buku

Kesalahan Manusia? Tidak, Desain yang Buruk

Don Norman membuka bab ini
dengan sebuah pernyataan yang
berani. Selama ini, jika kita
melakukan kesalahan saat
menggunakan benda, kita langsung
menyalahkan diri sendiri.
Kita berkata,
“Ah, aku bodoh sekali. Aku tidak
bisa menggunakan mesin ini.”
Atau kita melihat orang lain
melakukan kesalahan dan berkata,
“Orang itu ceroboh. Kenapa tidak
membaca petunjuknya dulu?”

Norman membalik logika ini
sepenuhnya. Ia berkata: jika banyak
orang melakukan kesalahan yang
sama pada benda yang sama, maka
yang salah bukanlah manusianya.
Yang salah adalah desainnya.
Desain itulah yang membuat orang
melakukan kesalahan.

Ini adalah perubahan cara pandang
yang sangat penting. Bayangkan
sebuah pintu yang sering ditabrak
orang. Setiap hari, ada saja orang
yang menabrak pintu itu karena
mengira pintunya bisa didorong,
padahal harus ditarik.
Apakah semua orang itu bodoh?
Apakah mereka semua tidak bisa
membaca?
Tentu tidak. Masalahnya ada pada
pintu itu. Desainnya tidak memberi
tahu orang bagaimana cara
membukanya.

Dengan cara pandang ini, kita berhenti
menyalahkan manusia dan mulai
memeriksa desainnya. Apa yang salah
dengan desain ini? Mengapa ia
membuat orang melakukan kesalahan?
Dan bagaimana cara memperbaikinya?

Dua Jenis Kesalahan:
Slips dan Mistakes

Norman membagi kesalahan manusia
menjadi dua jenis utama. Keduanya
sangat berbeda, dan memerlukan
solusi yang berbeda pula. Memahami
perbedaan ini sangat penting bagi
siapa pun yang mendesain sesuatu.

Slips (kelepasan)
adalah kesalahan dalam melakukan
tindakan. Rencananya sudah benar.
Tujuannya sudah benar. Tapi saat
menjalankannya, ada yang salah.
Slips terjadi saat kita melakukan
sesuatu secara otomatis, tanpa
berpikir penuh.

Mistakes (kekeliruan)
adalah kesalahan dalam membuat
rencana. Tujuannya sendiri sudah
salah sejak awal. Mistakes terjadi
saat kita berpikir secara sadar, tapi
informasi yang kita miliki salah
atau tidak lengkap.

Mari kita bahas satu per satu
dengan lebih rinci.

Slips (Kelepasan):
Ketika Tindakan Tidak Sesuai
Niat

Anda bangun pagi. Anda berjalan
ke dapur. Anda mengambil cangkir.
Anda menuangkan kopi. Lalu Anda
mengambil gula. Anda membuka
tutupnya. Dan tanpa berpikir, Anda
menuangkan kopi ke dalam wadah
gula.

Apa yang baru saja terjadi?
Niat Anda jelas: Anda ingin
menambahkan gula ke dalam kopi.
Anda sudah merencanakannya
dengan benar. Tapi tangan Anda
melakukan tindakan yang salah.
Ini adalah slip. Slips terjadi ketika
tindakan otomatis mengambil
alih dari niat sadar kita.

Norman menjelaskan bahwa slips
memiliki banyak subjenis. Berikut
adalah beberapa yang paling umum.

Capture slips.
Ini terjadi ketika kebiasaan lama
menangkap dan mengambil alih
tindakan yang seharusnya berbeda.
Contoh klasik adalah saat Anda
berniat pergi ke toko buku di hari
libur, tapi tanpa sadar Anda malah
mengambil rute ke kantor.
Rute ke kantor sudah sangat terbiasa
Anda lalui setiap hari, sehingga otak
Anda secara otomatis mengarahkan
Anda ke sana. Kebiasaan lama
“menangkap” Anda.

Contoh lain adalah saat Anda
mengetik kata “mobil”, tapi jari Anda
mengetik “motor”. Anda lebih sering
mengetik “motor”, sehingga jari Anda
secara otomatis mengetik kata itu.
Ini adalah capture slip.

Description-similarity slips.
Ini terjadi ketika dua benda terlihat
mirip, dan Anda mengambil atau
menekan yang salah. Contohnya
adalah saat Anda memiliki dua botol
di meja: satu berisi air dan satu berisi
cairan pembersih. Kedua botol itu
bentuknya sama, warnanya mirip.
Anda berniat minum air, tapi tangan
Anda mengambil botol cairan
pembersih. Untungnya, Anda
menyadarinya sebelum meneguknya.

Contoh lain adalah saat Anda melihat
dua tombol di layar komputer.
Satu bertuliskan “Simpan” dan satu
bertuliskan “Hapus”. Keduanya
memiliki warna dan bentuk yang
persis sama. Anda berniat
menyimpan, tapi jari Anda mengklik
“Hapus”. Ini adalah
description-similarity slip. Tombol
yang mirip membuat Anda salah
memilih.

Memory-lapse slips.
Ini terjadi ketika Anda lupa
melakukan sesuatu di tengah-tengah
rangkaian tindakan.
Contohnya, Anda pergi ke dapur
untuk mengambil air minum.
Di tengah jalan, Anda melihat ponsel
Anda berdering. Anda menjawab
ponsel. Setelah selesai menelepon,
Anda kembali ke meja kerja. Anda
lupa sama sekali tentang air minum.
Ingatan Anda terputus.

Mode-error slips.
Ini terjadi ketika sebuah benda
memiliki beberapa mode atau
keadaan, dan Anda melakukan
tindakan yang benar untuk mode
yang salah. Contoh paling
berbahaya adalah pesawat terbang.
Pilot mungkin melakukan prosedur
yang benar untuk lepas landas, tapi
pesawat sedang dalam mode
pendaratan. Tindakannya benar,
tapi modenya salah.

Bagaimana Mencegah Slips?

Slips terjadi karena kita
mengandalkan ingatan otomatis.
Solusinya bukanlah menyuruh orang
untuk “lebih berhati-hati”, karena
slips justru terjadi saat kita tidak
sadar. Solusinya adalah mengubah
desain.

Tambahkan forcing function.
Kita sudah membahas ini di bab
sebelumnya. Forcing function
adalah mekanisme yang mencegah
tindakan salah dengan memaksa
tindakan benar terlebih dahulu.
Contohnya adalah dialog
konfirmasi
“Apakah Anda yakin ingin
menghapus file ini?”
Sebelum Anda bisa menghapus,
Anda harus mengklik “Ya”.
Ini adalah forcing function yang
menghentikan slip.

Contoh lain adalah tuas persneling
mobil matik yang tidak bisa
dipindahkan tanpa menginjak rem.
Ini mencegah Anda menjalankan
mobil secara tidak sengaja.

Tambahkan constraints.
Buatlah agar tindakan yang salah
secara fisik tidak mungkin
dilakukan. Contohnya adalah
colokan listrik yang hanya bisa
masuk ke stop kontak dengan
satu arah. Anda tidak mungkin
memasangnya terbalik.

Bedakan tampilan.
Jika dua tombol memiliki fungsi
yang berlawanan, seperti “Simpan”
dan “Hapus”, buatlah agar
keduanya terlihat sangat berbeda.
Warna yang berbeda. Ukuran yang
berbeda. Posisi yang berjauhan.
Dengan begitu,
description-similarity slips bisa
dikurangi. Anda tidak akan salah
klik karena tombolnya tidak mirip.

Mistakes (Kekeliruan):
Ketika Rencana Sudah Salah

Berbeda dengan slips, mistakes
terjadi pada tingkat perencanaan.
Tindakan yang dilakukan sudah
sesuai dengan rencana,
tapi rencananya sendiri yang salah.
Ini terjadi karena orang memiliki
model mental yang salah tentang
bagaimana sesuatu bekerja.

Contoh sederhana adalah saat Anda
mencoba membuka pintu darurat.
Anda melihat pegangan. Pegangan
selalu berarti tarik, bukan?
Jadi, Anda menariknya sekuat
tenaga. Tapi pintunya tidak
bergerak. Anda menarik lagi. Tetap
tidak bergerak. Akhirnya, Anda
menyadari bahwa pintu itu harus
didorong.

Apa yang terjadi di sini?
Ini bukan slip. Anda tidak salah
melakukan tindakan.
Anda memang berniat menarik,
dan Anda melakukannya dengan
benar. Masalahnya adalah rencana
Anda (menarik) sudah salah sejak
awal. Anda memiliki model mental
bahwa “pegangan berarti tarik”,
dan dalam kasus ini, model itu
tidak berlaku. Ini adalah mistake.

Contoh lain adalah saat Anda
mencoba mengisi bensin di mobil
sewaan. Anda membuka tutup tangki
bensin. Anda memasukkan nozzle.
Tapi Anda tidak bisa memompakan
bensin. Anda mencoba lagi. Tetap
tidak bisa. Lalu Anda menyadari
bahwa mobil ini menggunakan
bahan bakar diesel, dan nozzle diesel
tidak cocok dengan lubang tangki
bensin. Rencana Anda
(mengisi bensin) sudah salah sejak
awal. Anda seharusnya mengisi
diesel.

Contoh ketiga adalah saat dokter
membuat diagnosis yang salah.
Dokter memeriksa pasien. Pasien
demam, batuk, dan lemas. Dokter
menyimpulkan bahwa ini adalah
flu biasa. Padahal, sebenarnya ini
adalah gejala awal dari penyakit
yang lebih serius. Dokter memberikan
obat flu. Pengobatan ini tidak akan
menyembuhkan penyakit yang
sebenarnya.
Rencana pengobatannya sudah salah
sejak awal karena informasinya tidak
lengkap. Ini adalah mistake.

Bagaimana Mencegah Mistakes?

Mistakes terjadi karena model
mental yang salah. Solusinya adalah
membantu orang membentuk model
mental yang benar.
Bagaimana caranya?

Sediakan model konseptual
yang baik.

Orang perlu memahami bagaimana
sistem bekerja. Bukan hanya tahu
tombol mana yang harus ditekan,
tapi mengapa tombol itu harus
ditekan. Contohnya adalah mesin
fotokopi modern yang memiliki layar
yang menunjukkan persis bagaimana
kertas akan bergerak di dalam mesin.
Jika terjadi kemacetan kertas, layar
itu menunjukkan di mana letak
kemacetannya. Ini membantu
pengguna membangun model
mental yang benar.

Berikan feedback yang jelas.
Setiap kali pengguna melakukan
sesuatu, sistem harus memberi tahu
apa yang baru saja terjadi.
Jika pengguna menekan tombol
yang salah, feedback harus
menunjukkan bahwa itu salah, dan
mengapa. Jangan hanya
menampilkan pesan “Error”.
Tampilkan pesan yang informatif
seperti, “File tidak dapat dibuka
karena formatnya tidak didukung.”

Buat fungsi terlihat.
Jangan sembunyikan
perintah-perintah penting di dalam
menu yang tersembunyi. Jika ada
tombol yang sering digunakan,
letakkan di tempat yang mudah
terlihat. Jika ada mode yang berbeda,
tunjukkan mode apa yang sedang
aktif. Contohnya adalah kamera
digital yang menampilkan ikon mode
(foto, video, potret malam)
di layarnya. Dengan begitu, pengguna
selalu tahu mode apa yang sedang
digunakan, dan tidak akan membuat
mistake dengan menggunakan mode
yang salah.

Deteksi Kesalahan dan
Konfirmasi

Bagian terakhir dari bab ini
membahas bagaimana sistem bisa
membantu pengguna mendeteksi
kesalahan mereka sendiri sebelum
terlambat. Salah satu alatnya
adalah 
konfirmasi.

Contoh paling umum adalah dialog
“Apakah Anda yakin ingin
menghapus file ini?”
Dialog ini muncul setelah Anda
menekan tombol Hapus.
Ia menghentikan Anda sejenak dan
memaksa Anda untuk berpikir ulang.
Apakah Anda benar-benar ingin
menghapus? Atau ini adalah slip?

Tapi Norman memperingatkan agar
konfirmasi tidak digunakan secara
berlebihan. Jika setiap tindakan
kecil meminta konfirmasi, pengguna
akan terbiasa. Mereka akan secara
otomatis mengklik “OK” atau “Ya”
tanpa membaca pesannya.
Konfirmasi menjadi tidak berguna.

Bayangkan jika setiap kali Anda
menyalakan lampu, ada suara yang
bertanya, “Apakah Anda yakin ingin
menyalakan lampu ini?” Anda akan
terganggu. Anda akan belajar untuk
mengabaikannya. Dan suatu hari,
ketika Anda menyalakan lampu
di ruangan yang penuh dengan bahan
mudah terbakar, konfirmasi itu
muncul lagi, dan Anda
mengabaikannya seperti biasa.
Konfirmasi yang berlebihan justru
menghilangkan fungsi
perlindungannya.

Konfirmasi sebaiknya hanya
digunakan untuk tindakan yang
jarang dilakukan, tidak bisa
dibatalkan, atau memiliki konsekuensi
besar. Menghapus file penting.
Mengirim uang dalam jumlah besar.
Menghapus seluruh isi hard disk.
Untuk tindakan-tindakan ini,
konfirmasi sangat diperlukan.
Untuk tindakan sehari-hari seperti
menyimpan file atau menutup
jendela, konfirmasi tidak diperlukan.

Inti dari bab ini adalah bahwa
kesalahan bukanlah tanda
kebodohan pengguna. Kesalahan
adalah tanda bahwa desain perlu
diperbaiki. Slips terjadi ketika
desain tidak melindungi kita dari
tindakan otomatis yang salah.
Mistakes terjadi ketika desain tidak
memberi kita informasi yang cukup
untuk membuat rencana yang benar.
Desainer yang baik tidak
menyalahkan pengguna. Mereka
menyalahkan desain mereka sendiri,
dan terus memperbaikinya sampai
kesalahan tidak lagi terjadi.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, guys, kita lanjut lagi bedah buku
The Design of Everyday Things.
Di Bab 5 ini, kita bakal ngomongin
sesuatu yang sering banget bikin kita
ngerasa bego: kesalahan.
Tapi, seperti biasa, Don Norman
datang buat ngebela kita. Dia bilang,
“Bukan lo yang salah, bro.
Desainnya yang jebakan.”

Sering banget, pas kita salah pencet
tombol atau gagal pake alat, kita
langsung refleks nyalahin diri
sendiri.
“Duh, gue bego banget sih.”
atau “Ah, gue ceroboh, nggak
baca petunjuk.”
Nah, Norman membalik logika ini
total. Dia bilang, kalau banyak
orang ngelakuin kesalahan yang
sama di benda yang sama, maka yang
salah itu desainnya, bukan
manusianya. Titik. Ini adalah
perubahan cara pandang yang
radikal. Bayangin, sebuah pintu yang
ditabrak orang tiap hari. Semua yang
nabrak dibilang goblok?
Nggak mungkin. Masalahnya ada
di pintu itu yang nggak ngasih tahu
cara bukanya. Jadi, mulai sekarang,
kalau lo gagal, curigain dulu
desainnya.

Nah, Norman kemudian mecah
“kesalahan manusia” ini jadi dua tipe
utama. Dua-duanya beda banget dan
butuh solusi yang beda. Penting
banget buat lo ngerti bedanya.

Tipe pertama: Slips (Kelepasan).
 Ini adalah kesalahan dalam eksekusi.
Rencana lo udah oke, tujuan lo udah
bener. Tapi pas ngejalaninnya,
tangan atau otak lo “nge-slip”.
Ini terjadi pas lo ngelakuin sesuatu
secara otomatis, tanpa mikir penuh.
Lo lagi di dapur, ngambil cangkir,
nuang kopi. Terus lo ambil wadah
gula, buka tutupnya… eh, bukannya
ngambil sendok gula, lo malah
nuang kopi lo ke wadah gula.
Nah, itu Slip. Niat lo udah bener
(pengen manis), tapi tangan lo
ngelakuin tindakan yang salah.
Norman ngebagi Slips jadi beberapa
subjenis yang bikin lo ngakak sendiri.

  • Capture slips:
    Kebiasaan lama lo “nangkap” dan
    ngalihin tindakan lo. Contoh
    paling nyebelin, lo lagi libur,
    niatnya mau ke toko buku,
    eh tanpa sadar lo udah nyampe
    di parkiran kantor. Rute ke kantor
    udah jadi autopilot di otak lo,
    jadi dia nyetir sendiri. Atau pas
    lagi ngetik, niatnya ngetik
    “mobil”, tapi jari lo refleks ngetik
    “motor” karena itu kata yang
    lebih sering lo ketik. Kebiasaan
    lama menangkap dan
    mengambil alih.

  • Description-similarity slips:
     Ini kejadian pas dua benda
    keliatan mirip, dan lo ngambil
    atau mencet yang salah.
    Contoh seremnya, lo punya dua
    botol di meja, satu air minum,
    satu cairan pembersih. Bentuk
    botolnya sama, warnanya mirip.
    Lo haus, niat minum, eh tangan
    lo malah ngambil botol
    pembersih. Untung sadar
    sebelum diteguk.
    Atau, di layar komputer ada dua
    tombol “Simpan” dan “Hapus”
    yang warna dan bentuknya plek
    ketiplek. Lo niat nyimpan,
    eh jari lo malah ngeklik “Hapus”.
    Tombol yang mirip bikin lo
    salah pilih. Nggak ada yang
    beda buat ngingetin lo.

  • Memory-lapse slips:
     Ini klasik banget, lo lupa
    ngelakuin sesuatu di tengah
    jalan. Lo ke dapur buat ambil
    minum. Di tengah jalan, lo liat
    HP lo berdering. Lo jawab.
    Begitu selesai nelpon, lo balik
    lagi ke meja kerja. Dua jam
    kemudian, lo baru sadar
    kehausan lagi, dan ngeh kalau
    lo tadi ke dapur belum jadi
    ngambil minum. Ingatan lo
    ke-interupsi dan terputus.

  • Mode-error slips:
    Ini yang paling bahaya.
    Terjadi pas sebuah benda
    punya beberapa mode, dan
    lo ngelakuin tindakan yang
    bener, tapi di mode yang salah.
    Contoh paling ngeri itu
    di kokpit pesawat. Pilot
    mungkin ngelakuin prosedur
    yang benar buat lepas landas,
    tapi pesawatnya ternyata lagi
    dalam mode pendaratan.
    Tindakannya bener, tapi
    konteks modenya salah.
    Fatal akibatnya.

Nah, gimana cara ngatasin Slips
yang suka kelewat gitu aja?
Lo nggak bisa cuma disuruh
“lebih hati-hati”, karena justru Slips
terjadi pas kita nggak sadar.
Solusinya ada di desain.

  • Tambahkan forcing
    function
    .

    Ini udah kita bahas.
    Mekanisme yang maksa lo
    ngelakuin tindakan yang
    benar lebih dulu. Dialog
    “Yakin nih mau hapus?”
    sebelum file ilang itu forcing
    function yang menghentikan
    Slip lo.
    Tuas persneling mobil matik
    yang nggak bisa dipindah
    tanpa nginjek rem juga forcing
    function, mencegah lo jalan
    tanpa sadar.

  • Tambahkan constraints.
    Bikin supaya tindakan yang
    salah itu secara fisik mustahil.
    Contohnya colokan listrik yang
    cuma bisa masuk satu arah.

  • Bedain tampilan.
    Ini solusi paling simpel buat
    description-similarity slips.
    Kalau tombol “Simpan” dan
    “Hapus” fungsinya berlawanan,
    bikin aja mereka beda banget.
    Warna beda, ukuran beda,
    posisinya dijauhin. Jadi,
    lo nggak akan salah klik cuma
    karena dua tombol itu mirip.

Tipe kedua: Mistakes
(Kekeliruan).

Ini lebih parah dari Slips. Kalau
Slips itu salah eksekusi, Mistakes itu
salah rencana dari sononya.
Tindakan lo udah sesuai rencana,
tapi rencananya itu sendiri yang
ngaco. Ini terjadi karena lo punya
model mental yang salah tentang
gimana sesuatu bekerja.

Contohnya, pas lo lihat pintu darurat
dengan pegangan. Model mental
lo bilang, “Pegangan = Tarik.” Jadi lo
tarik sekuat tenaga. Nggak gerak.
Lo tarik lagi. Tetep aja. Akhirnya
lo sadar, ternyata pintunya harus
didorong. Rencana lo dari awal (narik)
udah salah. Lo nggak salah narik, tapi
lo salah bikin rencana. Contoh lain,
pas lo isi bensin mobil sewaan.
Lo buka tutupnya, masukin nozzle,
tapi nggak bisa mompa. Lo bingung,
ternyata mobilnya diesel, dan lo salah
masukin nozzle bensin. Rencana
lo (ngisi bensin) udah salah.
Lo harusnya ngisi diesel. Atau contoh
mistake yang lebih serius, dokter
mendiagnosis pasien flu biasa. Pasien
demam, batuk, lemas. Ternyata itu
gejala awal penyakit yang lebih gawat.
Dokter ngasih obat flu, yang tentu aja
nggak nyembuhin. Rencana
pengobatannya udah salah dari awal
karena informasinya nggak lengkap.
Itu mistake.

Jadi, Mistakes terjadi karena model
mental yang salah. Solusinya bukan
ngunci pintu atau ngasih forcing
function, tapi bantu orang buat
benerin model mentalnya.

  • Sediain model konseptual
    yang jelas.

    Orang harus paham 
    kenapa
     sistem bekerja seperti itu, bukan
    cuma 
    tombol mana yang harus
    ditekan. Contohnya mesin
    fotokopi modern yang
    di layarnya nunjukin animasi
    persis gimana kertas lewat
    di dalem mesin. Kalau ada
    kertas macet, dia nunjukin
    di mana letaknya. Ini ngebantu
    lo bangun model mental yang
    bener.

  • Kasih feedback yang jelas.
    Setiap lo ngapa-ngapain, sistem
    harus ngasih tahu hasilnya.
    Kalau lo salah pencet, jangan
    cuma muncul tulisan “Error”.
    Kasih tahu, “File gagal dibuka,
    formatnya nggak support.”
    Jadi lo ngerti
    kenapa salah,
    dan nggak ngulangi mistake
    yang sama.

  • Bikin semua fungsi
    kelihatan.

    Jangan ngumpetin perintah
    penting di dalem menu yang
    ribet. Tombol yang sering
    dipake, taro di tempat yang
    gampang diliat. Kalau ada
    mode berbeda, tunjukkin mode
    apa yang lagi aktif.
    Kayak kamera yang nampilin
    ikon (foto, video, malam)
    di layarnya. Jadi lo nggak bakal
    bikin mistake motret pakai
    mode video.

Di bagian akhir bab ini, Norman
ngingetin kita soal satu alat bantu
yang udah jadi makanan sehari-hari:
Deteksi Kesalahan dan
Konfirmasi.
 Contoh paling umum,
dialog “Apakah Anda yakin ingin
menghapus file ini?” yang muncul
setelah lo pencet tombol Hapus.
Dia maksa lo buat berhenti sejenak,
mikir ulang. Apakah ini slip?
Atau emang niat lo?

Tapi, Norman wanti-wanti.
Konfirmasi jangan dipake
kebanyakan. Kalau tiap tindakan
kecil lo dikonfirmasi, lo bakal
kebal. Lo bakal otomatis klik
“OK” tanpa baca pesannya.
Konfirmasi jadi nggak ada artinya.
Bayangin tiap lo nyalain lampu,
ada suara,
“Anda yakin ingin menyalakan
lampu?”
Ganggu banget, kan? Lo bakal
belajar buat ngabaikan. Dan suatu
hari, pas lo nyalain lampu
di ruangan penuh bahan gampang
kebakar, konfirmasi itu muncul lagi,
dan lo cuekin kayak biasa. Nah,
di situlah bahayanya. Konfirmasi itu
cuma berguna buat tindakan yang
jarang dilakuin, nggak bisa
dibalikin, atau konsekuensinya gede.
Kayak, hapus file penting, transfer
duit gede, atau format hard disk.
Buat itu, konfirmasi ya perlu
banget. Buat simpan file atau
nutup jendela, ya nggak perlu.

Jadi intinya, setiap kali lo bikin
kesalahan, jangan langsung nyalahin
diri lo sendiri. Itu adalah tanda kalau
desainnya yang perlu diperbaiki.
Desainer yang baik itu nggak nyalahin
penggunanya, mereka nyalahin
desainnya sendiri, dan terus ngoprek
sampe nggak ada lagi yang bisa bikin
kesalahan. 
Nah, setelah ini, kita bakal
masuk ke Bab 6 yang seru, yaitu
gimana proses desain itu sendiri,
dan kenapa desainer seringkali justru
jadi biang keladi dari masalahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *