buku

Special Circumstances (Situasi Khusus)

Di bab terakhir ini, Jamie Glowacki
membahas berbagai situasi khusus
yang sering membuat orang tua ragu
untuk memulai potty training.
Setiap anak dan setiap keluarga unik,
dan tantangan yang muncul pun
berbeda-beda. Tapi Glowacki
meyakinkan bahwa prinsip-prinsip
dasar yang sudah diajarkan
di bab-bab sebelumnya tetap berlaku.
Hanya saja, penerapannya perlu
disesuaikan dengan keadaan
masing-masing.

Anak Berkebutuhan Khusus

Glowacki memahami bahwa orang tua
dari anak berkebutuhan khusus
sering kali merasa potty training
adalah gunung yang tidak mungkin
didaki. Kekhawatiran ini wajar, tapi
Glowacki menegaskan bahwa
anak-anak ini tetap bisa diajari,
hanya saja membutuhkan pendekatan
yang lebih sabar dan waktu yang lebih
lama.

Prinsip Blok 1, 2, dan selanjutnya tetap
berlaku. Yang berubah adalah
ekspektasi waktu. Jika anak lain
mungkin selesai dalam beberapa hari,
anak dengan keterlambatan
perkembangan mungkin membutuhkan
waktu berminggu-minggu atau bahkan
berbulan-bulan di setiap fasenya.
Tidak apa-apa. Kecepatan bukanlah
ukuran keberhasilan. Konsistensi dan
ketenangan Andalah yang paling
penting.

Glowacki menyarankan untuk
memecah setiap langkah menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil.
Jika seorang anak kesulitan mengenali
isyarat tubuhnya, Anda mungkin perlu
lebih sering membawanya ke pispot,
sambil terus-menerus memberi label
pada sensasi yang mereka rasakan.
Jika komunikasi adalah hambatan,
gunakan isyarat visual.
Gambar, kartu, atau bahasa tubuh
bisa menjadi jembatan. Kesabaran
adalah kunci. Rayakan setiap
kemajuan sekecil apa pun.

Anak Kembar

Melatih dua anak sekaligus terdengar
seperti mimpi buruk, tapi Glowacki
justru melihatnya sebagai peluang.
Prinsipnya tetap sama, tapi Anda
harus menyesuaikan ekspektasi
dan logistik Anda.

Pertama, Glowacki menyarankan
untuk memperlakukan anak kembar
sebagai dua individu yang berbeda.
Mereka mungkin tidak akan siap
di waktu yang sama, dan hampir
pasti tidak akan maju dengan
kecepatan yang sama.
Jangan membandingkan mereka.
Jangan memaksa yang satu untuk
mengikuti yang lain. Jika yang satu
sudah siap duluan, latihlah dia.
Jika yang lain masih perlu waktu,
tunggulah.

Kedua, siapkan dua pispot. Ini penting.
Dua anak yang sama-sama belajar
tidak bisa berbagi satu pispot. Saat
satu anak sedang duduk dan
menunggu, yang lain mungkin juga
ingin. Anda tidak ingin momen
kebelet berubah menjadi pertengkaran.

Ketiga, Anda akan membutuhkan lebih
banyak tenaga. Jika memungkinkan,
mintalah bantuan pasangan atau
anggota keluarga lain selama beberapa
hari pertama. Dengan dua anak, akan
ada dua kali lipat kecelakaan, dua kali
lipat cucian, dan dua kali lipat godaan
untuk menyerah. Tapi dengan
persiapan yang matang, Anda bisa
melakukannya.

Tempat Penitipan Anak
(Daycare)

Ini adalah salah satu tantangan
terbesar, karena Anda tidak bisa
mengontrol lingkungan tempat anak
Anda menghabiskan sebagian besar
waktunya. Tapi Glowacki bersikeras
bahwa tempat penitipan anak tidak
boleh menjadi penghalang.

Kuncinya adalah komunikasi dan
konsistensi
. Sebelum Anda
memulai potty training di rumah,
bicaralah dengan pengasuh di tempat
penitipan anak. Jelaskan metode
yang akan Anda gunakan. Tanyakan
apakah mereka bisa mendukungnya.
Banyak tempat penitipan anak yang
sudah terbiasa dengan potty training
dan memiliki prosedur sendiri. Tapi
Anda perlu memastikan bahwa apa
yang mereka lakukan konsisten
dengan apa yang Anda lakukan
di rumah.

Glowacki menyarankan agar Anda
sudah menyelesaikan setidaknya
Blok 1 dan mulai memasuki
Blok 2 sebelum anak kembali
ke tempat penitipan anak. Artinya,
anak sudah memiliki pemahaman
dasar tentang sensasi dan tindakan.
Saat mereka kembali ke daycare,
kirimkan mereka dengan celana
longgar tanpa celana dalam. Beri
pengasuh persediaan pakaian ganti
yang banyak. Jelaskan teknik
prompting yang Anda gunakan, dan
minta mereka untuk tidak bertanya
“Mau pipis?” tapi menggunakan
kalimat pernyataan.

Jika tempat penitipan anak tidak
kooperatif atau bersikeras
menggunakan popok, Anda mungkin
perlu menunda potty training sampai
anak pindah ke tempat yang lebih
mendukung, atau melakukannya saat
liburan panjang ketika Anda memiliki
waktu penuh bersama anak.

Potty Training di Rumah
Minimalis atau Apartemen

Glowacki menutup buku ini dengan
membahas situasi yang semakin
relevan: potty training di ruang
yang kecil. Banyak orang tua
khawatir bahwa tinggal di apartemen
atau rumah minimalis akan membuat
potty training lebih sulit. Glowacki
berpendapat sebaliknya. Ruang yang
kecil sebenarnya bisa menjadi
keuntungan. Anda bisa melihat anak
Anda dari hampir semua sudut.
Jarak ke pispot lebih pendek.
Tidak ada tangga atau lorong panjang
yang harus ditempuh saat anak kebelet.

Prinsipnya tetap sama. Siapkan pispot
di ruangan tempat Anda menghabiskan
waktu. Karena ruang Anda terbatas,
pispot akan selalu terlihat dan selalu
dekat. Ini membantu anak untuk
selalu ingat.

Satu-satunya penyesuaian yang perlu
dilakukan adalah pada mental Anda.
Di ruang kecil, kecelakaan terasa
lebih dekat dan lebih mengganggu.
Pipis di lantai ruang tamu yang juga
berfungsi sebagai ruang bermain dan
ruang makan mungkin terasa lebih
menjijikkan. Glowacki mengingatkan
kembali pelajaran dari Bab 8: obsesi
pada kebersihan adalah musuh.
Terimalah bahwa ruang Anda akan
kotor untuk sementara waktu.
Bersihkan dengan cepat, dan lanjutkan.

Glowacki mengakhiri buku ini dengan
kembali ke inti dari seluruh ajarannya.
Di mana pun Anda tinggal, apa pun
situasi khusus Anda, keberhasilan
potty training tidak bergantung pada
keadaan eksternal. Ia bergantung pada
Anda. Pada kesiapan mental Anda,
pada ketenangan Anda, dan pada
kepercayaan Anda kepada anak Anda.
Prinsip-prinsipnya bersifat universal.
Anda hanya perlu menerapkannya
dengan cinta, kesabaran, dan keyakinan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita udah sampai di bab
pamungkas dari buku 
Oh Crap!
Potty Training
. Di Bab 10 ini, Jamie
Glowacki kayak ngumpulin semua
“PR” spesial yang sering bikin lo galau
buat mulai. Lo mungkin ngerasa
punya kasus unik, jadi ragu. Tapi dia
meyakinkan, prinsip dasarnya tetep
berlaku, cuma caranya aja yang lo
sesuaikan.

Anak Berkebutuhan Khusus:
Sabar Dobel, Bukan Berarti
Nggak Bisa

Lo pasti khawatir banget kalau punya
anak spesial. Glowacki paham itu.
Tapi dia bilang, mereka tetep bisa
diajarin. Kuncinya cuma satu:
sabar yang berlapis-lapis.
Prinsip Blok 1, 2, dan seterusnya
masih sama persis. Yang beda cuma
ekspektasi waktu lo.
Kalau anak lain bisa selesai dalam
beberapa hari, anak dengan
keterlambatan perkembangan
mungkin butuh waktu
berminggu-minggu atau bahkan
berbulan-bulan di tiap fasenya.
Dan itu bukan masalah, gaes.
Kecepatan bukan ukuran sukses.
Ketenangan dan konsistensi lo
yang utama.

Lo harus pinter-pinter mecah
langkahnya jadi lebih kecil. Kalau
dia susah ngenalin isyarat tubuhnya,
lo harus lebih sering bawa dia
ke pispot, sambil terus-terusan
ngasih label, “Nah, itu perut kamu
rasanya penuh ya, itu tandanya mau
pup.” Kalau komunikasi jadi
hambatan, pake gambar, kartu, atau
bahasa tubuh. Yang penting,
rayakan setiap kemajuan
sekecil apa pun.
 Senyum dikit
aja udah sukses.

Anak Kembar:
Jangan Dibandingin,
Siapin Tenaga Dobel

Ngajarin dua anak sekaligus?
Kedengerannya kayak misi mustahil.
Tapi Glowacki malah ngeliatnya
sebagai peluang. Aturan mainnya
tetep sama, cuma lo harus pinter
ngatur strategi. Yang paling penting:
jangan pernah lo bandingin
mereka.
 Mereka itu dua individu
beda yang kebetulan lahir bareng.
Mereka hampir pasti nggak bakal
siap di waktu yang sama, dan bakal
maju dengan kecepatan beda.
Satu udah siap? Latih duluan aja.
Satunya masih mau main? Ya udah,
tunggu. Jangan dipaksa.

Terus, lo wajib siapin dua pispot.
Ini wajib hukumnya. Bayangin pas
satu anak lagi duduk, yang satu
tiba-tiba juga pengen. Lo nggak mau
drama kebelet berubah jadi perang
rebutan pispot. Lo juga bakal butuh
tenaga ekstra, jadi kalau bisa minta
bantuan pasangan. Siap-siap aja
cucian dobel, ompol dobel, tapi
dengan persiapan matang, lo pasti bisa.

Tempat Penitipan Anak (Daycare):
Komunikasi Itu Senjata Lo

Ini salah satu tantangan paling gede
karena lo nggak bisa ngontrol
lingkungan. Tapi Glowacki tegas,
daycare bukan penghalang. Kuncinya
komunikasi dan konsistensi.

Sebelum lo mulai di rumah, lo wajib
ngobrol dulu sama pengasuhnya.
Jelasin metode lo, tanya apakah
mereka bisa dukung. Lo harus pastiin
apa yang mereka lakuin nggak bentrok
sama yang lo lakuin. Glowacki nyaranin,
anak lo sebaiknya udah lolos Blok 1 dan
mulai masuk Blok 2 sebelum balik
ke daycare. Jadi dia udah punya bekal
pemahaman dasar.

Pas balik ke daycare, kirim dia pake
celana longgar tanpa celana dalam.
Bekali pengasuh dengan stok baju
ganti seabrek. Jelasin teknik
prompting lo, dan tekankan:
jangan pernah nanya
“Mau pipis?”, tapi pake kalimat
pernyataan.
 Kalau daycare-nya
nggak supportif atau maksa pake
popok? Lo mungkin perlu tunda
sampe libur panjang, atau cari
tempat yang lebih mendukung.
Intinya, lo yang pegang kendali.

Rumah Mungil atau Apartemen:
Justru Keuntungan!

Ini nih yang sering bikin lo khawatir,
takut tinggal di ruang kecil malah
bikin ribet. Glowacki malah bilang,
ruang kecil itu 
keuntungan.
Seriusan. Di apartemen, lo bisa
ngeliat anak lo dari hampir semua
sudut. Jarak ke pispot juga pendek
banget. Nggak ada drama lari-lari
jauh pas kebelet. Pispot tinggal
taro di ruangan tempat lo ngabisin
waktu, pasti selalu deket.

Satu-satunya yang perlu lo
sesuaikan cuma mental lo.
Di ruang kecil, ompol di lantai ruang
tamu yang juga jadi ruang main,
ya pasti rasanya lebih deket dan lebih
ngeganggu. Inget lagi pelajaran soal
obsesi kebersihan: terima aja dulu
bakal kotor bentar. Lap cepet,
lanjutin. Udah.

Glowacki nutup bukunya dengan
ngingetin lo lagi ke inti ajarannya.
Di mana pun lo tinggal, apa pun
situasi lo, keberhasilan potty training
nggak bergantung sama keadaan luar.
Tapi 
bergantung sama lo. Kesiapan
mental lo, ketenangan lo, dan
kepercayaan lo ke anak. Prinsipnya
universal. Tinggal lo terapin dengan
cinta, sabar, dan yakin. Lo pasti
bisa, gaes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *