Strategi Menjauh: Cara Avoidant Mengelola Kedekatan
Berbeda dengan tipe cemas yang
berusaha mendekat, individu dengan
avoidant attachment justru secara
tidak sadar menjauh ketika
kedekatan yang terlalu dalam.
Mereka “diprogram” untuk mencari
kekurangan pasangan saat kedekatan
mulai tumbuh. Pola ini disebut
deactivating strategies.
Deactivating strategies adalah
pikiran atau perilaku yang
digunakan untuk menekan keinginan
akan kedekatan. Ini bukan keputusan
sadar, melainkan mekanisme
pertahanan. Tujuannya satu:
menjaga jarak emosional agar tidak
terlalu terikat.
Alih-alih mengakui bahwa mereka
takut akan keintiman, mereka
menciptakan alasan-alasan yang
terlihat rasional untuk menjauh.
Ilusi “The One” dan Pencarian
yang Tidak Pernah Selesai
Salah satu tanda paling kuat dari
avoidant attachment adalah obsesi
terhadap sosok
“yang sempurna”—the one. Sekilas,
ini terdengar romantis. Namun,
di baliknya tersembunyi jebakan.
Mereka percaya bahwa suatu hari
akan menemukan seseorang yang
begitu sempurna sehingga hubungan
akan berjalan tanpa usaha.
Dalam bayangan mereka, fase bulan
madu tidak akan pernah berakhir.
Masalahnya, tidak ada manusia yang
sempurna. Tidak ada hubungan yang
berjalan tanpa usaha. Harapan yang
terlalu tinggi ini membuat setiap
pasangan nyata terlihat mengecewakan.
Akibatnya, setiap hubungan baru
dimulai dengan harapan besar, lalu
perlahan berubah menjadi
kekecewaan.
Jatuh Cinta pada yang Tidak
Tersedia
Banyak yang mengira tipe avoidant
adalah orang yang tidak tertarik pada
hubungan. Kenyataannya justru
sebaliknya. Mereka bisa jatuh cinta
dengan sangat mudah
—tetapi pada orang yang tidak tersedia,
baik secara emosional maupun fisik.
Mengapa? Karena jarak memberi ruang
untuk berfantasi tanpa harus
menghadapi realitas hubungan yang
sebenarnya.
Dengan memilih seseorang yang tidak
bisa dimiliki sepenuhnya, mereka bisa
merasakan “cinta” tanpa harus
benar-benar berkomitmen. Ini adalah
cara halus untuk menghindari
keintiman sambil tetap merasa
terhubung.
Dari Ketertarikan
ke Kekecewaan
Perjalanan hubungan bagi tipe
avoidant sering mengikuti pola yang
sama. Di awal, seseorang tampak
menarik, sempurna, dan penuh
potensi. Namun, seiring waktu,
persepsi itu berubah.
Pasangan mulai terlihat kurang
menarik, kurang pintar, dan lebih
menjengkelkan. Kekurangan menjadi
semakin jelas, sementara kelebihan
diabaikan.
Rasa tertarik berubah menjadi kecewa.
Kedekatan terasa seperti tekanan.
Muncul perasaan terjebak, lalu diikuti
oleh keinginan untuk menjauh.
Kebutuhan akan ruang semakin besar
hingga akhirnya hubungan berakhir
—baik dengan inisiatif sendiri atau
dengan mendorong pasangan untuk
pergi.
Fenomena Phantom Ex:
Terjebak Masa Lalu
Menariknya, setelah hubungan
berakhir, pola ini tidak berhenti.
Justru muncul fenomena yang
disebut phantom ex.
Ketika mantan tidak lagi hadir, semua
alasan mengapa dulu kehilangan
ketertarikan perlahan terlupakan.
Yang tersisa hanyalah ingatan ideal:
seolah-olah mereka adalah
“cinta sejati” yang telah hilang.
Berbeda dengan kebanyakan orang
yang perlahan move on, tipe avoidant
cenderung tetap terikat secara
emosional pada masa lalu. Bukan
karena tidak bisa, tetapi karena secara
tidak sadar mereka tidak ingin.
Dengan terus memikirkan mantan
yang tidak bisa dimiliki, mereka
menghindari kemungkinan
hubungan baru. Ini adalah cara
untuk tidak benar-benar berkomitmen,
sambil tetap merasa “setia” pada
sesuatu yang tidak lagi nyata.
Pada akhirnya, mencintai seseorang
yang tidak tersedia menjadi alasan
untuk tetap sendiri. Inilah inti dari
fenomena phantom ex
—sebuah pembenaran untuk
menghindari cinta sebagai realitas.
Bentuk Lain Deactivating
Strategies
Selain pola-pola besar tersebut,
deactivating strategies juga muncul
dalam berbagai perilaku sehari-hari.
Seseorang bisa meninggalkan
hubungan justru ketika semuanya
berjalan baik. Mengucapkan
“aku cinta kamu” terasa sangat sulit,
bahkan ketika momen itu tepat.
Ada keyakinan bahwa diri belum
siap untuk berkomitmen.
Mereka cenderung
membesar-besarkan kekurangan
pasangan dan mengabaikan
kelebihannya. Dalam beberapa
kasus, bisa muncul ketidaksetiaan
atau ketertarikan pada orang lain
yang tidak tersedia.
Menjaga rahasia menjadi cara untuk
mempertahankan kemandirian.
Kontak fisik dan kedekatan
emosional pun sering dihindari.
Semua ini bukan karena tidak peduli,
tetapi karena kedekatan terasa
mengancam.
Tanda-Tanda Pasangan Bertipe
Avoidant
Bagi yang berada dalam hubungan
dengan tipe avoidant, pola ini sering
terasa membingungkan.
Pasangan bisa memberikan sinyal
campur aduk tentang perasaannya.
Mereka menginginkan hubungan
ideal, tetapi seolah-olah dengan
orang lain, bukan dengan pasangan
saat ini.
Ada keinginan kuat untuk menemukan
“yang tepat”, tetapi tidak pernah
benar-benar menemukannya.
Kesejahteraan emosional pasangan
sering diabaikan, bahkan dianggap
berlebihan.
Pasangan mungkin disebut terlalu
membutuhkan, terlalu sensitif, atau
bereaksi berlebihan. Ketika situasi
tidak nyaman, mereka cenderung
mengabaikan atau menarik diri.
Secure Attachment:
Pola yang Seimbang
Di antara dua ekstrem tersebut,
terdapat secure attachment
sebagai pola yang paling sehat.
Individu dengan gaya ini tidak
menghindari konflik, tetapi mampu
mengelolanya dengan baik. Mereka
mencegah perbedaan pendapat
berubah menjadi sesuatu yang
merusak hubungan.
Mereka memiliki fleksibilitas mental
—mampu melihat diri sendiri,
mengakui kesalahan, dan berubah
demi keberlangsungan hubungan.
Komunikasi menjadi kekuatan utama.
Mereka mengungkapkan perasaan
secara langsung, tanpa permainan
atau harapan tersembunyi agar
pasangan “menebak”.
Kedekatan tidak menakutkan bagi
mereka. Mereka nyaman secara
emosional dan fisik, tetapi tidak
bergantung sepenuhnya pada
hubungan untuk merasa utuh.
Mereka juga lebih mudah memaafkan,
melihat hubungan sebagai ruang
saling mendukung, dan mengaitkan
keintiman emosional dengan
kedekatan fisik.
Yang paling penting, mereka
memperlakukan pasangan dengan
cinta dan rasa hormat, serta merasa
bertanggung jawab atas
kesejahteraan satu sama lain.
ini memperjelas bahwa setiap gaya
keterikatan memiliki pola pikir dan
perilaku yang konsisten.
Bukan sekadar kebiasaan, tetapi
cara bawah sadar dalam menghadapi
kedekatan. Memahami pola ini
membantu melihat hubungan dengan
lebih jernih
—mengapa seseorang mendekat,
menjauh, atau tetap seimbang
dalam mencintai.
Berikut contoh kasus
Kasus: Deactivating Strategy
– “Tiba-tiba jadi banyak masalah”
Bima awalnya sangat tertarik pada
Lala. Ia merasa Lala berbeda dari
orang lain
—nyambung, perhatian, dan
menyenangkan.
Namun setelah beberapa bulan,
ketika hubungan mulai lebih dekat,
sesuatu berubah.
Hal-hal kecil mulai terasa besar:
- Cara Lala tertawa dianggap
“terlalu berisik” - Cara Lala bercerita dianggap
“membosankan” - Bahkan kebiasaan sederhana
- mulai mengganggu
Dalam pikirannya muncul,
“Kayaknya dia bukan orang
yang tepat.”
Padahal sebelumnya semua terasa
baik-baik saja.
👉 Yang terjadi:
Bima secara tidak sadar
menggunakan
deactivating strategy
—mencari kekurangan agar
punya alasan untuk menjauh.
👉 Siapa yang “tidak aman”?
Bima, karena kedekatan mulai
terasa mengancam baginya.
Kasus: Ilusi “The One”
– “Harusnya ada yang lebih
cocok”
Tari sudah beberapa kali menjalin
hubungan, tapi selalu berakhir
dengan alasan yang sama:
“Aku belum menemukan yang
benar-benar tepat.”
Setiap awal hubungan, ia sangat
antusias. Namun ketika mulai
masuk fase serius, ia mulai
berpikir:
- “Harusnya ada yang lebih
cocok dari ini” - “Kalau ini jodohku, harusnya
semuanya terasa mudah”
Akhirnya ia mengakhiri hubungan,
lalu mengulang pola yang sama
dengan orang baru.
👉 Yang terjadi:
Tari terjebak dalam ilusi “the one”
—standar tidak realistis untuk
menghindari kedekatan nyata.
👉 Yang tidak aman siapa?
Tari, karena ia tidak nyaman bertahan
dalam hubungan yang nyata
(yang pasti punya kekurangan).
Kasus: Jatuh Cinta pada yang
Tidak Tersedia
Raka merasa sangat mencintai
seseorang bernama Maya.
Masalahnya, Maya sudah punya
pasangan.
Anehnya, Raka sulit move on.
Ia merasa,
“Dia satu-satunya yang
benar-benar aku cintai.”
Namun setiap kali ada orang yang
benar-benar tersedia dan tertarik
padanya, Raka justru tidak merasa
tertarik.
👉 Yang terjadi:
Raka memilih mencintai seseorang
yang tidak bisa dimiliki, sehingga:
- Ia bisa merasakan cinta
- Tapi tidak perlu benar-benar
berkomitmen
👉 Siapa yang tidak aman?
Raka, karena kedekatan nyata lebih
menakutkan daripada cinta yang
tidak mungkin.
Kasus: Dari Tertarik Jadi
Ingin Pergi
Nina dan Edo menjalin hubungan
yang awalnya hangat.
Edo perhatian, hadir, dan konsisten.
Namun semakin Edo menunjukkan
keseriusan, Nina mulai merasa:
- “Kok jadi terlalu dekat ya…”
- “Aku butuh ruang”
- “Aku takut kehilangan
kebebasan”
Akhirnya Nina mulai menjauh,
bukan karena Edo salah, tapi
karena hubungan terasa terlalu
dekat.
👉 Yang terjadi:
Kedekatan → terasa seperti tekanan
→ muncul dorongan menjauh
👉 Yang tidak aman siapa?
Nina, karena kedekatan yang terlalu
dalam membuatnya tidak nyaman.
Kasus 9: Phantom Ex
– “Dulu sebenarnya dia
sempurna”
Setelah putus dari Andi, selama
hubungan Nina sering merasa:
- Andi kurang perhatian
- Andi kurang cocok
- Hubungan terasa
membosankan
Namun setelah benar-benar
berpisah, pikirannya berubah:
- “Sebenarnya dia baik banget…”
- “Kayaknya dia yang paling
ngerti aku” - “Susah cari yang kayak dia lagi”
Ia mulai merindukan versi ideal dari
Andi, tapi tetap tidak kembali atau
membuka diri ke orang baru.
👉 Yang terjadi:
Ini adalah phantom ex
—mengidealkan masa lalu
setelah hubungan berakhir.
👉 Siapa yang tidak aman?
Nina, karena lebih nyaman
mencintai sesuatu yang sudah
tidak ada daripada membangun
hubungan baru.
Pola Besar yang Terlihat
Dari semua kasus ini, polanya sama:
- Saat jauh
→ merasa tertarik / aman - Saat dekat
→ merasa terancam /
ingin menjauh
Dan yang penting dipahami:
Orang avoidant bukan tidak ingin
cinta.
Mereka ingin tapi takut dengan
kedekatan yang nyata.
