“Siapa yang Memiliki ‘Mengapa’ Akan Mampu Menanggung Hampir Semua ‘Bagaimana’”
Salah satu pelajaran paling kuat dalam
Man’s Search for Meaning adalah
gagasan bahwa manusia yang memiliki
alasan untuk hidup, sebuah “mengapa”,
akan mampu bertahan menghadapi
hampir semua bentuk penderitaan,
apa pun “bagaimana”-nya. Di kamp
konsentrasi, penderitaan bukan sekadar
kesulitan kecil; itu adalah kelaparan,
penyakit, kerja paksa, dan ancaman
kematian setiap hari. Namun di tengah
situasi ekstrem itu, Frankl mengamati
perbedaan mencolok antara mereka
yang masih memiliki tujuan dan
mereka yang kehilangan arah.
Menurut Frankl, memulihkan kekuatan
batin seorang tahanan harus dimulai
dengan menunjukkan kepadanya tujuan
masa depan. Tanpa tujuan, manusia
runtuh dari dalam. Dengan tujuan,
ia memiliki alasan untuk bertahan
satu hari lagi.
Mimpi Felix dan Tanggal 30 Maret
Frankl menceritakan tentang seorang
sesama tahanan, sebut saja Felix.
Pada Februari 1945, Felix bermimpi
mendengar sebuah suara yang
mengatakan bahwa ia boleh
mengajukan satu permintaan.
Ia meminta untuk mengetahui kapan
dirinya akan dibebaskan dari kamp dan
penderitaannya akan berakhir.
Suara itu menjawab: 30 Maret.
Sejak saat itu, Felix memegang tanggal
tersebut dengan keyakinan penuh.
Ia percaya mimpinya benar. Harapan
itu menjadi jangkar bagi hidupnya.
Namun ketika hari-hari berlalu dan
perang justru memburuk, pembebasan
tampak semakin tidak mungkin.
Pada 29 Maret, sehari sebelum tanggal
yang ia yakini sebagai hari kebebasan,
Felix tiba-tiba jatuh sakit.
Pada 30 Maret, hari yang ia harapkan
sebagai akhir penderitaan, ia kehilangan
kesadaran. Pada 31 Maret, ia meninggal
dunia.
Kekecewaan yang Mematikan
Frankl menyimpulkan bahwa penyebab
utama kematian Felix bukan
semata-mata penyakit fisik. Penyebab
terdalamnya adalah kekecewaan yang
dahsyat ketika harapan pembebasan
itu tidak terwujud. Tubuhnya
sebenarnya sudah terinfeksi tifus laten.
Namun ketika keyakinannya pada masa
depan runtuh, daya tahan tubuhnya
ikut melemah.
Imannya terhadap masa depan dan
kehendaknya untuk hidup lumpuh
seketika. Tubuhnya kemudian menjadi
korban penyakit yang sebelumnya
masih bisa ia tahan. Dalam arti tertentu,
suara dalam mimpinya “benar”,
penderitaannya memang berakhir pada
tanggal itu, tetapi bukan melalui
pembebasan, melainkan kematian.
Kisah ini menunjukkan betapa kuatnya
hubungan antara harapan, makna,
dan ketahanan fisik manusia.
Harapan Palsu dan Lonjakan
Kematian
Untuk memperkuat pengamatan
tersebut, kepala dokter di kamp
konsentrasi mencatat peningkatan
angka kematian antara Natal 1944 dan
Tahun Baru 1945. Ia percaya
penyebabnya adalah harapan palsu
para tahanan yang meyakini bahwa
mereka akan pulang ke rumah
sebelum Natal.
Ketika waktu yang dinanti semakin
dekat dan kenyataan tidak berubah,
harapan itu runtuh. Banyak tahanan
kehilangan semangat hidup dan jatuh
ke dalam tidur panjang yang tidak
pernah mereka bangun kembali.
Harapan yang tidak memiliki dasar
realistis, ketika hancur secara tiba-tiba,
dapat melumpuhkan jiwa. Dan ketika
jiwa lumpuh, tubuh sering kali ikut
menyerah.
Memberi Manusia Sebuah Tujuan
Frankl menyimpulkan bahwa setiap
upaya untuk memulihkan kekuatan
batin seorang tahanan harus dimulai
dengan menunjukkan kepadanya suatu
tujuan masa depan. Ia perlu diberi
“mengapa”, sebuah alasan untuk
tetap hidup.
Dengan memiliki tujuan, seseorang
dapat menguatkan dirinya untuk
menanggung “bagaimana” dari
keberadaannya yang mengerikan.
Penderitaan fisik yang sama dirasakan
oleh banyak tahanan, tetapi respons
batin mereka berbeda. Mereka yang
menemukan alasan untuk hidup
memiliki peluang lebih besar untuk
bertahan. Sebaliknya, mereka yang
merasa tidak ada lagi yang menunggu
atau yang perlu diperjuangkan, lebih
rentan terhadap penyakit dan kematian.
Dua Pria yang Hampir Bunuh Diri
Frankl juga menceritakan tentang dua
tahanan yang mempertimbangkan
bunuh diri. Mereka menggunakan
alasan yang umum: hidup tidak lagi
menawarkan apa pun. Tidak ada
yang bisa diharapkan dari masa depan.
Namun mereka tidak jadi melakukannya.
Mengapa? Karena mereka menemukan
makna.
Salah satu pria menyadari bahwa ia
memiliki seorang anak yang
menunggunya di negara lain. Anak itu
masih hidup dan membutuhkan dirinya.
Pria lainnya adalah seorang ilmuwan
yang telah menulis serangkaian buku
yang belum selesai. Pekerjaan itu
menunggunya untuk diselesaikan.
Ketika seseorang menjadi sadar akan
tanggung jawabnya, baik terhadap
seseorang yang mencintainya maupun
terhadap karya yang belum selesai,
ia tidak akan mudah membuang
hidupnya. Ia tahu alasan
keberadaannya. Ia memiliki “mengapa”.
Mengapa yang Menyelamatkan
Dari semua pengamatan ini, Frankl
menegaskan satu prinsip: manusia yang
mengetahui alasan keberadaannya akan
mampu menanggung hampir semua
bentuk penderitaan. Bukan berarti
penderitaan itu hilang atau menjadi
ringan. Tetapi makna memberi kekuatan
untuk bertahan.
Di kamp konsentrasi, perbedaan antara
hidup dan mati sering kali tidak hanya
ditentukan oleh kondisi fisik, melainkan
oleh keadaan batin. Mereka yang
memiliki tujuan, seseorang yang
menunggu, atau pekerjaan yang belum
selesai, memiliki pegangan untuk tetap
berdiri.
Pelajaran ini sederhana namun radikal:
ketika hidup menjadi sangat berat, yang
paling kita butuhkan bukanlah kondisi
yang lebih mudah, melainkan alasan
yang cukup kuat untuk tetap berjalan.
Sebuah “mengapa” yang membuat kita
mampu menghadapi apa pun
“bagaimana”-nya.
