buku

Awal Mula Pajak Penghasilan di Amerika Serikat

Awal Mula Pajak Penghasilan
di Amerika Serikat

Dalam The FairTax Book, Neal
Boortz dan John Linder menjelaskan
secara rinci bagaimana pajak
penghasilan pertama kali
diperkenalkan di Amerika Serikat.
Pajak ini tidak muncul sebagai
kebijakan ekonomi jangka panjang,
melainkan sebagai solusi darurat
pada masa perang
.

Tahun 1861, di tengah Perang Saudara
Amerika, Kongres membutuhkan
sumber dana baru untuk membiayai
perang. Maka, muncullah ide untuk
memungut pajak berdasarkan
pendapatan
. Saat itu, ditetapkan
tarif sebesar tiga persen bagi warga
yang berpenghasilan antara enam
ratus hingga seribu dolar per tahun.
Namun, jumlah warga yang masuk
dalam kategori tersebut sangat kecil
kurang dari dua persen populasi
sehingga pajak ini pada dasarnya
ditujukan hanya kepada kalangan
kaya.

Pemerintah beralasan bahwa langkah
ini adalah bentuk keadilan sosial:
orang yang lebih mampu
berkontribusi lebih banyak. Namun,
seperti yang ditekankan Boortz dan
Linder, ide ini sejak awal sudah
menanamkan bibit ketimpangan
dalam sistem perpajakan. Pajak
penghasilan menjadi alat politik
bukan sekadar sumber pendanaan
negara.

Penolakan Rakyat dan
Penghapusan Pajak Penghasilan

Ketika perang berakhir, rakyat mulai
menunjukkan ketidakpuasan mereka
terhadap kebijakan tersebut. Pajak
penghasilan dianggap tidak adil dan
bertentangan dengan prinsip
kebebasan individu yang dijunjung
tinggi dalam konstitusi Amerika.
Akibatnya, pada tahun 1872, pajak
penghasilan resmi dihapuskan.

Namun, penghapusan itu tidak
berlangsung selamanya. Pada tahun
1914, Kongres kembali
memberlakukan pajak
penghasilan
dengan alasan yang
serupa: cara yang efektif untuk
menarik dana dari kalangan kaya
tanpa membebani masyarakat
berpenghasilan rendah. Kembalinya
pajak ini menandai awal dari sistem
pajak penghasilan modern yang
bertahan hingga kini.

Boortz dan Linder menekankan
bahwa sejak saat itu, pajak
penghasilan menjadi alat yang
digunakan oleh pemerintah dan
kelas penguasa untuk mengontrol
aliran uang rakyat
. Meskipun
awalnya hanya menargetkan orang
kaya, kenyataannya sistem ini perlahan
meluas dan menjerat semua lapisan
masyarakat.

Ketika Rakyat Mulai Merasa
Terjebak

Pada masa-masa awal penerapannya
kembali, masyarakat masih berpikir
bahwa pajak penghasilan hanya akan
diterapkan kepada kelompok
berpenghasilan tinggi. Keyakinan ini
membuat rakyat biasa tidak
menentang sistem tersebut. Mereka
percaya, selama pendapatan mereka
tidak tinggi, pajak itu tidak akan
menyentuh mereka.

Namun, seiring waktu, pemerintah
menemukan cara untuk memperluas
cakupan pajak. Pajak penghasilan
tidak lagi eksklusif bagi kalangan
kaya. Boortz dan Linder menunjukkan
bagaimana batas-batas
pendapatan yang dikenakan
pajak terus berubah
, hingga
akhirnya hampir setiap warga negara
harus membayar pajak penghasilan.

Perubahan ini tidak terjadi secara
tiba-tiba. Pemerintah melakukannya
dengan metode yang perlahan tapi
pasti melalui sistem yang disebut
withholding.

Lahirnya Sistem Withholding

Sebelum sistem withholding
diperkenalkan, rakyat membayar
pajak mereka dengan cara sederhana:
setiap tahun mereka menulis cek dan
mengirimkan seluruh jumlah pajak
yang terutang kepada pemerintah.
Dengan cara ini, masyarakat tahu
persis berapa banyak yang mereka
hasilkan dan berapa yang harus
mereka serahkan kepada negara.
Ada transparansi yang jelas antara
penghasilan dan pajak.

Namun, sistem ini tidak menguntungkan
bagi pemerintah. Rakyat yang sadar akan
jumlah uang yang mereka serahkan
cenderung mempertanyakan
penggunaan dana tersebut. Maka, untuk
menghindari transparansi itu,
pemerintah memperkenalkan sistem
withholding, yaitu pemotongan
pajak langsung dari gaji sebelum
diterima oleh pekerja.

Melalui withholding, pemerintah
mengambil sebagian penghasilan
rakyat di muka
, tanpa menunggu
mereka membayar sendiri. Sistem ini
membuat rakyat tidak lagi melihat
dengan jelas berapa banyak uang yang
telah dipotong. Mereka hanya
menerima gaji bersih, sementara
potongan pajaknya telah “ditangani”
oleh sistem.

Hilangnya Transparansi dan
Kendali Rakyat

Boortz dan Linder memandang sistem
withholding sebagai langkah cerdas
dari pemerintah untuk
mempertahankan kekuasaan atas
uang rakyat. Dengan metode ini,
masyarakat kehilangan kesadaran
akan besarnya pajak yang
mereka bayar
. Mereka tidak lagi
memiliki kendali penuh atas
penghasilan mereka sendiri.

Pemerintah pun diuntungkan dua kali.
Pertama, karena uang pajak langsung
masuk tanpa resistensi. Kedua, karena
rakyat tidak lagi mampu menghitung
atau menuntut pertanggungjawaban
atas uang yang diambil. Akibatnya,
hubungan antara rakyat dan
pemerintah dalam hal perpajakan
menjadi sepihak: pemerintah
mengambil, rakyat hanya menerima
sisa.

Bagi Boortz dan Linder, inilah titik
kritis di mana sistem pajak penghasilan
berubah dari alat pendanaan menjadi
alat kekuasaan. Rakyat bukan lagi
pemilik penuh hasil kerja mereka,
melainkan hanya penerima sebagian
dari apa yang sudah mereka usahakan.

Pelajaran dari Sejarah Pajak
Penghasilan

Bab ini dalam The FairTax Book bukan
sekadar catatan sejarah, melainkan
peringatan. Neal Boortz dan John
Linder menunjukkan bahwa pajak
penghasilan lahir dari keadaan
darurat, bukan dari prinsip
keadilan
, dan kemudian berkembang
menjadi sistem permanen yang
memberatkan seluruh masyarakat.

Melalui sejarah ini, mereka menegaskan
mengapa sistem pajak yang lebih
transparan seperti The Fair Tax Policy
diperlukan. Karena ketika rakyat tidak
tahu berapa banyak uang yang diambil
dari mereka, maka secara perlahan
mereka juga kehilangan kendali atas
kebebasan ekonominya.

Sistem withholding adalah bukti nyata
bagaimana pemerintah bisa
mengendalikan rakyat tanpa paksaan
langsung cukup dengan
menyembunyikan informasi dari
mereka. Dan itulah mengapa, menurut
Boortz dan Linder, reformasi pajak
bukan hanya soal ekonomi, melainkan
soal kedaulatan dan kesadaran
rakyat atas hak mereka sendiri
.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

1. Awal Mula Pajak Penghasilan
“Tiket Darurat yang Tak Pernah
Dicabut”

Bayangkan sebuah stadion yang
sedang kekurangan dana untuk
menyelenggarakan pertandingan
besar.
Pihak pengelola lalu berkata,

“Untuk sementara waktu, kami akan
menambah harga tiket hanya selama
turnamen berlangsung, supaya
stadion tetap berjalan.”

Semua orang setuju, karena mereka
tahu ini sementara.
Namun setelah turnamen selesai,
tiket itu tidak pernah kembali
murah
.
Harga tinggi yang awalnya darurat
berubah menjadi harga permanen.

Begitulah asal mula pajak penghasilan:
Awalnya hanya “tiket darurat” saat
perang, tapi perlahan menjadi
kebiasaan tetap pemerintah.

2. Ketika Rakyat Mulai Merasa
Terjebak
“Gerbang yang Diam-Diam
Diperluas”

Dulu, hanya orang yang duduk di kursi
VIP yang perlu membayar tiket tambahan.
Orang di tribun biasa bisa menonton
tanpa beban.
Tapi seiring waktu, pengelola stadion
mulai membuka gerbang baru:

“Sekarang semua yang masuk, dari
tribun bawah sampai atas, harus ikut
bayar tiket tambahan.”

Awalnya rakyat biasa tidak merasa
dirugikan karena berpikir,
“Itu hanya untuk orang kaya.”
Namun lama-lama, semua kursi
kena tarif baru.
Begitulah pajak penghasilan awalnya
menyasar orang kaya, tapi akhirnya
melingkupi semua lapisan.

3. Lahirnya Sistem Withholding
“Tiket yang Diam-Diam Dipotong
di Gerbang”

Sebelum sistem withholding, setiap
penonton datang ke loket dan
membayar tiket penuh.
Mereka tahu berapa harga sebenarnya,
dan kadang bertanya,

“Mengapa mahal sekali?
Ke mana uangnya dipakai?”

Hal ini membuat pengelola stadion
tidak nyaman.
Akhirnya mereka menciptakan
sistem baru:
Sekarang, tiket Anda sudah otomatis
dipotong dari rekening bank
sebelum Anda sampai ke stadion.

Ketika Anda datang, tinggal
menunjukkan bukti potongan tidak
terasa berat karena Anda tidak
membayar langsung di tempat.

Tapi di sinilah masalahnya:
Penonton tidak lagi sadar
berapa sebenarnya harga
tiket itu.

Mereka hanya tahu sisa saldo
di rekeningnya.

Begitulah sistem withholding bekerja:
pajak langsung dipotong dari gaji
sebelum sampai ke tangan rakyat
sunyi, tapi efektif.

4. Hilangnya Transparansi
“Stadion yang Gelap
di Balik Tirai”

Kini, karena tiket sudah otomatis
dipotong, pengelola stadion bisa
menaikkan harga sedikit demi
sedikit.
Penonton tidak protes karena
mereka tidak melihat prosesnya.
Mereka hanya tahu kursinya tetap
sama, tapi uangnya semakin sedikit.

Sama seperti itu, Boortz dan Linder
mengatakan:
Sistem withholding membuat rakyat
kehilangan kesadaran akan berapa
banyak pajak yang mereka bayar.
Hubungan antara kerja keras
dan hasilnya menjadi kabur.

Pemerintah mengambil lebih banyak
tanpa perlu menjelaskan.

5. Pelajaran Besar
“Waktu untuk Menyalakan
Lampu Stadion”

Buku The FairTax Book mengajak
kita membuka tirai dan menyalakan
lampu stadion kembali.
Dengan pajak konsumsi yang
transparan (FairTax), setiap orang
tahu kapan dan berapa mereka
membayar pajak
sama seperti melihat harga tiket
tercetak di karcis.

Tidak ada lagi potongan diam-diam.
Tidak ada lagi rasa terjebak
di sistem yang rumit.
Setiap warga bisa melihat dengan
jelas hubungan antara apa yang
mereka konsumsi
dan berapa
kontribusinya bagi negara.

Catatan:

  • Pajak penghasilan lahir seperti
    tiket darurat yang tak
    pernah dicabut.

  • Perlahan meluas, seperti
    gerbang stadion yang makin
    banyak mengenakan tarif.

  • Lalu disembunyikan melalui
    withholding, tiket yang
    otomatis dipotong tanpa
    disadari.

  • Hingga akhirnya rakyat tak tahu
    lagi harga sebenarnya dari kerja
    keras mereka.

Dan di sinilah Boortz dan Linder berkata:

“Sudah waktunya rakyat kembali
melihat terang
mengetahui, memahami, dan
mengendalikan uang yang mereka
hasilkan sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *