buku

Bab 21 Playing Games: The Language of Sport

Bill Bryson membuka bab ini dengan
pengamatan bahwa olahraga
di Amerika bukan sekadar hiburan.
Ia adalah agama sipil. Stadion adalah
katedralnya. Atlet adalah santo dan
nabinya. Dan dari arena-arena inilah
lahir kosakata yang merembes jauh
melampaui lapangan, masuk ke ruang
rapat perusahaan, pidato politik, dan
percakapan sehari-hari.

Baseball adalah olahraga tertua dan
paling kaya secara linguistik. Dari
baseball, orang Amerika meminjam
metafora yang tak terhitung
jumlahnya. 
Home run adalah
pukulan yang menghasilkan poin
maksimal. Dalam bisnis, “hitting a
home run” berarti mencapai
kesuksesan besar. 
Strike out adalah
gagal memukul bola tiga kali. Dalam
kehidupan sehari-hari, “striking out”
berarti gagal total, terutama dalam
urusan percintaan. 
Ballpark figure
adalah perkiraan kasar, berasal dari
area stadion baseball. 
Out of left
field
 berarti sesuatu yang tiba-tiba
dan tidak terduga. 
Step up to the
plate
 berarti mengambil tanggung
jawab. 
Touch base berarti
berkomunikasi singkat dengan
seseorang. 
Curveball adalah
lemparan yang sulit dipukul, menjadi
metafora untuk kejutan yang tidak
menyenangkan. 
Three strikes and
you’re out
 adalah hukum pidana
yang terinspirasi langsung dari aturan
baseball.

Football Amerika juga memberikan
sumbangan besar. 
Touchdown
 adalah cara mencetak poin utama.
Dalam bisnis, “scoring a touchdown”
berarti mencapai target besar.
Hail Mary adalah lemparan putus
asa di akhir pertandingan, menjadi
metafora untuk upaya terakhir
dengan peluang kecil. 
Monday
morning quarterback
 adalah
orang yang mengkritik setelah
kejadian, ketika sudah terlambat.
Game plan adalah strategi.
Punt adalah menendang bola
ke lawan, dalam bisnis berarti
menyerah atau menunda keputusan.
End run adalah manuver untuk
menghindari rintangan, dalam
politik berarti menghindari
prosedur normal.

Basketball melahirkan istilah yang
sekarang mendunia. 
Slam dunk
adalah memasukkan bola dengan
kekuatan penuh. Dalam percakapan,
“slam dunk” berarti sesuatu yang
pasti berhasil. 
Full-court press
adalah strategi bertahan di seluruh
lapangan, menjadi metafora untuk
tekanan maksimal. 
Fast break
 adalah serangan cepat. Alley-oop
 adalah operan tinggi yang diakhiri
dengan dunk. 
Nothing but net
berarti tembakan yang sangat bersih.

Tinju memberikan idiom yang sangat
ekspresif. 
Throw in the towel adalah
tanda menyerah. 
Saved by the bell
berarti diselamatkan pada detik
terakhir. 
Down for the count berarti
kalah total. 
Punch-drunk berarti
bingung karena terlalu banyak pukulan.
On the ropes berarti dalam posisi
terdesak. 
Below the belt berarti
pukulan curang, menjadi metafora
untuk tindakan yang tidak adil.
Heavyweight berarti orang penting.
Lightweight berarti orang yang
tidak berpengaruh.

Bryson mencatat bahwa metafora
olahraga sangat dominan dalam bahasa
bisnis dan politik Amerika. Para CEO
berbicara tentang “game plan” dan
“level playing field”. Politisi berbicara
tentang “moving the goalposts” dan
“taking the gloves off”. Bahasa
olahraga adalah bahasa kompetisi,
dan Amerika adalah bangsa yang
sangat kompetitif. Maka wajar jika
metafora dari lapangan menjadi cara
utama untuk memahami dunia
di luar lapangan.

Bab 22: The Melting Pot,
Continued: The Language
of Minorities

Bryson kembali ke tema melting pot
yang sudah ia bahas di bab-bab awal.
Kali ini ia fokus pada kontribusi
bahasa dari kelompok-kelompok
minoritas yang terus memperkaya
bahasa Inggris Amerika hingga
hari ini.

Bahasa Afrika-Amerika adalah
sumbangan yang paling besar dan
paling berpengaruh. Bryson
mencatat bahwa apa yang sekarang
disebut African American Vernacular
English, atau dulu disebut Ebonics,
adalah dialek yang sepenuhnya sah
dengan aturan tata bahasa sendiri.
Dari komunitas inilah lahir kata-kata
yang sudah menjadi bagian dari
kosakata global. 
Jazz awalnya adalah
slang untuk aktivitas seksual. 
Hip
dan 
cool lahir dari jazz. Funky
awalnya berarti bau badan, tapi
dalam musik menjadi pujian untuk
sesuatu yang otentik. 
Bad dalam
slang kulit hitam bisa berarti sangat
baik. 
Gig untuk pekerjaan. Rap
 untuk berbicara. Hip-hop
melahirkan seluruh kosakata baru:
blingdopephatwordyo.

Bahasa Yiddish, yang dibawa oleh
imigran Yahudi dari Eropa Timur,
memberikan warna humor dan
bisnis pada bahasa Amerika.
Kata-kata seperti 
chutzpah
(keberanian yang kurang ajar),
klutz (orang yang canggung),
kvetch (mengeluh), nosh (camilan),
schlep (menyeret), schmooze
 (mengobrol untuk membangun
koneksi), 
shtick (gaya khas),
tchotchke (pernak-pernik). Bryson
mencatat bahwa banyak dari
kata-kata ini masuk ke bahasa arus
utama melalui para komedian,
penulis, dan pengusaha Yahudi
yang sukses di industri hiburan
dan bisnis.

Bahasa Spanyol terus memberikan
sumbangan, terutama di wilayah
Barat Daya dan kota-kota besar.
Amigoadiosfiesta,
siestamachoprontonada,
locobonanzacafeteriaplaza,
patio. Makanan Meksiko melahirkan
tacoburrito,
enchiladaquesadillaguacamole,
jalapenonachostequila,
margarita.

Penduduk asli Amerika terus
memberikan nama-nama tempat dan
kata-kata untuk benda-benda alam.
Mississippi, Chicago, Seattle,
Manhattan, Oklahoma, Dakota, Iowa,
Alabama. Kata-kata seperti 
kayak,
iglootoboggantotemwigwam.

Bryson menutup bab ini dengan
pengamatan bahwa bahasa Inggris
Amerika adalah bahasa yang tidak
pernah malu untuk mencuri.
Ia mengambil apa yang ia butuhkan
dari siapa pun yang datang. Seorang
imigran Italia menjual pizza dari
gerobak. Dalam satu generasi, kata
“pizza” menjadi lebih Amerika
daripada Italia. Seorang musisi kulit
hitam menciptakan kata “cool” untuk
menggambarkan sikapnya. Dalam
satu dekade, seluruh dunia
menggunakan kata itu. Inilah
kekuatan melting pot. Ia tidak hanya
mencampur orang. Ia mencampur
kata-kata, dan dari campuran itu lahir
sesuatu yang baru, sesuatu yang hidup,
sesuatu yang terus berubah.

Bab 23: Y’all Speak American?
Regional Accents and Dialects

Bab ini membahas keragaman aksen
dan dialek di Amerika Serikat.
Bryson membongkar mitos bahwa
ada satu “aksen Amerika” yang
seragam. Kenyataannya, Amerika
adalah negara dengan variasi
regional yang sangat kaya.

Aksen New England adalah salah
satu yang paling tua dan paling khas.
Orang Boston terkenal dengan
pengucapan “pahk the cah in
Hahvahd Yahd” (park the car in
Harvard Yard). Ciri khasnya adalah
menghilangkan huruf R setelah vokal,
yang disebut non-rhoticity. 
Aksen
New York
 juga non-rhotic, dengan
vokal yang khas. “Coffee” terdengar
seperti “cawfee”. “Talk” terdengar
seperti “tawk”.

Aksen Selatan adalah yang paling
mudah dikenali dan paling sering
distereotipkan. Kata 
y’all adalah
singkatan dari “you all”, digunakan
sebagai kata ganti orang kedua jamak.
Fixin’ to berarti bersiap-siap untuk
melakukan sesuatu. Southern drawl,
atau cara bicara yang lambat dan
memanjangkan vokal, adalah ciri khas
yang membedakan Selatan dari
wilayah lain.

Aksen Midwest sering dianggap
sebagai aksen “standar” atau “netral”.
Inilah yang sering disebut 
General
American
, aksen yang digunakan
oleh penyiar berita nasional. Tapi
Bryson membongkar mitos ini.
General American bukanlah aksen
yang benar-benar netral. Ia adalah
aksen dari wilayah tertentu (Midwest)
yang kebetulan diadopsi oleh media
nasional.

Valley talk atau Valleyspeak adalah
fenomena dari California Selatan pada
tahun 1980-an dan 1990-an. Kata 
like
 sebagai jeda, totallywhateveras
if
gag me with a spoon. Bryson
mencatat bahwa meskipun
Valleyspeak sering diejek, banyak
elemennya yang kemudian menyebar
ke seluruh negeri melalui film dan
televisi.

Bryson menjelaskan bahwa
perbedaan aksen disebabkan oleh
sejarah pemukiman. Aksen New
England berasal dari pemukim dari
Inggris Timur. Aksen Selatan berasal
dari pemukim dari Inggris Barat dan
budak Afrika. Aksen New York
dipengaruhi oleh imigran Italia,
Yahudi, dan Irlandia. Aksen Midwest
dipengaruhi oleh imigran Skandinavia
dan Jerman.

Bryson mencatat bahwa meskipun
televisi dan media massa seharusnya
menyeragamkan aksen, yang terjadi
justru sebaliknya. Aksen regional tetap
bertahan, bahkan menguat di beberapa
tempat. Orang tetap bangga dengan
cara bicara daerah mereka. Aksen
adalah penanda identitas. Ia memberi
tahu dunia dari mana kamu berasal
dan siapa kamu.

Bab 24: Conclusion: The Future
of American English

Bill Bryson menutup bukunya dengan
pandangan ke depan. Ia menolak
untuk meratapi “kemerosotan”
bahasa, seperti yang sering dilakukan
oleh para puris. Bahasa, katanya,
tidak merosot. Ia hanya berubah. Dan
perubahan itu sendiri adalah tanda
kehidupan.

Bryson memprediksi bahwa bahasa
Inggris Amerika akan terus berubah
dengan cepat, didorong oleh tiga
kekuatan utama. Yang pertama
adalah 
media global. Film, televisi,
musik, dan internet Amerika
menyebarkan kata-kata baru
ke seluruh dunia dalam hitungan jam.
Kata yang lahir di TikTok pagi ini bisa
digunakan di Jakarta sore ini. Yang
kedua adalah 
teknologi.
Setiap penemuan baru melahirkan
kosakata baru. Kecerdasan buatan,
realitas virtual, bioteknologi,
semuanya akan terus memproduksi
kata-kata yang belum pernah kita
dengar sebelumnya. Yang ketiga
adalah 
imigrasi. Selama orang-orang
terus datang ke Amerika, mereka akan
terus membawa kata-kata dari bahasa
mereka, dan kata-kata itu akan terus
memperkaya bahasa Inggris Amerika.

Yang paling penting, Bryson
menekankan bahwa tidak ada
“otoritas” tunggal yang mengatur
bahasa Inggris Amerika. Tidak ada
Académie Française yang menentukan
kata mana yang resmi dan mana yang
tidak. Bahasa Inggris Amerika lahir
dari kreativitas kolektif jutaan
penuturnya, masing-masing
menyumbang sedikit, masing-masing
mengubah sedikit. Bahasa ini tidak
dimiliki oleh siapa pun, dan justru
karena itu ia dimiliki oleh semua orang.

Bryson mengakhiri bukunya dengan
pengamatan bahwa bahasa Inggris
Amerika adalah cermin dari bangsa
yang menciptakannya. Ia adalah
bahasa yang tidak sabaran, selalu
mencari cara yang lebih pendek dan
lebih cepat. Ia adalah bahasa yang
praktis, menciptakan kata-kata baru
begitu ada kebutuhan. Ia adalah
bahasa yang optimis, penuh dengan
kata-kata yang menjanjikan bahwa
yang terbaik masih akan datang.
Ia adalah bahasa yang demokratis,
milik semua orang tanpa memandang
pendidikan atau asal-usul.

Seperti bangsa Amerika itu sendiri,
bahasa Inggris Amerika adalah proyek
yang belum selesai. Ia terus bergerak,
terus berubah, terus menciptakan
dirinya sendiri setiap hari. Tidak ada
yang tahu persis seperti apa bentuknya
seratus tahun dari sekarang. Tapi satu
hal yang pasti: ia akan tetap hidup,
tetap kreatif, dan tetap menjadi salah
satu kekuatan paling dinamis
di planet ini.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Bab 21

Playing Games: The Language
of Sport

Kalau sebelumnya iklan, film, dan
internet menjadi “pabrik kata”,
kali ini Bryson mengajak kita
ke tempat yang mungkin paling
berisik di Amerika:

stadion olahraga.

Bayangin olahraga seperti
tambang emas bahasa.

Orang awalnya cuma datang
untuk nonton pertandingan.

Tapi tanpa sadar mereka juga
pulang membawa puluhan
ungkapan baru.

Baseball adalah contoh terbaiknya.

Misalnya home run.

Di lapangan artinya pukulan
sempurna yang menghasilkan
nilai besar.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari,
artinya berubah menjadi:

“Lo sukses besar.”

Ibarat ujian.

Kalau nilai lo 100 dan langsung
ranking satu, itu home run.

Lalu ada strike out.

Di baseball artinya gagal
memukul bola.

Di kehidupan nyata?

Bisa berarti gagal total.

Nembak gebetan ditolak.

Wawancara kerja gagal.

Proyek berantakan.

Pokoknya strike out.

Yang menarik, banyak orang Amerika
memakai istilah baseball bahkan saat
tidak sedang bicara soal olahraga.

Sama seperti kita yang sering bilang:

“Dia lagi di titik terendah.”

Padahal nggak ada orang yang
benar-benar berdiri di titik tertentu.

Itu cuma metafora.

Nah, bagi orang Amerika, baseball
adalah sumber metafora terbesar
mereka.

Football Amerika juga begitu.

Misalnya Hail Mary.

Awalnya lemparan putus asa di detik
terakhir pertandingan.

Sekarang dipakai untuk segala usaha
yang peluang suksesnya tipis banget.

Bayangin lo belajar satu malam
sebelum ujian semester.

Lalu berharap nilai bagus.

Itu namanya Hail Mary.

Tinju juga menyumbang banyak
ungkapan.

Throw in the towel misalnya.

Di ring tinju, pelatih melempar
handuk sebagai tanda menyerah.

Dalam hidup?

Artinya menyerah.

Udah nggak sanggup lanjut.

Udah habis tenaga.

Udah pasrah.

Bryson melihat semua ini sebagai
cerminan karakter Amerika.

Karena olahraga bagi mereka bukan
sekadar permainan.

Ia adalah cara melihat dunia.

Hidup dianggap seperti pertandingan.

Ada strategi.

Ada kompetisi.

Ada kemenangan.

Ada kekalahan.

Jadi nggak heran kalau bahasa
olahraga akhirnya masuk
ke mana-mana.

Bab 22

The Melting Pot, Continued:
The Language of Minorities

Kalau Amerika adalah sup raksasa,
maka kelompok-kelompok minoritas
adalah bumbu yang membuat
rasanya hidup.

Tanpa mereka, bahasanya
mungkin tetap ada.

Tapi rasanya hambar.

Bryson menunjukkan bahwa banyak
kata yang sekarang dianggap
“bahasa Inggris biasa” sebenarnya
berasal dari komunitas yang dulu
berada di pinggiran.

Contoh paling besar datang dari
komunitas Afrika-Amerika.

Bayangin musik jazz, blues, rap,
dan hip-hop seperti sungai besar.

Bukan cuma musik yang
mengalir dari sana.

Tapi juga kata-kata.

Cool.

Hip.

Rap.

Gig.

Dope.

Dan masih banyak lagi.

Awalnya cuma dipakai
di komunitas tertentu.

Lalu masuk musik.

Lalu masuk radio.

Lalu masuk televisi.

Akhirnya dipakai seluruh dunia.

Prosesnya mirip tren TikTok.

Awalnya cuma viral di satu
kelompok kecil.

Lalu tiba-tiba semua orang
menggunakannya.

Komunitas Yahudi juga punya
pengaruh besar.

Kata-kata seperti chutzpah,
schmooze, atau kvetch masuk
ke bahasa Amerika karena banyak
komedian, penulis, dan pebisnis
Yahudi yang aktif di media.

Bayangin satu teman tongkrongan
yang sering mengeluarkan istilah lucu.

Awalnya cuma dia yang pakai.

Lama-lama satu tongkrongan ikut pakai.

Begitulah banyak kata menyebar.

Bahasa Spanyol juga terus memberi
“suntikan kata” baru.

Terutama karena jumlah penutur
Spanyol di Amerika sangat besar.

Makanan menjadi jalur masuk
yang paling mudah.

Orang mungkin tidak belajar bahasa
Spanyol.

Tapi mereka tetap mengatakan:

Taco.

Burrito.

Nachos.

Tequila.

Karena makanannya sudah menjadi
bagian hidup mereka.

Kesimpulan Bryson sederhana:

Bahasa Amerika tidak tumbuh sendirian.

Ia seperti pasar ramai.

Setiap orang datang membawa
dagangannya sendiri.

Lalu kata-kata terbaik bertahan
dan dipakai bersama.

Bab 23

Y’all Speak American? Regional
Accents and Dialects

Banyak orang luar mengira semua
orang Amerika berbicara dengan
aksen yang sama.

Bryson bilang:

nggak juga.

Itu seperti mengira semua orang
Indonesia berbicara dengan logat
yang sama.

Padahal logat Jakarta, Surabaya,
Medan, Makassar, dan Jogja
jelas berbeda.

Amerika juga begitu.

Orang Boston punya logat sendiri.

Orang Texas punya logat sendiri.

Orang New York punya logat sendiri.

Kadang perbedaannya cukup besar
sampai langsung ketahuan asal
daerahnya.

Contohnya kata y’all.

Artinya sederhana:

“kalian.”

Tapi kata itu sangat identik
dengan Amerika Selatan.

Begitu seseorang mengucapkannya,
banyak orang langsung menebak
daerah asalnya.

Logat pada dasarnya seperti sidik
jari suara.

Tanpa melihat wajah pun, orang
bisa menebak identitasmu.

Yang menarik, televisi sebenarnya
sempat diperkirakan akan membuat
semua orang berbicara sama.

Logikanya sederhana.

Kalau semua orang menonton acara
yang sama, mereka akan meniru
cara bicara yang sama.

Tapi kenyataannya tidak begitu.

Logat daerah tetap bertahan.

Kenapa?

Karena logat bukan cuma soal suara.

Logat adalah identitas.

Mirip jersey klub sepak bola.

Orang bangga memakainya karena
menunjukkan mereka berasal dari
kelompok tertentu.

Bryson melihat bahwa aksen adalah
cara manusia berkata:

“Ini gue.”

“Ini daerah gue.”

“Ini asal-usul gue.”

Dan selama rasa identitas itu
masih ada, aksen akan tetap hidup.

Bab 24

Conclusion: The Future of
American English

Di bagian penutup, Bryson seperti
duduk santai sambil melihat
perjalanan panjang yang baru
saja ia ceritakan.

Dari kapal Mayflower…

Ke koboi…

Ke Hollywood…

Ke internet…

Semuanya ternyata terhubung
oleh satu benang merah:

bahasa terus berubah.

Banyak orang suka mengeluh:

“Bahasa zaman sekarang rusak.”

“Anak muda nggak bisa berbahasa
dengan benar.”

“Bahasa dulu lebih baik.”

Bryson tidak setuju.

Menurutnya bahasa bukan bangunan
tua yang harus dijaga persis seperti
aslinya.

Bahasa lebih mirip taman.

Kalau masih tumbuh, berarti masih
hidup.

Kalau berhenti berubah, justru
berarti mati.

Ia memprediksi tiga hal yang akan
terus mengubah bahasa Amerika.

Pertama, media.

Satu kata baru bisa menyebar
ke seluruh dunia hanya dalam
hitungan jam.

Kedua, teknologi.

Setiap teknologi baru akan
menciptakan kosakata baru.

Dulu orang tidak mengenal kata
internet.

Sekarang semua orang memakainya.

Besok mungkin muncul kata-kata lain
yang sekarang bahkan belum kita
bayangkan.

Ketiga, imigrasi.

Selama orang dari berbagai negara
terus datang, mereka akan terus
membawa kata-kata baru.

Dan Amerika akan terus menyerapnya.

Yang paling disukai Bryson adalah
fakta bahwa tidak ada “bos besar
bahasa Inggris Amerika”.

Tidak ada satu lembaga yang bisa
berkata:

“Kata ini boleh.”

“Kata itu dilarang.”

Bahasa berkembang karena jutaan
orang memakainya setiap hari.

Mirip jalan setapak di lapangan
rumput.

Tidak ada yang merancangnya.

Orang-orang berjalan.

Lalu jalannya terbentuk sendiri.

Dan itulah kesimpulan besar buku
Made in America.

Amerika sebenarnya bukan cuma
cerita tentang perang, presiden,
atau gedung pencakar langit.

Amerika juga adalah cerita tentang
kata-kata.

Tentang jutaan orang dari berbagai
tempat yang datang membawa
bahasa mereka masing-masing.

Lalu mencampurnya seperti
memasak resep raksasa.

Sebagian kata hilang.

Sebagian bertahan.

Sebagian berubah bentuk.

Sebagian menjadi terkenal
di seluruh dunia.

Pada akhirnya, bahasa Inggris
Amerika bukanlah sesuatu
yang selesai dibuat.

Ia seperti proyek yang terus
dikerjakan setiap hari.

Setiap orang yang berbicara, menulis,
bercanda, membuat lagu, membuat
meme, mengunggah video, atau
menciptakan teknologi baru ikut
menambahkan satu batu bata kecil
ke bangunan itu.

Dan seratus tahun dari sekarang,
bangunannya pasti akan terlihat
berbeda lagi.

Karena bahasa, sama seperti
manusia, tidak pernah benar-benar
berhenti berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *