Jumlah Fi’liyyah
Jumlah Fi’liyyah
Jumlah Fi’liyyah adalah kalimat yang diawali oleh fi’il dalam
susunan kalimatnya. Dikarenakan dari sisi kebutuhannya
pada objek, fi’il dibagi menjadi fi’il lazim
(intransitif: tidak butuh objek) dan fi’il muta’addiy
(transitif: butuh objek), maka pola jumlah
fi’liyyah juga ada dua bentuk:
1. Pola Kalimat Fi’il Lazim
Fi’il + Fa’il
(Predikat + Subjek)
Contohnya kalimat “Zaid telah duduk”:
جَلَسَ=predikat زَيْدٌ=subjek
Kata kerja “جَلَسَ” tidak membutuhkan obyek
sehingga unsur penyusun kalimatnya hanya fi’il dan fa’il saja.
2. Pola Kalimat Fi’il Muta’addiy
Fi’il + Fa’il + Maful bih
(Predikat + Subjek + Objek)
Contohnya kalimat “Zaid telah membaca Al Qur’an”:
قَرَأَ=Predikat زَيْدٌ=Subjek القُرْآنَ=Objek
Kata “َقَرَأ” membutuhkan obyek karena membaca itu
butuh kepada sesuatu yang dibaca sehingga kalimatnya
harus mengandung fi’il, fa’il dan maful bih. Fi’il
adalah predikat (kata kerja), Fa’il adalah subjek (pelaku),
dan Maful bih adalah objek (yang dikenai perbuatan atau
korban). Dikarenakan fi’il lazim lebih sedikit unsur
penyusunnya dibandingkan fi’il muta’addiy,
maka kita akan mempelajari kaidah fi’il lazim terlebih dahulu.
