Mengapa yang lebih banyak mengonsumsi membayar lebih, bukan yang paling kaya membayar lebih?
1. Pajak Konsumsi Dinilai Lebih
Adil daripada Pajak Pendapatan
Boortz dan Linder percaya bahwa
keadilan sejati dalam pajak
bukan diukur dari seberapa besar
pendapatan seseorang, tetapi dari
seberapa besar mereka
mengambil bagian dari
perekonomian melalui konsumsi.
Mereka berargumen bahwa setiap kali
seseorang membeli barang atau jasa,
ia “mengambil” sebagian dari sumber
daya masyarakat. Maka, membayar
pajak di titik konsumsi adalah cara
paling logis untuk berkontribusi
kembali kepada negara.
Sementara itu, pajak penghasilan
dianggap menghukum orang yang
produktif dan bekerja keras.
Semakin tinggi penghasilan
seseorang, semakin besar potongan
pajaknya padahal orang itu mungkin
menabung, berinvestasi, atau
membangun bisnis yang bermanfaat
bagi ekonomi.
2. Yang Kaya Tetap Membayar
Lebih, Tapi Secara Proporsional
Boortz dan Linder tidak menolak
gagasan bahwa orang kaya
berkontribusi lebih besar. Dalam
sistem FairTax, mereka tetap
membayar lebih karena orang
kaya cenderung mengonsumsi
lebih banyak dan membeli
barang yang lebih mahal.
Bedanya, pajak itu tidak dipungut
dari penghasilan mereka di awal,
melainkan dari pembelian
aktual yang mereka lakukan.
Misalnya:
Seorang miliarder membeli jet
pribadi, kapal pesiar, atau
rumah mewah semua itu
kena pajak konsumsi besar.Sementara seseorang dengan
pendapatan kecil yang membeli
kebutuhan pokok hanya akan
membayar pajak yang jauh
lebih sedikit.
Jadi, meskipun tarif pajaknya sama
(flat rate), kontribusi tetap lebih
besar dari mereka yang
mengonsumsi lebih besar tanpa
menghukum mereka saat bekerja
atau menabung.
3. Menjaga Insentif untuk
Bekerja dan Menabung
Salah satu kritik utama Boortz dan
Linder terhadap sistem pajak
penghasilan adalah: semakin keras
Anda bekerja, semakin tinggi
tarif pajak Anda.
Hal ini, menurut mereka, justru
menurunkan motivasi orang untuk
berproduksi lebih banyak.
Dengan FairTax, orang hanya
dikenakan pajak ketika mereka
memilih untuk membelanjakan
uang mereka.
Artinya, jika seseorang menabung,
berinvestasi, atau mempersiapkan
masa depan, tidak ada pajak yang
dikenakan atas tindakan tersebut.
Pajak baru muncul ketika uang
benar-benar digunakan untuk
konsumsi.
Ini dianggap sebagai cara yang lebih
rasional untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi jangka
panjang karena menabung dan
berinvestasi dilindungi, bukan
dihukum.
4. Transparansi dan Kesetaraan
di Titik Transaksi
Boortz dan Linder juga ingin
menciptakan sistem pajak yang jelas
dan terbuka bagi semua orang.
Dalam sistem pajak penghasilan,
banyak potongan, pengecualian, dan
celah hukum yang membuat orang
kaya bisa menghindari pajak melalui
konsultan dan perencanaan pajak
yang kompleks.
Sedangkan dalam sistem FairTax,
semua orang membayar pajak
di titik konsumsi yang sama,
tanpa rumit. Tidak ada formulir
tahunan, tidak ada penghindaran,
dan semua pembayaran pajak
terjadi di depan mata
di setiap transaksi pembelian.
dalam sistem pajak penghasilan
tradisional, orang kaya dan
berpengaruh memiliki banyak
cara untuk menghindari pajak,
sedangkan masyarakat biasa tidak.
Dengan FairTax, semua transaksi
kena pajak konsumsi di titik
pembelian, sehingga bahkan orang
kaya sekalipun tidak bisa lari
dari kewajiban pajak.
Berikut contoh untuk memperjelas
hal ini:
Contoh 1 — Pajak Penghasilan
Tradisional (Sebelum FairTax)
Seorang pengusaha besar bernama
Robert memiliki penghasilan
jutaan dolar per tahun.
Dengan sistem pajak penghasilan yang
rumit, Robert menyewa konsultan
pajak, pengacara, dan akuntan
profesional untuk “mengoptimalkan”
laporan pajaknya.
Hasilnya:
Robert memanfaatkan celah
hukum: potongan biaya
perusahaan, penghapusan
kerugian investasi, hingga
donasi ke yayasan miliknya
sendiri yang bisa dikurangkan
pajak.Setelah semua potongan itu,
pajak yang ia bayarkan jauh
lebih kecil dari yang seharusnya.Di sisi lain, pekerja biasa seperti
Sarah, seorang pegawai
kantoran, tidak memiliki
akses ke celah hukum
tersebut. Pajaknya langsung
dipotong dari gaji melalui
sistem withholding, tanpa
kesempatan untuk menghindar.
Boortz dan Linder menilai kondisi
ini sebagai bentuk ketidakadilan:
“Yang punya sumber daya bisa
menghindari pajak, yang tidak punya
justru menanggung lebih banyak.”
Contoh 2 — Pajak Konsumsi
dalam Sistem FairTax
Sekarang bayangkan sistem FairTax
sudah berlaku.
Robert tetap menghasilkan jutaan
dolar, tetapi kini tidak ada pajak
yang dipungut dari penghasilan.
Ia hanya akan membayar pajak
ketika membelanjakan uangnya.
Jika Robert membeli:
Mobil sport seharga $400.000
Jam tangan mewah $50.000
Rumah baru senilai $3 juta
Maka di setiap pembelian itu, pajak
konsumsi langsung ditambahkan
dan dibayarkan di depan, melalui
toko atau penyedia jasa.
Robert tidak bisa
“menyembunyikan” transaksi
itu atau meminta keringanan khusus,
karena pajak dibayar otomatis
di titik pembelian.
Sedangkan Sarah, yang hanya
membeli kebutuhan dasar makanan,
pakaian, transportasi umum akan
membayar pajak jauh lebih kecil.
Bahkan sebagian pajaknya ditutupi
oleh prebate, yaitu pengembalian
pajak bulanan untuk kebutuhan pokok.
Contoh 3 — Tidak Ada “Orang
Dalam”
Dalam sistem pajak penghasilan,
pejabat atau orang yang memiliki
koneksi politik bisa saja memperoleh
perlakuan khusus: penghapusan
denda, keringanan pajak, atau akses
ke aturan tertentu.
Namun dalam FairTax:
Pajak tidak ditangani secara
pribadi atau administratif,
melainkan secara otomatis
di setiap transaksi pembelian.Toko, restoran, atau penyedia
layanan memungut pajak
konsumsi secara seragam kepada
semua orang, tanpa memandang
jabatan, status sosial, atau koneksi.
Artinya, tidak ada celah untuk
“orang dalam” sekalipun.
Semua orang membayar tarif pajak
yang sama atas pembelian barang
dan jasa yang sama.
Catatan:
Melalui FairTax, Boortz dan Linder
ingin menciptakan sistem pajak yang:
Transparan
setiap orang tahu kapan dan
berapa pajak yang mereka bayar.Tidak bisa dimanipulasi
tidak ada formulir, potongan,
atau pengecualian istimewa.Setara
orang kaya tetap membayar lebih
karena mereka mengonsumsi
lebih banyak, tetapi tidak bisa
lagi bersembunyi di balik sistem
yang rumit.
Jadi, dalam dunia FairTax, orang
kaya yang membeli kapal pesiar
membayar pajak besar di tempat
, dan orang biasa yang membeli
kebutuhan pokok tidak
dikenakan pajak tambahan
yang memberatkan.
Semua berjalan terbuka, di depan
mata, tanpa ruang untuk permainan
tersembunyi.
5. Perlindungan bagi Kelas
Rendah Melalui “Prebate”
Untuk memastikan bahwa kebutuhan
dasar tidak memberatkan masyarakat
berpenghasilan rendah, FairTax
menyertakan mekanisme yang
disebut prebate pengembalian
pajak awal.
Pemerintah akan mengirimkan uang
tunai setiap bulan kepada setiap
keluarga untuk menutupi pajak atas
pembelian kebutuhan pokok hingga
tingkat garis kemiskinan.
Dengan demikian, orang miskin
tidak benar-benar membayar
pajak untuk kebutuhan hidup
dasar, sementara orang kaya yang
mengonsumsi barang mewah tetap
membayar pajak besar atas
pembelian mereka.
Catatan:
Boortz dan Linder percaya bahwa
FairTax menciptakan sistem yang
lebih sederhana, transparan, dan
adil bagi semua pihak:
Pajak dibayar hanya ketika
seseorang memilih untuk
mengonsumsi.Yang mengonsumsi lebih
banyak tetap membayar
lebih banyak.Yang menabung, bekerja keras,
dan berinvestasi tidak dihukum.Dan rakyat tahu persis berapa
pajak yang mereka bayar,
karena semuanya terlihat
di harga barang yang
mereka beli.
Bayangkan dua tetangga:
Andi dan Budi.
Andi bekerja keras, hidup sederhana,
dan lebih suka menabung untuk masa
depan. Sedangkan Budi senang
menikmati hasil kerja dengan
membeli mobil baru, sering liburan
ke luar negeri, dan makan di restoran
mahal setiap akhir pekan.
Dalam sistem pajak penghasilan lama,
Andi dan Budi sama-sama
dipotong pajaknya dari gaji
mereka di awal. Ironisnya, Andi
yang hemat tetap harus membayar
besar meski uangnya banyak disimpan,
sedangkan Budi yang boros
“menghabiskan lebih banyak sumber
daya masyarakat” tetap membayar
sama dari sisi penghasilan. Ini seperti
dua orang yang makan
di restoran sama, tapi cuma
satu yang kenyang dan keduanya
tetap harus bayar harga penuh
di awal.
Sekarang bayangkan sistem FairTax
diterapkan. Pajak tidak lagi dipungut
dari penghasilan, tetapi dari setiap
kali seseorang mengonsumsi.
Andi menabung, jadi ia hanya bayar
pajak kecil karena konsumsi
hariannya sederhana.
Budi, dengan gaya hidup mewahnya,
otomatis membayar lebih banyak
pajak setiap kali ia membeli barang
mahal.
Yang lebih banyak mengambil
dari “meja ekonomi”,
membayar lebih banyak pula.
Analogi lainnya:
Pajak penghasilan ibarat
pungutan di pintu masuk
taman bermain, di mana
kamu harus bayar dulu bahkan
sebelum tahu apakah akan
menikmati semua wahana.Sedangkan FairTax ibarat
membayar tiket setiap kali
naik wahana yang kamu
pilih sendiri. Kalau kamu
hanya mau main satu atau dua
permainan, kamu bayar sedikit;
tapi kalau mau main semuanya,
kamu bayar lebih.
Dengan cara ini, orang tidak
dihukum karena rajin bekerja,
tapi dikenakan pajak hanya saat
memilih untuk menikmati
hasil kerjanya.
Yang menabung dan berinvestasi
dibiarkan tumbuh, sementara yang
lebih banyak berbelanja otomatis
berkontribusi lebih besar untuk
negara.
Dan karena semua pajak terjadi
di titik pembelian, tidak ada lagi
celah untuk “mengakali sistem”.
Setiap orang membayar di tempat
dan waktu yang sama
transparan, sederhana, dan
adil.
Sistem ini ibarat membagi
tagihan restoran secara jujur:
bukan berdasarkan siapa yang
paling kaya, tapi siapa yang
memesan paling banyak
di meja makan bersama.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
