Melompati Lingkaran Seperti Anjing Sirkus: Berhenti Menyenangkan Orang Lain Secara Berlebihan
Pernahkah Anda merasa bahwa Anda
sudah melakukan terlalu banyak
hal hanya untuk menyenangkan hati
seseorang? Rasanya seperti Anda
adalah seekor anjing pudel di sirkus
yang terus-menerus disuruh
melompati lingkaran demi lingkaran.
Anda lelah, tetapi Anda tetap
melakukannya karena takut
mengecewakan.
Itulah inti dari Chapter 5 dalam buku
Why Men Love Bitches karya Sherry
Argov. Bab ini adalah sebuah alarm
peringatan yang keras. Ini adalah
panggilan untuk berhenti
mengorbankan diri sendiri
secara berlebihan dalam sebuah
hubungan, dan mulai fokus untuk
menjaga martabat dan harga
diri Anda.
Bagian buku ini sangat menyentuh
karena menggambarkan kenyataan
yang sering dialami banyak
perempuan. Kita sering
membungkukkan badan terlalu
rendah, menyesuaikan ini dan itu,
hanya demi membuat hubungan
berjalan mulus. Seringkali, semua
pengorbanan itu kita lakukan dengan
mengorbankan kebahagiaan kita
sendiri.
Kenali Tanda-Tanda Anda
Sedang Menjadi “Anjing Sirkus”
Bagaimana cara mengetahui apakah
Anda sudah terlalu berlebihan dalam
berusaha menyenangkan pasangan?
Buku ini memberikan beberapa
gambaran yang mungkin terasa akrab
di kehidupan sehari-hari.
Anda mungkin menjadi
“anjing sirkus” jika:
Anda selalu yang
menyesuaikan jadwal.
Setiap kali ingin bertemu, Anda
yang harus mengatur ulang semua
rencana Anda. Rapat bisa ditunda,
janji dengan teman bisa dibatalkan,
semua demi menyesuaikan waktu
luang pasangan Anda.Anda selalu mengalah dalam
memilih. Mau makan di mana?
“Terserah kamu saja.”
Mau nonton film apa? ”
Apa pun yang kamu suka.”
Lama-kelamaan, Anda bahkan
lupa apa sebenarnya restoran
favorit Anda sendiri.Anda mulai mengompromikan
nilai-nilai pribadi.
Anda mungkin tidak setuju dengan
cara dia memperlakukan orang lain,
tetapi Anda memilih diam. Anda
mungkin merasa tidak nyaman
dengan kebiasaannya, tetapi Anda
berpura-pura tidak masalah.
Ini semua adalah tanda bahaya.
Hubungan yang sehat adalah jalan
dua arah, bukan jalan satu arah
di mana Anda terus berjalan
sementara pasangan Anda hanya
duduk diam menjadi penonton.
Jika Anda satu-satunya pihak yang
mengeluarkan semua usaha, itu
bukan hubungan yang adil.
Itu adalah pertunjukan satu
orang, dan Anda adalah pemain
sekaligus penonton yang terus
bertepuk tangan untuk diri sendiri.
Langkah Pertama: Mundur
dan Evaluasi
Apa saran buku ini?
Langkah pertamanya bukanlah
memutuskan hubungan secara drastis
atau marah-marah.
Langkah pertamanya adalah mundur
selangkah dan melakukan evaluasi
secara jujur.
Cobalah untuk melihat hubungan
Anda dari sudut pandang orang luar.
Ajukan pertanyaan-pertanyaan
sederhana ini pada diri sendiri:
Apakah pasangan saya juga
mengeluarkan usaha yang
setara?Apakah dia pernah membatalkan
rencananya demi menyesuaikan
dengan jadwal saya?Apakah dia peduli dengan
pendapat saya saat membuat
keputusan?Apakah dia berusaha memahami
dan menghormati hal-hal yang
penting bagi saya?
Jika jawaban untuk
pertanyaan-pertanyaan itu sebagian
besar adalah “Tidak”, maka Anda
perlu berhenti melompati
lingkaran-lingkaran itu.
Dengan berhenti melakukan usaha
yang berlebihan, Anda secara tidak
langsung sedang menetapkan
sebuah standar baru.
Anda sedang mengirimkan pesan
yang jelas: “Waktu saya berharga.
Emosi saya penting. Kebutuhan
saya juga harus diperhitungkan.”
Anda sedang mengajarkan pasangan
Anda bagaimana cara memperlakukan
Anda dengan benar.
Jangan Sampai Kehilangan
Diri Sendiri
Poin penting lainnya yang ditekankan
di bab ini adalah bahaya kehilangan
jati diri dalam proses menjalin
hubungan.
Sangat mudah untuk terjebak dalam
keinginan untuk menjadi “sempurna”
di mata pasangan. Kita mulai berpikir,
“Apa yang dia suka dari perempuan?
Saya harus seperti itu.” Atau,
“Apa yang harus saya lakukan agar
dia tidak bosan dengan saya?” Tanpa
sadar, kita mulai menyensor
bagian-bagian dari diri kita yang kita
anggap “tidak pantas” atau “kurang
menarik”. Kita mulai memakai topeng.
Padahal, kebahagiaan sejati dalam
hubungan tidak datang dari hasil
akting yang sempurna. Kebahagiaan
itu datang ketika Anda bisa menjadi
diri sendiri yang autentik dan
dicintai apa adanya. Dicintai
bukan karena Anda pandai
berpura-pura, tetapi karena pasangan
Anda benar-benar menyukai siapa
Anda yang sebenarnya, termasuk
segala keunikan dan kekurangan Anda.
Ketika Anda berhenti melompati
lingkaran dan mulai berdiri tegak
sebagai diri sendiri, Anda akan
melihat dengan jelas siapa yang
benar-benar pantas mendapatkan
energi dan cinta Anda.
Inti Bab Ini: Menghargai Diri
Sendiri Adalah Kunci
Hubungan Sehat
Ringkasnya, Chapter 5 adalah
pengingat yang sangat kuat
untuk menghargai diri sendiri.
Ini adalah peringatan untuk tidak
jatuh ke dalam perangkap
menyenangkan orang lain
secara berlebihan. Jebakan ini
sangat halus karena seringkali
dibungkus dengan label
“pengorbanan demi cinta”.
Dengan menyadari bahwa usaha dalam
hubungan harus seimbang, dan dengan
berani berhenti menjadi pemain sirkus
yang lelah, Anda membuka jalan
menuju hubungan yang lebih sehat
dan lebih seimbang. Hubungan
di mana Anda tidak hanya menjadi
orang yang memberi, tetapi juga orang
yang menerima. Hubungan di mana
Anda tidak hanya dicintai, tetapi juga
dihormati.
Ini bukan tentang menjadi egois. Ini
tentang bertahan hidup secara
emosional dan memastikan bahwa
dalam usaha Anda mencintai
orang lain, Anda tidak lupa untuk
mencintai diri sendiri terlebih
dahulu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Wah, ini dia nih bab yang bakal kerasa
kayak ditampar pake bantal empuk.
Sakit dikit, tapi nagih. Di Chapter 5 ini,
Sherry Argov ngomongin soal
fenomena yang pasti pernah lo alamin
atau lo liat di circle pertemanan lo:
Lompat-Lompat Kayak Anjing
Sirkus.
Pernah gak sih lo ngerasa capek
banget? Bukan capek fisik karena
olahraga, tapi capek mental karena
lo terus-terusan yang usaha?
Lo yang atur jadwal, lo yang ngalah,
lo yang selalu nyari cara biar dia
seneng. Sementara dia? Chill.
Duduk manis sambil liatin lo jungkir
balik.
Nah, bab ini adalah alarm keras buat
kita semua. Waktunya
TURUN DARI PANGGUNG
SIRKUS.
Kenali Gejalanya: Lo Itu Pacar
atau Badut Sirkus?
Coba deh lo jujur sama diri sendiri.
Ceklis dulu poin-poin di bawah ini.
Kalau banyak yang relate, berarti lo
udah masuk zona merah Circus
Poodle.
1. Lo Selalu Jadi
“Menteri Penyesuaian Jadwal”
Dia chat “Aku free nanti malem”, eh
lo langsung batalin yoga, batalin
dinner sama bestie, bahkan berani
nunda meeting cuma buat
accommodate dia.
Pertanyaannya: Kapan terakhir kali
DIA yang ngalah dan bilang,
“Gapapa, aku yang nyesuaiin jadwal
kamu kok.” Jarang kan?
2. Lo Jadi Master of “Terserah”
“Kamu mau makan apa?”
– “Terserah.”
“Nonton yang mana?”
– “Terserah kamu aja.”
Lama-lama lo lupa rasanya ngidam
makanan tertentu. Lidah lo udah
kebal sama rasa ‘mengalah’. Lo pikir
ini romantis, padahal ini bendera
putih tanda lo udah capek
berpendapat.
3. Lo Mulai Nelen Value
Lo Sendiri
Dia ngomong kasar ke pelayan
resto, lo kesel tapi diem.
Dia ngerokok padahal lo asma,
lo pura-pura batuk dikit.
Dia gak suka lo deket sama temen
cowok lo, trus lo unfollow semua
temen cowok lo di sosmed.
Stop. Itu bukan cinta, itu
amputasi jati diri.
Hubungan sehat itu kayak tim voli:
lempar-tangkap, bukan kayak
bulutangkis di mana lo yang lari-lari
sendiri kejar shuttlecock sementara
dia cuma berdiri sambil megang raket.
Langkah Cerdas: Mundur Dulu,
Jangan Ngegas
Terus gimana? Harus putusin aja?
Gak segitunya juga. Langkah
pertama itu EVALUASI. Mundur
selangkah, tarik napas, dan liat
si doi kayak lo lagi nilai presentasi
anak magang.
Tanya ke diri sendiri:
“Emangnya dia effort-nya
segede gue?”“Pernah gak sih dia cancel
nge-gym cuma gara-gara
gue pengen ketemuan?”“Dia peduli gak sih sama opini
gue, atau gue cuma dianggep
pemanis doang?”
Kalau jawabannya mayoritas
“Enggak”, ya udah. STOP LONCAT.
Lo berhenti ngelakuin effort 200%
bukan berarti lo jahat. Lo cuma lagi
narik rem tangan.
Dengan lo diem dan gak bergerak, itu
pesan kuat: “Gue capek jadi badut.
Lo mau main serius atau gue
tutup layar.”
Dengan berhenti melompat, lo ngajarin
dia cara memperlakukan lo dengan
layak. Ini training gratis buat dia.
Kalau dia nyadar dan ngejar, bagus.
Kalau dia malah ngilang, good
riddance!
Bahaya Fatalnya: Lo Bisa Lupa
Siapa Lo Sebenarnya
Ini bagian paling seremnya. Karena
terlalu fokus pengen disukain,
lo mulai pake topeng.
Lo mulai mikir:
“Apa ya yang dia suka?
Gue harus jadi kayak gitu.”
Lo yang tadinya suka musik dangdut
koplo tiba-tiba pura-pura doyan
jazz biar keliatan aesthetic. Lo yang
aslinya bawel jadi pura-pura kalem
bak putri keraton.
Capek gak sih akting 24/7?
Kebahagiaan dalam hubungan itu
bukan tentang seberapa bagus lo
akting. Tapi tentang seberapa
nyaman lo jadi diri sendiri.
Pasangan yang tepat tuh yang bikin
lo merasa nyaman ngompol dikit
ketawa ngakak sampe keluar suara
aneh. Bukan yang bikin lo harus
duduk sopan kayak lagi audisi Miss
Universe.
Ketika lo udah capek lompat-lompat
dan memutuskan untuk berdiri
tegak, di situlah lo bisa lihat dengan
jelas. Siapa yang beneran suka sama
LO yang asli, dan siapa yang cuma
suka sama AKTING LO.
Intinya: Jangan Sampai Cinta
Bikin Lo Lupa Pulang ke Diri
Sendiri
Jadi gini ringkasannya. Chapter 5 ini
ngingetin kita kalau pengorbanan
itu ada batasnya.
Gak apa-apa kok effort. Tapi kalau
cuma lo sendiri yang jungkir balik,
itu bukan hubungan. Itu sirkus
keliling.
Dengan lo sadar dan berani bilang,
“Eh, ini udah gak seimbang,”
lo sebenernya lagi nyelametin diri
lo sendiri. Lo lagi ngebangun fondasi
hubungan yang lebih sehat di mana lo
dihargai bukan cuma karena lo selalu
ngasih, tapi karena lo punya value.
Ini bukan egois. Ini self-love tingkat
dewa. Karena gimana lo bisa bahagia
ngebagi cinta, kalau lo sendiri udah
abis energinya buat melompati
lingkaran api?
Gimana? Ada bagian yang bikin lo
merinding dikit gak? Coba deh abis
baca ini, cek lagi chat history lo
sama doi. Siapa yang paling banyak
ngetik “iya”, “gapapa”, “terserah”?
