Jumlah Fi’liyyah Dalam Keadaan Majzum
Jumlah Fi’liyyah Dalam Keadaan Majzum
Fi’il mudhari bisa menjadi majzum apabila bertemu dengan ‘aamil jazm.
Di antara ‘aamil jazm adalah:
1. لَمْ (tidak)
لَمْ أَذْهَبْ إِلَى السُّوْقِ
(Saya tidak pergi ke pasar)
2. لَمَّا (belum)
لَمَّا أُرْسِلْ الوَاجِبَاتِ
(Saya belum mengirim tugas)
3. أَلَمْ (tidakkah?)
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ النَّحْوَ سَهْلٌ
(Tidakkah Kamu tahu bahwa nahwu itu mudah)
4. أَلَمَّا (belumkah?)
أَلَمَّا يَذْهَبْ زَيْدٌ
(Belumkah Zaid pergi?)
5. لَامُ الأَمْرِ (Lam untuk perintah)
لِيُنفِقُ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah
menurut kemampuannya ….” (At Thalaq: 7)
6. لَامُ الدُّعَاءِ (lam untuk permohonan)
وَنَادَوۡا يٰمٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَؕ قَالَ اِنَّكُمۡ مّٰكِثُوۡنَ
“Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu
membunuh kami saja”…” (Az Zukhruf: 77)
7. لَا فِي النَّهْيِ (Laa untuk larangan)
Semua fi’il nahiy didahului oleh laa nahiyah.
Contohnya:
لَا تَكْتُبْ ، لَا تَقْرَأُ ، لَا تَضْرِبْ
8. لَا فِي الدُّعَاءِ (Laa untuk permohonan)
Sama dengan laa fiil nahyi hanya saja penekanannya ada pada
siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Bila yang
melarang lebih tinggi kedudukannya, maka itu perintah larangan.
Sebaliknya jika yang melarang lebih rendah kedudukannya,
maka itu bukan perintah larangan melainkan permohonan (doa).
Contohnya:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا
حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau
kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada
kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada
kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (Al Baqarah: 286)
9. Kalimat jawab syarat dengan إِنْ (jika), مَا (apa), مَنْ (siapa),
مَهُمَا (apapun), إِذْمَا (kalau), أَيُ (yang mana), مَتَى (kapan),
أَيَّانَ (kapan), أَيْنَ (dimana), أَنَّى (bagaimana), حَيْثُمَا (dimanapun),
كَيْفَمَا (bagaimanapun).
Ini merupakan kelompok huruf jazm yang menjazmkan 2 fi’il mudhari
sekaligus dikarenakan bentuk kalimatnya adalah kalimat bersyarat
dimana ada syarat dan jawab syarat. Contohnya:
إِنْ تَذْهَبْ أَذَهَبْ
(Jika Kamu pergi, Saya pergi)
Contoh lain:
أَيَّ كِتَابٍ تَقْرَأْ أَقْرَأْ
(Buku apapun yang Kamu baca, Saya baca)
‘Amil jazm di atas ketika bertemu dengan fi’il mudhari, maka akan
menjadikannya majzum. Tanda i’rab fi’il mudhari ketika majzum
adalah:

Catatan Tambahan
Fi’il mudhari dhamir هُنَّ dan أَنْتُنَّ seperti يَفْعَلْنَ dan تَفْعَلْنَ merupakan
fi’il yang mabniy. Artinya, tidak terpengaruh oleh faktor apapun
baik huruf nashab maupun huruf jazm. Ia tetap dalam keadaan
seperti itu sekalipun didahului huruf nashab dan jazm.
Contohnya:
لَنْ يَفْعَلْنَ, لَنْ تَفْعَلْنَ ، لَمْ يَفْعَلْنَ ، لَمْ تَفْعَلْنَ
