Buku Skin in the Game Nassim Nicholas Taleb, Ketika Keuntungan Bisa Diambil, Tapi Risiko Dilempar ke Orang Lain

Nassim Nicholas Taleb
Bayangkan dua profesi.
Seorang banker menjual produk
keuangan rumit: mortgage-backed
securities dan credit default swaps.
Ia tahu produk ini menyimpan
risiko sistemik. Jika terjadi
peristiwa tak terduga berskala
besar — black swan event — produk
ini bisa meledak dan meruntuhkan
sistem. Tapi selama belum meledak,
ia dan perusahaannya menghasilkan
uang besar dari spekulasi tersebut.
Dan jika benar-benar terjadi
kehancuran? Bank kemungkinan
akan diselamatkan oleh bailout.
Kerugian berpindah ke pemerintah,
lalu ke pembayar pajak.
Sekarang bandingkan dengan
seorang pilot. Ia bekerja membawa
penumpang dari titik A ke titik B
dengan selamat dan cepat. Jika
terjadi sesuatu pada pesawat dan
penumpang, ia juga ikut berada
di dalamnya. Jika ia gagal
menjalankan tugasnya, ia ikut
menanggung akibatnya secara
langsung. Risiko itu tidak bisa
dipindahkan ke orang lain.
Di sinilah inti gagasan
skin in the game muncul.
Skin in the Game Adalah
Soal Simetri
Skin in the game berarti:
Jika seseorang bisa menikmati
manfaat dari suatu keputusan,
maka ia juga harus ikut
menanggung kerugian jika
keputusan itu salah.
Ada simetri antara keuntungan
dan risiko.
Tidak boleh ada situasi di mana
seseorang:
Mengambil untung ketika
hasilnya baikTapi melempar kerugian
ke orang lain ketika
hasilnya buruk
Risiko tidak seharusnya bisa
dipindahkan ke pihak lain yang
tidak ikut mengambil keputusan.
Siapa yang Benar-Benar Punya
Skin in the Game?
Kembali ke dua tokoh tadi.
Pilot memiliki skin in the game.
Ia dibayar untuk menerbangkan
orang dengan selamat. Jika gagal,
ia membayar harga yang sama
dengan penumpangnya.
Risikonya tidak bisa dialihkan.
Banker dalam contoh tadi tidak
memiliki skin in the game.
Ia mengambil keuntungan dari
produk berisiko sistemik. Tetapi
ketika produk itu meledak,
kerugiannya dialihkan
ke pemerintah dan masyarakat.
Ia menikmati sisi atas, tapi tidak
menanggung sisi bawah.
Taleb menyebut situasi ini sebagai:
Bob Ruin Trade
Heads, banker wins.
Tails, someone else loses.
Jika hasil baik, banker untung.
Jika hasil buruk, orang lain yang
menanggung kehancuran.
Skin in the Game Sebagai
Pendeteksi Omong Kosong
Skin in the game juga berfungsi
sebagai ultimate BS detector.
Jika seseorang memberi saran,
membuat keputusan, atau menjual
ide
pertanyaan utamanya adalah:
Apakah ia ikut menanggung
risiko dari saran itu?
Jika jawabannya tidak, maka
kredibilitas nasihatnya patut
dipertanyakan.
Orang yang tidak menanggung
konsekuensi dari keputusannya
sendiri cenderung:
Lebih berani mengambil
risiko ekstremLebbih mudah menjual janji
Lebih bebas berbicara
tanpa beban
Sebaliknya, orang yang benar-benar
punya skin in the game akan
berpikir lebih hati-hati, karena
taruhannya adalah dirinya sendiri.
Mereka yang Tidak Mengambil
Risiko Tidak Layak Membuat
Keputusan
Prinsip penting lainnya:
Orang yang tidak menanggung
risiko seharusnya tidak ikut
membuat keputusan.
Jika seseorang tidak ikut
menanggung akibat dari sebuah
tindakan, maka ia tidak punya
insentif untuk membuat keputusan
yang bertanggung jawab. Ia bisa
bermain aman untuk dirinya sendiri,
tetapi berbahaya bagi orang lain.
Inilah alasan mengapa
ketidakseimbangan antara
pengambil keputusan dan
penanggung akibat
menciptakan sistem yang rapuh.
Dari Keuangan ke Kehidupan
Sehari-hari
Taleb menegaskan bahwa skin in
the game bukan hanya konsep
keuangan.
Ia adalah prinsip dasar dalam
urusan manusia:
tentang keadilan, tanggung jawab,
dan simetri risiko.
Ketika simetri ini hilang,
sistem menjadi rentan.
Ketika simetri ini ada,
sistem menjadi lebih kuat.
Ujian Kejujuran yang
Paling Sederhana
Pada akhirnya, skin in the
game adalah pertanyaan sederhana:
Siapa yang untung jika berhasil?
Dan siapa yang rugi jika gagal?
Jika jawabannya orang yang sama
— itu adil.
Jika jawabannya berbeda
— di situlah masalah dimulai.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
1. Pedagang Gorengan vs
Makelar Gorengan
Bayangkan ada dua orang.
Pedagang gorengan.
Ia yang menggoreng, beli minyak,
beli bahan, dan jual langsung
ke pembeli. Kalau gorengannya
enak, ia untung. Kalau gosong atau
sepi pembeli, ia rugi sendiri.
➡️ Ia punya skin in the game.
Makelar gorengan.
Ia hanya menyuruh orang lain bikin
gorengan, lalu menjual nama atau
janji:
“Tenang, ini pasti laku!”
Kalau laku, ia ambil komisi.
Kalau tidak laku dan gorengan basi,
yang rugi adalah pedagangnya
— bukan dia.
➡️ Ia tidak punya skin in the
game.
2. Sopir Ojek vs Orang yang
Cuma Menyuruh
Sopir ojek mengantar penumpang.
Kalau ia ugal-ugalan, ia sendiri bisa
jatuh bersama penumpang.
Ia ikut menanggung risiko.
➡️ Ada skin in the game.
Orang yang cuma menyuruh:
“Coba bawa cepat, pasti seru!”
Tapi dia sendiri tidak naik motor.
Kalau kecelakaan, dia tetap aman
di rumah.
➡️ Tidak ada skin in the game.
3. Koki Restoran vs Influencer
yang Review
Koki restoran masak makanan.
Kalau rasanya buruk, pelanggan
marah dan restoran rugi.
Nama koki ikut dipertaruhkan.
➡️ Skin in the game.
Influencer dibayar untuk
bilang enak.
Kalau ternyata makanan buruk,
pelanggan kecewa
— tapi influencer tetap sudah
dibayar.
➡️ Tidak ada skin in the game.
4. Arisan Tetangga
Semua anggota setor uang
tiap bulan.
Kalau arisan berjalan jujur,
semua dapat giliran.
Semua ikut menanggung risiko.
➡️ Ada skin in the game.
Tapi jika ketua arisan tidak
ikut setor, hanya mengatur saja.
Kalau uang hilang, yang rugi peserta.
Ketua bisa kabur.
➡️ Tidak ada skin in the game.
Intinya
Kalau seseorang ikut menikmati
untung, tapi tidak mau ikut
menanggung rugi — itu masalah.
Orang yang benar-benar serius
dan jujur biasanya:
Ikut pasang modal
Ikut menanggung risiko
Tidak hanya menyuruh
orang lain
Orang yang berani memberi saran,
tapi tidak berani menanggung
akibatnya, biasanya hanya pintar
bicara — bukan pintar
bertanggung jawab.
Contoh Kasus Nyata:
“Investasi Aman” yang
Ternyata Bom Waktu
Bayangkan ada sebuah bank
investasi di Indonesia:
PT Aman Sentosa Finance.
Mereka menawarkan produk
bernama Deposito Plus Proteksi.
Iklannya berbunyi:
“Imbal hasil 12% per tahun, jauh
di atas deposito biasa. Aman, stabil,
direkomendasikan analis profesional.”
Skema di balik layar
Bank menghimpun dana
dari 10.000 nasabahRata-rata setiap nasabah
menyetor Rp100 jutaTotal dana terkumpul
= Rp1 triliun
Bank kemudian menempatkan
dana ini ke instrumen berisiko
tinggi: obligasi perusahaan
properti yang sedang agresif
ekspansi.
Jika kondisi ekonomi stabil:
Bank memperoleh imbal
hasil 15%Mereka membayar nasabah
12%Selisih 3% menjadi
keuntungan bank
Keuntungan bank per tahun:
3% × Rp1 triliun = Rp30 miliar
Manajemen mendapat bonus besar.
Direksi tersenyum. Produk dipuji.
Lalu datang “Black Swan”
Tahun berikutnya, sektor
properti kolaps.
Nilai obligasi anjlok 40%.
Kerugian portofolio:
40% × Rp1 triliun
= Rp400 miliar
Jika bank benar-benar
menanggung risiko:
Bank bangkrut
Manajemen
kehilangan reputasiPemilik menanggung rugi
Itu skin in the game.
Tapi kenyataannya?
Karena bank ini dianggap “terlalu
besar untuk gagal”, pemerintah
turun tangan.
Pemerintah menyuntik dana
talangan: Rp400 miliarDana berasal dari APBN
Artinya berasal dari pajak
masyarakat
Nasabah tetap dibayar.
Direksi mungkin dicopot, tapi:
Bonus tahun sebelumnya
tidak diminta kembaliTidak ada hukuman
finansial pribadi
Siapa yang untung?
Manajemen bank.
Siapa yang rugi?
Pembayar pajak — orang yang
bahkan tidak ikut memutuskan
investasi itu.
Inilah yang Taleb sebut:
Heads, banker wins. Tails,
someone else loses.
Bank menikmati sisi atas.
Kerugian dilempar ke publik.
Tidak ada skin in the game.
Bandingkan dengan
contoh lain: Warung Makan
Sekarang lihat Bu Rina yang
membuka warung makan.
Modal pribadi: Rp50 juta
Ia masak sendiri
Jika makanannya enak
→ pelanggan datang
→ ia untungJika makanannya buruk
→ pelanggan pergi
→ modalnya habis
Tidak ada bailout.
Tidak ada penyelamatan pemerintah.
Bu Rina punya skin in the game.
Keputusan = konsekuensi langsung.
Inti pelajarannya
Jika seseorang:
Mengambil keputusan
Mendapat keuntungan
saat berhasilTapi tidak ikut rugi
saat gagal
Maka sistem itu tidak adil,
dan rawan bencana.
Sebaliknya, jika:
Orang yang memutuskan
Adalah orang yang
menanggung akibat
Maka ia akan berpikir
lebih hati-hati.
