buku

Perjalanan Terakhir Menuju Piramida

Setelah dibebaskan oleh pasukan suku,
Santiago dan Sang Alkemis
melanjutkan perjalanan mereka
melintasi sisa gurun. Hari-hari berlalu
dengan damai. Tidak ada lagi badai
pasir. Tidak ada lagi pasukan
bersenjata. Hanya ada langit biru
yang tak berujung dan lautan pasir
yang tenang.

Mereka tiba di sebuah biara Kristen
yang berdiri sendirian di tengah
gurun. Di sinilah Sang Alkemis
melakukan sesuatu yang mengejutkan
Santiago. Ia berhenti. Ia turun dari
kudanya. Ia memandang Santiago
dengan tatapan yang tenang dan
berkata bahwa perjalanan mereka
bersama telah berakhir.

Santiago terkejut. Ia mengira Sang
Alkemis akan menemaninya sampai
ke Piramida. Tapi Sang Alkemis
hanya tersenyum. Ia menjelaskan
bahwa Santiago sudah tidak
membutuhkannya lagi. Santiago
sudah belajar semua yang perlu ia
pelajari. Ia sudah tahu cara
mendengarkan hatinya. Ia sudah tahu
cara membaca Bahasa Dunia. Ia sudah
tahu bahwa Jiwa Tuhan adalah
jiwanya sendiri. Perjalanan terakhir
ini harus ditempuh sendirian.

Di biara itu, Sang Alkemis melakukan
satu hal lagi yang membuat Santiago
semakin bingung. Ia mengambil
sepotong timah dari tanah. Ia
menaruhnya di atas api. Ia
mencampurkan sesuatu ke dalamnya.
Dan dalam hitungan menit, timah itu
berubah menjadi emas murni yang
berkilau.

Santiago terpaku. Inilah yang selama
ini dicari oleh pria Inggris. Inilah
rahasia alkemi. Batu Filsuf.
Kemampuan untuk mengubah
logam biasa menjadi emas.

Sang Alkemis membagi emas itu
menjadi empat bagian. Satu bagian
ia berikan kepada biara sebagai
ucapan terima kasih. Satu bagian ia
simpan untuk dirinya sendiri. Satu
bagian ia berikan kepada Santiago.
Dan satu bagian terakhir ia berikan
kepada Santiago juga, dengan pesan
bahwa ini adalah untuk Santiago
jika ia membutuhkannya nanti.

Lalu Sang Alkemis menaiki kudanya
dan pergi. Santiago menatap
punggungnya yang semakin mengecil
di kejauhan, hingga akhirnya lenyap
ditelan cakrawala. Ia kini sendirian
lagi. Seperti saat ia pertama kali
meninggalkan Spanyol. Seperti saat
ia pertama kali tiba di Tangier.
Sendirian, tapi bukan orang yang
sama.

Piramida

Akhirnya, setelah berhari-hari
melintasi sisa gurun sendirian,
Santiago melihatnya. Piramida.
Tiga bangunan raksasa yang
menjulang di tengah padang pasir.
Batu-batu kunonya berwarna emas
diterpa cahaya bulan. Santiago
berlutut di atas pasir. Air mata
mengalir di pipinya. Ia telah tiba.
Setelah hampir dua tahun perjalanan,
setelah melintasi lautan dan gurun,
setelah ditipu, bekerja keras,
jatuh cinta, dan hampir mati
berkali-kali, ia akhirnya tiba
di tempat yang ditunjukkan oleh
mimpinya.

Hatinya penuh dengan rasa syukur.
Ia berdoa. Ia berterima kasih kepada
Tuhan, kepada alam semesta,
kepada Melkisedek, kepada Sang
Alkemis, kepada Fatima, kepada
setiap orang yang telah membantunya
sepanjang jalan. Ia bahkan
berterima kasih kepada penipu
di Tangier, karena tanpa ditipu,
ia tidak akan pernah bertemu pedagang
kristal dan belajar tentang perdagangan.

Saat matahari terbit, Santiago mulai
menggali. Ia memilih sebuah titik
di dekat Piramida, tempat di mana
ia merasa harta karun itu berada.
Ia menggali dengan tangannya.
Pasir demi pasir ia singkirkan.
Jam demi jam berlalu. Matahari
semakin tinggi. Keringat membasahi
seluruh tubuhnya.

Tapi tidak ada harta karun. Hanya
pasir. Dan lebih banyak pasir. Dan
lebih banyak pasir lagi.

Santiago terus menggali. Ia sudah
terlalu jauh untuk menyerah
sekarang. Hatinya berbisik bahwa
ini adalah tempat yang benar.
Ia percaya pada hatinya. Ia terus
menggali sampai sore hari, sampai
tangannya lecet dan punggungnya
sakit. Tapi tetap tidak ada harta karun.

Perampok dan Mimpi yang
Mengubah Segalanya

Saat senja mulai turun, Santiago
mendengar suara langkah kaki.
Ia menoleh dan melihat dua orang
pria berlari ke arahnya. Pakaian
mereka compang-camping. Wajah
mereka keras dan lapar. Mereka
adalah pengungsi yang melintasi
gurun, dan mereka melihat Santiago
menggali sendirian.

Tanpa basa-basi, kedua pria itu
menyerang Santiago. Mereka
memukulnya. Mereka
menendangnya. Mereka merampas
emas pemberian Sang Alkemis dari
sakunya. Santiago jatuh tersungkur
di atas pasir, darah mengalir dari
bibirnya.

Para perampok itu menggeledah
seluruh barang bawaannya. Mereka
menemukan emas, tapi tidak
menemukan apa pun selain itu.
Mereka yakin Santiago pasti
menyembunyikan sesuatu yang lebih
berharga. Kenapa lagi ia menggali
di tempat terpencil seperti ini?

“Kamu pasti menyembunyikan harta
karun,” geram salah satu perampok.
“Di mana hartamu? Katakan!”

Santiago terlalu lemah untuk
melawan. Ia hanya bisa bergumam
bahwa ia bermimpi tentang harta
karun yang terkubur di sini.
Ia menceritakan mimpinya yang
berulang. Tentang anak kecil yang
membawanya ke Piramida. Tentang
harta yang tersembunyi di dekat sini.

Salah satu perampok itu tertawa
keras. Ia menatap Santiago dengan
pandangan yang penuh ejekan.

“Kamu bodoh,” katanya.
“Kamu datang jauh-jauh dari Spanyol
hanya karena mimpi? Hanya orang
gila yang melakukan itu.”

Perampok itu lalu berhenti tertawa.
Ia memandang Santiago dengan aneh.
Ada sesuatu di wajahnya yang berubah.

“Kalau bicara soal mimpi,” katanya
pelan, “aku juga pernah punya mimpi.
Dua kali aku bermimpi tentang harta
karun. Dalam mimpiku, aku berjalan
melintasi padang rumput di Spanyol,
dan aku tiba di sebuah gereja tua yang
runtuh. Di dalam gereja itu ada
pohon sycamore yang besar.
Di bawah pohon itu, terkubur sebuah
harta karun.”

Jantung Santiago berhenti berdetak.

Perampok itu melanjutkan, masih
dengan nada mengejek. “Tapi aku
tidak segila kamu. Aku tidak akan
meninggalkan rumahku hanya
karena mimpi bodoh.”

Kedua perampok itu pergi. Mereka
tidak menemukan harta karun yang
mereka cari, hanya emas pemberian
Sang Alkemis. Bagi mereka,
itu sudah cukup. Bagi Santiago,
apa yang baru saja ia dengar jauh
lebih berharga dari emas.

Ia tersadar. Harta karun yang selama
ini ia cari bukanlah di Mesir. Harta
karun itu ada di Spanyol. Di tempat
ia pertama kali memulai perjalanannya.
Di gereja tua yang runtuh dengan
pohon sycamore. Tempat ia dulu biasa
beristirahat bersama domba-dombanya.
Tempat ia pertama kali memimpikan
Piramida.

Santiago tertawa. Ia tertawa keras,
meskipun tubuhnya sakit dan
berdarah. Ia tertawa pada ironi yang
begitu indah. Alam semesta telah
memberinya petunjuk sejak awal.
Harta karun itu selalu ada di tempat
asalnya. Tapi ia harus melakukan
perjalanan sejauh ribuan kilometer,
melintasi lautan dan gurun,
menghadapi penipu dan perang,
untuk bisa menyadarinya.

Ia tidak akan pernah menemukan
harta karun itu jika ia tidak pergi
ke Piramida. Karena hanya
di Piramida ia akan dirampok.
Dan hanya dari perampok itulah ia
akan mendengar tentang gereja tua
dengan pohon sycamore. Alam semesta
memang bekerja dengan cara yang
misterius.

Kembali ke Tempat Semula

Santiago kembali ke Spanyol.
Perjalanan pulang terasa berbeda
dari perjalanan pergi. Ia tidak lagi
menjadi pemuda naif yang bermimpi
tentang harta karun. Ia telah melewati
terlalu banyak hal. Ia telah belajar
terlalu banyak pelajaran. Ia telah
menjadi seseorang yang berbeda.

Ia tiba di Andalusia dan langsung
menuju ke gereja tua yang runtuh.
Gereja itu masih sama seperti dulu.
Batu-batu usang. Atap yang
sebagian besar sudah hilang.
Dan di tengahnya, pohon sycamore
yang besar berdiri kokoh.

Santiago berlutut di bawah pohon
itu. Ia ingat malam-malam yang
pernah ia habiskan di sini bersama
domba-dombanya. Ia ingat mimpi
pertamanya tentang Piramida.
Ia ingat betapa tidak tahunya ia
saat itu tentang apa yang
menantinya di depan.

Ia mulai menggali. Tidak dengan
panik seperti di Piramida. Tapi
dengan tenang. Dengan keyakinan
penuh.

Dan kemudian, sekopnya mengenai
sesuatu yang keras. Sebuah peti
kayu tua. Santiago membukanya
dengan tangan gemetar. Di dalamnya,
berkilau diterpa cahaya matahari
yang masuk melalui celah-celah atap
yang runtuh, ada emas dan permata.
Harta karun yang selama ini ia cari.

Santiago tersenyum. Ia tidak langsung
mengambil hartanya. Ia duduk
di samping peti itu, menyandarkan
punggungnya pada pohon sycamore,
dan memejamkan mata.
Ia memikirkan seluruh perjalanannya.
Tentang peramal di Tarifa. Tentang
Melkisedek. Tentang pedagang
kristal di Tangier. Tentang pria Inggris.
Tentang Fatima, cintanya yang
menunggu di oasis. Tentang Sang
Alkemis. Tentang badai pasir dan
menjadi angin. Tentang Piramida
dan perampok.

Semua itu tidak sia-sia. Semua itu
perlu. Tanpa perjalanan itu, ia tidak
akan pernah menjadi orang yang
mampu menemukan harta ini.
Harta karun yang sesungguhnya,
ia sadari sekarang, bukanlah emas
dan permata yang ada di dalam peti
ini. Harta karun yang sesungguhnya
adalah perjalanan itu sendiri. Adalah
Fatima. Adalah kemampuannya
untuk mendengarkan hatinya dan
berbicara dengan alam semesta.
Adalah pengetahuannya.

Santiago membuka matanya.
Angin berhembus pelan,
menggoyangkan daun-daun
pohon sycamore. Ia ingat apa yang
dikatakan Melkisedek dulu. “Ketika
kamu benar-benar menginginkan
sesuatu, seluruh alam semesta
akan bersekongkol membantumu
mewujudkannya.”

Alam semesta telah menepati
janjinya. Kini giliran Santiago.

Ia akan mengambil sebagian dari
harta ini. Sebagian ia akan berikan
kepada peramal tua di Tarifa, sesuai
janjinya dulu. Lalu ia akan kembali
ke gurun. Kembali ke oasis
Al-Fayoum. Kembali ke Fatima.

Karena harta yang paling berharga,
ia sadari sekarang, bukanlah emas.
Melainkan cinta yang menunggunya
di bawah pohon-pohon kurma.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Setelah bebas dari pasukan suku,
Santiago dan Sang Alkemis lanjut
melintasi sisa gurun. Hari-hari terasa
lebih damai. Nggak ada badai, nggak
ada pasukan. Cuma langit biru dan
pasir tenang.

Mereka akhirnya tiba di sebuah biara
Kristen yang berdiri sendirian
di tengah gurun. Di sinilah,
tiba-tiba Sang Alkemis bilang
sesuatu yang bikin Santiago kaget.

“Duduk. Dengarkan gurun.
Dengarkan hatimu.
Dengarkan Jiwa Dunia.”

Santiago ngangguk, meski masih
rada bingung. Dua hari berikutnya
dia cuma duduk diam di pasir,
sementara otaknya teriak-teriak
panik. Tapi makin lama,
suara-suara itu mereda. Dia mulai
nangkep suara angin, desiran pasir,
bahkan detak jantungnya sendiri
yang makin tenang.

Hari ketiga tiba. Semua prajurit suku
ngumpul. Komandan di atas kuda,
siap ngasih perintah eksekusi kalau
gagal. Santiago berdiri di tengah
lingkaran. Dia nutup mata, dan
ngomong bukan ke manusia,
tapi ke alam semesta.

Pertama ke gurun, minta pasirnya
buat badai. Lalu ke angin, minta
bertiup sekuat tenaga. Terakhir
ke matahari, ngomongin cinta.

“Matahari, gue tahu lo bijak.
Tolong bantu gue. Bantu gue
ngubah diri gue jadi angin.”

Awalnya matahari diem. Tapi
kemudian, sebuah suara hangat
nyampe. Kata si matahari, ada
kekuatan yang lebih gede dari
dirinya: Jiwa Dunia. 

Begitu sadar, semuanya berubah.
Angin menderu kencang, pasir
berputar, langit gelap. Prajurit
panik. Tapi Santiago tetap tenang.
Dia sadar, dia dan alam semesta
itu satu.

Komandan langsung turun dari
kuda. Wajahnya udah nggak
sangar lagi, malah penuh kagum.
“Lo bebas. Kalian berdua bebas.
Pergi.”

Nggak cuma bebas, mereka malah
dikawal sampai perbatasan aman.
Sebagai tanda hormat.

Sang Alkemis deketin Santiago
sambil nyengir. “Lo udah belajar
pelajaran terakhir lo. Ketika lo
bener-bener nginginin sesuatu dan
rela nyerahin seluruh diri lo buat itu,
alam semesta bakal kerja bareng lo.
Bukan sebagai hadiah, tapi sebagai
pengakuan bahwa lo dan alam
semesta adalah SATU.”

Sekarang, Piramida udah nunggu.
Tapi Santiago sadar, harta yang
sebenarnya bukan emas atau
permata. Melainkan pengetahuan
bahwa Jiwa Tuhan adalah jiwanya
sendiri. Dengan itu, nggak ada
yang mustahil.

Akhirnya, Piramida!

Setelah perpisahan itu, Santiago
melanjutkan perjalanan sendirian.
Berhari-hari dia melintasi sisa gurun,
sampai akhirnya dia melihatnya.
Piramida. Tiga bangunan raksasa
menjulang di tengah padang pasir,
batunya berwarna emas kena cahaya
bulan.

Santiago langsung berlutut.
Air matanya netes. Ini dia. Setelah
hampir dua tahun, setelah ditipu,
kerja keras, jatuh cinta, dan hampir
mati berkali-kali, dia akhirnya nyampe
di tempat yang ditunjukin mimpinya.

Hatinya penuh rasa syukur. Dia berdoa,
berterima kasih ke semua yang udah
bantu: Tuhan, alam semesta,
Melkisedek, Sang Alkemis, Fatima,
bahkan penipu di Tangier yang dulu
bikin dia miskin dadakan.

Begitu matahari terbit, Santiago
mulai gali. Dia pilih titik dekat
Piramida, tempat dia yakin
hartanya terkubur. Dia gali pake
tangan. Pasir demi pasir. Jam
demi jam. Keringat sampe banjir.

Tapi nggak ada apa-apa. Cuma
pasir, pasir, dan pasir lagi.

Santiago terus gali. Udah terlalu jauh
buat nyerah sekarang. Hatinya tetep
yakin ini tempat yang bener. Dia gali
sampe sore, sampe tangannya lecet
dan punggungnya sakit. Tapi tetap
nggak ada harta karun.

Perampok yang Justru Jadi
Juru Selamat

Pas senja mulai turun, tiba-tiba
Santiago denger suara langkah kaki.
Dia noleh. Dua pria berlari ke arahnya.
Pakaian mereka compang-camping,
muka mereka keras dan lapar.
Pengungsi gurun. Dan mereka lihat
Santiago lagi gali sendirian.

Tanpa basa-basi, mereka langsung
nyerang. Mukulin. Nendangin.
Ngerampas emas pemberian Sang
Alkemis. Santiago jatuh tersungkur,
darah netes dari bibirnya.

Mereka geledah semua. Nemu emas,
tapi nggak nemu yang lain. Mereka
curiga Santiago nyimpen sesuatu
yang lebih berharga. Ngapain coba
orang gali di tempat sepi begini?

“Lo pasti nyimpen harta karun,”
geram salah satunya.
“Mana? Cepet ngaku!”

Santiago udah terlalu lemah buat
ngelawan. Dia cuma bisa gumam
soal mimpinya yang berulang, soal
anak kecil yang bawa dia
ke Piramida, soal harta karun
di dekat sini.

Salah satu perampok langsung ketawa
keras. “Lo bego banget! Dateng
jauh-jauh dari Spanyol cuma
gara-gara mimpi? Cuma orang gila
yang ngelakuin itu.”

Tapi tiba-tiba dia berhenti ketawa.
Muka dia berubah aneh.

“Omong-omong soal mimpi,”
katanya pelan. “Gue juga pernah
mimpi. Dua kali mimpi yang sama.
Di mimpi itu, gue jalan di padang
rumput di Spanyol, terus nyampe
di gereja tua yang runtuh.
Di dalemnya ada pohon sycamore
gede. Di bawah pohon itu, katanya
ada harta karun terkubur.”

Jantung Santiago langsung berhenti.

Perampok itu lanjut, masih ngejek.
“Tapi gue nggak segila lo. Gue nggak
bakal ninggalin rumah cuma
gara-gara mimpi bodoh.”

Mereka akhirnya pergi. Buat mereka,
emas hasil rampasan udah cukup.
Tapi buat Santiago? Apa yang baru
aja dia denger itu jauh lebih
berharga dari emas.

Dia langsung sadar. Harta karun
yang selama ini dia cari bukan
di Mesir. Harta karun itu ada
di Spanyol. Di tempat dia pertama
kali mulai. Di gereja tua yang runtuh,
di bawah pohon sycamore, tempat
dia dulu istirahat sama
domba-dombanya.

Santiago tertawa keras. Tubuhnya
sakit, bibirnya berdarah, tapi dia
tetep ketawa. Ironi yang indah banget.
Alam semesta udah ngasih petunjuk
dari awal. Tapi dia harus nempuh
ribuan kilometer, ditipu, kerja
setahun, jatuh cinta, hampir mati,
buat akhirnya sadar.

Dia nggak akan pernah nemu
harta karun itu kalau dia nggak
pergi ke Piramida. Karena cuma
di sini dia bakal dirampok.
Dan cuma dari perampok itulah dia
bakal denger cerita soal gereja tua.
Alam semesta memang misterius.

Kembali ke Awal, Nemuin
Harta yang Sesungguhnya

Santiago balik ke Spanyol.
Perjalanan pulang ini beda banget
rasanya. Dia bukan lagi pemuda naif
yang cuma modal mimpi. Dia udah
ngelewatin terlalu banyak, belajar
terlalu banyak. Dia udah jadi orang
yang beda.

Dia langsung ke gereja tua yang
runtuh itu. Batunya masih sama
usangnya. Atapnya sebagian besar
ilang. Dan di tengahnya, pohon
sycamore itu berdiri kokoh.

Santiago berlutut. Dia inget
malam-malam yang dulu dia habisin
di sini sama domba-dombanya. Dia
inget mimpi pertamanya soal
Piramida. Dia inget betapa polosnya
dia saat itu.

Dia mulai gali. Kali ini tenang.
Yakin sepenuh hati.

Dan bener aja. Sekopnya kena sesuatu
yang keras. Peti kayu tua. Dia buka
pelan-pelan. Di dalemnya, emas dan
permata berkilau kena sinar matahari.

Santiago senyum. Dia nggak langsung
ngambil. Dia malah duduk nyender
di pohon sycamore, merem. Mikirin
seluruh perjalanannya. Peramal
di Tarifa. Melkisedek. Pedagang
kristal. Pria Inggris. Fatima. Sang
Alkemis. Badai pasir. Jadi angin.
Piramida. Perampok.

Semua itu nggak sia-sia. Semua itu
perlu. Tanpa perjalanan itu, dia nggak
akan pernah jadi orang yang mampu
nemuin harta ini. Harta karun
sesungguhnya bukan emas dalam peti.
Tapi perjalanan itu sendiri. Fatima.
Kemampuan dengerin hati dan
ngomong sama alam semesta.

Dia buka mata. Angin berhembus
pelan, goyangin daun pohon
sycamore. Dia ingat kata-kata
Melkisedek dulu.

“Ketika lo bener-bener nginginin
sesuatu, seluruh alam semesta
bakal bersekongkol bantu lo.”

Alam semesta udah nepatin janjinya.
Sekarang giliran Santiago.

Dia ambil sebagian harta.
Sebagian lagi dia siapin buat peramal
tua di Tarifa, sesuai janjinya dulu.
Lalu dia bakal balik ke gurun. Balik
ke oasis Al-Fayoum. Balik ke Fatima.

Karena harta paling berharga,
dia sadar sekarang, bukan emas.
Tapi cinta yang nunggu di bawah
pohon-pohon kurma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *