buku

rangkuman Buku The Deficit Myth Stephanie Kelton

1. Membuka Mitos: Apa yang
Sebenarnya Dimaksud dengan
“Defisit”?

Selama puluhan tahun, kita sering
mendengar politisi berkata,
“Pemerintah harus berhemat
seperti rumah tangga!”
atau “Kita
harus memangkas pengeluaran
agar tidak bangkrut!”

Stephanie Kelton dalam The Deficit
Myth
mengajak kita memikirkan
ulang kalimat ini. Ia mengatakan:
pemerintah bukan rumah
tangga.

Rumah tangga harus mendapatkan
uang sebelum membelanjakannya
dari gaji, tabungan, atau utang. Tapi
pemerintah dengan kedaulatan
moneter
(seperti Amerika Serikat)
punya kemampuan unik: mereka
menciptakan uangnya sendiri.
Mereka tidak perlu “mengumpulkan
dolar” sebelum membayar gaji
pegawai negeri, membangun
jembatan, atau mendanai riset
kesehatan.

Bayangkan seperti ini: sebuah
permainan monopoli di mana bank
tidak pernah kehabisan uang kertas.
Pemain bisa bangkrut, tapi bank
tidak pernah. Begitu pula dengan
pemerintah yang mengendalikan
mata uangnya sendiri ia tidak bisa
kehabisan dolar seperti rumah
tangga bisa kehabisan tabungan.

Namun, bukan berarti pemerintah
bisa seenaknya mencetak uang.
Risiko sebenarnya bukan “bangkrut”,
melainkan inflasi saat terlalu
banyak uang mengejar barang
yang terbatas.

2. Memikirkan Ulang Anggaran:
Fokus pada Inflasi, Bukan Defisit

Dalam ekonomi tradisional, defisit
dianggap buruk karena menunjukkan
pemerintah “mengeluarkan lebih
banyak dari yang masuk”. Tapi MMT
memutar pandangan itu: defisit
bukanlah tanda kelemahan, tapi
cermin dari surplus sektor swasta.

Ketika pemerintah berdefisit, berarti
mereka mengeluarkan lebih banyak
uang ke masyarakat daripada yang
mereka tarik lewat pajak. Uang itu
masuk ke tangan warga dan bisnis
memperluas aktivitas ekonomi.

Analoginya seperti ember air. Jika
pemerintah menahan air (uang),
ekonomi mengering. Tapi jika
pemerintah membuka keran dan
membiarkan air mengalir (melalui
belanja publik), sektor swasta bisa
tumbuh.
Yang penting bukan berapa banyak
air yang dikeluarkan, melainkan
apakah embernya mulai meluap
yaitu inflasi.

Jadi, selama ekonomi masih punya
kapasitas menganggur
(pengangguran tinggi, pabrik belum
beroperasi penuh), pemerintah
seharusnya menambah pengeluaran
untuk mengisi “kekosongan produktif”
itu. Begitu perekonomian mulai
panas dan harga naik, barulah
pengeluaran bisa dikurangi atau
pajak dinaikkan.

3. Utang Nasional: Angka yang
Menakutkan, tapi Salah
Dimengerti

Di New York, ada jam besar bernama
National Debt Clock yang terus
berputar, menampilkan jumlah utang
nasional AS. Angkanya terus
bertambah, seolah memberi kesan:
“Bahaya sedang datang!”

Kelton menjelaskan: angka itu
tidak menakutkan seperti
kelihatannya.

Utang nasional hanyalah jumlah
total uang yang dimiliki publik dalam
bentuk obligasi pemerintah. Dengan
kata lain, itu adalah tabungan
masyarakat
dalam bentuk surat
utang.

Setiap kali pemerintah menambah
defisit, masyarakat justru memiliki
lebih banyak aset keuangan.
Dan sejarah menunjukkan setiap kali
pemerintah mencoba
“menyeimbangkan” anggaran dan
menghapus defisit, ekonomi malah
jatuh ke resesi. Karena ketika
pemerintah berhenti mengalirkan
uang, sektor swasta kehilangan
sumber pertumbuhan.

Jadi, ketakutan terhadap utang
nasional sebenarnya adalah salah
satu “mitos” terbesar dalam
ekonomi modern.

4. Defisit Pemerintah = Surplus
Masyarakat

Bagi Kelton, pengeluaran defisit
bukanlah musuh ekonomi
melainkan alat penting.
Ia menolak teori lama bernama
crowding out, yang menyebut
pengeluaran pemerintah akan
“mengambil ruang” dari investasi
swasta. Sebaliknya, MMT menilai
bahwa pengeluaran publik justru
menambah daya beli
masyarakat dan menciptakan
peluang baru bagi sektor swasta.

Gunakan analogi air lagi:
Jika ekonomi adalah kolam, dan
sektor publik dan swasta adalah dua
ember di dalamnya, jumlah total air
adalah tetap. Tapi jika pemerintah
menambah air ke kolam, ember
swasta otomatis terisi lebih banyak.
Inilah mengapa stimulus ekonomi
seperti $787 miliar pasca krisis 2008
tidak menghancurkan ekonomi malah
membantunya pulih.

Namun, Kelton menekankan bahwa
pengeluaran harus diarahkan
ke hal produktif dan universal
,
seperti pekerjaan, pendidikan, dan
infrastruktur bukan hanya
menyelamatkan korporasi tertentu.

Latar Belakangnya: Krisis
Keuangan 2008

Pada tahun 2008, Amerika Serikat
mengalami krisis keuangan besar
pasar properti runtuh, bank-bank
besar nyaris bangkrut, dan jutaan
orang kehilangan pekerjaan.
Ekonomi berhenti berputar. Orang
tidak belanja, perusahaan berhenti
produksi, dan pengangguran
melonjak.

Bayangkan ekonomi seperti mesin
mobil yang tiba-tiba mati bensinnya
(uang yang berputar di masyarakat)
habis.
Dalam kondisi seperti ini,
pemerintah harus menyalakan
kembali mesin itu
dengan cara
menyuntikkan “bensin” baru
ke sistem ekonomi.

Stimulus Ekonomi: $787 Miliar

Untuk itu, pada tahun 2009 Presiden
Barack Obama menandatangani
undang-undang bernama
American Recovery and
Reinvestment Act (ARRA)
 
sebuah paket stimulus fiskal
senilai sekitar $787 miliar.

Tujuannya sederhana:

  • Menciptakan lapangan
    kerja baru,

  • Membantu bisnis bertahan,

  • Memperbaiki infrastruktur,

  • Dan memulihkan permintaan
    masyarakat.

Bagaimana Stimulus Itu Bekerja

Pemerintah mengeluarkan uang
besar-besaran bahkan melebihi
pendapatannya dari pajak.
Secara tradisional, ini disebut
defisit besar, dan banyak
orang saat itu khawatir:

“Apakah kita akan bangkrut?”
“Apakah dolar akan
kehilangan nilainya?”

Tapi inilah inti yang dibahas oleh
Kelton dan MMT:

Uang yang dikeluarkan
pemerintah tidak hilang.

Ia masuk ke sektor swasta
ke tangan pekerja, kontraktor,
perusahaan, dan konsumen.

Defisit pemerintah
= Surplus masyarakat.

Ketika pemerintah “berutang”
$787 miliar, masyarakat justru
“memiliki” tambahan $787 miliar
dalam bentuk pendapatan,
tabungan, dan aset.

Ekonomi kembali bergerak.
Dengan uang itu, orang bisa belanja
lagi, perusahaan membuka
lowongan, dan ekonomi berputar.

Hasilnya

Hasilnya tidak instan, tapi nyata:

  • Pengangguran mulai turun
    setelah 2010,

  • Pertumbuhan ekonomi
    kembali positif,

  • Dan Amerika tidak “bangkrut”
    seperti ketakutan banyak orang.

Sebaliknya, negara-negara yang
memotong pengeluaran terlalu
cepat
(seperti beberapa negara
Eropa saat itu) justru mengalami
resesi berkepanjangan.

Apa Pelajarannya Menurut
MMT

Kelton menggunakan contoh ini
untuk menunjukkan bahwa:

Defisit bukanlah tanda kehancuran
justru alat penyelamatan.

Pemerintah berdaulat seperti AS
tidak bisa kehabisan dolar.
Yang perlu diawasi bukan “apakah
kita menghabiskan terlalu banyak
uang”,
tapi “apakah kita menghabiskan
uang di tempat yang benar tanpa
menimbulkan inflasi.”

Contoh Sehari-hari

Bayangkan kamu punya kebun yang
kekeringan.
Jika kamu takut “menghabiskan air”
dan tidak mau menyiramnya,
tanaman akan mati.
Tapi kalau kamu menyiram
secukupnya agar tanah lembap dan
tumbuhan bisa tumbuh kembali,
kebunmu akan pulih.

Begitulah cara kerja stimulus
$787 miliar itu menyiram
ekonomi yang sedang layu agar
bisa tumbuh kembali.

5. Keberlanjutan Program
Sosial: Jaminan Sosial dan
Medicare Tidak Akan
Bangkrut

Salah satu mitos paling populer
di Amerika adalah: “Jaminan Sosial
akan bangkrut dalam 20 tahun.”

Bagi Kelton, ini tidak masuk akal.
Pemerintah AS tidak bisa “kehabisan
dolar” untuk membayar jaminan
sosial, karena mereka adalah
pencipta dolar itu sendiri.

Masalah sebenarnya bukan uang,
melainkan kapasitas ekonomi:
apakah kita punya cukup dokter,
rumah sakit, atau tenaga kerja
untuk menjalankan program
tersebut.
Selama sumber daya riil tersedia,
pemerintah bisa selalu membayar
tagihannya.

Bayangkan Anda memiliki printer
uang yang sah. Anda tentu bisa
mencetak uang untuk membangun
rumah sakit baru tapi jika tidak ada
cukup dokter dan perawat, uang itu
tidak berarti apa-apa.
Itulah inti argumen Kelton:
batasan bukan finansial,
tapi produktif.

6. Defisit Perdagangan:
Tidak Selalu Buruk

Pemerintahan Trump sering
mengeluhkan defisit perdagangan
bahwa Amerika membeli lebih
banyak barang dari luar negeri
daripada yang dijualnya ke luar
negeri. Tapi MMT melihat hal
ini secara berbeda.

Kelton berargumen bahwa defisit
perdagangan tidak selalu
buruk
.
Ya, itu berarti uang keluar untuk
membeli barang asing, tapi
masyarakat mendapat imbalan
berupa produk murah dan
beragam.
Masalah sebenarnya bukan defisit
itu sendiri, melainkan kehilangan
lapangan kerja domestik
dan
melemahnya industri lokal.

Solusinya bukan dengan perang
dagang atau tarif, melainkan dengan
program jaminan pekerjaan
federal
agar setiap warga bisa
berkontribusi dan punya daya
beli yang stabil.
Dengan begitu, ekonomi domestik
tetap kuat, walau terjadi defisit
perdagangan.

7. Defisit yang Sebenarnya:
Bukan di Anggaran, tapi
di Kehidupan Nyata

Kelton menutup dengan pertanyaan
penting:
Mengapa kita terlalu fokus pada
defisit angka di layar, tapi
mengabaikan defisit nyata
di dunia nyata?

Kita memiliki defisit dalam:

  • Pekerjaan (orang ingin bekerja
    tapi tidak ada lowongan)

  • Pendidikan (anak-anak tanpa
    akses belajar layak)

  • Kesehatan (masyarakat tanpa
    perawatan medis)

  • Infrastruktur (jembatan, jalan,
    energi bersih)

  • Dan terutama, defisit dalam
    menghadapi perubahan iklim

MMT menantang kita untuk
mengalihkan perhatian dari
angka ke tujuan.

Jika kita memiliki sumber daya,
teknologi, dan tenaga kerja,
tidak ada alasan logis untuk tidak
menyelesaikan masalah-masalah ini
kecuali mitos lama yang membatasi
pikiran kita tentang
“uang pemerintah”.

8. MMT dan Visi Ekonomi yang
Berani

Buku ini bukan sekadar teori
ekonomi, tapi juga seruan moral.
Kelton mencontohkan bagaimana
Presiden Kennedy pada 1961 berani
bermimpi menempatkan manusia
di bulan tanpa tahu dulu
darimana biayanya akan datang.

Tujuannya jelas, dan sumber daya
diarahkan ke sana. Dan hasilnya,
sejarah tercipta.

MMT menanamkan semangat yang
sama:
Daripada bertanya “Apakah kita
mampu membayarnya?”
, kita
seharusnya bertanya “Apakah kita
punya sumber daya dan tenaga
untuk melakukannya?”

Dua ide besar muncul dari filosofi ini:

  1. Jaminan pekerjaan federal
    memastikan tidak ada warga
    yang menganggur, karena setiap
    orang yang mau bekerja akan
    diberi kesempatan untuk
    berkontribusi dalam proyek
    publik.

  2. Pendanaan untuk krisis iklim
    pemerintah bisa membeli dan
    menutup industri tinggi emisi,
    lalu mengarahkan dana ke energi
    terbarukan dan riset teknologi
    hijau.

Dengan cara ini, MMT tidak hanya
mengubah pandangan kita tentang
uang, tapi juga mengembalikan
kebijakan ekonomi kepada
manusia.

Penutup: Mitos Defisit dan
Kebangkitan Ekonomi Rakyat

The Deficit Myth membuka mata kita
bahwa “defisit” bukan dosa ekonomi,
tapi alat.
Bahwa uang bukanlah tujuan,
melainkan sarana untuk mencapai
kesejahteraan bersama.
Dan bahwa batas sejati bukan
terletak pada anggaran, tapi pada
imajinasi dan kemauan politik.

Bayangkan dunia di mana kita
berhenti takut akan angka di layar
komputer dan mulai menggunakan
kekuatan moneter kita untuk
membangun masyarakat yang
lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.
Itulah dunia yang dibayangkan
Stephanie Kelton ekonomi rakyat
yang lahir dari pemahaman
baru tentang uang dan tujuan.

catatan penting:

Pajak: Untuk Masyarakat,
Bukan Untuk Pejabat

Salah satu pesan penting dalam
The Deficit Myth adalah bahwa
pajak bukanlah alat bagi
pemerintah untuk “mengisi
kasnya” seperti rumah
tangga menabung uang.

Pajak bukan tujuan untuk
memperkaya pejabat, bukan pula
alat untuk menumpuk dana
di lemari besi pemerintah.

Stephanie Kelton menjelaskan
bahwa dalam sistem Modern
Monetary Theory (MMT)
,
pemerintah yang memiliki
kedaulatan moneter (seperti
Amerika Serikat dengan dolarnya
sendiri) tidak butuh pajak
untuk “mendapatkan uang.”

Ia bisa menciptakan uang baru
kapan pun diperlukan.

Lalu, untuk apa pajak?

Tujuan utama pajak adalah
untuk kepentingan
masyarakat, bukan untuk
menindasnya.

Pajak dipakai untuk:

  • Mengatur seberapa banyak
    uang beredar agar tidak
    menimbulkan inflasi,

  • Mendistribusikan kekayaan
    agar lebih adil,

  • Dan memberi nilai pada mata
    uang (karena orang mau bekerja
    dan bertransaksi dalam mata
    uang yang dibutuhkan untuk
    membayar pajak).

Dengan kata lain, pajak menjaga
keseimbangan ekonomi
, bukan
menjadi beban buta yang
menghancurkan daya beli rakyat.

Mengapa Pajak Tidak Boleh
Dinaikkan Sembarangan

MMT juga menekankan bahwa
kebijakan pajak harus selalu
memperhatikan realitas
ekonomi masyarakat.

Ketika pejabat menaikkan pajak
secara ekstrem misalnya 250%,
400%, bahkan 1000% 
itu bukan kebijakan fiskal yang bijak,
melainkan tindakan yang
mengabaikan daya tahan
ekonomi rakyat.

Mengapa?
Karena upah masyarakat tidak
tumbuh secepat pajak.

Jika pajak naik drastis tapi
pendapatan tetap, orang kehilangan
kemampuan untuk hidup layak.
Mereka menutup toko, menunda
konsumsi, bahkan berhenti
membayar pajak sama sekali
karena tidak sanggup.

Dalam kerangka berpikir The Deficit
Myth
, kebijakan seperti itu justru
melemahkan ekonomi secara
keseluruhan.

Pajak seharusnya dirancang untuk
menstabilkan dan mengatur
ekonomi
, bukan menindas
masyarakat atau menutup
defisit buatan.

Pemerintah seharusnya melihat
pajak sebagai alat pengendali
inflasi dan redistribusi kekayaan
bukan sebagai mesin kas
tambahan untuk pejabat.

Hutang: Kepada Rakyat
Sendiri, Bukan ke Negara
Asing

Bagian lain yang dijelaskan Kelton
adalah perbedaan antara
hutang domestik dan
hutang luar negeri.

Bagi pemerintah dengan mata uang
berdaulat (seperti dolar AS), utang
nasional sebagian besar berasal
dari obligasi yang diterbitkan
oleh pemerintahnya sendiri.

Artinya:
➡ Pemerintah meminjam uang
dari rakyatnya sendiri,
➡ Dan membayar kembali dalam
mata uang yang ia ciptakan sendiri.

Obligasi negara bukan ancaman,
melainkan aset bagi masyarakat.
Ketika Anda membeli obligasi
pemerintah, Anda sebenarnya
menabung di pemerintah
dan mendapatkan bunga.
Itu adalah bentuk investasi
domestik
, bukan beban.

Namun, situasinya sangat berbeda
jika pemerintah berutang dalam
mata uang asing.

Jika suatu negara meminjam
dolar AS, euro, atau yen padahal
mata uangnya sendiri berbeda
(misalnya rupiah, peso, atau lira)
maka risikonya besar.
Sebab ketika nilai mata uang lokal
turun, beban utangnya
langsung melonjak
berkali-kali lipat.

Misalnya:
Jika sebuah negara berutang
$1 miliar ketika kurs
10.000 per dolar, maka total utangnya
adalah 10 triliun rupiah.
Tapi jika mata uangnya jatuh
menjadi 20.000 per dolar, utangnya
langsung naik menjadi 20 triliun
rupiah padahal jumlah dolar
yang dipinjam tetap sama.

Itulah sebabnya, MMT menekankan
bahwa utang yang sehat adalah
utang dalam mata uang sendiri.

Pemerintah seperti AS tidak pernah
bisa “bangkrut” dalam dolarnya
sendiri, tapi negara yang meminjam
dengan mata uang asing bisa
terjebak dalam krisis kurs.

Kesimpulan: Pajak dan Hutang
Harus Berpihak pada Rakyat

Melalui The Deficit Myth, Stephanie
Kelton ingin membuka mata kita
bahwa:

  • Pajak bukan alat penindasan,
    tapi alat pengaturan ekonomi
    untuk kesejahteraan rakyat.

  • Pejabat publik tidak berhak
    menaikkan pajak sesuka hati
    tanpa melihat kemampuan
    masyarakat.

  • Hutang dalam mata uang
    sendiri bukan bahaya, tapi
    bagian dari sirkulasi
    ekonomi domestik.

  • Bahaya justru muncul jika
    negara bergantung pada
    utang asing dalam mata uang
    yang tidak bisa ia cetak.

Dalam kerangka MMT, ekonomi yang
sehat bukan yang “bebas utang” atau
“tanpa defisit”,
tetapi ekonomi yang menggunakan
pajak dan utang sebagai
instrumen untuk
menyejahterakan rakyat dan
menjaga stabilitas harga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *