Jumlah Ismiyyah dengan Mubtada Nakirah
Jumlah Ismiyyah dengan Mubtada Nakirah
Hukum asal mubtada adalah ma’rifat. Namun, ada kondisi yang
membolehkan mubtada dalam keadaan nakirah. Berikut ini
sebagian kondisi yang membolehkan mubtada dalam
keadaan nakirah.
1. Bila bentuknya mudhaf-mudhaf ilaih
Mubtada boleh nakirah bila ia diidhafahkan kepada yang nakirah.
Contohnya:
قَلَمُ طَالِبٍ كَثِيرٌ
(Pulpen siswa itu banyak)
2. Bila disifati dengan nakirah
Mubtada boleh nakirah bila ia disifati dengan sifat yang juga nakirah.
Contohnya:
قَلَمٌ جَدِيدٌ رَخِيصٌ
(Pulpen yang baru itu murah)
3. Bila mubtadanya diakhirkan
Mubtada biasanya di depan. Bila diakhirkan, maka ia boleh nakirah.
Syaratnya, yang mendahuluinya adalah syibhul jumlah
(jar majrur dan dzharaf). Contohnya:
لِي أُخْتٌ dan عِنْدِي قَلَمٌ
(Aku memiliki saudari dan Aku memiliki pulpen)
4. Bila didahului nafiy atau istifham
Mubtada yang didahului istifham (pertanyaan) dan nafiy (penafian)
boleh nakirah. Contohnya:
مَا أَحَدٌ ذَهَبَ dan هَلْ أَحَدٌ فِي الفَصْلِ
(Tak seorang pun pergi dan Apakah ada seseorang di kelas?)
5. Bila mubtadanya bermakna umum
Bila mubtadanya umum mencakup semua jenis, ia boleh nakirah.
Contohnya:
كُلٌّ ذَاهِبُونَ
6. Bila mubtadanya bermakna doa
رَحْمَةٌ لَكَ
(Semoga rahmat untuk mu)
7. Bila didahului لَوْلَا
Bila mubtada nya didahului لَوْلَا, ia boleh nakirah.
Contohnya:
لَوْلَا إِهْمَالٌ لَأَفْلَحَ
(Kalaulah bukan karena meremehkan,
maka ia akan beruntung)
8. Bila mubtadanya menjadi amil bagi kata yang ada setelahnya
Contoh mubtada yang menjadi amil:
إِطْعَامٌ مِسْكِيْنًا حَسَنَةٌ
(Memberi makan orang miskin itu baik)
Kata “مِسْكِيْنًا” dalam kalimat tersebut menjadi maful bih dari
kata “إِطْعَامٌ” yang beramal seperti amal fi’il.
Silakan perhatikan contoh-contoh jumlah ismiyyah yang
mubtadanya nakirah:
إِمْرَأَةٌ جَمِيلَةٌ كَثِيرَةٌ
(Wanita cantik itu banyak)
طالِبُ عِلْمٍ خَيْرٌ مِنْ طَالِبِ مَالٍ
(Penuntut ilmu lebih baik dari pencari harta)
عَلَى الشَّجَرَةِ طَائِرٌ
(Di atas pohon ada burung)
ذُوْ عِلْمٍ أَفْضَلُ مِنْ ذِي مَالٍ
(Pemilik ilmu lebih utama dari pemilik harta)
خَلْفَ سَيَّارَتِي دَرَّاجَةٌ
(Di belakang mobil saya ada sepeda)
هَلْ مُدَرِّسٌ فِي الإِدَارَةِ
(Adakah guru di kantor?)
طَالِبٌ مَاهِرٌ مُجْتَهِدٌ
(Siswa yang pintar itu bersungguh-sungguh)
مَا أَحَدٌ أَكْرَمُ مِنْ رَسُوْلِ اللَّهِ
(Tak ada seorang pun yang lebih mulia dari Rasulullah)
لَوْلَا كِتَابَةٌ لَضَاعَ عِلْمٌ كَثِيرٌ
(Kalau tidak ada tulisan, niscaya telah hilang banyak ilmu)
وَيْلٌ لِلظَّالِمِينَ
(Kecelakaan bagi orang yang dzhalim)
