Orang Menolak Berubah Karena Terbiasa dengan Cara Pandangnya
Salah satu gagasan penting dalam
The Courage to Be Disliked adalah
bahwa manusia sering kali menolak
perubahan bukan karena tidak
mampu, tetapi karena sudah terlalu
terbiasa dengan cara pandangnya
sendiri. Kita hidup dengan perspektif
tertentu begitu lama hingga
menganggapnya sebagai kebenaran
mutlak. Padahal, itu hanyalah cara
kita melihat dunia.
Di lingkungan sosial, kita bertemu
berbagai tipe karakter. Cara paling
mudah membedakan orang adalah
dengan memberi label: pesimis atau
optimis. Kita begitu terbiasa dengan
klasifikasi ini sehingga percaya
bahwa kepribadian bersifat tetap.
Jika seseorang pesimis, maka ia
akan selamanya pesimis. Jika
seseorang ceria, ia akan selalu ceria.
Pandangan seperti ini selaras dengan
psikologi tradisional yang cenderung
menganggap kepribadian sebagai
sesuatu yang tetap dan terbagi dalam
kategori-kategori tertentu. Seolah-olah
manusia hanya bisa masuk ke dalam
kotak-kotak yang sudah tersedia.
Namun, menurut perspektif Alfred
Adler yang menjadi dasar buku ini,
cara berpikir tersebut keliru.
Life Style: Cara Kita Memilih
Melihat Dunia
Adler tidak menggunakan istilah
“kepribadian” seperti psikologi
tradisional. Ia memilih istilah life
style. Perubahan istilah ini bukan
sekadar permainan kata. Ia ingin
menegaskan bahwa apa yang kita
anggap sebagai karakter tetap
sebenarnya adalah pola hidup
yang kita pilih.
Life style adalah cara kita
memandang dunia dan diri sendiri.
Itu bukan sesuatu yang ditentukan
sejak lahir dan tidak bisa diubah.
Itu adalah hasil pilihan.
Suasana hati kita bukan identitas
permanen. Jika kita memiliki
pandangan negatif terhadap dunia,
kita cenderung menjadi pesimis.
Jika kita melihat dunia sebagai
tempat penuh kemungkinan,
kita lebih mudah menjadi optimis.
Dengan kata lain, suasana hati
adalah refleksi dari cara kita
memandang kehidupan.
Adlerian psychology menyatakan
bahwa sejak sekitar usia sepuluh
tahun, kita mulai membentuk
pandangan hidup dan gaya hidup
kita. Pilihan ini didasarkan pada
pengalaman masa lalu dan
pengalaman saat ini, baik yang
positif maupun negatif. Dari
pengalaman-pengalaman itu, kita
menyusun cara pandang yang
kemudian kita anggap sebagai
“diri kita”.
Ketegaran dalam
Mempertahankan Cara Pandang
Walaupun life style adalah sesuatu
yang dipilih, kenyataannya manusia
sangat keras kepala ketika harus
mengubahnya. Kita begitu melekat
pada sudut pandang yang sudah
lama kita gunakan.
Banyak orang sering berbicara
tentang kebahagiaan dan berkata
ingin hidupnya berbeda. Secara
permukaan, mereka terdengar
seperti ingin berubah. Namun
menurut Adler, jika seseorang
benar-benar ingin berubah,
ia akan mengambil tindakan.
Faktanya, banyak orang tidak
benar-benar ingin berubah. Mereka
hanya ingin merasa bahwa mereka
ingin berubah.
Mengapa demikian?
Karena perubahan berarti
meninggalkan sesuatu yang sudah
dikenal. Dan hal yang dikenal
meskipun menyakitkan
tetap memberi rasa aman.
Kenyamanan dalam
Ketidakbahagiaan
Seseorang bisa saja berada dalam
situasi yang ia benci, namun tetap
bertahan di sana. Bukan karena ia
menyukainya, melainkan karena ia
sudah terbiasa dengannya.
Ketidakbahagiaan yang familiar
terasa lebih aman dibanding
kemungkinan kebahagiaan yang
tidak pasti.
Perubahan membawa
ketidaknyamanan. Ia membuka
pintu pada risiko, pada kegagalan,
pada penolakan. Dan banyak orang
tidak memiliki keberanian untuk
mengambil risiko tersebut.
Menurut Adler, jika seseorang
benar-benar tidak bahagia dan
sungguh ingin berubah, ia pasti
sudah melakukan sesuatu. Ketika
perubahan tidak terjadi, sering
kali itu berarti orang tersebut
memilih untuk tetap di tempatnya.
Pilihan itu mungkin tidak disadari,
tetapi tetap merupakan pilihan.
Ketakutan terhadap Hal yang
Tidak Dikenal
Untuk benar-benar mengubah
pandangan hidup, seseorang
harus siap menghadapi hal yang
belum ia kenal. Ia harus menerima
kemungkinan gagal. Tanpa
keberanian menghadapi
ketidakpastian, perubahan tidak
akan terjadi.
Inilah inti dari “courage” dalam
judul buku ini. Bukan sekadar
keberanian untuk berbeda pendapat,
melainkan keberanian untuk
meninggalkan cara pandang lama
yang sudah nyaman, meskipun
menyakitkan.
Perubahan menuntut kita untuk
melepaskan identitas lama. Dan
itu bukan proses yang ringan.
Contoh: Kesendirian yang
Dipertahankan
Buku ini memberi contoh seorang
lajang yang merasa tidak bahagia.
Ia telah sendirian selama
bertahun-tahun dan berharap
memiliki pasangan. Ia mungkin
sering mengatakan bahwa ia ingin
hidupnya berbeda.
Namun ia tidak berusaha keluar,
bertemu orang baru, atau membuka
diri pada kemungkinan hubungan.
Bersosialisasi terasa berat baginya.
Berkencan tampak sulit dan
menegangkan.
Secara tidak sadar, ia membentuk
situasi yang membuatnya tetap
sendiri. Ia menjadi nyaman dalam
kesendirian dan
ketidakbahagiaannya. Meski ia
mengeluh, ia sebenarnya memilih
kondisi tersebut.
Mengapa? Karena kesepian yang
familiar terasa lebih aman daripada
kemungkinan ditolak atau disakiti
dalam hubungan yang baru. Lebih
mudah menghadapi masalah yang
sudah dikenal daripada risiko luka
yang belum pernah dialami.
Dengan demikian, ia
mempertahankan life style-nya.
Bukan karena ia tidak punya pilihan,
tetapi karena ia tidak memiliki
keberanian untuk mengubah pilihan
itu.
Inti Pesan: Perubahan Adalah
Pilihan
Dari catatan ini, terlihat jelas bahwa
pesan utama bagian ini adalah:
manusia tidak terjebak dalam
kepribadian tetap. Kita memilih cara
pandang kita. Kita memilih life style
kita. Dan kita juga memilih untuk
mempertahankannya.
Orang menjadi resisten terhadap
perubahan karena mereka sudah
terbiasa dengan sudut pandang
tertentu. Mereka merasa aman
di dalamnya, bahkan ketika sudut
pandang itu membuat mereka
menderita.
Untuk berubah, seseorang harus
berani menghadapi
ketidaknyamanan, menerima risiko
kegagalan, dan meninggalkan
kenyamanan lama.
Tanpa keberanian itu, seseorang
akan terus bertahan dalam kondisi
yang sama, sambil mengatakan
bahwa ia ingin hidupnya berbeda.
Inilah paradoks yang dijelaskan dalam
The Courage to Be Disliked:
sering kali kita tidak berubah bukan
karena tidak bisa, tetapi karena tidak
berani.
Menganggap Dirinya
Seorang karyawan sering berkata,
“Saya memang tidak berbakat
bicara di depan umum.”
Setiap kali ada kesempatan
presentasi, ia langsung menolak.
Ia merasa cemas, takut salah,
dan malu.
Padahal ia tidak pernah benar-benar
mencoba berlatih serius. Ia sudah
terlalu lama melihat dirinya sebagai
“bukan tipe pembicara”. Label itu
menjadi life style—cara ia melihat
dirinya.
Lebih nyaman tetap menjadi
“orang yang tidak bisa presentasi”
daripada menghadapi kemungkinan
gagal saat mencoba.
2. Mahasiswa yang Selalu
Menyalahkan Keadaan
Seorang mahasiswa sering berkata,
“Saya memang dari keluarga biasa,
wajar kalau sulit sukses.”
Setiap kali nilainya jelek,
ia menyalahkan kondisi rumah,
kurang fasilitas, atau dosen yang
tidak mendukung.
Ia sebenarnya punya waktu untuk
belajar lebih disiplin, tapi tidak
dilakukan. Mengapa?
Karena dengan mempertahankan
cara pandang sebagai
“korban keadaan”, ia tidak perlu
mengambil tanggung jawab penuh.
Mengubah pandangan berarti harus
mengakui bahwa ia punya peran
dalam hasil hidupnya. Itu jauh
lebih menakutkan.
3. Orang yang Selalu
Menganggap Dunia Tidak Adil
Ada orang yang percaya bahwa
dunia penuh ketidakadilan.
Setiap melihat orang lain sukses,
ia langsung berkata, “Pasti ada orang
dalam,” atau “Dia cuma beruntung.”
Ia jarang mencoba hal baru karena
sudah yakin hasilnya akan sama saja.
Pandangan pesimis itu membuatnya
merasa “realistis”.
Padahal sebenarnya ia
mempertahankan cara pandang itu
karena lebih aman. Jika ia mencoba
dan gagal, keyakinannya akan
dirinya sendiri bisa runtuh.
4. Pekerja yang Tidak Bahagia
Tapi Tak Mau Pindah
Seseorang mengeluh setiap hari
tentang pekerjaannya. Gaji kurang,
atasan tidak menyenangkan,
pekerjaan membosankan.
Namun ketika ada kesempatan
melamar di tempat lain, ia ragu.
Ia takut lingkungan baru lebih
buruk. Takut tidak diterima.
Takut tidak lolos seleksi.
Akhirnya ia tetap bertahan.
Ia lebih memilih ketidakbahagiaan
yang sudah dikenal daripada
ketidakpastian yang belum
diketahui.
5. Orang yang Ingin Punya
Pasangan Tapi Menutup Diri
Ia sering berkata ingin menikah.
Namun ketika diajak teman untuk
bertemu orang baru, ia menolak.
“Ah, nanti juga nggak cocok.”
Ia jarang keluar rumah, jarang
memperluas pergaulan.
Secara tidak sadar,
ia mempertahankan kesendiriannya.
Bukan karena tidak ingin bahagia,
tetapi karena kemungkinan ditolak
terasa lebih menakutkan daripada
kesepian yang sudah biasa.
6. Orang yang Selalu
Menganggap Dirinya Pemarah
Seseorang berkata, “Saya memang
orangnya temperamental dari dulu.”
Setiap marah, ia menganggap itu
bagian dari sifat alaminya.
Padahal kemarahan adalah respons
yang bisa dipelajari ulang.
Namun jika ia mengubahnya,
ia harus belajar cara baru
menghadapi konflik dan itu
membutuhkan usaha serta
kerendahan hati.
Lebih mudah berkata,
“Saya memang begini orangnya,”
daripada berubah.
Intinya
Banyak orang sebenarnya
bisa berubah.
Namun mereka sudah terlalu lama
hidup dengan cara pandang tertentu
hingga menganggapnya identitas
tetap.
Kita sering berkata ingin hidup
berbeda, tetapi tanpa sadar memilih
tetap sama karena itu terasa aman.
Perubahan bukan soal kemampuan,
melainkan soal keberanian
menghadapi ketidakpastian.
Di situlah makna “courage” dalam
The Courage to Be Disliked:
bukan sekadar berani berbeda,
tetapi berani meninggalkan versi
diri yang lama meskipun versi itu
sudah terasa familiar.
