Buku The Courage to Be Disliked Ichiro Kishimi, Fumitake Koga, Percakapan yang Mengubah Cara Pandang

Ichiro Kishimi, Fumitake Koga
Alih-alih berbentuk teori akademik
yang kaku, buku ini ditulis sebagai
dialog. Seorang pemuda datang
dengan sikap skeptis. Ia percaya
bahwa hidup manusia dibentuk oleh
pengalaman masa lalu, luka batin,
dan trauma. Filsuf yang menjadi
lawan bicaranya menantang
keyakinan tersebut.
Melalui percakapan yang tajam,
filsuf menjelaskan bahwa setiap
individu mampu menentukan
hidupnya sendiri, bebas dari
belenggu pengalaman masa lalu,
keraguan, dan ekspektasi orang lain.
Dialog ini bukan sekadar debat
intelektual, tetapi proses
pembongkaran cara berpikir yang
selama ini kita anggap benar.
Pendekatan ini terasa berbeda dari
psikologi populer yang sering kita
temui di media. Tidak ada glorifikasi
trauma. Tidak ada dorongan untuk
terus-menerus menyalahkan masa
lalu. Yang ada adalah dorongan untuk
mengambil tanggung jawab penuh
atas hidup sendiri.
Alfred Adler dan Penolakan
terhadap Determinisme
Selama puluhan tahun, banyak orang
percaya bahwa masalah psikologis
selalu berakar pada trauma masa
kecil. Jika seseorang menjadi tertutup,
pasti ada pengalaman pahit di masa
lalu. Jika seseorang gagal
bersosialisasi, pasti ia pernah disakiti.
Cara berpikir ini terlihat masuk akal.
Namun menurut Adler, pendekatan
deterministik semacam itu terlalu
sederhana.
Adler menolak gagasan bahwa
manusia adalah produk pasif dari
masa lalu. Ia percaya bahwa manusia
adalah agen aktif yang mampu
memilih respons terhadap pengalaman
hidupnya. Trauma tidak secara
otomatis menentukan masa depan.
Dua orang dengan pengalaman serupa
bisa menjalani hidup yang sangat
berbeda.
Dengan kata lain, masa lalu memang
ada, tetapi ia tidak mengendalikan
kita.
Contoh Sang Penyendiri
Bayangkan seseorang yang
mengurung diri seumur hidup
di apartemennya dan menolak
berinteraksi dengan dunia luar.
Secara naluriah kita mungkin
menyimpulkan bahwa ia pasti
mengalami trauma berat. Mungkin ia
pernah disakiti, dipermalukan, atau
mengalami kegagalan besar.
Namun Adler menawarkan
kemungkinan lain: bagaimana
jika ia memilih untuk hidup
seperti itu?
Bagaimana jika kecemasannya
bukanlah penyebab utama, melainkan
konsekuensi dari keinginannya untuk
tetap berada di dalam ruang aman?
Dengan kata lain, perilaku itu bisa
menjadi pilihan, bukan akibat tak
terhindarkan dari masa lalu.
Pandangan ini mengguncang, karena
ia memindahkan tanggung jawab
dari masa lalu ke diri kita sendiri
saat ini.
Perubahan Selalu Mungkin
Kita cenderung percaya bahwa masa
lalu menentukan masa depan. Anak
yang dibully akan tumbuh menjadi
orang dewasa yang canggung. Anak
yang dimanjakan akan menjadi
pribadi lemah. Narasi seperti ini
begitu umum hingga jarang
dipertanyakan.
Namun menurut Adler, perubahan
selalu mungkin.
Tidak semua anak yang mengalami
kekerasan tumbuh menjadi individu
yang gagal berfungsi dalam
masyarakat. Tidak semua anak
manja menjadi orang dewasa yang
tidak mampu menghadapi
kenyataan. Setiap individu memiliki
kebebasan untuk memilih arah
hidupnya.
Gagasan ini memberi harapan,
tetapi sekaligus menuntut tanggung
jawab. Jika perubahan selalu
mungkin, maka alasan untuk tidak
berubah pun semakin sulit
dibenarkan.
Mental Health dan Cara
Pandang Baru
Dalam beberapa dekade terakhir,
perhatian terhadap kesehatan
mental meningkat pesat, terutama
di dunia Barat. Masalah psikologis
kini menjadi topik penting yang
dibicarakan secara terbuka. Kita
semakin sadar akan dampaknya
terhadap masyarakat.
Namun topik ini tetap kompleks.
Masih ada banyak intoleransi dan
kesalahpahaman. Pendekatan
populer sering kali terlalu
menyederhanakan: semua kembali
pada trauma, semua kembali pada
luka masa kecil.
The Courage to Be Disliked
menawarkan pendekatan berbeda.
Ia tidak menolak pentingnya
pengalaman masa lalu, tetapi
menolak menjadikannya penentu
tunggal. Adler mengingatkan
bahwa manusia bukan korban
pasif keadaan. Kita memiliki
kapasitas untuk memilih.
Pendekatan ini terasa membebaskan
karena tidak memposisikan kita
sebagai produk sejarah pribadi,
melainkan sebagai pencipta masa
depan.
Menjadi Agen Aktif dalam
Hidup Sendiri
Salah satu pesan terpenting dalam
buku ini adalah bahwa kita perlu
menjadi agen aktif. Hidup bukan
sesuatu yang “terjadi” pada kita.
Hidup adalah sesuatu yang kita
jalani melalui pilihan.
Gagasan ini mungkin terdengar
sederhana, tetapi implikasinya
sangat besar. Jika kita benar-benar
bebas, maka kita juga harus berani
menghadapi konsekuensi dari
pilihan kita. Kita tidak lagi bisa
sepenuhnya menyalahkan orang
tua, lingkungan, atau masa lalu.
Keberanian untuk tidak disukai
lahir dari kesadaran bahwa kita
tidak hidup untuk memenuhi
ekspektasi orang lain. Kita hidup
berdasarkan pilihan kita sendiri.
Keberanian untuk Mengabaikan
Batasan
Sering kali, batasan terbesar bukan
berasal dari dunia luar, tetapi dari
keyakinan yang kita tanam sendiri.
Kita merasa tidak mampu karena
pernah gagal. Kita merasa tidak
layak karena pernah ditolak.
Adler menunjukkan bahwa
batasan-batasan tersebut tidak
mutlak. Kita lebih terbuka dan
lebih fleksibel daripada yang kita
kira. Cara pandang kita bisa
berubah, dan bersama itu, hidup
kita pun berubah.
Keberanian untuk berubah sering
kali berarti keberanian untuk tidak
disukai. Ketika kita berhenti
mengikuti ekspektasi orang lain,
sebagian orang mungkin tidak
nyaman. Namun justru di situlah
kebebasan dimulai.
Mengapa Buku Ini Relevan
Hari Ini
Walaupun teori Adler sudah berusia
lebih dari satu abad, gagasannya
terasa sangat relevan. Di tengah
budaya yang sering menekankan
trauma dan identitas masa lalu,
buku ini mengingatkan bahwa masa
depan tetap terbuka.
Ia mengajak kita melihat ulang
asumsi yang selama ini kita pegang.
Apakah kita benar-benar terikat oleh
pengalaman lama? Atau kita
menggunakan pengalaman itu
sebagai alasan untuk tidak berubah?
The Courage to Be Disliked bukan
sekadar buku psikologi. Ia adalah
undangan untuk mengambil kembali
kendali atas hidup sendiri.
Ia menantang kita untuk berhenti
menjadi korban cerita lama dan
mulai menulis cerita baru.
Dan mungkin, perubahan itu dimulai
dari satu keputusan sederhana:
berani memilih, meski pilihan itu
membuat kita tidak disukai.
1. Masa Lalu Tidak Menentukan
Masa Depan
Bayangkan dua orang sama-sama
pernah gagal ujian masuk kampus.
Yang pertama berkata,
“Aku memang bodoh dari dulu,”
lalu berhenti mencoba.
Yang kedua berkata,
“Oke, aku gagal. Berarti aku harus
belajar dengan cara berbeda,”
lalu mencoba lagi tahun depan.
Pengalamannya sama.
Hasil hidupnya berbeda.
Bukan karena masa lalu mereka
berbeda, tapi karena pilihan
sikap mereka berbeda.
2. Trauma Bukan Selalu
Penyebab Utama
Misalnya ada orang yang jarang
keluar rumah dan bilang,
“Aku begini karena dulu pernah
dipermalukan.”
Itu bisa saja benar.
Tapi menurut Adler, bisa juga ia
tetap memilih di rumah karena
di situ ia merasa aman dan tidak
perlu menghadapi risiko ditolak lagi.
Artinya, bukan masa lalu yang
“memaksa”, melainkan ada pilihan
yang terus dipertahankan.
Ini memang tidak nyaman untuk
diakui, tapi di situlah letak
tanggung jawab pribadi.
3. Tidak Semua Orang dengan
Pengalaman Sama Berakhir
Sama
Ada dua anak yang sama-sama
dibesarkan dalam keluarga keras.
Yang satu tumbuh menjadi
pribadi pemarah.
Yang satu lagi justru berkata,
“Aku tidak mau mengulang pola itu,”
lalu menjadi orang yang lembut
pada anaknya.
Kalau masa lalu benar-benar
menentukan, hasilnya pasti sama.
Nyatanya tidak.
4. Berani Tidak Disukai
Misalnya kamu menolak ajakan
nongkrong karena ingin fokus kerja.
Teman-teman bilang kamu berubah,
sombong, atau tidak asyik lagi.
Kalau kamu takut tidak disukai,
kamu akan ikut saja meski capek.
Tapi kalau kamu sadar hidupmu
adalah pilihanmu, kamu tetap
pada keputusanmu.
Sebagian orang mungkin tidak suka.
Tapi kamu hidup sesuai nilai yang
kamu pilih sendiri.
5. Berhenti Menyalahkan
Keadaan
Contoh sederhana:
Kamu ingin punya badan sehat, tapi
berkata, “Genetikku memang jelek.
Dari keluarga memang gemuk.”
Padahal kamu tetap bisa memilih
makan lebih teratur dan olahraga.
Genetik mungkin memengaruhi,
tapi keputusan harian tetap
di tanganmu.
Adler tidak bilang hidup itu mudah.
Ia hanya bilang kita bukan korban
pasif.
6. Hidup Itu Pilihan, Bukan Nasib
Sering kita berkata:
“Aku begini karena orang tuaku
seperti itu.”
“Aku tidak percaya diri karena
dulu sering diremehkan.”
Buku ini menantang kita bertanya:
Apakah itu sebab yang mutlak?
Atau itu alasan yang selama ini kita
pakai supaya tidak perlu berubah?
Intinya:
Kita memang punya masa lalu.
Tapi kita tidak wajib hidup
sesuai cerita lama itu.
Setiap hari, kita tetap memilih.
Dan terkadang, memilih jalan
sendiri berarti siap tidak disukai.
