Ketimpangan yang Kita Terima, Ketimpangan yang Kita Benci
Kita sering mendengar nasihat:
jangan membenci orang kaya jika
suatu hari kamu ingin menjadi
kaya juga. Namun ada pertanyaan
menarik yang perlu diajukan. Jika
kamu diberi kekuasaan untuk
mengambil kekayaan dari satu
kelompok, kelompok mana yang
akan kamu pilih?
Kelompok A: pengusaha, musisi,
atlet sepak bola profesional.
Kelompok B: bankir, birokrat, dan
eksekutif berdasi.
Besar kemungkinan, banyak orang
bisa menerima ketimpangan yang
datang dari Kelompok A, tetapi
merasa kesal terhadap kekayaan
Kelompok B. Mengapa? Karena
orang kaya dari Kelompok B
terlihat seperti “orang biasa” yang
berhasil naik bukan karena
menciptakan sesuatu, melainkan
karena memainkan sistem dan
mendapatkan privilese yang
tidak sepenuhnya sebanding
dengan kontribusinya.
Penelitian bahkan menunjukkan
bahwa masyarakat Amerika lebih
mudah membenci orang kaya yang
mendapatkan kekayaan dari gaji
besar dibanding mereka yang
menjadi kaya lewat usaha wirausaha.
Ini memberi petunjuk penting: yang
sebenarnya dibenci bukan kekayaan
itu sendiri, melainkan cara kekayaan
itu diperoleh.
Skin in the Game: Siapa yang
Benar-Benar Menanggung
Risiko?
Taleb menyarankan bahwa yang
layak dipertanyakan adalah
individu di puncak yang tidak
memiliki skin in the game
— tidak menanggung risiko dari
keputusan yang mereka buat.
Bayangkan seorang bankir yang
menghasilkan banyak uang
dengan mengambil risiko besar
di pasar keuangan.
Jika taruhannya berhasil, ia
mendapat bonus besar. Jika
gagal dan sistem runtuh, ia
memanggil negara untuk bailout.
Kerugiannya ditanggung publik,
bukan dirinya sendiri.
Sekarang bandingkan dengan
seorang pengusaha muda yang
memulai bisnis dari ruang bawah
tanah rumah ibunya. Tidak ada
jaminan. Tidak ada gaji tetap.
Jika gagal, semua jam kerja dan
pengorbanannya sia-sia, bahkan
mungkin ia masih tinggal di ruang
bawah tanah itu hingga usia
40 tahun. Di sini, risiko dan
konsekuensi sepenuhnya ia
tanggung sendiri.
Inilah inti dari skin in the game:
siapa yang mengambil
keputusan harus ikut
menanggung akibatnya. Ketika
seseorang menikmati keuntungan
tanpa menanggung risiko, di situlah
ketimpangan menjadi tidak adil.
Ketimpangan Tidak Selalu
Berarti Tidak Adil
Sekarang bayangkan sebuah negara.
Pertanyaannya: apakah negara itu
timpang? Jawabannya tidak bisa
langsung diberikan, karena kita
perlu informasi tambahan.
Bagaimana jika di negara itu,
harapan hidup adalah 100 tahun,
dan setiap orang akan
menghabiskan satu tahun
hidupnya berada di 1% teratas,
dan 99 tahun sisanya berada
di kelompok bawah? Jika setiap
orang pada akhirnya merasakan
posisi puncak, apakah
ketimpangan itu masih terasa
tidak adil?
Faktanya, sekitar 10% warga
Amerika akan pernah merasakan
setidaknya satu tahun berada
di kelompok 1% penghasilan
tertinggi. Lebih dari 50% akan
pernah masuk kelompok 10%
teratas. Artinya, posisi “atas” tidak
selalu ditempati orang yang sama
sepanjang waktu.
Ketimpangan menjadi lebih dapat
diterima ketika sistem bersifat
dinamis, bukan statis.
Rotasi Kekayaan: Siapa Pun
Bisa Naik, Siapa Pun Bisa
Turun
Kesetaraan tidak hanya diciptakan
dengan menaikkan posisi mereka
yang berada di bawah. Kesetaraan
juga lahir dari sistem yang
memungkinkan rotasi di puncak.
Siapa pun yang mau bekerja keras
dan memberi kontribusi nyata
seharusnya punya peluang naik
ke posisi atas. Sebaliknya,
siapa pun yang sudah berada
di atas tetapi tidak lagi berkontribusi,
seharusnya menghadapi risiko untuk
turun.
Sistem yang sehat bukan sistem yang
memusuhi orang kaya. Sistem yang
sehat adalah sistem yang memastikan:
Tidak ada keuntungan tanpa
risiko.Tidak ada posisi puncak tanpa
kontribusi.Tidak ada kekayaan yang
sepenuhnya aman dari
konsekuensi.
Yang Layak Diresahkan Bukan
Kekayaan, Tapi Ketidakadilan
Risiko
Dari sini kita melihat bahwa masalah
utamanya bukan “ketimpangan”,
melainkan ketimpangan risiko
dan tanggung jawab. Orang bisa
menerima perbedaan hasil, selama
mereka percaya bahwa setiap orang
bermain di permainan yang sama
dengan risiko yang sepadan.
Namun ketika sebagian orang
menikmati hasil tanpa ikut
menanggung risiko, sementara
kerugian dibebankan kepada
orang lain, di situlah rasa
ketidakadilan muncul. Dan itulah
yang Taleb sebut sebagai ketiadaan
skin in the game.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Bayangkan ada dua orang
di kampung.
Orang pertama buka warung
bakso. Dia bangun subuh, belanja
bahan, masak sendiri, melayani
pembeli. Kalau ramai, dia untung.
Kalau sepi, dia rugi. Semua hasil
dan risiko dia tanggung sendiri.
Orang kedua adalah seorang
pejabat.
Dia duduk di kantor ber-AC,
menandatangani berkas, menghadiri
rapat. Kalau kebijakan yang dia buat
berhasil, namanya dipuji dan
kariernya naik. Tapi kalau
kebijakannya salah dan merugikan
banyak orang, sering kali yang
menanggung dampak adalah
masyarakat, bukan dia secara pribadi.
Sekarang pertanyaannya:
Orang kampung biasanya lebih rela
melihat tukang bakso jadi kaya,
dibanding melihat pejabat jadi kaya.
Kenapa?
Karena tukang bakso terlihat
berjuang dan menanggung
risiko sendiri, sementara pejabat
terlihat menikmati hasil
besar tanpa menanggung
akibat langsung.
Yang dibenci bukan kekayaannya.
Yang dibenci adalah cara
mendapatkannya.
Siapa yang Ikut Menanggung
Akibat?
Bayangkan main arisan RT.
Ada satu orang yang jadi koordinator.
Dia yang pegang uang semua anggota.
Kalau dia kelola dengan baik,
arisan lancar.
Kalau dia salah pakai uang dan
arisan macet, siapa yang rugi?
Kalau semua anggota rugi, tapi
koordinator tetap santai karena
tidak wajib ganti
— ini tidak adil.
Tapi kalau sejak awal disepakati:
“Kalau arisan bermasalah,
koordinator ikut menanggung
kerugian.”
Nah, sekarang koordinator akan
lebih hati-hati.
Karena dia juga punya skin in
the game
— ikut menanggung risiko.
Intinya:
Siapa yang memegang
keputusan harus ikut
menanggung akibat.
Ketimpangan Tidak
Selalu Tidak Adil
Bayangkan lomba panjat
pinang saat 17-an.
Tidak semua orang langsung di atas.
Tapi setiap orang punya
kesempatan memanjat.
Kadang hari ini kamu di bawah,
besok bisa di atas.
Kalau hanya satu keluarga yang
boleh naik, itu tidak adil.
Tapi kalau semua boleh mencoba,
meskipun hasilnya beda-beda, itu
masih terasa wajar.
Ketimpangan terasa adil kalau
posisi atas bisa berganti-ganti,
bukan dimonopoli orang yang
sama selamanya.
Rotasi Kekayaan
— Siapa Pun Bisa Naik,
Siapa Pun Bisa Turun
Bayangkan kursi musik.
Musik diputar. Semua berjalan.
Saat musik berhenti, siapa cepat
dia dapat kursi.
Besok diputar lagi
— bisa saja orang yang
tadi duduk, kali ini berdiri.
Tidak ada kursi yang
“milik pribadi selamanya”.
Sistem sehat itu seperti ini:
Yang berusaha bisa naik.
Yang lengah bisa turun.
Bukan seperti kursi yang dipaku
permanen untuk orang tertentu.
Masalah utama bukan ada orang
kaya dan miskin.
Masalahnya adalah:
Ada yang untung tanpa risiko.
Ada yang menanggung risiko
tanpa menikmati hasil.
Kalau semua orang bermain
di permainan yang sama
kalau salah ikut rugi,
kalau benar ikut untung
maka ketimpangan terasa lebih adil.
Contoh Kasus 1
— Bankir Tanpa Skin in
the Game
Bayangkan ada Bank XYZ.
Seorang eksekutif bank bernama
Andi bertugas mengelola dana
nasabah.
Dana yang dikelola:
Rp1 triliunIa memutuskan menaruh
dana ini ke investasi berisiko
tinggi.Jika berhasil, keuntungan
10% → Rp100 miliar.Dari keuntungan itu, Andi
mendapat bonus 5%
→ Rp5 miliar masuk
ke kantong pribadi.
Namun skenario buruk terjadi.
Investasi gagal total.
Kerugian: Rp1 triliun.
Apa yang terjadi?
Karena bank ini dianggap
“terlalu besar untuk dibiarkan
bangkrut”, pemerintah turun
tangan melakukan bailout
memakai uang pajak rakyat.
Artinya:
Andi tetap sudah menerima
gaji dan bonus sebelumnya.Kerugian ditanggung publik.
Risiko tidak benar-benar ia
tanggung.
Keuntungan pribadi: iya.
Risiko pribadi: hampir tidak ada.
Inilah contoh tidak ada skin in
the game.
Contoh Kasus 2 — Pengusaha
dengan Skin in the Game
Sekarang bandingkan dengan Budi,
pengusaha kecil.
Budi membuka usaha minuman.
Modal pribadi: Rp100 juta
(hasil tabungan 5 tahun).Ia sewa ruko, beli peralatan,
bahan baku.
Jika bisnis sukses:
Omzet setahun: Rp300 juta
Laba bersih: Rp80 juta
Jika gagal:
Modal Rp100 juta hilang.
Ia tetap harus membayar
sewa dan utang.Bisa kembali ke nol.
Di sini:
Keuntungan
→ milik Budi.Kerugian
→ juga milik Budi.
Risiko dan hasil seimbang.
Ada skin in the game.
Kenapa Orang Lebih Bisa
Menerima Ketimpangan
Tipe Budi?
Ketika Budi sukses dan punya mobil
mahal, orang cenderung berkata:
“Wajar, dia kerja keras dan ambil
risiko.”
Tapi ketika Andi punya bonus
miliaran sementara kerugian
ditanggung rakyat, orang berkata:
“Ini tidak adil.”
Masalahnya bukan orang kaya.
Masalahnya kaya tanpa
menanggung risiko.
Ringkasannya
| Tipe | Ambil Risiko? | Nikmati Untung? | Tanggung Rugi? | Ada Skin in the Game? |
|---|---|---|---|---|
| Eksekutif Bank Bailout | Ya (pakai uang orang) | Ya | Tidak | ❌ |
| Pengusaha Modal Sendiri | Ya (pakai uang sendiri) | Ya | Ya | ✅ |
