buku

The Psychology of Potty Training (Psikologi dalam Toilet Training)

Di bab ini, Jamie Glowacki membalik
kamera. Selama ini, fokusnya adalah
pada anak. Tapi sekarang,
ia mengarahkan lensanya kepada
orang tua. Glowacki berpendapat
bahwa banyak kegagalan potty
training sebenarnya bukan disebabkan
oleh anak yang tidak siap atau keras
kepala. Kegagalan itu disebabkan oleh
blok emosional orang tua sendiri.
Tanpa disadari, orang tua membawa
beban psikologis mereka sendiri
ke dalam proses ini, dan beban itu
menular kepada anak.

Glowacki mengajak orang tua untuk
jujur memeriksa diri sendiri.
Apa yang sebenarnya menghambat
Anda?
Apakah Anda takut rumah menjadi
kotor?
Apakah Anda merasa bersalah karena
“memaksa” anak?
Apakah Anda khawatir anak akan
trauma?
Apakah Anda terlalu ingin
mengendalikan segalanya?
Semua perasaan ini adalah blok yang
harus diatasi terlebih dahulu sebelum
Anda bisa memimpin anak Anda
dengan efektif.

Obsesi pada Kebersihan

Hambatan pertama yang dibahas
Glowacki adalah obsesi pada
kebersihan. Beberapa orang tua
memiliki standar kebersihan yang
sangat tinggi. Mereka tidak tahan
melihat lantai kotor. Mereka panik
saat ada genangan pipis di karpet.
Mereka terus-menerus mengepel
dan menyemprotkan cairan
pembersih.

Glowacki jujur mengatakan bahwa
potty training itu kotor. Akan ada
kecelakaan. Akan ada pipis di lantai.
Akan ada pup yang mungkin tidak
tepat sasaran. Jika Anda tidak bisa
menerima kenyataan ini, Anda akan
stres setiap kali kecelakaan terjadi.
Dan stres Anda akan terpancar
kepada anak Anda. Anak Anda akan
merasa bahwa mereka telah
melakukan sesuatu yang sangat
salah. Mereka akan merasa bahwa
pipis adalah sesuatu yang memalukan
dan menjijikkan. Ini menciptakan
ketegangan yang justru membuat
mereka semakin sulit untuk buang
air dengan rileks.

Solusinya sederhana. Terimalah
bahwa rumah Anda akan kotor untuk
sementara waktu. Ini hanya
sementara. Beberapa minggu
kekacauan tidak sebanding dengan
manfaat jangka panjangnya.
Siapkan cairan pembersih dan kain
lap di tempat yang mudah dijangkau.
Saat kecelakaan terjadi, bersihkan
dengan cepat dan tanpa drama.
Jangan menghela napas panjang.
Jangan memutar mata. Cukup
bersihkan dan lanjutkan.

Rasa Bersalah

Hambatan kedua adalah rasa bersalah.
Banyak orang tua merasa bersalah
karena mereka pikir mereka sedang
“memaksa” anak mereka. Mereka
melihat anak mereka menangis atau
menolak, dan hati mereka hancur.
Mereka berpikir,
“Aku adalah orang tua yang jahat.
Aku seharusnya menunggu sampai
dia siap.”

Glowacki membantah keras pikiran
ini. Ia mengingatkan orang tua
bahwa mengajari anak menggunakan
toilet bukanlah pemaksaan. Ini adalah
pengajaran keterampilan hidup
yang penting
. Apakah Anda merasa
bersalah saat mengajari anak Anda
makan dengan sendok?
Apakah Anda merasa bersalah saat
mengajari anak Anda menggosok
gigi?
Tentu tidak. Potty training sama
persis. Anda mengajari anak Anda
keterampilan dasar yang dibutuhkan
untuk hidup mandiri. Itu adalah
tugas Anda sebagai orang tua. Itu
bukanlah kekejaman. Itu adalah
kasih sayang.

Glowacki juga mengingatkan bahwa
anak-anak menangis karena berbagai
alasan. Mereka menangis saat tidak
boleh makan permen sebelum makan
malam. Mereka menangis saat harus
mandi. Mereka menangis saat harus
tidur siang. Tangisan tidak selalu
berarti trauma. Seringkali, itu hanya
berarti bahwa anak tidak suka
perubahan atau tidak suka diberi tahu
apa yang harus dilakukan. Jika Anda
menyerah setiap kali anak Anda
menangis, Anda tidak akan pernah
bisa mengajari mereka apa pun.

Ketakutan Anak Trauma

Hambatan ketiga terkait dengan rasa
bersalah. Banyak orang tua modern
yang sangat khawatir tentang
“trauma psikologis”. Mereka takut
bahwa potty training yang terlalu dini
atau terlalu tegas akan meninggalkan
luka psikologis yang terbawa sampai
dewasa. Mereka membaca artikel
di internet tentang bahaya memaksa
anak. Mereka mendengar cerita
tentang orang dewasa yang punya
masalah karena potty training yang
buruk.

Glowacki menangani ketakutan ini
dengan sangat langsung.
Potty training tidak akan membuat
anak Anda trauma. Yang membuat
anak trauma adalah 
cara Anda
melakukannya
. Jika Anda
berteriak, menghukum,
mempermalukan, atau memaksa
secara fisik, itu bisa menyebabkan
trauma. Tapi jika Anda tenang,
konsisten, penuh kasih sayang, dan
tegas dengan cara yang lembut,
potty training adalah pengalaman
yang positif.

Faktanya, Glowacki berpendapat
bahwa menunda potty training terlalu
lama justru bisa lebih merusak. Anak
berusia empat tahun yang masih
memakai popok akan merasa malu
di depan teman-temannya. Mereka
akan diejek. Mereka akan merasa ada
yang salah dengan diri mereka. Potty
training yang dilakukan pada waktu
yang tepat, dengan cara yang benar,
sebenarnya adalah hadiah yang Anda
berikan kepada anak Anda. Anda
memberi mereka kepercayaan diri
dan kemandirian.

Ketidakmampuan Melepaskan
Kendali

Hambatan keempat adalah keinginan
untuk mengendalikan segalanya.
Beberapa orang tua adalah tipe yang
sangat teratur dan terjadwal. Mereka
ingin semuanya berjalan sesuai
rencana. Mereka ingin anak mereka
pipis tepat waktu, di tempat yang
tepat, tanpa kecelakaan.

Masalahnya, potty training tidak bisa
dikendalikan seperti itu. Anda tidak
bisa mengendalikan kapan anak Anda
merasa ingin pipis. Anda tidak bisa
mengendalikan kapan tubuh mereka
siap. Glowacki dengan tajam
menunjukkan bahwa 
potty training
bukan tentang kontrol orang tua.
Potty training adalah tentang
memberi anak otonomi bertahap
atas tubuh mereka sendiri.

Ini adalah pergeseran pola pikir yang
sangat penting. Tujuan akhir potty
training adalah anak yang mandiri,
yang bisa pergi ke toilet sendiri tanpa
bantuan atau perintah dari Anda.
Jadi, sejak awal, Anda harus mulai
melepaskan kendali. Tugas Anda
adalah mengajarkan keterampilan
dan menyediakan lingkungan yang
mendukung. Tapi keputusan untuk
pergi ke toilet harus datang dari
anak itu sendiri.

Jika Anda terlalu mengontrol dan
terus-menerus memerintahkan anak
untuk pergi ke pispot, anak Anda
akan melawan. Mereka akan merasa
bahwa toilet adalah medan perang
antara keinginan Anda dan keinginan
mereka. Mereka akan menggunakan
penolakan ke toilet sebagai senjata
untuk menegaskan kemerdekaan
mereka. Ini adalah bumerang.
Semakin keras Anda mendorong,
semakin keras mereka melawan.

Solusinya adalah melepaskan.
Beri anak Anda informasi dan
kepercayaan. Biarkan mereka mulai
mengenali sinyal tubuh mereka
sendiri. Biarkan mereka membuat
keputusan untuk pergi ke pispot.
Tentu saja, di fase awal, Anda akan
banyak membantu dan mengingatkan.
Tapi seiring waktu, lepaskan secara
bertahap. Percayalah bahwa anak
Anda mampu.

Memeriksa Ekspektasi dan
Belajar Mempercayai Anak

Glowacki menutup bab ini dengan
dua ajakan. Pertama, periksalah
ekspektasi Anda. Banyak orang tua
yang kecewa dan marah karena
ekspektasi mereka tidak realistis.
Mereka berharap potty training
selesai dalam tiga hari tanpa
kecelakaan. Mereka berharap anak
mereka tidak akan pernah menolak.
Mereka berharap semuanya berjalan
mulus. Ketika kenyataan tidak sesuai
harapan, mereka frustrasi.
Dan frustrasi ini menular kepada
anak.

Terimalah bahwa potty training adalah
proses. Ia memiliki pasang surut. Akan
ada hari-hari yang baik dan hari-hari
yang buruk. Akan ada kemajuan dan
kemunduran. Ini semua normal.
Santai saja. Nikmati prosesnya. Anak
Anda bukan robot. Mereka adalah
manusia kecil yang sedang belajar.

Kedua, belajarlah mempercayai anak
Anda. Anak Anda tidak ingin
selamanya memakai popok. Mereka
tidak ingin menjadi satu-satunya
anak di sekolah yang masih ngompol.
Mereka ingin tumbuh dan menjadi
mandiri. Percayalah pada dorongan
alami ini. Percayalah pada
kemampuan anak Anda untuk belajar.
Ketika Anda percaya pada mereka,
mereka akan merasakannya. Mereka
akan merasa didukung, bukan ditekan.
Dan dari perasaan aman itulah
kemajuan sejati muncul.

Glowacki mengakhiri bab ini dengan
pengingat yang kuat. Potty training
bukanlah pertempuran. Ia adalah
tarian. Sebuah tarian antara
bimbingan orang tua dan
kemandirian anak. Antara struktur
dan kebebasan. Antara memimpin
dan melepaskan. Jika Anda bisa
menemukan keseimbangan ini,
potty training tidak hanya akan
berhasil. Ia akan menjadi salah satu
pengalaman paling berharga yang
Anda bagikan dengan anak Anda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kita lanjut ke Bab 8 dari buku
Oh Crap! Potty Training. Di sini,
Jamie Glowacki puter balik kamera.
Kalau sebelumnya fokusnya ke anak
terus, sekarang lo sebagai orang tua
yang jadi sorotan. Dia bilang, banyak
kegagalan potty training tuh
sebenernya bukan gara-gara si kecil,
tapi gara-gara 
lo sendiri yang
punya “blok” emosional
. Tanpa
sadar, lo bawa beban psikologis lo
ke proses ini, dan beban itu nular
ke anak.

Glowacki ngajak lo buat jujur sama
diri sendiri. Coba cek, apa sih yang
sebenernya ngehambat lo?
Takut rumah jadi kotor?
Ngerasa bersalah karena kayak
“maksa” anak?
Khawatir anak jadi trauma?
Atau lo terlalu pengen ngontrol
semuanya?
Nah, perasaan-perasaan kayak gini
yang harus lo beresin dulu, sebelum
lo bisa mimpin si kecil dengan efektif.

Obsesi Kebersihan. Ini hambatan
pertama. Beberapa orang tua punya
standar kebersihan yang tinggi banget,
nggak tahan ngeliat lantai kotor,
panik pas ada genangan pipis
di karpet. Glowacki jujur, potty
training itu kotor. Akan ada
kecelakaan, pipis di lantai, pup yang
mungkin meleset. Kalau lo nggak bisa
terima ini, lo bakal stres tiap kali ada
insiden. Stres lo itu bakal kerasa
ke anak, bikin mereka ngerasa
bersalah dan ngerasa pipis itu
menjijikkan. Solusinya gampang:
terima aja dulu kalau rumah lo bakal
kayak kapal pecah. Ini cuma
sementara. Siapin lap dan cairan
pembersih di tempat gampang.
Pas kejadian, bersihin aja cepet,
tanpa drama, tanpa ngelus dada.

Rasa Bersalah. Banyak yang
ngerasa jadi “orang tua jahat” pas
ngeliat anaknya nangis atau nolak.
Hati lo hancur, trus lo pikir,
“Harusnya gue nunggu dia siap.”
Glowacki tegas ngebantah ini.
Mengajari anak pake toilet itu bukan
pemaksaan, itu pengajaran skill
hidup yang penting. Lo merasa
bersalah pas ngajarin anak pake
sendok? Atau sikat gigi? Nggak, kan?
Nah, ini sama persis. Itu tugas lo,
dan itu bentuk kasih sayang, bukan
kekejaman. Anak-anak nangis itu
karena banyak hal, gaes. Nangis pas
dilarang makan permen, pas disuruh
mandi. Tangisan belum tentu
trauma, seringnya cuma karena dia
nggak suka perubahan. Kalau lo
nyerah tiap kali dia nangis, lo nggak
akan bisa ngajarin dia apa-apa.

Ketakutan Anak Trauma.
Ini masih nyambung. Banyak orang
tua jaman sekarang yang parno
banget soal “trauma psikologis”
gara-gara kebanyakan baca artikel.
Takut kalau potty training yang
tegas bakal ninggalin luka. Glowacki
nanggepin langsung: potty training itu
nggak bikin anak trauma. Yang bikin
trauma itu 
cara lo. Kalau lo teriak,
hukum, maloin, atau maksa fisik, iya,
itu bisa bikin trauma. Tapi kalau lo
tenang, konsisten, sayang, dan tegas
dengan lembut, proses ini justru
positif. Malahan, nunda-nunda potty
training juga bisa berbahaya.
Bayangin anak umur 4 tahun masih
pake popok, bisa malu diejek temen.
Potty training di waktu yang tepat
dengan cara benar adalah hadiah
buat anak lo, ngasih mereka pede
dan mandiri.

Ketidakmampuan Melepaskan
Kendali.
 Ini cocok buat lo yang
suka segala sesuatu harus rapi dan
sesuai jadwal. Masalahnya, lo nggak
bisa ngontrol kapan anak lo pengen
pipis. Glowacki ngingetin, potty
training itu bukan soal kontrol
orang tua. Ini soal ngasih anak
otonomi bertahap atas tubuhnya
sendiri. Tujuan akhirnya kan anak
yang mandiri, pergi ke toilet sendiri
tanpa lo suruh. Jadi, sejak awal lo
harus belajar lepas kendali. Tugas
lo ngajarin skill dan nyiapin
lingkungan, tapi keputusan buat
ke toilet harus datang dari dia.
Kalau lo terlalu ngatur dan maksa,
anak bakal ngelawan. Toilet malah
jadi ajang perang. Solusinya,
lepaskan pelan-pelan. Kasih dia info
dan kepercayaan, biarin dia ngenalin
sinyal tubuhnya sendiri.

Glowacki nutup bab ini dengan dua
ajakan. Pertama, 
cek ekspektasi lo.
Banyak yang kecewa karena maunya
instan, tiga hari beres, nggak boleh
ada penolakan. Kenyataannya,
proses ini naik-turun. Terima aja,
santai. Kedua, 
belajar percaya
sama anak lo
. Mereka nggak mau
selamanya pake popok, mereka
pengen gede dan mandiri. Percaya
sama dorongan alami ini. Pas lo
percaya, mereka bakal ngerasa
didukung, bukan ditekan.

Glowacki mengakhiri dengan indah:
potty training itu bukan
pertempuran, tapi sebuah tarian.
Tarian antara bimbingan lo dan
kemandirian anak. Kalau lo bisa
nemuin keseimbangan ini, proses
ini nggak cuma sukses, tapi jadi
salah satu pengalaman paling
berharga antara lo dan si kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *