Buku Attached Amir Levine, PhD, Rachel Heller, MA, Mengenali Pola Keterikatan dalam Diri

Amir Levine, PhD, Rachel Heller, MA
Pernah muncul rasa cemas berlebihan
dalam hubungan? Takut pasangan
tiba-tiba berhenti mencintai, merasa
tidak utuh saat sendiri, atau curiga
terus-menerus bahwa pasangan akan
berselingkuh. Bahkan sampai
mencoba membuat pasangan cemburu
hanya agar ia mengejar dan
memperhatikan. Jika sebagian besar
perasaan ini terasa familiar, maka
besar kemungkinan seseorang
memiliki anxious attachment style.
Di sisi lain, ada juga pola yang
berlawanan. Mudah merasa
terganggu oleh pasangan, merasa
ingin menjauh ketika hubungan
mulai terasa dekat, bahkan kesulitan
mengucapkan “aku cinta kamu”
atau sekadar bergandengan tangan.
Jika ini yang lebih dominan, maka
kecenderungannya adalah avoidant
attachment style.
Buku Attached karya Amir Levine
dan Rachel Heller menjelaskan bahwa
pola-pola ini bukan kebetulan.
Ini adalah hasil dari bagaimana
seseorang dibesarkan dan
diperlakukan sejak kecil. Cara kita
mencintai hari ini adalah cerminan
dari bagaimana kita dulu dicintai.
Asal Usul Attachment:
Dari Bertahan Hidup
Hingga Hubungan Modern
Teori keterikatan pertama kali
diperkenalkan oleh John Bowlby,
seorang psikolog dan psikiater asal
Inggris. Ia melihat bahwa kebutuhan
manusia untuk terhubung bukan
sekadar emosi, tetapi bagian dari
mekanisme bertahan hidup.
Pada masa prasejarah, manusia hidup
dalam kelompok dan sangat
bergantung satu sama lain untuk
makanan, perlindungan, dan
keamanan. Mereka yang tidak
memiliki ikatan sosial cenderung
tidak bertahan hidup. Dari sinilah
otak manusia “diprogram” untuk
mencari kedekatan dengan orang lain.
Hal ini terlihat jelas pada anak kecil.
Ketika dipisahkan dari ibunya,
ia akan menangis, panik, dan
berusaha mencari kembali kontak.
Perilaku ini disebut protest behavior
—reaksi alami untuk mempertahankan
keterikatan.
Namun, kondisi zaman itu juga keras.
Banyak kehilangan terjadi.
Bagi sebagian orang, menjalin
kedekatan berarti membuka peluang
untuk merasakan kehilangan yang
menyakitkan. Maka, mereka
mengembangkan jarak emosional
sebagai perlindungan
—cikal bakal avoidant attachment.
Sementara yang lain justru semakin
bergantung pada kedekatan karena
itu meningkatkan peluang bertahan
hidup
—ini menjadi dasar anxious
attachment.
Dalam lingkungan yang lebih aman,
manusia bisa merasa nyaman dengan
kedekatan tanpa bergantung
sepenuhnya padanya. Dari sinilah
muncul secure attachment.
Keterikatan: Bagian dari Biologi,
Bukan Kelemahan
Meskipun dunia modern tidak lagi
sekeras masa prasejarah, otak
manusia tidak banyak berubah.
Kebutuhan untuk terikat tetap
menjadi bagian dari diri kita.
Sering kali, ketergantungan emosional
dianggap sebagai kelemahan. Padahal,
penelitian menunjukkan sebaliknya.
Hubungan yang kuat sama pentingnya
bagi anak seperti makanan dan air.
Dalam sebuah eksperimen, seorang
anak kecil bermain di ruangan penuh
mainan. Ia terlihat bahagia hingga
menyadari ibunya pergi. Seketika,
ia berhenti bermain dan mulai
menangis. Ketika ibunya kembali,
ia merasa aman dan kembali
bermain. Ini menunjukkan bahwa
rasa aman dari keterikatan
memungkinkan eksplorasi.
Hal yang sama berlaku pada orang
dewasa. Semakin seseorang merasa
aman secara emosional, semakin
berani ia menghadapi dunia.
Ini disebut dependency paradox:
semakin kita memiliki tempat
bergantung yang aman, semakin
kita menjadi mandiri.
Eksperimen lain memperkuat hal ini.
Sekelompok wanita diminta
menghadapi ancaman kejutan listrik
ringan dalam tiga kondisi: sendirian,
memegang tangan orang asing, dan
memegang tangan suami. Hasilnya,
tingkat stres tertinggi terjadi saat
sendirian, menurun saat dengan
orang asing, dan hampir hilang saat
bersama pasangan.
Artinya, kedekatan bukan membuat
kita lemah, tetapi justru
menenangkan sistem saraf kita.
Tiga Gaya Keterikatan dalam
Hubungan
Manusia pada umumnya memiliki
salah satu dari tiga gaya
keterikatan utama.
Anxious attachment ditandai dengan
pikiran yang terus-menerus terfokus
pada hubungan. Ada rasa tidak aman
dan keraguan apakah pasangan
benar-benar mencintai mereka.
Avoidant attachment cenderung
menghindari kedekatan emosional.
Mereka merasa tidak nyaman
ketika hubungan mulai terlalu dekat
secara perasaan, sering merasa
“terjebak” dalam hubungan, dan
secara tidak sadar menjaga jarak.
Sementara itu, secure attachment
adalah kondisi yang paling seimbang.
Mereka nyaman dengan kedekatan,
tetapi tidak bergantung padanya
untuk merasa utuh.
Gaya keterikatan ini bukan label
permanen, tetapi pola yang terbentuk
dari pengalaman dan bisa dikenali
melalui perilaku sehari-hari.
Strategi Emosional pada
Anxious Attachment
Orang dengan anxious attachment
memiliki apa yang disebut activating
strategies. Ini adalah dorongan
emosional yang membuat mereka
terus mencari kedekatan dengan
pasangan.
Mereka cenderung hanya melihat sisi
baik pasangan dan mengabaikan
kekurangannya. Pasangan dianggap
lebih “tinggi”, sementara diri sendiri
dianggap kurang.
Mereka membutuhkan kepastian
terus-menerus, percaya bahwa
pasangan adalah satu-satunya
(“soulmate”), dan sulit melepaskan
hubungan bahkan ketika jelas tidak
memiliki masa depan.
Ketika kebutuhan kedekatan tidak
terpenuhi, mereka menggunakan
protest behavior untuk menarik
perhatian pasangan.
Protest Behavior:
Upaya Memanggil Perhatian
Protest behavior adalah tindakan
yang muncul bukan karena
kebencian, tetapi karena ketakutan
kehilangan koneksi.
Bentuknya bisa sangat beragam.
Mulai dari terus-menerus menelepon
atau mengirim pesan, bahkan
mendatangi pasangan tanpa
diundang. Ada juga yang justru
menarik diri, berharap pasangan
menyadari kesalahan dan datang
memperbaiki hubungan.
Sebagian menjadi sangat perhitungan
—menghitung berapa lama pasangan
membalas pesan, lalu membalas
dengan durasi yang sama. Dalam
konflik, mereka menunggu pasangan
meminta maaf lebih dulu.
Ancaman untuk mengakhiri hubungan
juga sering muncul, tetapi bukan
benar-benar ingin pergi. Itu adalah
ujian: apakah pasangan akan
berusaha menahan mereka.
Manipulasi halus juga bisa terjadi,
seperti berpura-pura sibuk,
mengabaikan panggilan, atau
membuat pasangan cemburu
dengan membicarakan orang lain.
Di balik semua itu, ada satu
kebutuhan utama: ingin diyakinkan
bahwa mereka dicintai dan tidak
akan ditinggalkan.
Ketergantungan dan Kesehatan
Hubungan
Sering kali, masyarakat mendorong
untuk “tidak terlalu membutuhkan
orang lain”. Namun kenyataannya,
kebutuhan itu tidak hilang dengan
ditekan
—ia justru muncul dalam bentuk lain.
Ketika kebutuhan emosional
terpenuhi, rasa “butuh” itu justru
berkurang dengan sendirinya.
Hubungan yang sehat bukan tentang
menjadi sepenuhnya mandiri, tetapi
tentang memiliki keterikatan yang
aman.
Manusia tidak diciptakan untuk hidup
sendiri. Bahkan, isolasi sosial
dianggap sebagai salah satu hukuman
paling berat. Sebaliknya, hubungan
yang sehat tidak hanya meningkatkan
kualitas hidup, tetapi juga dapat
memperpanjang usia.
Namun, hubungan yang tidak sehat
justru bisa memberikan efek
sebaliknya.
ini menunjukkan satu hal penting:
cara kita mencintai bukan sekadar
pilihan sadar, tetapi hasil dari pola
yang telah lama tertanam.
Memahaminya bukan untuk
menyalahkan diri sendiri, tetapi
untuk mulai melihat dengan lebih
jernih
—apa yang sebenarnya kita cari
dalam sebuah hubungan, dan
mengapa kita mencarinya
dengan cara tertentu.
Kasus 1: Anxious Attachment
– “Kenapa dia berubah?”
Rina menjalin hubungan dengan Dika.
Awalnya, Dika sangat perhatian
—sering mengirim pesan dan
mengajak bertemu. Namun setelah
beberapa bulan, intensitas itu
berkurang karena Dika mulai sibuk
dengan pekerjaan.
Rina mulai merasa gelisah.
Ia berpikir,
“Dia pasti sudah tidak sayang lagi.”
Ia mulai mengecek kapan terakhir
Dika online, menghitung berapa
lama pesan dibalas, dan merasa
kesal jika tidak segera direspons.
Suatu malam, Rina sengaja
mengunggah foto dengan teman
laki-laki agar Dika cemburu. Ketika
Dika tidak bereaksi seperti yang
ia harapkan, Rina semakin panik dan
mengirim pesan panjang, menuduh
Dika berubah.
Padahal, yang sebenarnya terjadi
bukan perubahan cinta, melainkan
aktivating strategy
—reaksi emosional karena rasa
tidak aman.
Yang merasa tidak aman
adalah Rina
Coba lihat dari tanda-tandanya:
- Rina mulai gelisah ketika
perhatian Dika berkurang - Rina berpikir,
“dia sudah tidak sayang lagi”
(padahal belum tentu) - Rina overthinking,
mengecek chat, menghitung
waktu balas - Rina sampai mencari reaksi
dengan membuat Dika cemburu
Semua ini menunjukkan satu hal:
👉 Rina takut kehilangan
hubungan itu
Sementara Dika:
- hanya sibuk kerja
- tidak menunjukkan tanda panik
atau takut ditinggalkan
Cara mudah memahaminya
Dalam kasus ini:
- Fakta: Dika sibuk
→ jadi lebih jarang chat - Respons Rina: langsung
merasa tidak dicintai
Di sinilah letak “tidak aman”-nya.
Bukan pada situasi, tapi pada cara
Rina menafsirkan situasi.
Intinya
- Rina (anxious)
→ merasa tidak aman
→ jadi reaktif - Dika → kemungkinan biasa
saja (atau bahkan tidak sadar
ada masalah)
Kalau dibuat lebih sederhana lagi:
Orang yang tidak aman itu
biasanya yang
takut kehilangan, butuh
kepastian terus, dan mudah
panik saat pasangan berubah
sedikit saja.
Kasus 2: Avoidant Attachment
– “Aku butuh ruang”
Ardi adalah orang yang mandiri dan
terbiasa menyelesaikan semuanya
sendiri. Ia mulai dekat dengan Sinta,
yang hangat dan ekspresif.
Namun ketika hubungan mulai serius,
Sinta sering mengajak bicara tentang
masa depan dan perasaan. Ardi mulai
merasa tidak nyaman. Ia merasa
seperti “terjebak”.
Tanpa sadar, Ardi mulai menjaga
jarak. Ia lebih lama membalas pesan,
menghindari pembicaraan emosional,
dan lebih sering sibuk dengan hal lain.
Dalam pikirannya muncul,
“Kenapa dia terlalu butuh aku?”
Padahal yang terjadi adalah
deactivating strategy
—cara bawah sadar untuk menjaga
jarak emosional agar tetap merasa
aman.
Kasus 3: Anxious vs Avoidant
– “Tarik-ulur tanpa akhir”
Nadia (anxious) dan Reza (avoidant)
menjalin hubungan yang penuh
drama.
Saat Nadia merasa Reza menjauh,
ia semakin mendekat
—mengirim banyak pesan, meminta
kepastian, bahkan menangis.
Namun semakin Nadia mendekat,
Reza semakin menarik diri karena
merasa tertekan.
Ketika Reza menjauh, Nadia panik.
Ketika Nadia mengejar, Reza kabur.
Hubungan ini menjadi siklus:
- Nadia butuh kedekatan
→ Reza merasa sesak - Reza menjauh
→ Nadia merasa ditinggalkan - Nadia mengejar
→ Reza makin menjauh
Keduanya sebenarnya tidak jahat, tetapi
pola keterikatan mereka saling
memicu luka satu sama lain.
Kasus 4: Secure Attachment
– “Dekat tanpa takut kehilangan”
Lina dan Bagas memiliki hubungan
yang relatif stabil.
Ketika Bagas sibuk dan tidak bisa
membalas pesan, Lina tidak langsung
panik. Ia memahami situasi dan tetap
menjalani aktivitasnya.
Di sisi lain, Bagas juga tidak
menghindar dari kedekatan.
Ia bisa berkata,
“Aku lagi capek hari ini,
tapi aku tetap sayang kamu.”
Saat ada konflik, mereka tidak saling
menguji atau menarik diri, tetapi
membicarakan dengan terbuka.
Mereka tetap saling membutuhkan,
tetapi tidak merasa kehilangan diri
sendiri.
Inilah contoh secure attachment
—kedekatan yang memberi rasa
aman, bukan kecemasan.
Kesimpulan dari Kasus-Kasus Ini
Dari keempat contoh tersebut terlihat
satu pola besar:
- Anxious: takut ditinggalkan
→ mengejar dan mencari kepastian - Avoidant: takut kehilangan
kebebasan → menjaga jarak - Secure: nyaman dengan
kedekatan → tetap stabil dalam
hubungan
Dan yang paling penting, pola ini
sering terjadi tanpa disadari.
Bukan karena seseorang “terlalu lebay”
atau “terlalu dingin”, tetapi karena cara
otak belajar mencintai sejak dulu.
