Menata Ulang Makna Pertumbuhan Ekonomi
Selama puluhan tahun,
pertumbuhan ekonomi yang
diukur lewat naik-turunnya Produk
Domestik Bruto (PDB) dianggap
sebagai ukuran utama keberhasilan
suatu negara.
Namun, Kate Raworth dalam
bukunya Doughnut Economics
menantang asumsi lama itu:
“Tidak semua pertumbuhan berarti
kemajuan apalagi jika pertumbuhan
itu merusak fondasi kehidupan
di bumi.”
Pertumbuhan yang Tak Terbatas
di Dunia yang Terbatas
Ekonomi modern sering diibaratkan
seperti mesin yang harus terus
berputar dan “tumbuh”.
Tapi bumi punya batas — hutan, air,
tanah, dan udara tak bisa terus
dieksploitasi tanpa henti.
Dalam praktiknya, pertumbuhan
ekonomi sering dibayar dengan
kerusakan lingkungan:
Hutan dibabat untuk kebun
sawit dan tambang,Sungai tercemar limbah industri,
Udara kota besar penuh polusi,
Laut dipenuhi plastik.
Indonesia sendiri masih terjebak
dalam pola ini.
Pertumbuhan PDB naik, tapi jejak
ekologis (ecological footprint)
ikut melonjak.
Menurut Global Footprint Network
(2023), Indonesia sudah
melampaui daya dukung
ekologisnya sejak tahun 2019,
artinya kita memakai sumber daya
lebih cepat dari kemampuan bumi
untuk memulihkannya.
Pertumbuhan Hijau:
Mungkinkah Ekonomi
Ramah Lingkungan?
Kate Raworth menyebut jalan
tengah yang disebut green growth
pertumbuhan hijau.
Intinya, ekonomi boleh tumbuh, tapi
harus memulihkan alam, bukan
mengurasnya.
Beberapa negara telah membuktikan
bahwa hal ini mungkin.
Denmark berhasil mengurangi
ketergantungan pada batu bara
hingga 70% dalam dua dekade
terakhir,Jerman menutup banyak
pembangkit listrik batu bara
lewat kebijakan Energiewende.
Indonesia pun mulai mencoba
arah ini.
Misalnya, proyek Energi Baru
Terbarukan (EBT) yang
menargetkan 23% bauran energi
nasional pada 2025.
Namun, realisasinya baru sekitar
13,1% pada 2023 (ESDM, 2024).
Artinya, masih panjang jalan
menuju ekonomi hijau yang
sesungguhnya.
Degrowth: Berhenti Mengejar
Angka, Mulai Mengejar
Kesejahteraan
Konsep degrowth atau
non-pertumbuhan menawarkan
perspektif baru:
Mungkin, kesejahteraan tidak
harus berarti “pertumbuhan
tanpa henti”.
Negara seperti Jepang dan
Jerman mengalami pertumbuhan
ekonomi yang melambat, tapi
masyarakatnya tetap makmur,
produktif, dan berdaya.
Fokus mereka bukan menambah
angka PDB, tapi menjaga kualitas
hidup, pemerataan, dan efisiensi
sumber daya.
Indonesia pun bisa belajar dari
pendekatan ini.
Alih-alih mengejar angka
pertumbuhan tinggi, pemerintah
bisa lebih fokus pada pemerataan
kesejahteraan, pengentasan
kemiskinan, dan perbaikan
layanan publik.
Menutup Celah Pajak dan
Mengalirkan Kembali Uang
ke Masyarakat
Raworth menyoroti bahwa dunia
kehilangan sekitar US$156 miliar
per tahun karena tax havens
surga pajak tempat korporasi besar
menyembunyikan keuntungan
(Global Financial Integrity, 2023).
Indonesia juga terdampak: pada
2022, Kemenkeu mencatat
potensi pajak hilang hingga
Rp 120 triliun per tahun akibat
penghindaran pajak lintas negara.
Jika dana ini bisa kembali
ke kas publik, pemerintah tak
perlu terus menekan alam demi
menambah pendapatan dari
sektor ekstraktif seperti batubara
atau sawit.
Uang yang bocor bisa diganti
dengan keadilan fiskal.
Demerage: Uang yang
Kehilangan Nilai Jika
Tidak Digunakan
Raworth juga memperkenalkan ide
demerage, yaitu sistem uang yang
kehilangan nilai jika tidak beredar.
Berbeda dari bunga bank yang
membuat orang menimbun uang,
demerage justru mendorong uang
cepat berputar menghidupkan
ekonomi lokal tanpa perlu
“pertumbuhan besar-besaran”.
Prinsip ini pernah diujicobakan
di Eropa pada masa Great
Depression (1930-an) dan
terbukti meningkatkan konsumsi
serta lapangan kerja.
Dalam konteks modern, konsep
serupa bisa diterapkan dalam
bentuk voucher digital lokal,
seperti Bangla Pesa di Kenya atau
local credit system di beberapa
daerah Indonesia
(contoh: koperasi digital desa).
Pelajaran dari Indonesia:
Ketika Pertumbuhan Tak
Selalu Seimbang
Beberapa kasus nyata di Indonesia
menunjukkan bagaimana
pertumbuhan ekonomi bisa
mengorbankan lingkungan:
Ekspansi Tambang dan
Sawit di Kalimantan &
Papua
Menurut WALHI (2023), lebih
dari 50% hutan Kalimantan
telah hilang dalam 30 tahun
terakhir karena tambang batu
bara dan sawit.
Di Papua, perluasan tambang
dan perkebunan industri
mengancam hutan adat dan
masyarakat lokal.Krisis Polusi Industri
di Jawa dan Sulawesi
Kawasan seperti Cikarang,
Gresik, dan Makassar
menjadi contoh di mana
pabrik-pabrik pengolahan
membuang limbah ke sungai
tanpa pengolahan memadai
(KLHK, 2022).
Akibatnya, kualitas udara dan
air menurun drastis.Hutan Gambut
Dikorbankan untuk
“Food Estate”
Program food estate
di Kalimantan Tengah
(2020–2023) justru gagal
karena lahan gambut tidak
cocok untuk pertanian
intensif.
Lahan mengering, terbakar, dan
produktivitasnya rendah
(Tempo, 2023; Mongabay, 2022).
Dampaknya: emisi karbon
meningkat dan ekosistem
rusak permanen.
Semua contoh ini memperlihatkan
bahwa pertumbuhan tanpa arah
ekologis ibarat menanam benih
di tanah tandus cepat tumbuh,
tapi cepat mati.
Menuju Ekonomi yang Stabil
dan Berkelanjutan
Kate Raworth mengajak kita menata
ulang makna “kemajuan”.
Kemajuan bukan lagi soal grafik
yang naik, tapi tentang menjaga
keseimbangan antara
kebutuhan manusia dan
batas bumi.
Ekonomi masa depan bukan sekadar
soal “berapa besar kita tumbuh”,
tapi seberapa lama kita bisa
bertahan tanpa merusak sumber
daya kehidupan.
Referensi
Raworth, Kate. Doughnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist. (2017).
Global Footprint Network (2023). National Footprint and Biocapacity Accounts.
Kementerian ESDM (2024). Laporan Capaian Energi Baru Terbarukan 2023.
WALHI (2023). Laporan Kondisi Hutan dan Tambang di Kalimantan.
Mongabay Indonesia (2022). Evaluasi Program Food Estate di Kalimantan Tengah.
Tempo (2023). Food Estate Gagal Panen: Dampak Lingkungan dan Sosial di Kalimantan.
Global Financial Integrity (2023). Illicit Financial Flows and Tax Havens Report.
KLHK (2022). Status Lingkungan Hidup Indonesia.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Ketika “Tumbuh” Tidak Selalu
Berarti Maju
Di banyak tempat, kita terbiasa
berpikir bahwa “pertumbuhan”
selalu berarti kemajuan.
Kalau pendapatan naik, kalau toko
makin besar, kalau kota makin
ramai berarti hidup membaik.
Tapi, apakah benar selalu begitu?
Cerita Sebuah Desa yang
Ingin “Maju”
Bayangkan sebuah desa di pinggir
Kalimantan.
Dulu, warga hidup dari hasil hutan
menoreh getah, mencari ikan
di sungai, dan menanam sayur
di lahan kecil.
Hidup sederhana tapi cukup.
Lalu datang investor: membuka
perkebunan sawit dengan janji
lapangan kerja dan pembangunan
jalan.
Awalnya memang ramai banyak
warga dipekerjakan, ekonomi
bergerak, warung-warung tumbuh.
Namun beberapa tahun kemudian,
air sungai jadi keruh, ikan
berkurang, tanah kering, dan
panas meningkat.
Ketika musim kemarau datang,
kebun-kebun sawit terbakar, asap
menutupi desa, anak-anak batuk
setiap hari.
Pertumbuhan memang terjadi, tapi
kemajuan tidak.
Inilah yang dimaksud Kate Raworth:
“pertumbuhan tanpa arah bisa
merusak fondasi kehidupan.”
Cerita Kota yang Tak Pernah
Cukup
Sekarang bayangkan di kota besar
seperti Jakarta atau Surabaya.
Pusat perbelanjaan baru dibangun
setiap tahun, jalan diperlebar,
apartemen naik di mana-mana.
Orang merasa hidupnya “naik kelas”
bisa nongkrong di kafe, belanja
online, atau punya mobil pribadi.
Tapi harga yang dibayar mahal:
Kemacetan makin parah,
Polusi udara masuk rumah,
Sungai jadi tempat
pembuangan,Dan listrik boros untuk
gedung-gedung mewah
yang jarang terisi penuh.
Kota tumbuh, tapi kualitas hidup
menurun.
Anak kecil susah main di luar, air
tanah menipis, dan suhu kota naik
sampai 2°C lebih panas dari
20 tahun lalu.
Itu tanda bahwa pertumbuhan
fisik tidak selalu berarti
kesejahteraan.
Cerita Uang yang Diam dan
Tidak Berguna
Bayangkan kamu punya uang
Rp 50 juta yang kamu simpan terus
di bank tanpa digunakan.
Uang itu tidak mengalir ke ekonomi
tidak membantu warung tetangga,
tidak menggaji pekerja, tidak
menciptakan nilai baru.
Itulah kenapa dalam Doughnut
Economics, Kate Raworth
membahas ide demerage
konsep uang yang nilainya
berkurang kalau tidak
digunakan.
Bayangkan kalau uangmu perlahan
“berkurang” kalau diam saja.
Kamu pasti akan segera
menggunakannya membeli hasil
tani dari warga, memperbaiki
rumah, atau memulai usaha kecil.
Uang berputar, ekonomi lokal hidup,
tanpa perlu
“pertumbuhan besar-besaran”.
Cerita Warga yang Mulai Berubah
Arah
Di beberapa daerah di Indonesia, mulai
muncul contoh positif.
Di Bali, beberapa desa membuat
koperasi hijau yang mendanai
pertanian organik tanpa
membabat hutan.Di Yogyakarta, ada kampung
yang memanfaatkan sampah
organik jadi pupuk dan
biogas, mengurangi
ketergantungan pada gas LPG.Di Flores, kelompok nelayan
mengelola perikanan
berkelanjutan, hanya
menangkap ikan sesuai musim.
Mereka tidak lagi mengejar “lebih
banyak”, tapi berfokus pada “cukup
dan lestari”.
Mereka membuktikan bahwa
ekonomi bisa hidup tanpa harus
merusak lingkungan.
Ketika Pertumbuhan Harus
Punya Batas
Kate Raworth mengajak kita
berpikir ulang:
“Ekonomi bukan tentang tumbuh
tanpa batas, tapi tentang hidup
dalam batas.”
Seperti tanaman yang sehat, kita
tidak perlu tumbuh terus ke atas
yang penting, akar kita kuat
dan daunnya memberi
manfaat bagi lingkungan.
Indonesia bisa maju tanpa harus
mengorbankan hutan, laut, dan
udara.
Asalkan arah pertumbuhannya
jelas: untuk manusia dan bumi,
bukan hanya angka PDB.
Kesimpulan Sehari-hari
Jika ekonomi seperti pohon,
maka pertumbuhan harus
dibatasi oleh akar bumi
dan ranting sosial.Jika uang seperti darah,
maka ia harus terus
mengalir, bukan
ditimbun.Jika pembangunan seperti
rumah, maka fondasinya
adalah alam dan
keadilan sosial
bukan beton semata.
Jadi, bukan seberapa cepat kita
tumbuh yang penting,
tapi seberapa lama kita bisa
hidup dengan layak
di planet ini.
