buku

Ketika Euforia Menguasai, Logika Pasar Menghilang

Robert J. Shiller, seorang ekonom
dan pemenang Nobel, sejak lama
terpesona oleh perilaku manusia
ketika menghadapi pertumbuhan
dan kejatuhan pasar. Dalam buku
Irrational Exuberance, ia
menunjukkan bahwa gelembung
pasar (market bubble) bukan hanya
akibat dari kesalahan perhitungan
ekonomi, melainkan cerminan dari
psikologi kolektif rasa euforia,
harapan, dan kadang penolakan
terhadap realitas.

Shiller mengamati bahwa setiap kali
pasar mengalami lonjakan besar,
banyak orang justru menyusut
ke dalam penyangkalan
. Mereka
tahu ada sesuatu yang tidak wajar,
namun memilih berpura-pura
semuanya baik-baik saja. Karena
mengakui adanya gelembung sama
saja dengan mengakui risiko
kehilangan dan manusia secara
alami enggan menghadapi rasa
takut itu.

Saat Shiller Mengingatkan
di Tengah Euforia

Ketika edisi pertama Irrational
Exuberance
diterbitkan pada tahun
2000, pasar saham Amerika sedang
berada di puncak euforia teknologi.
Shiller berkeliling Amerika Serikat
untuk mempromosikan bukunya,
berbicara kepada para profesional
keuangan dan investor individu.
Banyak di antara mereka sedang
menikmati keuntungan besar dari
saham dan obligasi, sehingga pesan
Shiller terdengar seperti peringatan
yang tidak menyenangkan.

Ia melihat pola menarik: orang
tidak suka mendengar kabar
buruk tentang investasi mereka
sendiri
. Mereka lebih suka
mendengarkan analisis yang
memperkuat keyakinan bahwa harga
saham akan terus naik. Dalam
kata lain, mereka menolak mendengar
realitas yang mungkin mengguncang
kenyamanan psikologis mereka.

Shiller bercerita bahwa selama tur
bukunya, ketika ia menyinggung
kemungkinan pasar akan jatuh,
banyak yang langsung
membantahnya dengan yakin
.
Anehnya, sebagian besar dari mereka
tidak benar-benar memahami
mekanisme pasar secara mendalam
mereka hanya mengikuti tren dan
opini populer di media. Namun
di balik penolakan itu, Shiller dapat
merasakan kegelisahan yang
tersembunyi. Ada rasa takut yang
tidak mereka akui.

Ketika Logika Dikalahkan oleh
Harapan

Salah satu pengalaman yang paling
berkesan bagi Shiller terjadi setelah
ia memberikan presentasi kepada
sekelompok investor institusional.
Seorang manajer portofolio
mendatanginya dan berkata bahwa
ia sepenuhnya setuju dengan
analisis Shiller bahwa pasar sedang
berada di ambang gelembung
berbahaya. Namun dengan jujur,
manajer itu juga mengaku tidak
akan mengubah strateginya.

Ketika Shiller menanyakan alasannya,
sang manajer menjawab sederhana:
“Orang-orang tidak akan percaya jika
saya bertindak seolah-olah pasar
akan jatuh. Mereka akan tetap
berinvestasi seolah semuanya
baik-baik saja. Jadi, saya tidak punya
otoritas untuk menghentikan mereka.”

Pernyataan itu menggambarkan
dilema sosial di pasar keuangan.
Bahkan ketika seseorang tahu bahwa
gelembung itu nyata, tekanan dari
lingkungan dan rasa takut
“ketinggalan” (fear of missing out)
membuatnya tetap ikut arus. Semua
orang sedang berselancar di atas
gelombang keuntungan dan tidak ada
yang ingin menjadi orang pertama
yang turun sebelum ombak pecah.

Ketika Ramalan Itu Menjadi
Kenyataan

Sebagaimana yang telah Shiller
peringatkan, pasar saham akhirnya
benar-benar mengalami kejatuhan
besar setelah tahun 2000. Banyak
orang yang sebelumnya menikmati
keuntungan besar tiba-tiba
mendapati bahwa nilai investasi
mereka menyusut drastis.
Kejadian ini menjadi bukti nyata
bahwa euforia kolektif sering
menutupi tanda-tanda bahaya
yang sebenarnya sudah jelas.

Shiller mengaitkan hal ini dengan
sejarah panjang krisis pasar,
termasuk kejatuhan besar pada
tahun 1929 yang memicu Depresi
Besar (Great Depression)

di tahun 1930-an. Krisis itu
berlangsung selama satu dekade dan
melumpuhkan ekonomi di banyak
negara. Ia ingin menunjukkan bahwa
gelembung pasar tidak pernah hanya
soal angka; di balik setiap grafik
yang jatuh, ada emosi manusia,
rasa takut, dan keinginan
untuk menolak kenyataan
.

Pelajaran dari
“Irrational Exuberance”

Melalui kisah dan pengamatannya,
Shiller menyampaikan pesan penting:
Pasar bukanlah mesin rasional
pasar adalah cermin dari
psikologi manusia.

Ketika orang ramai merasa yakin
bahwa harga akan terus naik, maka
justru saat itulah bahaya sedang
mendekat. Denial, atau penolakan
terhadap fakta, adalah bahan bakar
utama dari setiap gelembung
ekonomi. Investor menolak untuk
berhenti karena mereka takut
melewatkan keuntungan, dan para
ahli pun kadang ikut terseret oleh
arus keyakinan kolektif.

Shiller mengingatkan bahwa
kesadaran terhadap siklus psikologis
ini penting bukan untuk
menakut-nakuti, melainkan untuk
membantu kita mengambil jarak
dari euforia
, agar tidak terjebak
dalam optimisme palsu.

Penutup: Antara Logika dan
Emosi

Irrational Exuberance bukan sekadar
buku tentang ekonomi atau pasar
saham. Ia adalah refleksi mendalam
tentang bagaimana manusia
bereaksi terhadap kekayaan
dan ketakutan
.
Shiller menunjukkan bahwa krisis
sering kali dimulai bukan dari angka,
melainkan dari perasaan bersama:
keyakinan bahwa “kali ini berbeda”,
bahwa “pasar tak mungkin jatuh”,
dan bahwa “semua orang
melakukannya”.

Namun, sejarah berulang kali
membuktikan bahwa setiap kali
manusia menolak melihat
kenyataan, pasar akhirnya memaksa
mereka untuk menghadapinya
dengan cara yang menyakitkan.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Bayangkan kamu sedang menonton
temanmu meniup balon sampai
besar sekali. Semua orang bersorak,
“Wah, tambah besar lagi! Hebat!”
Padahal kamu tahu, kalau ditiup
terus, balon itu pasti meletus. Tapi
karena suasananya seru dan semua
orang bersemangat, kamu diam saja
merasa khawatir di dalam hati
lalu kamu pura-pura tidak khawatir,
lalu ikut bersorak juga.”

Begitu pula dengan pasar keuangan.
Ketika harga saham atau properti
terus naik, banyak orang tahu ada
yang tidak wajar, tapi pura-pura
tidak melihat. Mereka takut kalau
mengakui kenyataan, berarti harus
berhenti dan kehilangan kesempatan
menikmati pesta. Shiller melihat
inilah sifat manusia: lebih suka hidup
dalam euforia ketimbang menghadapi
risiko yang tak nyaman.

Saat Shiller Mengingatkan
di Tengah Euforia

Ketika Shiller menerbitkan Irrational
Exuberance
pada tahun 2000,
situasinya seperti guru yang datang
ke pesta untuk menegur
anak-anak yang sedang
bersenang-senang
. Semua orang
sedang bergembira dengan “pesta
saham teknologi”, dan ia datang
membawa pesan: “Hati-hati,
pesta ini bisa berakhir buruk.”

Reaksi orang? Tentu saja tidak suka.
Mereka seperti orang yang sedang
makan kue lezat tapi ditegur bahwa
kadar gulanya berbahaya. Shiller
menyadari bahwa manusia
cenderung hanya mau mendengar
apa yang membuatnya tenang.
Investor lebih senang membaca
berita yang mengatakan “pasar
akan terus naik” daripada
mendengar kabar bahwa gelembung
sedang terbentuk.

Di balik senyum optimis mereka,
Shiller bisa melihat rasa takut yang
disembunyikan seperti seseorang
yang tahu atap rumahnya bocor tapi
menutupinya dengan karpet baru
agar tidak terlihat berantakan.

Ketika Logika Dikalahkan
oleh Harapan

Analogi paling tepat untuk bagian
ini adalah penumpang kapal
pesiar yang tahu ada kebocoran
kecil di lambung, tapi memilih
tetap berdansa di dek atas
karena musiknya masih enak.

Manajer investasi yang ditemui
Shiller tahu pasar sudah berisiko,
tapi tetap melanjutkan strategi
lama. Alasannya sederhana:
kalau dia berhenti duluan,
kliennya mungkin marah atau
pindah ke manajer lain.

Fenomena ini seperti ikut arisan
online padahal tahu skemanya
mencurigakan tapi tetap lanjut
karena semua teman masih ikut dan
belum ada yang rugi. Kita tidak ingin
jadi orang pertama yang keluar dari
permainan, walaupun tahu
permainan itu bisa berakhir buruk.

Ketika Ramalan Itu Menjadi
Kenyataan

Dan benar saja balon yang ditiup
terlalu besar akhirnya meletus.
Pasar saham jatuh, dan orang-orang
yang dulu yakin “semuanya akan
baik-baik saja” mulai panik. Nilai
investasi mereka lenyap dalam waktu
singkat. Shiller seperti orang tua
yang sudah memperingatkan
agar tidak bermain korek api
di dekat bensin tapi
peringatannya diabaikan.

Ia kemudian menunjukkan bahwa
pola ini sudah berulang sejak lama:
dari krisis 1929, gelembung
properti tahun 2008, hingga
fenomena euforia kripto atau
startup masa kini. Di balik setiap
grafik yang anjlok, ada rasa takut,
serakah, dan penolakan untuk
mengakui batas.

Pelajaran dari
“Irrational Exuberance”

Bayangkan kamu naik roller coaster
awalnya menegangkan tapi
menyenangkan. Namun semakin
tinggi naik, semakin besar pula
potensi jatuh.
Banyak investor menikmati sensasi
naiknya pasar dan lupa bahwa
sabuk pengamannya longgar.
Denial penolakan terhadap fakta
adalah bahan bakar dari setiap
gelembung. Mereka terus naik tanpa
sadar bahwa lintasannya tak
mungkin menanjak selamanya.

Shiller ingin kita sadar bahwa pasar
bukan mesin dingin yang bekerja
berdasarkan logika, melainkan
cermin besar dari emosi
manusia.
Ketika cermin itu
dipenuhi pantulan wajah-wajah
optimis yang menolak realitas,
gelembung mulai terbentuk.

Penutup: Antara Logika dan
Emosi

Kisah Shiller mengingatkan kita
pada pengemudi yang
mengabaikan lampu indikator
bensin karena masih merasa
mobilnya kuat berjalan.

Kita sering kali menolak sinyal
bahaya hanya karena suasananya
sedang menyenangkan.

Irrational Exuberance bukan
sekadar buku tentang ekonomi,
tapi tentang sifat manusia:
bahwa kita sering menolak
kebenaran yang tidak ingin kita
dengar.
Shiller ingin kita belajar
menyeimbangkan logika dan emosi
berani menepi sejenak ketika semua
orang masih ngebut di jalan tol
euforia. Karena pada akhirnya,
sejarah membuktikan: pasar tidak
akan menunggu sampai kita siap
berhenti; ia akan berhenti sendiri
dan memaksa semua orang ikut
terpental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *