Ketika Kepercayaan pada Pemerintah Menjadi Mata Uang yang Langka
Di tengah krisis ekonomi, banyak
orang bertanya: apa masih ada
gunanya pemerintah?
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan.
Setiap kali terjadi resesi, inflasi,
atau bencana, suara skeptis muncul
“pemerintah selalu lamban,”
“birokrasi cuma buang uang,” atau
“lebih baik pasar yang mengatur.”
Tapi Banerjee dan Duflo, dua ekonom
peraih Nobel yang dikenal dengan
riset-riset sosialnya, justru mengajak
kita berpikir sebaliknya: pemerintah
yang baik bukan beban, tapi
fondasi bagi keadilan ekonomi.
“Legit.gov”
Secara harfiah,
“Legit” adalah singkatan dari
legitimate → artinya sah,
dipercaya, atau punya
legitimasi.“.gov” adalah domain internet
resmi untuk situs pemerintah
(misalnya usa.gov, indonesia.go.id).
Jadi, “Legit.gov” bisa diterjemahkan
sebagai:
“Pemerintah yang sah dan
dipercaya.”
Atau lebih bebasnya:
“Negara yang benar-benar punya
legitimasi di mata rakyatnya.”
Kenapa disebut begitu?
Banerjee dan Duflo sengaja menulisnya
seperti alamat situs web Legit.gov
untuk menyindir sekaligus
menekankan ide utama bab ini:
Di zaman ketika orang makin percaya
pada pasar, influencer, atau
perusahaan teknologi dibanding
pemerintah, tugas besar negara bukan
cuma membuat kebijakan, tapi
memperbaiki reputasinya agar
dipercaya kembali.
Dengan gaya ini, mereka seolah
berkata,
“Kalau mau ekonomi yang adil dan
berfungsi, kita butuh pemerintah
yang legit, bukan pemerintah yang
hanya ada di nama.”
“Legit.gov” = “Pemerintah
yang benar-benar dipercaya
rakyatnya.”
Bab ini membahas bagaimana
membangun kembali
kepercayaan terhadap peran
negara dalam ekonomi lewat
kebijakan yang transparan, adil,
dan memberi hasil nyata bagi
masyarakat.
Dalam bab “Legit.gov,” mereka
menyoroti sebuah kenyataan pahit:
kita hidup di zaman krisis kepercayaan
terhadap negara. Di Amerika Serikat,
misalnya, banyak warga memandang
pemerintah dengan curiga. Mereka
merasa pajak tinggi tidak berbanding
lurus dengan layanan publik,
sementara program sosial sering dicap
sebagai pemborosan. Hasilnya,
pendapatan pajak tetap rendah, dan
ruang fiskal untuk membantu
masyarakat miskin semakin sempit.
Padahal, kalau pemerintah benar-benar
dipercaya dan mampu mengelola
dengan baik, intervensi publik bisa
membawa perubahan besar. Contohnya
datang dari Meksiko lewat program
Progresa sebuah program transfer
tunai bersyarat yang menjadi model
bagi banyak negara berkembang.
Melalui skema ini, keluarga miskin
mendapat bantuan uang tunai asal
anak mereka bersekolah dan rutin
memeriksakan kesehatan. Hasilnya
luar biasa: angka putus sekolah turun,
status gizi anak membaik, dan
masyarakat mulai melihat pemerintah
bukan lagi sebagai pihak yang memberi
janji kosong, tapi sebagai mitra yang
nyata dalam memperbaiki hidup.
Banerjee dan Duflo menekankan,
masalah utama bukan apakah
pemerintah harus ikut campur,
tapi apakah masyarakat masih
mempercayainya untuk ikut
campur.
Tanpa kepercayaan, kebijakan sebaik
apa pun bisa gagal karena masyarakat
menolak bekerja sama. Misalnya,
pajak karbon yang dimaksudkan
untuk melawan perubahan iklim
sering mendapat penolakan keras.
Banyak orang berpikir uang pajak itu
hanya akan disalahgunakan atau
dibelanjakan tanpa hasil. Ini
menunjukkan bahwa inti masalah
bukan hanya ekonomi, tapi legitimasi
apakah rakyat percaya bahwa
pemerintah bertindak untuk
kepentingan mereka?
Dalam konteks negara-negara
berkembang, tantangan ini sering
kali lebih rumit. Korupsi,
ketidakmerataan layanan publik, dan
birokrasi yang berbelit membuat
masyarakat merasa jauh dari negara.
Tapi Banerjee dan Duflo menunjukkan
bahwa ketika pemerintah transparan
dan kebijakannya menyentuh
kebutuhan nyata seperti pendidikan,
kesehatan, dan bantuan tunai langsung
kepercayaan itu bisa tumbuh kembali.
Mereka memberi contoh sederhana
tapi kuat: ketika masyarakat miskin
melihat hasil nyata dari kebijakan
publik bukan sekadar janji mereka
mulai merasa dihargai sebagai
warga negara. Inilah awal dari
legitimasi yang sejati.
Pesan mereka jelas:
“Pasar bisa menciptakan kekayaan,
tapi hanya pemerintah yang sah dan
dipercaya yang bisa membaginya
dengan adil.”
Ke depan, Banerjee dan Duflo menilai
bahwa membangun negara yang
dipercaya warga sama pentingnya
dengan membangun ekonomi yang
efisien. Negara yang kuat bukan
berarti negara yang mengatur
segalanya, tapi negara yang dipercaya
rakyatnya untuk hadir ketika mereka
paling membutuhkan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Kalau Rakyat Tak Percaya,
Sehebat Apa pun Kebijakan
Jadi Sia-Sia
Bayangkan kamu hidup di sebuah kota
di mana jalan berlubang tidak pernah
diperbaiki, rumah sakit umum penuh
sesak, dan setiap kali ada bantuan dari
pemerintah, yang dapat justru bukan
orang yang benar-benar butuh. Apa
yang akan kamu rasakan? Sebagian
besar dari kita mungkin akan bilang:
“Ah, percuma! Pemerintah cuma janji
doang.”
Nah, dari sinilah Banerjee dan Duflo
memulai pembahasan di bab “Legit.gov.”
Menurut mereka, masalah terbesar
ekonomi hari ini bukan sekadar
soal uang atau kebijakan tapi soal
kepercayaan. Masyarakat di banyak
negara sudah kehilangan keyakinan
bahwa pemerintah benar-benar
bekerja untuk mereka.
Di Amerika Serikat, misalnya, banyak
orang tidak mau bayar pajak lebih
tinggi karena takut uang itu
disalahgunakan. “Lebih baik uang
saya saya kelola sendiri,” begitu pikir
mereka. Akibatnya, pendapatan pajak
negara rendah, dan pemerintah sulit
mendanai program sosial seperti
bantuan keluarga miskin atau asuransi
kesehatan. Padahal, tanpa dana yang
cukup, program sosial tak bisa berjalan,
dan yang paling menderita justru rakyat
kecil.
Sebaliknya, Banerjee dan Duflo
menunjukkan contoh menarik dari
Meksiko: program bernama Progresa.
Pemerintah memberi bantuan uang tunai
kepada keluarga miskin, asal mereka
memastikan anak-anaknya tetap
sekolah dan rutin ke puskesmas.
Awalnya banyak yang curiga, takut
program ini hanya janji politik. Tapi
setelah beberapa tahun, hasilnya terlihat
jelas anak-anak lebih sehat, lebih
banyak yang lulus sekolah, dan
ekonomi keluarga jadi lebih stabil.
Lambat laun, masyarakat mulai
percaya lagi pada pemerintah.
Contoh ini menunjukkan sesuatu
yang sederhana tapi penting:
Orang tidak akan percaya pada
negara hanya karena pidato,
tapi karena bukti nyata bahwa
negara peduli.
Kalau kita tarik ke kehidupan
sehari-hari, logikanya sama.
Bayangkan ada tetangga yang bilang
ingin bantu kamu, tapi setiap kali
kamu butuh, dia tidak pernah datang.
Lama-lama kamu pasti berhenti
berharap. Tapi kalau dia benar-benar
hadir sekali dua kali membantu tanpa
pamrih kamu mulai percaya. Pemerintah
juga begitu.
Banerjee dan Duflo juga menyinggung
bahwa ketidakpercayaan ini bisa
membuat kebijakan baik justru ditolak.
Misalnya, pajak karbon yang tujuannya
untuk melindungi bumi ditolak banyak
orang karena dianggap cuma menambah
beban hidup. Contohnya di Prancis,
protes “Rompi Kuning” meledak karena
warga kecil merasa kebijakan iklim itu
hanya menguntungkan elit kota besar.
Padahal, kalau pemerintah menjelaskan
dengan jujur dan memastikan hasil pajak
itu benar-benar kembali ke rakyat
misalnya dalam bentuk subsidi
transportasi atau energi bersih yang
murah mungkin ceritanya akan berbeda.
Intinya, Banerjee dan Duflo ingin kita
melihat bahwa pemerintah yang
dipercaya adalah aset ekonomi.
Tanpa kepercayaan, bahkan ide terbaik
pun tidak akan berhasil. Tapi dengan
kepercayaan, bahkan program sederhana
seperti bantuan tunai bisa mengubah
nasib jutaan keluarga.
Mereka menutup bab ini dengan pesan
yang terasa relevan di mana pun kita
tinggal:
“Pasar bisa menciptakan peluang, tapi
hanya pemerintah yang dipercaya
rakyatnya yang bisa memastikan semua
orang ikut menikmati hasilnya.”
