Langkah Politik Setelah Deal Iskandar 2007
Setelah keberhasilan deal Iskandar
2007, Jho Low mulai mengalihkan
perhatiannya ke strategi politik.
Ia memahami bahwa kekuatan
finansial saja tidak cukup. Untuk
bergerak lebih jauh, ia
membutuhkan perlindungan dan
akses politik tingkat tinggi.
Dalam fase ini, Jho membentuk
aliansi strategis dengan seorang
bintang politik yang sedang naik
daun: Najib Razak. Jho melihat
Najib bukan sekadar politisi,
melainkan aset jangka panjang.
Ia mulai menanam investasi relasi,
membangun kedekatan, dan
menyiapkan diri untuk peran yang
lebih besar di masa depan.
Langkah ini menjadi fondasi dari
kekuatan baru yang kelak akan
membuka pintu lebih luas bagi
Jho Low.
Ambisi Mendirikan Sovereign
Wealth Fund
Di tengah posisinya yang masih
rapuh secara finansial setelah deal
Iskandar, Jho Low mulai menyusun
mimpi besar berikutnya:
menciptakan sovereign wealth
fund versinya sendiri. Inspirasi
utamanya datang dari Khaldoon
Khalifa al-Mubarak, sosok yang
ia kagumi karena kemampuannya
mengelola dana negara dan
memainkan peran besar dalam
investasi global.
Jho ingin bukan hanya menjadi
perantara deal, tetapi direktur
utama dari sebuah dana
raksasa. Masalahnya, rencana ini
membutuhkan modal sangat
besar, sementara Jho tidak
memilikinya.
Ia pun mulai mencari jawaban
di lingkaran kerajaan Malaysia.
Sultan Terengganu dan
Rencana Obligasi Minyak
Jawaban itu muncul melalui Sultan
Mizan Zainal Abidin, penguasa
negara bagian kaya minyak
Terengganu. Melalui koneksi
keluarga, Jho memperoleh
kesempatan untuk mengajukan
ide berani:
menggunakan pendapatan
minyak masa depan
Terengganu sebagai jaminan
untuk menggalang dana
di pasar internasional.
Awalnya, Sultan Mizen ragu
terhadap rencana tersebut. Skema
ini belum pernah dilakukan dalam
skala seperti yang ditawarkan Jho.
Untuk meyakinkan sang sultan,
Jho membawa masuk sosok
penting lain: Tim Leissner,
banker kelahiran Jerman dan figur
menonjol dari Goldman Sachs
Asia.
Kehadiran Tim Leissner memberi
bobot profesional pada proposal
tersebut. Akhirnya, Sultan Mizen
setuju memberi Jho kendali atas
1,4 miliar dolar obligasi yang
dijamin oleh pendapatan minyak
masa depan Terengganu.
Namun, secara tak terduga, Sultan
Mizen kemudian menarik
kembali dukungannya. Rencana
besar itu pun runtuh sebelum
benar-benar berjalan.
Bagi Jho, ini adalah pukulan berat.
Tetapi perubahan besar justru
datang dari arah lain: politik
nasional Malaysia.
Perubahan Peta Politik
Malaysia 2008–2009
Pada pemilu Malaysia tahun 2008,
partai United Malays National
Organization (UMNO)
mengalami pukulan tak terduga.
Banyak pemilih etnis India dan
Tionghoa beralih mendukung
People’s Justice Party.
Akibatnya, posisi politik lama goyah.
Situasi ini berujung pada pergantian
kepemimpinan.
Pada tahun 2009, Najib Razak
menggantikan Abdullah Ahmad
Badawi sebagai Perdana
Menteri Malaysia.
Bagi Jho Low, ini adalah momen
emas.
Aliansi yang selama ini ia bangun
dengan Najib akhirnya
membuahkan hasil nyata.
Aliansi yang Memberi
Kekuasaan Baru
Kini, Najib Razak memimpin
pemerintahan dan menghadapi
tantangan besar:
memulihkan popularitas
UMNO yang menurun.
Untuk itu, Najib membutuhkan
dukungan finansial besar.
Di sinilah posisi Jho Low berubah
drastis.
Ia kini memegang kunci
dukungan keuangan yang sangat
dibutuhkan Najib. Kedekatan
mereka memberi Jho kekuatan
dan leverage yang belum
pernah ia miliki sebelumnya.
Walaupun kondisi keuangannya
sendiri masih belum sepenuhnya
stabil, Jho telah menempatkan
dirinya di pusat kekuasaan politik
Malaysia. Ia tidak lagi sekadar
perantara transaksi. Ia telah
menjadi pemain strategis.
Dan dengan posisi baru ini, jalan
menuju proyek dana investasi
impiannya kembali terbuka.
Penutup: Kekuasaan Melalui
Politik
Setelah kegagalan rencana obligasi
Terengganu, Jho Low tidak runtuh.
Sebaliknya, ia bangkit dengan
strategi yang lebih tajam:
mengikat kekuasaan finansial
dengan kekuasaan politik.
Aliansinya dengan Najib Razak
menjadikannya figur kunci di balik
layar pemerintahan. Dari titik ini,
Jho Low tidak lagi mengejar deal
semata. Ia bersiap memasuki
panggung yang jauh lebih besar
panggung di mana uang negara,
kekuasaan politik, dan ambisi
pribadi akan bertemu.
Dan dari sinilah, bab berikutnya
dari kisah besar ini mulai terbentuk.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
1. Setelah Deal Iskandar: Dari
Jualan ke Masuk Lingkaran
Ketua RT
Bayangkan Jho Low seperti anak
muda yang baru saja sukses menjual
satu proyek besar di kampungnya.
Uangnya ada, namanya mulai
dikenal. Tapi ia sadar: kalau mau
bisnisnya makin besar, ia tidak
cukup hanya punya uang
ia harus dekat dengan
penguasa kampung.
Lalu ia mendekati seorang calon
ketua RT yang sedang naik daun:
Najib Razak.
Ia tidak langsung minta apa-apa.
Ia rajin nongkrong, bantu, jalin
kedekatan. Dalam pikirannya:
“Kalau dia nanti jadi ketua,
aku sudah di lingkaran dalam.”
Inilah awal fondasi kekuatan
Jho Low.
2. Mimpi Punya “Koperasi
Raksasa”
Setelah itu, Jho punya mimpi baru.
Ia ingin bukan cuma jadi makelar
jual-beli proyek, tapi ingin punya
lembaga keuangan sendiri
seperti koperasi raksasa yang
memegang uang banyak orang.
Ia terinspirasi dari seseorang yang
sukses mengelola uang besar.
Masalahnya sederhana: mimpi
besar, modal belum ada.
Maka ia mulai mencari orang
“berduit besar” yang bisa diajak
kerja sama.
3. Mendekati Sultan:
Menjaminkan Hasil Panen
Masa Depan
Ia lalu bertemu Sultan Mizan
Zainal Abidin, yang diibaratkan
seperti pemilik kebun kelapa sawit
terbesar di desa.
Jho datang membawa ide:
“Pak, bagaimana kalau kita pinjam
uang ke bank besar, tapi jaminannya
hasil panen kebun Bapak untuk
beberapa tahun ke depan?”
Awalnya sang Sultan ragu.
Belum pernah ada orang kampung
yang minjam uang sebesar itu
dengan jaminan panen masa depan.
Lalu Jho membawa temannya lagi:
Tim Leissner, seperti pegawai
bank kota yang berdasi rapi dan
terlihat profesional.
Akhirnya Sultan percaya.
Jho diberi kuasa mengelola
pinjaman besar itu.
Tapi sebelum benar-benar berjalan,
Sultan berubah pikiran dan
membatalkan semuanya.
Bagi Jho, ini seperti:
Sudah dapat janji modal besar,
tapi mendadak dibatalkan
sepihak.
4. Politik Nasional Berubah:
Ketua RT Naik Jadi Kepala
Desa
Di waktu bersamaan, terjadi
keributan politik di tingkat
kampung besar (negara).
Partai lama kehilangan banyak
dukungan.
Akhirnya, Najib Razak naik
jabatan menjadi Perdana
Menteri
ibarat ketua RT yang kini jadi
kepala desa.
Bagi Jho:
“Orang yang dulu aku dekati,
sekarang memegang kekuasaan
penuh.”
Ini momen emas.
5. Dari Anak Nongkrong Jadi
Orang Dalam Balai Desa
Sebagai kepala desa baru, Najib
butuh banyak dana untuk menjaga
dukungan warga.
Dan Jho muncul:
“Saya bisa bantu urusan dana.”
Sekarang posisinya berubah.
Ia bukan lagi anak muda biasa.
Ia jadi orang dalam balai desa,
tempat keputusan besar dibuat.
Walau uangnya sendiri belum
sepenuhnya kuat,
pengaruhnya sudah besar
karena dekat dengan penguasa.
Jalan menuju mimpi “koperasi
raksasa” pun terbuka lagi.
6. Penutup: Menggabungkan
Uang dan Kekuasaan
Setelah gagal pinjaman dari Sultan,
Jho tidak menyerah.
Ia sadar:
“Kalau mau benar-benar besar,
uang saja tidak cukup. Harus
gandeng kekuasaan.”
Aliansinya dengan Najib
membuatnya jadi pemain
penting di balik layar.
Mulai dari sini, Jho tidak lagi
sekadar pedagang proyek.
Ia masuk ke panggung yang
lebih besar
tempat uang negara, kekuasaan
politik, dan ambisi pribadi
bertemu.
Dan dari sinilah kisah besar
berikutnya dimulai.
