekerja: Seperti Hanya Ibu
yang Ditanya ‘Anakmu Sama
Siapa?’
Kalau seorang ibu berbisnis sambil
punya anak, orang bertanya:
“Anaknya siapa yang urus?”
Tapi kalau ayahnya? Tidak ada
yang nanya.
Itulah yang terjadi pada Janika
Alvarez. Ia ditanyai soal anak terus
menerus ketika mencari pendanaan.
Padahal suaminya yang kerjanya
sama tidak pernah mendapat
pertanyaan serupa.
Hambatan Masuk ke Dunia
Teknologi: Ibarat Gerbang yang
Hanya Dibuka untuk
Teman-Teman Lama
Masuk dunia teknologi kadang
seperti mau masuk geng motor
di kampung:
kalau bukan teman lama atau tidak
dianggap cocok, pintu rasanya
tertutup.
Lingkungan yang homogen
membuat perempuan susah
masuk, apalagi berkembang.
Kenapa Sistem Ini Harus
Diubah: Seperti Tim Sepak Bola
yang Hanya Mau Pemain dari
Satu Desa
Bayangkan sebuah tim bola hanya
rekrut pemain dari satu desa.
Banyak bakat hebat dari desa lain
akhirnya tidak pernah dilirik.
Tim itu mungkin tetap menang,
tapi bisa jauh lebih kuat jika
pemainnya lebih beragam.
Begitu pula teknologi:
tanpa perspektif perempuan,
banyak ide dan inovasi berharga
ikut hilang.
Menuju Masa Depan Setara:
Seperti Tetangga Gotong
Royong Membangun Jalan Baru
Perubahan terjadi kalau semua
orang terlibat:
perusahaan memperbaiki
kebijakan kerja,investor adil memberi
pendanaan,pemimpin memberi ruang
perempuan,budaya diskriminatif
dibuang jauh-jauh.
Kalau semuanya bergerak bersama,
teknologi bisa menjadi dunia yang
nyaman untuk semua, bukan
hanya untuk satu kelompok.
