Cinta sebagai Tujuan Tertinggi Manusia
Dalam Man’s Search for Meaning,
Viktor E. Frankl menegaskan bahwa
makna hidup setiap orang bersifat unik.
Tidak ada satu rumus tunggal yang
berlaku untuk semua manusia. Namun
di antara berbagai kemungkinan
makna itu, Frankl menyimpulkan
bahwa cinta adalah tujuan paling tinggi
dan paling agung yang dapat dicapai
manusia.
Di tengah penderitaan kamp
konsentrasi, ia melihat bahwa yang
membuat seseorang terus bertahan
bukan sekadar naluri hidup,
melainkan keterikatan batin pada
seseorang atau sesuatu yang dicintai.
Cinta menjadi arah, sekaligus kekuatan.
Bagi satu orang, makna itu terletak
pada cintanya kepada sang anak. Bagi
yang lain, pada cintanya untuk
membagikan hasil temuannya kepada
dunia melalui buku-buku yang belum
selesai. Dan bagi Frankl sendiri, cinta
kepada istrinya adalah sumber daya
batin yang tak tergoyahkan.
Makna yang Sepenuhnya Pribadi
Frankl menekankan bahwa makna hidup
tidak bisa disamaratakan. Setiap orang
memiliki tugas dan panggilan yang
berbeda. Apa yang membuat satu orang
bertahan, bisa jadi berbeda dari yang lain.
Namun ketika makna itu ditemukan
dalam bentuk cinta, ia memiliki daya
yang luar biasa.
Cinta kepada anak membuat seorang ayah
merasa bertanggung jawab untuk kembali
hidup-hidup. Cinta kepada karya
membuat seorang ilmuwan merasa
hidupnya belum selesai. Cinta kepada
pasangan membuat seseorang merasa
tetap terhubung, bahkan ketika terpisah
oleh dinding kamp dan ketidakpastian
kematian.
Cinta memberi alasan untuk terus
melangkah, bahkan ketika tubuh
hampir tak sanggup lagi.
Pawai di Hari yang Gelap dan
Membeku
Frankl menyadari sepenuhnya
kekuatan cinta pada suatu hari yang
gelap dan membeku. Ia dan para
tahanan lainnya diperintahkan untuk
berjalan menuju lokasi kerja. Tubuh
mereka kurus kering karena kelaparan.
Mereka dipukuli dan dipaksa berjalan
melewati batu-batu besar serta tanah
yang tertutup es.
Langkah demi langkah terasa
menyakitkan. Dalam kondisi fisik yang
lemah, setiap meter perjalanan seperti
beban yang mustahil.
Di tengah perjalanan itu, seorang
tahanan berbisik kepada Frankl,
“Seandainya istri-istri kita bisa melihat
kita sekarang. Aku berharap mereka
lebih baik di kamp mereka dan tidak
tahu apa yang sedang terjadi pada kita.”
Kalimat itu sederhana, tetapi penuh
kerinduan dan cinta. Di tengah
penderitaan, pikiran mereka tetap
tertuju pada orang yang dicintai.
Cinta yang Tidak Dapat Direnggut
Saat mengenang momen itu, Frankl
menulis bahwa ia tidak tahu apakah
istrinya masih hidup. Ia tidak memiliki
cara untuk mencari tahu. Namun pada
saat itu, ketidaktahuan itu tidak lagi
menjadi persoalan.
Tidak ada yang dapat menyentuh
kekuatan cintanya, pikirannya, dan
bayangan tentang istrinya. Bahkan
jika pada saat itu ia tahu bahwa
istrinya telah meninggal, ia merasa
bahwa cintanya tidak akan berubah.
Ia tetap akan tenggelam dalam
perenungan tentang dirinya, tetap
berbicara secara batin dengannya,
dengan kejelasan dan kepuasan
yang sama.
Cinta, dalam pengalaman Frankl,
melampaui kehadiran fisik. Ia tidak
bergantung pada kepastian apakah
orang yang dicintai masih hidup atau
tidak. Cinta hidup dalam kesadaran
dan dalam kedalaman jiwa. Ia tidak
bisa dipukul, tidak bisa dibekukan oleh
udara dingin, dan tidak bisa
dihancurkan oleh kawat berduri.
Percakapan Batin yang
Menghidupkan
Di tengah barisan tahanan yang dipaksa
berjalan di atas tanah beku, Frankl
melakukan percakapan batin dengan
istrinya. Ia membayangkan wajahnya,
suaranya, dan kehadirannya.
Percakapan itu terasa nyata dan
memuaskan.
Bagi orang luar, itu mungkin hanya
imajinasi. Tetapi bagi Frankl, itulah
sumber kekuatan yang membuatnya
tetap tegak berdiri. Cinta
memungkinkan seseorang mengalami
kehadiran orang lain secara mendalam,
bahkan ketika terpisah secara fisik.
Dalam momen tersebut, ia menyadari
bahwa manusia mampu mencapai
pemenuhan tertinggi melalui cinta.
Bukan melalui kekuasaan, bukan
melalui kenyamanan, tetapi melalui
keterhubungan batin yang mendalam
dengan orang yang dicintai.
Cinta sebagai Jawaban di Tengah
Penderitaan
Pelajaran kedua ini menegaskan bahwa
cinta adalah tujuan tertinggi yang dapat
dicapai manusia. Di kamp konsentrasi,
ketika segala sesuatu yang bersifat
material dirampas, cinta tetap bertahan.
Ia menjadi sumber makna yang tidak
dapat dihancurkan oleh keadaan.
Cinta kepada anak, kepada karya,
kepada pasangan, semuanya memberi
manusia alasan untuk terus hidup.
Cinta membuat seseorang melampaui
penderitaan fisik dan menemukan
ruang kebebasan batin yang tidak
dapat disentuh oleh kekerasan.
Dalam pengalaman Frankl, bahkan
di tempat paling gelap sekalipun,
manusia masih dapat mencintai. Dan
melalui cinta itu, ia menemukan makna
yang membuat hidup, betapapun
menyakitkannya, tetap layak dijalani.
