embun hijrahku

Pengecualian (Istitsna)

Pengecualian (Istitsna)

Pengecualian dalam bahasa Arab bisa menggunakan 8 kata berikut

yang dikenal dengan adaat al istitsnaa (Tidak disebut huruf istitsna

karena غَيْرُ itu isim bukan huruf)

إِلا ،غَيْرُ ،سِوَى ،سُوَى ،سَوَاءُ ،خَلَا ، عَدَا ،حَاشَا

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam kalimat pengecualian,

yaitu huruf atau isim istitsna yang dikenal dengan adatul istitsna,

yang dikecualikan (mustatsna), dan yang dijadikan patokan

pengecualian (mustatsna minhu). Contohnya:

قَامَ الرِّجَالُ إِلَّا زَيْدًا

Para laki-laki telah berdiri kecuali Zaid

Maka “إِلَّا” disebut dengan adatul istitsna, “زَيْدًا” disebut dengan

mustatsna, dan “الرِّجَالُ disebut dengan mustatsna minhu.

Ada 3 kaidah yang berkaitan dengan istitsna:

1. Bila kalimatnya sempurna dan positif, maka mustatsna nya

wajib manshub. Contohnya:

خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا زَيْدًا

Para manusia keluar kecuali Zaid

2. Bila kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh

menghukumi mustatsna sebagai badal ataupun manshub

dengan adat ististnaa. Contoh ketika badal:

مَا خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا زَيْدٌ

Manusia tidak keluar kecuali Zaid

Dalam kalimat di atas, kata “زَيْدٌ” menjadi marfu’ karena

ia menjadi badal bagi “النَّاسُ”. Kemudian contoh ketika manshub:

مَا خَرَجَ النَّاسُ إِلَّا زَيْدًا

Manusia tidak keluar kecuali Zaid

3. Bila kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka I’rab

mustatsna. mengikuti ‘amilnya. Contoh:

مَا قَامَ إِلَّا زَيْدُ وَمَا ضَرَبْتُ إِلَّا زَيْدًا وَمَا مَرَرْتُ إِلَّا بِزَيْدٍ

Tidak berdiri kecuali Zaid, Tidak Aku pukul kecuali Zaid,

Aku tidak berpapasan kecuali dengan Zaid

Ketiga kaidah di atas berlaku untuk pengecualian dengan

menggunakan huruf istitsna “إِلَّا”

 

Pengecualian dengan غَيْرُ ، سِوَى ، سُوَى، سَوَاءُ

Bila istitsnanya menggunakan

غَيْرُ ، سِوَى، سُوَى ، سَوَاءُ
(semuanya bermakna selain) maka mustatsnanya wajib majrur.

Keempat jenis istitsna ini merupakan isim bukan huruf. Oleh karena

itu ketiga kaidah ististna di atas bukannya berlaku untuk mustatsna nya

melainkan untuk keempat isim istitsna ini. Sehingga:

1. Bila kalimatnya sempurna dan positif, maka isim istitsna nya yang

wajib manshub sedangkan mustatsna nya wajib majrur. Contohnya:

خَرَجَ النَّاسُ غَيْرَ زَيْدٍ

Para manusia keluar selain Zaid

2. Bila kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menghukumi

isim istitsna sebagai badal ataupun manshub dengan adat ististnaa

sedangkan mustatsna nya tetap wajib majrur. Contoh ketika badal:

مَا خَرَجَ النَّاسُ غَيْرُ زَيْدٍ

Manusia tidak keluar selain Zaid

Dalam kalimat di atas, Isim istitsna “غَيْرُ” menjadi marfu’ karena ia

menjadi badal bagi “النَّاسُ”. Kemudian contoh ketika manshub:

مَا خَرَجَ النَّاسُ غَيْرَ زَيْدٍ

Manusia tidak keluar selain Zaid

3. Bila kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka I’rab isim

ististna mengikuti ‘amilnya sedangkan mustatsna tetap wajib majrur.

Contoh:

مَا قَامَ غَيْرُ زَيْدٍ وَمَا ضَرَبْتُ غَيْرَ زَيْدٍ وَمَا مَرَرْتُ بِغَيْرِ زَيْدٍ

Tidak berdiri selain Zaid, Tidak Aku pukul selain Zaid,

Aku tidak berpapasan dengan selain Zaid

 

Ketiga kaidah penggunaan ististna dengan

“غَيْرُ” di atas juga berlaku untuk

سِوَى سُوَى, سَوَاءُ . Hanya saja untuk سِوَى dan سُوَى

karena diakhiri alif maqsurah (ى) maka tidak terlihat

perbedaannya ketika marfu, manshub, dan majrur

karena sama-sama dalam keadaan aslinya.

Pengecualian dengan
خَلاَ, عَدَا، حَاشَا
Bila istitsnanya menggunakan
خَلاَ, عَدَا، حَاشَا
maka boleh menjadikan mustatsnanya manshub atau majrur.

Contohnya:

قَامَ الْقَوْمُ خَلَا زَيْدًا وَقَامَ الْقَوْمُ خَلَا زَيْدٍ
قَامَ الْقَوْمُ عَدَا عَمْرًا وَقَامَ الْقَوْمُ عَدَا عَمْرٍو
قَامَ الْقَوْمُ حَاشَا بَكْرًا وَقَامَ الْقَوْمُ حَاشَا بَكْرٍ

Bila majrur, maka ketiga adatul istitsna ini dianggap sebagai huruf jar.

Sedangkan bila manshub, maka ia dianggap fi’il dan mustastsna

sebagai maf ul bih.(Ini dikarenakan kata خَلاَ, عَدَا، حَاشَا kadang dianggap

huruf jar dan kadang dianggap fi’il.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *