Buku Doughnut Economics Kate Raworth, Cara Baru Berpikir tentang Ekonomi Abad ke-21

Kate Raworth
Bayangkan sebuah donat roti
berbentuk cincin dengan ruang
kosong di tengahnya. Namun kali
ini, bukan makanan manis yang
sedang dibahas, melainkan model
ekonomi baru yang bisa
menentukan masa depan umat
manusia. Inilah Doughnut
Economics, gagasan revolusioner
dari Kate Raworth, seorang
ekonom dari Universitas Oxford,
yang menantang seluruh cara kita
memahami pertumbuhan,
kesejahteraan, dan batas planet.
Mengapa Dunia Membutuhkan
Cara Berpikir Baru
Selama berabad-abad, ekonomi
diajarkan seolah-olah pertumbuhan
adalah tujuan utama. Negara yang
Produk Domestik Bruto (PDB)-nya
naik dianggap sukses, dan yang
stagnan dianggap gagal. Namun,
Raworth melihat bahwa
pendekatan ini sudah usang.
Kita hidup di abad ke-21 dengan
tantangan yang berbeda: krisis
iklim, kesenjangan sosial, dan
ketimpangan kekayaan yang
ekstrem. Model ekonomi lama
yang hanya mengejar
pertumbuhan tanpa batas
justru menimbulkan kerusakan
ekologi dan ketidakadilan sosial.
Kate Raworth mengajukan
pertanyaan sederhana tapi
mengguncang dasar
ekonomi modern:
“Apakah mungkin sebuah ekonomi
tumbuh tanpa merusak bumi dan
tanpa meninggalkan siapa pun
di belakang?”
Jawabannya: mungkin jika kita
belajar berpikir seperti
“ekonom donat”.
Konsep Dasar: Donat sebagai
Peta Kehidupan yang
Seimbang
Raworth menggambarkan ekonomi
ideal seperti bentuk donat
terdiri dari dua lingkaran:
Lingkaran Dalam: Fondasi
Sosial (Social Foundation)
Ini adalah batas bawah
kesejahteraan manusia. Jika
seseorang hidup di bawah
lingkaran ini, berarti ia
kekurangan hal-hal mendasar
seperti makanan, air bersih,
kesehatan, pendidikan,
perumahan, keamanan,
dan hak politik.
Dengan kata lain, fondasi sosial
menggambarkan kebutuhan
minimum agar setiap
manusia dapat hidup
bermartabat.Lingkaran Luar: Batas
Ekologis (Ecological
Ceiling)
Ini adalah batas atas yang tidak
boleh dilampaui agar bumi
tetap stabil. Lingkaran ini
mewakili sembilan proses
penting planet seperti
kestabilan iklim,
keanekaragaman hayati,
kesuburan tanah, dan
ketersediaan air bersih.
Jika kita melewati batas ini,
maka akan muncul bencana
lingkungan: perubahan iklim,
polusi, kepunahan spesies,
dan kerusakan ekosistem.
Di antara kedua lingkaran ini terdapat
ruang aman dan adil bagi umat
manusia area tempat semua orang
bisa hidup cukup, tanpa merusak
bumi.
Inilah “donat” yang menjadi simbol
keseimbangan antara kemajuan
sosial dan keberlanjutan ekologis.
Krisis: Saat Kita Keluar
dari Donat
Sayangnya, Raworth menegaskan
bahwa dunia saat ini sedang
“keluar dari donat”.
Di satu sisi, masih banyak manusia
yang hidup di bawah fondasi sosial
kekurangan pangan, pendidikan,
dan perlindungan dasar.
Di sisi lain, kita juga telah melewati
batas ekologis polusi udara
meningkat, lapisan es mencair,
dan suhu global melonjak.
Data menunjukkan bahwa dari
sembilan batas planet, empat
di antaranya sudah terlampaui.
Artinya, kita hidup di luar ruang
aman yang seharusnya menopang
kehidupan.
Kita terus “mendorong pertumbuhan”
tanpa memperhatikan
keseimbangan, seperti seseorang
yang terus memompa balon sampai
pecah.
Mengubah Arah: Dari
Pertumbuhan Tak Terbatas
ke Kesejahteraan Seimbang
Dalam Doughnut Economics,
Raworth mengajak kita
meninggalkan obsesi lama terhadap
PDB. Ia menilai bahwa ukuran
keberhasilan ekonomi tidak
seharusnya diukur dari seberapa
banyak barang diproduksi atau
uang berputar, tetapi seberapa
banyak kehidupan yang membaik
tanpa merusak planet.
Ia menulis:
“Tujuan ekonomi bukan untuk
tumbuh, melainkan untuk
berkembang.”
Artinya, ekonomi yang baik bukan
yang besar tanpa arah, tapi yang
mampu menjaga keseimbangan
antara kebutuhan manusia dan
daya tahan bumi.
Tujuh Cara Berpikir seperti
Ekonom Abad ke-21
Kate Raworth menyusun tujuh cara
berpikir baru yang menggantikan
pandangan ekonomi lama.
Berikut ringkasan intinya:
Ubah Tujuan: Dari
Pertumbuhan
ke Kesejahteraan
Kita tidak butuh ekonomi yang
“lebih besar”, tapi ekonomi
yang “lebih baik”.Lihat Gambar Besar
Ekonomi bukan hanya pasar
dan pemerintah tapi juga
masyarakat, rumah tangga,
dan alam. Semua saling
terhubung.Rawat Manusia, Bukan
Mesin
Ekonomi klasik melihat
manusia sebagai “homo
economicus” makhluk egois dan
rasional. Padahal manusia juga
peduli, bekerja sama, dan
berempati.Pahami Sistem Sirkular
Alam tidak mengenal limbah.
Semua energi berputar. Maka,
ekonomi juga harus meniru
prinsip sirkular meminimalkan
sampah dan memaksimalkan
penggunaan kembali.Pertumbuhan yang
Regeneratif, Bukan
Eksploitatif
Kita harus menciptakan
sistem yang memperbarui
bumi, bukan mengurasnya.Desain Distribusi yang Adil
Kekayaan tidak boleh
terkonsentrasi di puncak
piramida. Ekonomi harus
memastikan distribusi yang
lebih setara.Belajar Menjadi Agnostik
terhadap Pertumbuhan
Kadang ekonomi tumbuh,
kadang tidak dan itu
tidak apa-apa. Yang penting
adalah kualitas kehidupan
di dalamnya.
Membangun Masa Depan
dalam Donat
Raworth menutup bukunya dengan
ajakan optimistis: masih ada waktu
untuk kembali ke dalam donat.
Pemerintah, bisnis, dan masyarakat
bisa bersama-sama membangun
sistem baru dari energi terbarukan,
ekonomi sirkular, hingga kebijakan
sosial yang inklusif.
Ia memberikan contoh kota
Amsterdam yang menjadi salah
satu pelopor Doughnut City,
yaitu kota yang berkomitmen
menyeimbangkan kesejahteraan
warga dengan batas ekologi global.
Dengan mengadopsi paradigma
donat, manusia bisa hidup makmur
tanpa menghancurkan
rumahnya sendiri planet bumi.
Penutup: Sebuah Peta untuk
Umat Manusia
Buku Doughnut Economics bukan
sekadar teori ekonomi, melainkan
peta moral dan praktis bagi abad
ke-21.
Ia menuntun kita untuk
meninggalkan ekonomi yang rakus
dan beralih ke ekonomi yang peduli
peduli pada sesama manusia dan
pada planet yang menjadi tempat
tinggal kita semua.
Dalam dunia yang sering kali melihat
pertumbuhan sebagai satu-satunya
tujuan, Kate Raworth mengingatkan:
“Kita tidak sedang kekurangan
ekonomi, kita kekurangan imajinasi.”
Dan mungkin, donat adalah bentuk
sederhana dari imajinasi besar
yang bisa menyelamatkan dunia.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Ekonomi Donat: Saat Dunia
Belajar Hidup Seimbang
Bayangkan kamu sedang membeli
donat di toko. Ada bagian tengah
yang kosong, dan ada pinggiran
yang enak. Sekarang, Kate Raworth
seorang ekonom dari Oxford
mengajak kita membayangkan
dunia seperti donat itu.
Bukan soal gula dan tepungnya, tapi
tentang bagaimana manusia
bisa hidup cukup, tanpa
merusak bumi.
Itulah gagasan dari bukunya yang
terkenal: Doughnut Economics:
Seven Ways to Think Like a
21st-Century Economist atau dalam
bahasa sederhananya, tujuh cara
berpikir baru tentang ekonomi
yang lebih manusiawi dan
berkelanjutan.
Masalah Dunia: Terlalu Banyak
yang Kurang, Terlalu Banyak
yang Berlebihan
Kalau kita lihat berita hari ini,
gambarnya selalu sama:
Sebagian orang hidup berlimpah,
sebagian lain kesulitan makan.
Pabrik memproduksi barang
terus-menerus, tapi gunung
sampah plastik makin tinggi.
Negara bangga ketika PDB naik,
tapi udara makin panas dan laut
makin kotor.
Kate Raworth bilang, ini karena
ekonomi lama hanya tahu
satu kata: tumbuh.
Semua negara berlomba menambah
angka pertumbuhan, seperti anak
kecil yang terus ingin tinggi tanpa
sadar sepatunya sudah robek.
Padahal, bumi punya batasnya
sendiri.
Seperti tubuh manusia yang bisa
demam kalau bekerja tanpa istirahat,
planet ini juga “demam” karena kita
memaksa terus menumbuhkan
ekonomi.
Donat: Simbol Kehidupan yang
Seimbang
Raworth memperkenalkan gambar
sederhana donat untuk menjelaskan
bagaimana ekonomi seharusnya
bekerja.
Bagian tengah yang kosong:
tempat orang-orang yang hidup
di bawah standar minimum
kekurangan makanan, air bersih,
pendidikan, dan rasa aman.
Misalnya, seorang ibu
di pedesaan yang harus berjalan
5 km untuk mengambil air.
Ia hidup “di bawah donat”.Bagian luar donat: batas
ekologis yang tidak boleh
dilampaui.
Misalnya, perusahaan yang
menebang hutan terus-menerus
tanpa reboisasi. Mereka hidup
“di luar donat” dan merusak
bumi.Ruang di antara keduanya:
itulah zona aman di mana
semua kebutuhan manusia
terpenuhi tanpa melampaui
batas alam.
Kehidupan ideal ada di “dalam donat”,
bukan di luar atau di bawahnya.
Contoh Sehari-hari: Donat dalam
Kehidupan Kita
Dalam Rumah Tangga
Coba lihat rumahmu.
Kamu ingin punya listrik, makanan,
internet, dan hiburan itu wajar. Tapi
kalau semua lampu dibiarkan
menyala, pendingin ruangan terus
hidup, dan makanan sering terbuang,
itu artinya kamu hidup “di luar donat”.
Sebaliknya, kalau kamu terlalu hemat
sampai tidak mau pakai listrik untuk
belajar anak atau makan seadanya
tiap hari, kamu juga jatuh “ke tengah
donat” kekurangan hal dasar.
Kuncinya? Cukup.
Gunakan energi secukupnya, makan
secukupnya, belanja secukupnya
dan bantu orang lain agar mereka
juga cukup.
Itulah inti ekonomi donat di rumah
tangga.
Dalam Kehidupan Kota
Beberapa kota sudah mulai
menerapkan “model donat” ini,
contohnya Amsterdam.
Mereka mendesain ulang sistem
sampah, transportasi, dan energi
agar warga bisa hidup nyaman
tanpa merusak alam.
Misalnya:
Warga didorong memakai
sepeda, bukan mobil pribadi.Sisa makanan restoran diolah
jadi pupuk, bukan dibuang
ke tempat sampah.Bangunan baru wajib memakai
energi terbarukan.
Coba bayangkan jika hal serupa
diterapkan di kota kita: tidak ada
banjir karena sampah, udara bersih,
dan harga kebutuhan pokok lebih
stabil karena sumber daya
dikelola bijak.
Itulah kota yang hidup “di dalam donat”.
Dalam Dunia Bisnis
Banyak perusahaan kini mulai
meninggalkan prinsip “produksi
sebanyak mungkin, jual
sebanyak mungkin”.
Sebagai gantinya, mereka mulai
berpikir:
“Bagaimana cara menghasilkan
laba tanpa merusak bumi dan
tanpa mengeksploitasi orang?”
Contohnya:
Bisnis pakaian bekas atau
sewa baju mengurangi
limbah fashion.Toko isi ulang mengurangi
kemasan plastik.Pertanian lokal organik
menjaga kesuburan tanah
dan membantu petani kecil.
Semua contoh itu menunjukkan
bahwa keuntungan dan
keberlanjutan bisa berjalan
berdampingan jika kita mau
mendesain ulang cara berbisnis.
Dalam Skala Global
Negara-negara juga bisa berpikir
seperti donat.
Misalnya, alih-alih hanya mengejar
ekspor dan industri berat, mereka
bisa berinvestasi dalam pendidikan,
teknologi hijau, dan ekonomi sirkular.
Bayangkan jika sebuah negara
menghitung keberhasilannya bukan
dari berapa banyak pabrik
berdiri, tapi berapa banyak
warganya yang hidup sehat,
bahagia, dan berpendidikan.
Itulah ukuran keberhasilan versi
donat.
Cara Baru Melihat “Pertumbuhan”
Dalam dunia lama, jika ekonomi
tidak tumbuh, dianggap krisis.
Tapi dalam dunia donat, tidak
tumbuh bukan berarti gagal asal
kehidupan di dalamnya tetap
seimbang.
Contohnya:
Kalau toko lokal tidak buka
cabang baru tapi bisa menggaji
karyawannya dengan layak
dan menjaga lingkungan,
itu sudah sukses.Kalau sebuah negara
menurunkan emisi karbon
sambil memastikan semua
anak sekolah, itu pencapaian
besar meskipun angka
PDB-nya tidak naik.
Raworth mengingatkan, seperti
pohon, ekonomi tidak harus
tumbuh selamanya.
Pohon yang terus tumbuh akhirnya
tumbang. Tapi pohon yang berhenti
di ukuran ideal, justru hidup lama
dan memberi manfaat.
Pelajaran dari Donat
Kate Raworth mengajarkan bahwa
ekonomi seharusnya bukan tentang
grafik naik turun, tapi tentang
kehidupan nyata manusia
dan bumi.
Setiap keputusan dari membeli
baju, membangun kota, hingga
membuat kebijakan negara
harus melewati pertanyaan
sederhana:
“Apakah ini membuat kita lebih
dekat ke dalam donat, atau
justru keluar darinya?”
Kalau semua orang mulai bertanya
hal itu, dunia akan berubah.
Ekonomi tak lagi jadi mesin yang
menggilas, tapi taman yang
menumbuhkan kehidupan.
Penutup: Donat Bukan
Sekadar Gambar
Buku Doughnut Economics bukan
sekadar teori untuk ekonom, tapi
panduan untuk semua orang yang
ingin hidup cukup tanpa merusak
bumi.
Kita tidak harus jadi ahli ekonomi
untuk mulai menerapkannya
cukup mulai dari kebiasaan kecil:
membeli secukupnya, mendukung
produk lokal, mengurangi limbah,
dan saling peduli.
Raworth mengingatkan:
“Kita bisa membangun dunia
di mana semua orang hidup
baik, tanpa bumi menjadi
korban.”
catatan;

Struktur Lengkap Donut
Economics
Kate Raworth membagi dunia
ekonomi ke dalam tiga lapisan
utama (dan di dalamnya ada
beberapa sub-konsep):
1. Living Below Comfort
(Social Shortfall)
➡️ Ini adalah masalah di inti
lubang donat
tempat manusia hidup
di bawah standar kehidupan layak.
Artinya, kebutuhan dasar belum
terpenuhi.
🔹 Contoh: kelaparan, tidak punya
akses air bersih, tidak ada
pendidikan, pengangguran,
ketimpangan, diskriminasi.
🔹 Ini menggambarkan apa yang
terjadi jika kita belum mencapai
“social foundation.”
2. Social Foundation
➡️ Ini adalah batas bawah
kesejahteraan manusia.
Ia menentukan garis minimal yang
harus dipenuhi agar setiap orang
hidup layak dan bermartabat.
Menurut Raworth, ada 12 dimensi
sosial (diambil dari Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan PBB),
seperti:
Makanan 🍚
Air bersih 💧
Perumahan 🏠
Pendidikan 🎓
Kesehatan ❤️
Pendapatan dan pekerjaan 💼
Keadilan gender ⚖️
Kesejahteraan sosial 👨👩👧👦
Energi 🔌
Partisipasi politik 🗳️
Kesetaraan sosial 🤝
Suara dan representasi
masyarakat 📣
Jika masyarakat jatuh di bawah
batas ini → mereka “living below
comfort.”
3. Safe and Just Space for
Humanity (Zona Aman dan
Adil)
➡️ Ini adalah ruang hijau
di antara dua batas (antara social
foundation dan ecological ceiling).
Di sinilah manusia bisa hidup
sejahtera tanpa merusak bumi.
Itulah “sweet spot”-nya kehidupan
modern:
cukup untuk semua orang, dalam
batas planet yang sehat.
4. Ecological Ceiling
➡️ Ini adalah batas atas ekologi
bumi garis yang tidak boleh
dilampaui.
Raworth mendasarkan ini pada
9 batas planet (Planetary
Boundaries Framework oleh Johan
Rockström dan tim Stockholm
Resilience Centre), antara lain:
Perubahan iklim 🌡️
Kerusakan keanekaragaman
hayati 🌳Pengasaman laut 🌊
Penggunaan air tawar 💦
Penggunaan lahan 🏞️
Polusi nitrogen dan fosfor 💩
Polusi kimia ⚗️
Penipisan lapisan ozon ☀️
Partikel udara / polusi
atmosfer 🌫️
Jika kita melewati batas ini,
maka muncul ecosystem
damage.
5. Ecosystem Damage
➡️ Ini menggambarkan kondisi
setelah melampaui ecological
ceiling.
Misalnya:
Iklim makin panas 🔥
Banjir dan kekeringan
ekstrem 🌪️Hutan rusak dan spesies
punah 🌲🐘Laut tercemar plastik dan
asam 🌊
Dengan kata lain, ini bukan
bagian “donat”, tapi zona
bahaya di luar donat.
Jadi, urutan hierarkinya:
| Posisi | Nama | Arti Singkat | Warna Umum |
|---|---|---|---|
| Pusat | Living Below Comfort | Kekurangan sosial ekstrem | Abu-abu / merah muda |
| Batas bawah | Social Foundation | Batas minimal kesejahteraan | Krem / oranye |
| Zona tengah | Safe and Just Space | Keseimbangan sosial-ekologis | Hijau |
| Batas atas | Ecological Ceiling | Batas maksimal alam | Kuning / hijau tua |
| Luar batas | Ecosystem Damage | Kerusakan planet | Merah |
Tiga Lapisan Utama Doughnut
Economics
| Lapisan | Letak | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| 1️⃣ Social Foundation (Dasar Sosial) | Lapisan dalam (batas bawah donat) | Menunjukkan kebutuhan minimum manusia agar hidup layak — seperti makanan, air bersih, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, dan keadilan sosial. Kalau orang hidup di bawah batas ini, berarti mereka berada dalam “social shortfall” (kekurangan sosial). |
| 2️⃣ Safe and Just Space for Humanity (Ruang Aman dan Adil bagi Manusia) | Area tengah (antara dua batas) | Ini zona hijau — tempat ideal di mana semua kebutuhan dasar manusia terpenuhi tanpa merusak bumi. Inilah “sweet spot” ekonomi donat. |
| 3️⃣ Ecological Ceiling (Batas Ekologis) | Lapisan luar (batas atas donat) | Menandai batas planet yang tidak boleh dilampaui — seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi udara, deforestasi, dan asam laut. Jika terlewati, manusia masuk ke zona “ecological overshoot” (kerusakan planet). |
Singkatnya:
Terlalu ke dalam
⇒ banyak orang miskin
dan kekurangan
→ social shortfallTerlalu ke luar ⇒ alam
rusak, bumi tidak seimbang
→ ecological overshootDi tengah ⇒ manusia
sejahtera dan bumi tetap
sehat → safe and just
space for humanity
