Pola Kalimat Fi’il Lazim JUMLAH FI’LIYYAH
Pola Kalimat Fi’il Lazim
Fi’il Lazim adalah fi’il yang tidak butuh objek (maful bih).
Oleh karena itu, dalam menyusun kalimat menggunakan
fi’il lazim, kita cukup menyebut subjeknya (fa’il) saja
setelah fi’il nya.
Contohnya:
قَامَ زَيْدٌ
(Zaid telah berdiri)
يَقُوْمُ زَيْدٌ
(Zaid sedang berdiri)
Kaidah yang berlaku untuk jumlah fi’liyyah dengan fi’il lazim adalah:
KAIDAH JUMLAH FI’ILIYYAH LAZIM
1. Fi’il harus sesuai jenisnya dengan fa’il.
2. Fi’il harus dalam bentuk mufrad.
3. Fa’il harus dalam keadaan rafa’ (marfu’)
1. Fi’il harus sesuai jenisnya dengan fa’il.
Bila fa’ilnya mudzakkar, maka fi’ilnya wajib mudzakkar.
Sebaliknya, jika fa’ilnya muannats, maka fi’ilnya wajib
muannats. Misalnya:

Ketika yang duduk Ahmad (mudzakkar) maka fi’ilnya juga
harus mudzakkar dan ketika yang duduk Fathimah
(muannats) fi’ilnya juga menyesuaikan.
2. Fi’il harus dalam bentuk mufrad.
Ini berlaku baik untuk fa’il yang mufrad, mutsanna, maupun jamak.
Jadi sekalipun fa’ilnya mutsanna ataupun
jamak, fi’il tetap wajib dalam keadaan mufrad. Contohnya:

Baik untuk kalimat yang fa’ilnya mufrad, mutsanna, maupun jamak,
fi’il yang digunakan tetap fi’il untuk yang mufrad.
Jadi tidak dikatakan جَلَسَا المُسْلِمَانِ ataupun جَلَسَتَا الْمُسْلِمَتَانِ .
Begitu pula, tidak dikatakan جَلَسُوْا المُسْلِمُونَ maupun جَلَسْنَ
الْمُسْلِمَاتُ
3. Fa’il harus dalam keadaan rafa’ (marfu’)
Berikut ini kaidah rafa’ untuk mufrad, mutsanna, dan jamak

RUMUS CEPAT: FIRA DAN FARA ITU MANIS
1. FIRA: Fl’il harus mufRAd
2. FARA: FA’il harus RAfa’
3. MANIS: fi’il dan fa’il itu harus saMA jeNIS
