buku

Bab 2 Masa Kecil di Gurun

Cerita mundur sangat jauh
ke belakang. Jeannette membawa kita
ke masa ketika usianya baru tiga
tahun. Ini adalah salah satu kenangan
paling awal yang ia miliki, dan
kenangan ini sangat mengerikan.

Saat itu, keluarga Walls tinggal
di sebuah rumah trailer di Arizona.
Jeannette kecil berdiri di atas kursi
di depan kompor. Ia mengenakan
gaun merah muda yang sangat ia
sukai. Ibunya, Rose Mary, sedang
berada di ruangan lain, sibuk melukis.
Jeannette lapar. Ia ingin makan hot
dog. Tidak ada yang memasakkan
untuknya, jadi ia memutuskan untuk
memasaknya sendiri. Ia menyalakan
kompor. Ia mengambil hot dog dan
meletakkannya di atas api.

Tapi gaun merah mudanya yang
longgar menyentuh api kompor.
Dalam sekejap, gaun itu terbakar.
Api menjalar dengan cepat
ke seluruh tubuhnya. Jeannette kecil
menjerit kesakitan. Ibunya berlari
masuk, membungkusnya dengan
selimut, dan seorang tetangga
membawa mereka ke rumah sakit.

Jeannette mengalami luka bakar
yang sangat parah di sekujur
tubuhnya. Kulitnya melepuh.
Perban menutupi sebagian besar
tubuhnya. Ia harus tinggal
di rumah sakit selama beberapa
minggu. Dokter dan perawat
merawatnya dengan sangat baik.
Untuk pertama kalinya dalam
hidupnya, Jeannette kecil tidur
di ranjang yang bersih, makan
tiga kali sehari, dan merasa aman.

Tapi ayahnya, Rex, tidak suka dengan
rumah sakit. Ia tidak suka aturan.
Ia tidak suka dokter yang memberi
tahu apa yang harus dilakukan.
Ia tidak suka melihat anaknya terikat
oleh jadwal dan prosedur.
Maka suatu hari, Rex datang
ke rumah sakit. Ia mengatakan pada
Jeannette bahwa mereka akan pergi.
Ia menggendong Jeannette yang
masih diperban, berlari keluar dari
rumah sakit, dan melompat ke dalam
mobil. Mereka pergi tanpa izin dokter.
Mereka pergi tanpa membayar biaya
rumah sakit. Ini adalah “penculikan”
oleh ayahnya sendiri.

Bagaimana mungkin seorang ibu
membiarkan ayahnya membawa
pergi anaknya sendiri dari
rumah sakit padahal anak itu
belum sembuh?

Jawabannya ada pada karakter Rose
Mary dan hubungannya dengan Rex.

Pertama, Rose Mary tidak
pernah melawan Rex.

Dalam keluarga ini, Rex adalah
bosnya. Semua keputusan besar ada
di tangannya. Rose Mary mungkin
tidak setuju dengan tindakan Rex,
tapi ia tidak punya kekuatan atau
kemauan untuk menghentikannya.
Ia sudah terbiasa menyerahkan
kendali penuh pada suaminya. Jika
Rex bilang mereka harus pergi,
mereka pergi. Jika Rex bilang rumah
sakit itu jahat, Rose Mary ikut saja.
Ia bukan tipe orang yang akan berdiri
di depan pintu dan berkata,
“Tidak, kamu tidak boleh membawa
anakku.” Ia adalah tipe orang yang
akan kembali ke kanvasnya dan
melukis.

Kedua, Rose Mary juga tidak
suka aturan.
 Sama seperti Rex,
ia membenci rumah sakit. Ia merasa
tidak nyaman dengan dokter dan
perawat yang selalu bertanya dan
mengatur. Ia merasa terkekang oleh
jadwal, prosedur, dan tagihan yang
harus dibayar. Jadi, ketika Rex
memutuskan untuk “membebaskan”
Jeannette dari rumah sakit, di mata
Rose Mary, itu mungkin terlihat
sebagai tindakan yang benar.
Ia mungkin berpikir bahwa mereka
bisa merawat Jeannette sendiri
di rumah. Bahwa cinta dan
kebebasan lebih penting daripada
obat dan perban.

Ketiga, Rose Mary tidak melihat
luka bakar itu sebagai keadaan
darurat yang serius.
 Ini adalah
bagian yang paling sulit dipahami
oleh orang normal. Bagi kebanyakan
dari kita, anak dengan luka bakar
parah harus segera dirawat di rumah
sakit. Tapi bagi Rose Mary dan Rex,
hidup ini keras, dan anak-anak
harus belajar bertahan. Mereka
memiliki pandangan yang aneh
tentang penderitaan. Mereka percaya
bahwa penderitaan membuat
seseorang lebih kuat. Jadi, membawa
pulang anak yang masih diperban
mungkin terlihat sebagai hal yang
biasa saja bagi mereka.

Singkatnya, pembiaran ini terjadi
karena kombinasi dari tiga hal:
Rose Mary yang selalu tunduk pada
Rex, kebencian mereka berdua
terhadap aturan rumah sakit, dan
pandangan mereka yang salah
tentang luka dan penderitaan.
Ini adalah contoh pertama dari
pengabaian yang akan terus dilakukan
oleh kedua orang tua ini sepanjang
hidup anak-anak mereka.

Setelah kejadian itu, keluarga Walls
memulai kehidupan baru yang
berpindah-pindah. Mereka tinggal
di kota-kota kecil di gurun seperti
Battle Mountain, Nevada, dan
beberapa kota lainnya di wilayah
barat Amerika yang kering dan
tandus. Mereka tidak menetap lama
di satu tempat. Begitu tagihan
menumpuk atau masalah datang,
mereka akan berkemas di tengah
malam dan pergi. Rex menyebut ini
sebagai “pelarian”. Ia selalu
mengatakan bahwa ada orang jahat
yang mengejar mereka, atau ada
kesempatan emas yang menunggu
di kota berikutnya. Ia menyebut
dirinya sebagai “pemburu petualangan”.

Rex Walls adalah pria yang sangat
cerdas. Ia bisa mengutip puisi dari
ingatannya. Ia tahu nama-nama
bintang di langit dan bisa menjelaskan
bagaimana alam semesta bekerja.
Ia mengajari anak-anaknya tentang
batu-batuan, tentang listrik, tentang
matematika, tentang segala hal yang
ia ketahui. Setiap kali ia pulang,
anak-anak berlari menyambutnya.
Ia adalah pahlawan di mata mereka.
Ia penuh energi, penuh cerita, dan
penuh janji. Ia akan mengumpulkan
anak-anaknya di bawah langit malam
gurun yang penuh bintang, menunjuk
ke atas, dan menjelaskan mengapa
Venus lebih terang dari bintang
lainnya, atau bagaimana bumi
berputar mengelilingi matahari.

Tapi Rex juga seorang pemabuk.
Setiap kali ia memiliki uang, uang itu
tidak dipakai untuk membeli
makanan atau membayar tagihan
listrik. Uang itu dipakai untuk
membeli minuman keras. Ia akan
pergi ke bar, menghabiskan seluruh
uangnya di sana, dan pulang dalam
keadaan mabuk. Keesokan harinya,
ia akan marah-marah, berteriak, dan
kadang menghancurkan
barang-barang di rumah. Lalu ia akan
menghilang lagi selama beberapa hari.
Siklus ini terus berulang.

Karena Rex tidak bisa bertahan
lama di satu pekerjaan. Ia sering
dipecat atau keluar sendiri.
 Setiap kali ia mendapatkan pekerjaan,
ia hanya bekerja selama beberapa
minggu atau beberapa bulan. Lalu ia
akan berhenti atau diusir oleh bosnya.
Alasannya macam-macam. Kadang
ia bolos kerja karena mabuk. Kadang
ia bertengkar dengan atasannya.
Kadang ia tiba-tiba menghilang
tanpa kabar. Akibatnya, penghasilan
keluarga tidak pernah stabil. dan
uangnya habis untuk
minuman keras, keluarga ini jatuh
ke dalam kemiskinan yang sangat
parah. Seringkali tidak ada makanan
di rumah. Anak-anak harus mencari
makan sendiri. Mereka memakan
apa pun yang bisa mereka temukan.
Kadang mereka hanya makan
mentega dan gula yang dicampur.
Kadang mereka tidak makan sama
sekali selama beberapa hari. Listrik
sering diputus karena tidak bisa
membayar tagihan. Mereka tidur
dalam gelap, diterangi lilin atau
lampu minyak. Air kadang juga
diputus. Mereka tidak bisa mandi.
Pakaian mereka kotor dan robek.

Apa yang Dimakan Orang Tua?

Orang tua mereka, Rex dan Rose
Mary, 
makan secara terpisah dari
anak-anak
. Mereka tidak duduk
bersama di meja makan seperti
keluarga normal.

Rex, sang ayah, sering menghilang
selama berhari-hari. Ketika ia
memiliki uang, ia tidak pulang
membawa makanan. Ia pergi ke bar
dan menghabiskan uangnya untuk
minuman keras. Kemungkinan
besar ia makan di bar, atau
membeli makanan untuk dirinya
sendiri di luar rumah.
Ia mementingkan dirinya sendiri
terlebih dahulu.

Rose Mary, sang ibu, juga memiliki
makanan tersembunyi. Di salah satu
bagian buku, diceritakan bahwa
Rose Mary 
menyembunyikan
sebatang cokelat
 di balik
selimutnya. Ia memakannya
diam-diam saat anak-anaknya
kelaparan. Ketika Jeannette kecil
mengetahuinya, ia sangat marah
dan sedih. Ibunya memiliki
makanan, tapi memilih untuk tidak
membaginya. Rose Mary menganggap
bahwa dirinya berhak mendapatkan
kenikmatan kecil itu, sementara
anak-anak harus belajar mandiri.

Jadi, orang tua mereka tidak
kelaparan seperti anak-anak.
Mereka memiliki akses ke makanan,
baik dari uang yang mereka simpan
sendiri atau dari membeli makanan
di luar. Mereka hanya tidak
membawa makanan itu pulang
untuk anak-anak mereka.

Dari Mana Anak-Anak
Mendapatkan Makanan?

Anak-anak harus mencari makan
sendiri dengan berbagai cara. Mereka
tidak bisa mengandalkan orang tua
mereka. Berikut adalah cara-cara
yang mereka lakukan untuk bertahan
hidup.

Pertama, mereka mencari
makanan di rumah.
 Mereka
membuka semua lemari, mencari
apa pun yang bisa dimakan. Kadang
mereka menemukan mentega dan
gula. Mereka mencampur keduanya
menjadi adonan manis dan
memakannya. Ini bukan makanan
bergizi, tapi setidaknya mengisi perut
mereka untuk sementara. Kadang
mereka hanya menemukan beberapa
butir beras atau potongan roti kering.

Kedua, mereka makan
di sekolah.
 Di sekolah, ada program
makan siang gratis untuk anak-anak
miskin. Ini adalah sumber makanan
yang sangat penting. Jeannette, Lori,
dan Brian sangat mengandalkan
makan siang di sekolah. Ketika
liburan sekolah tiba, mereka justru
sedih karena tidak bisa makan.

Ketiga, mereka mengais
makanan di tempat sampah
kantin sekolah.
 Jeannette sering
melihat anak-anak lain membuang
makanan mereka. Jika ada siswa
yang tidak menghabiskan bekalnya
dan membuangnya ke tempat
sampah, Jeannette akan
mengambilnya setelah jam makan
siang. Ia memakan sisa-sisa roti,
buah, atau apa pun yang masih layak
dimakan. Ia melakukan ini dengan
sembunyi-sembunyi karena merasa
sangat malu.

Keempat, mereka kadang
mencuri makanan.
 Di saat-saat
paling putus asa, mereka mengambil
makanan dari toko tanpa membayar.
Ini bukan kebiasaan, tapi dilakukan
hanya ketika mereka benar-benar
tidak tahan lagi.

Kelima, tetangga atau teman
kadang memberi mereka
makanan.
 Ada saat-saat di mana
orang lain yang melihat kondisi
mereka merasa kasihan dan memberi
sedikit makanan. Tapi ini tidak
sering terjadi dan tidak bisa
diandalkan.

Tentang Mentega dan Gula

Mentega dan gula yang dicampur
adalah makanan darurat yang mereka
buat sendiri. Ini bukan makanan
yang diberikan oleh orang tua mereka.
Mereka menemukan bahan-bahan
itu di dapur rumah mereka yang
kosong. Caranya sangat sederhana:
ambil mentega, campur dengan gula
pasir, aduk sampai rata, lalu makan.
Rasanya manis dan sedikit
mengenyangkan karena mentega
mengandung lemak.

Mereka makan ini bukan karena
pilihan, tapi karena tidak ada
yang lain. Ini adalah tanda betapa
parahnya kemiskinan dan
pengabaian yang mereka alami.
Anak-anak sekecil itu seharusnya
makan nasi, sayur, daging, atau
susu. Tapi yang mereka punya
hanyalah mentega dan gula.

Jadi, untuk meringkas: orang tua
mereka makan sendiri-sendiri
di luar rumah atau secara diam-diam.
Anak-anak harus bertahan dengan
mencari sisa makanan, mengais
sampah, mengandalkan makan siang
sekolah, dan makan campuran
mentega dan gula ketika tidak ada
apa-apa lagi. Ini adalah gambaran
nyata dari pengabaian yang dilakukan
oleh Rex dan Rose Mary terhadap
anak-anak mereka sendiri.

Rose Mary, ibu mereka, sebenarnya
memiliki ijazah sebagai guru. Ia bisa
saja mencari pekerjaan tetap dan
memberi makan anak-anaknya. Tapi ia
menolak. Ia lebih memilih untuk
melukis. Ia menghabiskan hari-harinya
dengan kanvas dan cat, menciptakan
lukisan-lukisan yang menurutnya
sangat berharga. Ia percaya bahwa
suatu hari nanti lukisannya akan
membuatnya kaya dan terkenal.
Sementara itu, anak-anaknya kelaparan.
Ketika Jeannette kecil bertanya
mengapa ia tidak bisa makan,
Rose Mary menjawab bahwa uang
bukanlah hal yang penting. Bahwa
apa yang benar-benar penting adalah
keindahan, seni, dan kebebasan.
Bahwa penderitaan adalah bagian
dari kehidupan seorang seniman.

Meskipun hidup dalam kemiskinan
yang sangat parah, Jeannette dan
kakaknya Lori serta adiknya Brian
tidak merasa sepenuhnya menderita.
Ada momen-momen di mana
mereka merasakan petualangan yang
sesungguhnya. Ketika mereka pindah
ke kota baru, mereka menjelajahi
gurun, menemukan ular dan kadal,
memanjat tebing. Mereka bermain
di antara pohon-pohon kaktus dan
bebatuan merah. Ketika malam tiba
dan listrik mati, Rex akan
mengumpulkan mereka dan bercerita
tentang bintang-bintang. Ia menunjuk
ke langit dan mengajari mereka nama
setiap rasi bintang. Ia menjelaskan
bahwa di suatu tempat di luar sana,
ada planet-planet yang mengorbit
matahari, dan bahwa kita hanyalah
setitik debu kecil di alam semesta
yang sangat luas.

Anak-anak itu mencintai ayah
mereka. Ketika Rex dalam keadaan
sadar dan tenang, ia adalah ayah
yang penuh perhatian dan kasih
sayang. Ia memeluk mereka.
Ia mengatakan bahwa ia mencintai
mereka. Ia berjanji akan
membangunkan mereka sebuah
rumah yang terbuat dari kaca,
sebuah “istana kaca (The Glass
Castle)” di padang
pasir. Ia sudah membuat rencananya
di atas kertas. Ia menggambar
denahnya dengan detail. Janji ini,
istana kaca ini, menjadi simbol
harapan bagi anak-anak. Suatu hari
nanti, ayah mereka akan berhenti
minum. Suatu hari nanti, mereka
akan memiliki rumah yang
sesungguhnya.

Tapi untuk saat ini, mereka masih
hidup dalam ketidakpastian. Mereka
tinggal di rumah-rumah kumuh yang
nyaris tidak bisa disebut rumah.
Di Battle Mountain, mereka tinggal
di bekas kantor pos kereta api yang
sudah tidak terpakai. Tidak ada listrik.
Tidak ada air mengalir. Tidak ada
toilet yang berfungsi. Mereka buang
air di ember. Mereka tidur di lantai.

Anak-anak mulai belajar bahwa
mereka hanya bisa mengandalkan
diri mereka sendiri. Lori, yang paling
tua, adalah yang paling serius dan
pendiam. Ia suka membaca. Buku
adalah pelariannya dari dunia yang
kacau. Brian, adik laki-laki, tangguh
dan pemberani. Ia belajar bertahan
di alam liar, menangkap ular, dan
melindungi dirinya sendiri. Jeannette,
yang masih kecil, belajar memasak,
membersihkan, dan merawat dirinya
sendiri. Mereka bertiga membentuk
ikatan yang sangat kuat. Mereka saling
melindungi. Mereka saling
mendukung. Mereka adalah teman
seperjuangan dalam kekacauan yang
diciptakan oleh orang tua mereka
sendiri.

Bab kedua ini adalah gambaran yang
sangat jelas tentang dua sisi dari Rex
dan Rose Mary Walls. Di satu sisi,
mereka adalah orang tua yang
mencintai anak-anak mereka, yang
mengajari mereka hal-hal yang luar
biasa, yang memberi mereka
keberanian dan rasa ingin tahu
tentang dunia. Di sisi lain, mereka
adalah orang tua yang gagal
memberikan kebutuhan paling dasar:
makanan, tempat tinggal yang aman,
dan stabilitas. Anak-anak belajar
hidup dalam dua dunia yang
bertabrakan ini. Dunia petualangan
dan dunia kelaparan. Dunia cinta dan
dunia pengabaian. Dan mereka
bertahan, karena tidak ada pilihan lain.

Bagaimana Mereka Bisa Sekolah
Sambil Berpindah-pindah?

Mereka bersekolah di mana pun
mereka mendarat. Begitu tiba
di kota baru, Rose Mary atau kadang
Jeannette sendiri yang mendaftarkan
diri ke sekolah. Tidak ada urusan yang
rumit. Sekolah umum di Amerika
wajib menerima semua anak yang
tinggal di wilayah itu, bahkan jika
mereka tidak memiliki alamat tetap
atau catatan sekolah sebelumnya.
Pihak sekolah mungkin bertanya-tanya,
tapi mereka tetap menerima.

Anak-anak Walls sangat cerdas.
Meskipun sering bolos, mereka bisa
mengejar pelajaran. Rex sudah
mengajari mereka membaca,
matematika, dan sains sejak kecil.
Jadi, meskipun mereka
pindah-pindah, mereka tidak terlalu
tertinggal di sekolah. Jeannette
bahkan sangat suka membaca dan
bekerja di koran sekolah.

Dari Mana Mereka Mendapatkan
Uang untuk Kebutuhan Seperti
Bensin?

Ini adalah pertanyaan yang sangat
penting. Keluarga ini tidak punya
pekerjaan tetap, tapi mereka tetap
bisa berpindah-pindah. Lalu, dari
mana uangnya? Berikut adalah
sumber-sumber uang mereka.

Pertama, pekerjaan serabutan
Rex.
 Rex adalah pria yang sangat
cerdas dan punya banyak
keterampilan. Ia bisa memperbaiki
mesin, membangun sesuatu, dan
melakukan pekerjaan listrik.
Kadang-kadang, ia mendapatkan
pekerjaan sementara.
Tapi masalahnya, ia tidak pernah
bertahan lama. Begitu
ia mendapatkan gaji, uangnya
langsung dipakai untuk membeli
minuman keras, bukan untuk
membayar tagihan atau membeli
makanan. Sisa uangnya mungkin
dipakai untuk bensin agar mereka
bisa pindah ke kota berikutnya.

Kedua, uang dari Rose Mary.
Rose Mary sebenarnya memiliki
ijazah guru. Kadang-kadang,
ia mendapatkan pekerjaan mengajar
di sekolah lokal. Tapi sama seperti
Rex, ia tidak pernah bertahan lama.
Ia lebih suka melukis daripada
bekerja. Ketika ia bekerja, uangnya
dipakai untuk kebutuhan dasar.
Tapi ini sangat jarang terjadi.

Ketiga, mereka lari dari utang.
 Ini adalah strategi utama keluarga
Walls. Setiap kali tagihan menumpuk,
mereka tidak membayarnya. Mereka
akan berkemas di tengah malam dan
pergi ke kota baru tanpa melunasi
utang sewa rumah, listrik, atau air.
Uang yang seharusnya dipakai untuk
membayar tagihan itu justru dipakai
untuk membeli bensin dan pindah.
Rex menyebut ini sebagai “melarikan
diri dari tagihan”. Dengan cara ini,
mereka terus bertahan tanpa
benar-benar punya penghasilan
tetap.

Keempat, kadang mereka
mencuri atau memanfaatkan
celah hukum.
 Rex tidak
segan-segan melakukan hal-hal yang
tidak jujur. Ia mungkin mencuri
bensin atau barang-barang kecil.
Jeannette sendiri menceritakan
bagaimana ia kadang mengambil
makanan dari tempat sampah atau
mencuri dari toko ketika
benar-benar putus asa.

Kelima, bantuan dari
pemerintah.
 Meskipun mereka
sering berpindah-pindah,
kadang-kadang mereka mendapatkan
bantuan sosial. Ini tidak diceritakan
secara rinci di bab awal, tapi
di kemudian hari, keluarga ini kadang
menerima kupon makanan atau
bantuan tunai. Tapi Rex dan Rose
Mary seringkali tidak
memanfaatkannya dengan benar.

Singkatnya, mereka bertahan
hidup dengan kombinasi dari
pekerjaan serabutan yang tidak
stabil, uang dari mengajar,
melarikan diri dari tagihan, dan
kadang-kadang mengambil barang
tanpa izin. Inilah yang membuat
hidup mereka begitu kacau dan
tidak terduga.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Cerita mundur sangat jauh
ke belakang. Jeannette bawa kita ke masa
ketika usianya baru tiga tahun.
Ini adalah salah satu kenangan paling
awal yang ia miliki, dan sumpah,
kenangan ini mengerikan banget.

Waktu itu, keluarga Walls lagi tinggal
di sebuah trailer di Arizona. Jeannette
kecil, yang masih lucu-lucunya,
berdiri di atas kursi di depan kompor.
Dia pake gaun pink favoritnya.
Ibunya, Rose Mary, lagi asik
di ruangan lain, sibuk melukis.
Jeannette kecil laper, dia pengen
hot dog. Nggak ada yang masakin,
jadi dia dengan pedenya mutusin
buat masak sendiri. Dia nyalain
kompor, ngambil hot dog, dan
naruhnya di atas api.

Nah, masalahnya, gaun pinknya yang
longgar itu nyentuh api. Dan dalam
sekejap, gaunnya terbakar.
Api ngejilar cepet ke seluruh badan
mungilnya. Jeannette kecil njerit
kesakitan. Ibunya lari masuk,
buru-buru ngebungkus dia pake
selimut, dan seorang tetangga
baik hati ngebawa mereka
ke rumah sakit.

Jeannette ngalamin luka bakar parah
di sekujur tubuhnya, guys. Kulitnya
melepuh, perban nutupin hampir
seluruh badannya. Dia harus nginep
di rumah sakit selama beberapa
minggu. Dokter dan perawat
ngerawat dia dengan sangat baik.
Dan ini ironis banget, karena untuk
pertama kalinya dalam hidupnya,
Jeannette kecil tidur di ranjang
bersih, makan teratur tiga kali
sehari, dan ngerasa aman.

Tapi, ayahnya, Rex, sangat
nggak suka sama rumah sakit.
Dia benci aturan, benci dokter yang
ngatur-ngatur, dan nggak suka
ngeliat anaknya “terikat” sama
jadwal. Maka suatu hari, Rex datang
ke rumah sakit. Dia bilang
ke Jeannette kecil kalau mereka
bakal pergi. Dia gendong Jeannette
yang masih dibalut perban, terus
lari keluar dari rumah sakit sambil
loncat ke mobil. Mereka kabur
tanpa izin dokter dan tanpa bayar
biaya rumah sakit! Ini semacam
“penculikan” yang dilakuin
ayahnya sendiri.

Setelah kejadian itu, keluarga
Walls memulai kehidupan baru yang
super nomaden. Mereka tinggal
di kota-kota kecil di gurun, kayak
Battle Mountain, Nevada. Mereka
nggak pernah betah lama. Begitu
tagihan numpuk atau ada masalah,
mereka langsung ngemasi barang
di tengah malem dan kabur.
Rex nyebut ini sebagai “pelarian”.
Dia selalu ngaku-ngaku ada orang
jahat yang ngejar, atau ada
“kesempatan emas” yang nunggu
di kota berikutnya. Dia nyebut
dirinya “pemburu petualangan”.

Lo tau nggak, si Rex ini sebenernya
pria yang cerdas banget. Dia bisa
ngutip puisi dari ingatannya, tahu
nama-nama bintang di langit, dan
bisa jelasin cara kerja alam
semesta. Dia ngajarin anak-anaknya
soal batu-batuan, listrik,
matematika, pokoknya semua yang
dia tahu. Setiap kali dia pulang,
anak-anak langsung lari nyambut
dia kayak pahlawan. Dia penuh
energi, cerita, dan janji. Dia suka
ngumpulin anak-anaknya di bawah
langit gurun yang penuh bintang,
sambil nunjuk ke atas dan jelasin
kenapa Venus lebih terang, atau
gimana bumi muterin matahari.

Tapi, sayangnya, Rex juga seorang
pemabuk. Setiap kali dia punya duit,
bukannya buat beli makan atau
bayar listrik, duitnya malah dipake
buat beli minuman keras. Dia ke bar,
ngabisin semuanya di sana, pulang
mabuk. Besoknya, dia bakal
marah-marah, teriak-teriak,
kadang ngehancurin barang.
Lalu dia ngilang lagi beberapa hari.
Siklus gila ini terus berulang.

Karena Rex nggak bisa tahan
kerjaan, dan semua duitnya abis
buat alkohol, keluarga ini jatuh
ke dalem kemiskinan yang dalem
banget. Seringkali, nggak ada
makanan di rumah. Anak-anak
harus nyari makan sendiri.
Mereka makan apa aja yang bisa
mereka temuin. Kadang cuma
mentega dan gula yang dicampur,
kadang nggak makan sama sekali
berhari-hari. Listrik sering diputus,
jadi mereka tidur gelap-gelapan
diterangin lilin. Air juga kadang
mati, jadi mereka nggak bisa
mandi. Baju mereka kotor dan robek.

Rose Mary, si ibu, sebenernya punya
ijazah guru. Dia bisa aja cari kerja
tetap dan ngasih makan
anak-anaknya. Tapi, dia nolak.
Dia lebih milih buat melukis.
Dia ngabisin waktunya dengan kanvas
dan cat, bikin lukisan yang dia anggap
bakal bikin dia kaya dan terkenal.
Sementara itu, anak-anaknya
kelaparan! Pas Jeannette kecil nanya
kenapa dia nggak bisa makan, Rose
Mary malah jawab bahwa uang itu
nggak penting, yang penting itu
keindahan, seni, dan kebebasan.
Dia bilang, penderitaan adalah
bagian dari hidup seorang seniman.
Gila, kan?

Meskipun hidup dalam kemiskinan
parah, Jeannette, kakaknya Lori,
dan adiknya Brian, nggak selalu
ngerasa menderita.
Ada momen-momen di mana
mereka ngerasain petualangan
beneran. Pas pindah ke kota baru,
mereka ngeksplorasi gurun,
nemuin ular dan kadal, manjat
tebing. Pas malem dan listrik mati,
Rex ngumpulin mereka dan cerita
soal bintang-bintang, ngajarin nama
rasi bintang, dan bilang bahwa kita
ini cuma setitik debu di alam semesta.

Anak-anak ini mencintai ayah mereka.
Pas Rex lagi sadar dan tenang, dia
adalah ayah yang penyayang.
Dia meluk, bilang cinta, dan berjanji
bakal bangunin mereka rumah dari
kaca, sebuah “istana kaca” di padang
pasir. Dia bahkan udah bikin
denahnya detail di atas kertas. Janji
ini, guys, jadi simbol harapan buat
mereka. Suatu hari, ayah mereka
bakal berhenti minum, dan mereka
bakal punya rumah beneran.

Tapi buat sekarang, mereka masih
hidup dalam ketidakpastian.
Di Battle Mountain, mereka tinggal
di bekas kantor pos kereta api yang
udah nggak kepake. Nggak ada
listrik, nggak ada air, nggak ada
toilet. Mereka pup di ember dan
tidur di lantai.

Di sinilah anak-anak mulai sadar,
mereka cuma bisa ngandelin diri
sendiri. Lori, yang paling tua, adalah
yang paling serius dan pendiem,
suka baca buku buat kabur dari
kenyataan. Brian, si adik laki-laki,
tangguh dan pemberani, jago bertahan
di alam liar. Jeannette, yang masih
kecil, belajar masak, bersihin, dan
ngerawat diri sendiri. Mereka bertiga
ngebentuk ikatan yang super kuat,
saling lindungin, saling dukung,
kayak temen seperjuangan di tengah
kekacauan yang dibuat orang tua
mereka sendiri.

Bab ini ngasih lo gambaran jelas
tentang dua sisi dari Rex dan Rose
Mary Walls. Di satu sisi, mereka
adalah orang tua yang mencintai,
ngajarin hal-hal luar biasa, dan
ngasih keberanian. Di sisi lain,
mereka gagal total ngasih
kebutuhan paling dasar: makanan,
tempat tinggal aman, dan stabilitas.
Anak-anak ini hidup di dua dunia
yang bertabrakan:
dunia petualangan dan dunia
kelaparan, dunia cinta dan dunia
pengabaian. Dan mereka bertahan,
karena nggak ada pilihan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *