Bahasa Tubuh Bukan Hanya Soal Tubuh, Tapi Juga Wajah
Bahasa tubuh tidak hanya berbicara
tentang posisi badan Anda. Ini juga
sangat berkaitan dengan wajah Anda
dan ekspresi yang muncul
di dalamnya. Sama seperti postur
tubuh, ekspresi wajah juga dapat
dibagi menjadi dua kategori:
Terbuka dan Tertutup.
Wajah Terbuka
Wajah yang terbuka memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
Tersenyum dengan tulus.
Melakukan kontak mata
yang nyaman dan hangat.Menampilkan ekspresi yang
hidup dan dinamis, seperti
alis yang sedikit terangkat
sebagai tanda ketertarikan.
Wajah seperti ini memancarkan
keramahan dan mengundang
orang lain untuk mendekat dan
berbicara.
Wajah Tertutup
Sebaliknya, wajah tertutup
memiliki ciri-ciri:
Ekspresi datar atau tegang.
Menghindari kontak mata.
Raut muka yang terkesan kaku
atau tidak bersahabat.
Wajah tertutup memberi sinyal bahwa
seseorang sedang tidak ingin diganggu,
tidak tertarik, atau menyimpan
ketidaknyamanan.
Sinkronisasi Antara Kata-Kata
dan Bahasa Tubuh
Poin penting yang ditekankan dalam
buku ini adalah keselarasan. Jika
Anda ingin orang lain memercayai
apa yang Anda katakan, Anda
harus memastikan bahwa tubuh
Anda mengatakan hal yang sama.
Dengan kata lain, tiga elemen ini
harus selaras dan sejalan:
Apa yang Anda katakan
(isi ucapan).Bagaimana Anda
mengatakannya (nada suara).Sinyal yang dikirim oleh
tubuh Anda saat berbicara.
Jika ketiganya tidak selaras, lawan
bicara Anda akan merasakan
ketidaknyamanan yang
terpancar dari tubuh Anda.
Akibatnya, kedua belah pihak akan
merasa tidak menyenangkan.
Contoh Sederhana:
Bayangkan seorang teman berkata
kepada Anda, “Aku baik-baik saja.”
Namun, saat ia mengucapkannya:
Matanya melihat ke arah
lain (menghindari kontak).Tangannya menyilang
di dada (defensif).Kakinya mengetuk-ngetuk
lantai (gelisah atau tidak sabar).
Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa
ia jelas tidak sedang baik-baik
saja. Tubuhnya berteriak hal yang
berlawanan dengan mulutnya.
Ketidakselarasan inilah yang
membuat orang lain merasa tidak
nyaman, bingung, atau tidak percaya.
Oleh karena itu, melatih keselarasan
antara ucapan dan bahasa tubuh
adalah kunci untuk menciptakan
kesan pertama yang tulus dan
dapat dipercaya dalam waktu
kurang dari sembilan puluh detik.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Lanjut, gas! Kita masih di buku
How to Make People Like You in 90
Seconds or Less. Sebelumnya kita
udah ngomongin soal bahasa tubuh
terbuka kayak dada yang menghadap
lawan bicara dan gak nyilangin
tangan. Sekarang kita masuk
ke bagian yang sama pentingnya:
Muka lo!
Karena percuma badan lo udah
terbuka lebar, tapi muka lo kayak
lagi nahan berak. Orang juga
bakal kabur.
Bukan Cuma Badan, Muka Lo
Juga Ngomong
Nicholas Boothman ngingetin, bahasa
tubuh itu bukan cuma soal tangan
di mana, kaki gimana. Raut wajah
lo itu layar LED raksasa yang
nayangin isi hati lo. Dan sama
kayak postur, ekspresi muka juga
cuma ada dua mode:
Terbuka atau Tertutup.
1. Wajah Terbuka
(The Welcome Sign)
Ini adalah tampilan muka yang bikin
orang ngerasa, “Nah, ini nih orang
yang asik diajak ngobrol.”
Cirinya simpel:
Senyum tulus. Bukan senyum
dipaksa yang cuma narik ujung
bibir doang, tapi senyum yang
ikut ngerutin sedikit mata lo.Kontak mata nyaman.
Lo natap mata dia, tapi gak kayak
lagi ngelotokin mangsa. Ada jeda
naturalnya.Ekspresi “hidup”. Alis lo
sedikit naik (tanda tertarik),
wajah lo berubah-ubah sesuai
topik obrolan. Gak kayak
patung lilin.
2. Wajah Tertutup
(The Do Not Disturb Sign)
Ini tampilan muka yang tanpa sadar
sering kita pasang pas lagi bete,
capek, atau gak peduli. Cirinya:
Muka datar kayak tembok.
Gak ada emosi, gak ada reaksi.Mata liar atau malah ngindar.
Lihat jam, lihat HP, lihat pintu.
Ke mana aja asal bukan ke mata
lawan bicara.Raut tegang. Bibir dikatup rapat,
rahang ngerem. Kayak lagi nahan
emosi.
Orang yang ngeliat muka kayak gini
langsung otaknya nangkep sinyal:
“Udah, deh. Gue ganggu nih kayaknya.
Mending ngomong sama tembok aja.”
Badan Oke, Mulut Oke.
Tapi Kok Gak Nyambung?
Ini dia bagian paling krusial yang
dibahas di buku: SINKRONISASI.
Lo pasti pernah kan ngalamin
situasi kayak gini?
Temen lo ditanya, “Lo gapapa?”
Dia jawab sambil manyun dan
tangan dilipet: “Gapapa.”
Nah, itu contoh klasik kebohongan
sosial yang gagal total. Secara
verbal dia bilang “Gapapa”, tapi
seluruh tubuhnya teriak,
“GUE LAGI BETE BERAT DAN
PENGEN NAMPAR ORANG!”
Boothman bilang, kalau lo pengen
orang percaya sama apa yang lo
omongin, maka tiga hal ini harus
kompak kayak pasukan marching
band:
Kata-kata Lo
(Isinya apa).Nada Suara Lo
(Cara lo ngomongnya gimana).Bahasa Tubuh Lo
(Ekspresi muka dan gerakan
badan).
Kalau tiga ini gak sinkron, lawan
bicara lo bakal ngerasain getaran
aneh. Getaran itu namanya
KETIDAKPERCAYAAN.
Otak mereka akan lebih percaya sama
bahasa tubuh lo daripada mulut lo.
Contoh Simpel di Kehidupan
Nyata:
Misal lo lagi presentasi di depan klien.
Lo bilang, “Kami sangat antusias
dengan proyek ini.”
Tapi pas lo ngomong gitu:
Muka lo datar, mata lo baca
slide terus.Nada lo monoton kayak suara
Google Translate.Tangan lo masuk kantong celana.
Klien lo gak bakal ngerasa antusiasme
apa pun. Mereka malah mikir,
“Kayaknya tim ini ogah-ogahan deh.”
Bandingin sama ini:
Lo bilang hal yang sama, tapi kali ini:
Lo tersenyum lebar pas bilang
“antusias”.Nada lo naik-turun penuh
semangat.Tangan lo terbuka lebar seolah
ngerangkul semua orang
di ruangan.
Baru deh mereka bakal ikutan
semangat. Itulah kekuatan
sinkronisasi.
Pelajaran Pentingnya:
Jangan Jadi Manusia
Setengah-Setengah
Jadi, kalau lo pengen orang langsung
klik dan nyaman sama lo dalam
90 detik pertama, lo gak cuma butuh
kata-kata yang bagus. Lo butuh
keselarasan total.
Mau bilang “Seneng kenal kamu”?
Senyum. Tatap mata. Buktikan
kalau lo beneran seneng.Mau bilang “Aku dengerin kok”?
Jangan sambil mainin HP.
Badan condong ke depan,
mata fokus.
Sinkronisasi ini yang bikin orang
ngerasa lo tuh tulus dan asli.
Dan di dunia yang penuh kepalsuan
kayak sekarang, orang yang tulus tuh
langka dan otomatis disukai.
Udah paham kan sekarang?
Jadi sebelum ngomong, cek dulu:
“Muka gue gimana? Nada gue
gimana?” Jangan sampe mulut lo
bilang “Seneng”, tapi muka lo
kayak abis makan asem.
