Membongkar Mitos “Manusia Ekonomi Rasional”
Dalam dunia ekonomi klasik, ada
satu tokoh fiksi yang diam-diam
telah membentuk cara kita
memandang diri sendiri dan
masyarakat: “Rational Economic
Man”, atau Manusia Ekonomi
Rasional.
Ia bukan tokoh nyata, tapi ciptaan
para ekonom abad ke-18 gambaran
ideal tentang manusia yang selalu
logis, perhitungan, dan
mementingkan kepentingan
pribadi di atas segalanya.
Dulu, sosok ini hanya dimaksudkan
sebagai alat bantu teori, bukan
gambaran sebenarnya tentang
manusia.
Namun seiring waktu, karakter ini
tumbuh menjadi karikatur yang
ekstrem: seorang individu egois,
terisolasi, dan selalu menghitung
untung-rugi dalam setiap
keputusan hidupnya.
Sayangnya, model fiksi ini tidak
berhenti di atas kertas. Ia
menyusup ke dalam cara berpikir
ekonomi modern, kebijakan
publik, bahkan kepercayaan kita
tentang apa artinya menjadi manusia.
Asal-Usul Sang “Manusia
Ekonomi”
Konsep Rational Economic Man
lahir di masa pencerahan Eropa,
ketika para pemikir seperti Adam
Smith dan John Stuart Mill
berusaha memahami bagaimana
manusia bertindak dalam pasar.
Mereka melihat manusia sebagai
makhluk yang rasional yang membuat
keputusan berdasarkan logika dan
kepentingan pribadi.
Namun, bahkan John Stuart Mill
sendiri sudah menyadari
keterbatasan konsep itu.
Pada tahun 1844, ia menulis bahwa
sosok “manusia ekonomi” adalah
makhluk yang terlalu sempit:
“Ia hanya tertarik pada kekayaan
dan cenderung menghindari kerja
keras, seolah tidak ada hal lain
yang memotivasi hidupnya.”
Bagi Mill, manusia nyata jauh lebih
kompleks. Kita bekerja bukan hanya
demi uang, tapi juga karena ingin
bermakna, ingin dicintai, dan ingin
menjadi bagian dari sesuatu yang
lebih besar.
Dari Model Teoritis Menjadi
Pandangan Dunia
Masalahnya, seiring berkembangnya
ekonomi modern, model sederhana
ini menyusup menjadi
keyakinan global.
Banyak ekonom dan pembuat
kebijakan mulai memperlakukan
Rational Economic Man seolah
benar-benar mencerminkan
manusia nyata.
Manusia dipandang sebagai
makhluk kompetitif yang hanya
peduli pada keuntungan pribadi.
Hasilnya?
Kita membangun sistem yang
mendorong persaingan,
individualisme, dan
ketidakpercayaan sosial.
Bahkan istilah “warga negara”
(citizen) yang dulu sering digunakan
di media dan buku-buku berbahasa
Inggris mulai menghilang setelah
tahun 1970-an.
Sebagai gantinya, muncul istilah
baru: “konsumen.”
Perubahan kata ini bukan sekadar
kebetulan.
Ia mencerminkan pergeseran
identitas manusia dalam
ekonomi modern:
dari makhluk sosial yang terlibat
dalam komunitas, menjadi pembeli
yang diukur dari daya belinya.
Ilusi Rasionalitas dan
Kenyataan di Dunia Nyata
Namun, penelitian ilmiah mulai
membuktikan bahwa manusia
tidak sesederhana model tersebut.
Kita tidak selalu egois, tidak
selalu rasional, dan tidak
selalu menghitung untung-rugi.
Salah satu eksperimen paling
terkenal adalah
“The Ultimatum Game.”
Permainannya sederhana:
Ada dua orang yang tidak
saling kenal.Orang pertama mendapat
sejumlah uang dan harus
membagi sebagian untuk
orang kedua.Kalau orang kedua menolak
tawaran itu (karena dianggap
tidak adil), maka keduanya
tidak dapat apa pun.
Menurut teori Rational Economic
Man, orang kedua harus selalu
menerima berapa pun tawaran
yang diberikan karena sedikit uang
tetap lebih baik daripada tidak
sama sekali.
Namun, hasilnya sangat berbeda.
Dalam banyak eksperimen
di berbagai negara, termasuk AS,
Jerman, dan Israel, orang-orang
sering menolak tawaran yang
tidak adil, bahkan jika itu
berarti mereka kehilangan uang.
Sebagai contoh, banyak mahasiswa
Amerika menolak tawaran yang
kurang dari 20% dari total uang.
Artinya, rasa keadilan seringkali
lebih kuat daripada kepentingan
pribadi.
Asal dan Perkembangan
Penelitian
Eksperimen The Ultimatum
Game pertama kali dilakukan
oleh Werner Güth dan
timnya di Jerman pada
tahun 1982.Karena hasilnya sangat
mengejutkan orang lebih
memilih kehilangan uang demi
keadilan banyak ilmuwan
sosial ingin tahu:
“Apakah perilaku ini hanya
terjadi di Eropa, atau berlaku
universal di seluruh dunia?”
Penelitian di Berbagai Negara
Selanjutnya, versi permainan ini
diulang di banyak tempat:
Amerika Serikat → hasilnya
mirip: rata-rata orang
menawarkan pembagian
40–50% dan menolak tawaran
di bawah 20%.Israel → hasilnya hampir
sama. Bahkan, penelitian oleh
Robert Frank dan
rekan-rekannya
menunjukkan bahwa
mahasiswa ekonomi
di Israel (yang sering belajar
teori “manusia rasional”)
lebih egois dalam
permainan ini dibanding
mahasiswa dari jurusan lain.Jerman → sebagai tempat
awal eksperimen, hasilnya
juga menunjukkan
kecenderungan keadilan tinggi.Kemudian studi lanjutan
dilakukan ke Amerika Latin,
Afrika, Asia Tenggara, dan
suku-suku terpencil
di Amazon dan Papua
Nugini.
Temuan Menarik
Dari ratusan eksperimen lintas
budaya itu, ditemukan pola besar:
Semua manusia punya
rasa adil, meskipun
bentuknya berbeda-beda.Masyarakat yang hidup lebih
kolektif (komunal), seperti
suku tradisional, kadang lebih
dermawan dalam memberi.Sedangkan masyarakat yang
sangat kompetitif atau
komersial, justru cenderung
menawarkan pembagian
lebih kecil.
1. Semua manusia punya rasa
adil, meskipun bentuknya
berbeda-beda
Dari penelitian di banyak negara
mulai dari Amerika, Jerman, Israel,
hingga suku-suku di pedalaman
para peneliti menemukan satu
hal yang sama:
tidak ada manusia yang suka
diperlakukan tidak adil.
Tapi “adil” itu ternyata tidak selalu
punya arti yang sama di setiap
tempat.
Misalnya:
Di negara maju, orang sering
berpikir adil = bagi hasil sama
rata (misalnya 50:50).
Misalnya dua orang pekerja
kantoran yang menyelesaikan
proyek bersama.
Kalau hasilnya dibagi 50:50,
semua merasa adil karena
kontribusi mereka dianggap
seimbang.
Jadi di sini, adil = sama rata.Tapi di beberapa masyarakat
tradisional, adil bisa berarti
yang bekerja lebih keras
mendapat lebih banyak.
Misalnya dua orang bertani
bersama.
Satu orang mengolah sawah
setiap hari, sedangkan
satunya hanya datang
sesekali membantu.
Kalau hasil panen dibagi 50:50,
justru dianggap tidak adil,
karena satu orang bekerja
lebih keras.Jadi di sini, adil = sesuai
usaha.
Jadi, rasa adil itu universal, tapi
bentuknya menyesuaikan
nilai dan budaya tiap
masyarakat.
Itulah sebabnya Kate Raworth
menekankan bahwa ekonomi
seharusnya memahami
keragaman manusia, bukan
hanya satu model kaku seperti
“manusia rasional”.
2. Masyarakat komunal
biasanya lebih dermawan
Ketika peneliti memainkan The
Ultimatum Game di komunitas
yang hidupnya gotong royong
dan saling berbagi, hasilnya
mengejutkan:
Orang-orang di sana justru
menawarkan pembagian
lebih besar, bahkan lebih
dari separuh.
Contohnya, di beberapa suku
pedalaman Amerika Selatan
dan Afrika:
Saat diberi Rp100.000, banyak
orang memilih memberi Rp60.000
atau Rp70.000 kepada orang lain.
Kenapa begitu?
Karena dalam budaya mereka,
kerjasama dan saling bantu
lebih penting daripada untung
pribadi.
Jika seseorang terlalu egois, ia bisa
kehilangan dukungan dari kelompok
dan itu jauh lebih “mahal” daripada
kehilangan uang.
Dengan kata lain, mereka berpikir
bukan dengan logika untung-rugi,
tapi dengan logika kebersamaan.
3. Masyarakat kompetitif atau
komersial cenderung lebih
egois
Sebaliknya, di negara-negara atau
kelompok masyarakat yang lebih
individualistis dan ekonomi
pasar-nya dominan, hasilnya
berbeda.
Misalnya di kota besar seperti New
York, Tokyo, atau Tel Aviv:
Orang cenderung menawarkan
pembagian yang lebih kecil
(misalnya 80:20 atau 70:30).
Kenapa begitu?
Karena di lingkungan yang sangat
kompetitif, orang terbiasa berpikir:
“Yang penting aku untung dulu.
Kalau kamu nggak mau, ya udah,
bukan urusanku.”
Namun, yang menarik ketika tawaran
terlalu tidak adil (seperti 90:10)
penerima tetap sering menolak,
bahkan di negara maju.
Artinya, rasa adil masih ada, hanya
saja batas toleransinya lebih rendah.
Eksperimen lintas budaya ini
mengajarkan bahwa:
Manusia di mana pun
peduli pada keadilan, tapi
cara mengekspresikannya
tergantung pada budaya.Komunitas yang komunal
lebih murah hati, karena
mereka hidup saling bergantung.Masyarakat yang
kompetitif lebih
perhitungan, karena mereka
terbiasa bersaing untuk bertahan.
Kate Raworth kemudian
menggunakan temuan ini
untuk menegaskan:
Ekonomi seharusnya tidak
berangkat dari asumsi bahwa
manusia itu egois.
Karena dalam kenyataannya,
manusia juga bisa adil, dermawan,
dan penuh empati tergantung
bagaimana sistem sosialnya
dibangun.
Jadi, rasa keadilan ternyata bukan
hal budaya Barat saja tapi naluri
manusia secara universal.
Hubungannya dengan Buku
Doughnut Economics
Kate Raworth mengutip hasil-hasil
penelitian ini untuk mendukung
kritiknya terhadap model “Rational
Economic Man” yaitu manusia
yang dianggap egois dan selalu
memaksimalkan keuntungan pribadi.
Eksperimen di Israel, Jerman, dan
AS justru membuktikan hal sebaliknya:
Kita bukan makhluk ekonomi yang
dingin dan serakah,
tapi manusia sosial yang peduli pada
keadilan dan hubungan timbal balik.
Dampak pada Dunia Nyata
Temuan seperti ini menunjukkan
bahwa manusia nyata tidak
sepenuhnya dikendalikan
oleh logika ekonomi, melainkan
oleh kombinasi nilai sosial, moral,
dan emosi.
Kita peduli pada keadilan, reputasi,
dan hubungan antarmanusia.
Tapi yang menarik seperti dicatat
oleh ekonom Amerika Robert
Frank adalah bahwa kepercayaan
kita tentang sifat manusia bisa
membentuk perilaku kita
sendiri.
Ketika orang belajar ekonomi dan
berulang kali diajarkan bahwa
manusia pada dasarnya egois,
mereka cenderung menjadi
lebih egois.
Penelitian menunjukkan bahwa
mahasiswa ekonomi lebih sering
mendukung perilaku individualistik
dan lebih jarang berderma
dibanding mahasiswa jurusan lain.
Dengan kata lain, model tentang
manusia bisa menjadi ramalan
yang terwujud sendiri.
Jika kita terus-menerus diberitahu
bahwa manusia itu mementingkan
diri sendiri, maka masyarakat yang
kita bangun akan benar-benar
mencerminkan itu.
Mengembalikan Kemanusiaan
ke Dalam Ekonomi
Kate Raworth mengajak kita untuk
meninggalkan paradigma sempit ini.
Menurutnya, ekonomi harus
dimulai dari pemahaman yang
lebih jujur tentang manusia
bahwa kita tidak hanya rasional,
tapi juga peduli, emosional, dan
terhubung satu sama lain.
Manusia bukan mesin perhitungan
laba rugi.
Kita bisa berempati, menolak
ketidakadilan, dan bekerja sama
bahkan ketika tidak ada
keuntungan pribadi yang jelas.
Inilah fondasi bagi ekonomi abad
ke-21: ekonomi yang dibangun
di atas keadilan dan kolaborasi,
bukan hanya kompetisi.
Kesimpulan: Saatnya
Menghapus “Manusia Ekonomi”
dari Pikiran Kita
Konsep Rational Economic Man
telah membantu membentuk teori
ekonomi selama berabad-abad,
tapi ia juga menyesatkan kita.
Ia membuat kita lupa bahwa
kehidupan manusia jauh lebih kaya
dan rumit daripada sekadar angka
dan logika.
Kita tidak hidup di dunia
spreadsheet,
kita hidup di dunia nyata tempat
di mana rasa hormat, empati, dan
keadilan jauh lebih menentukan
arah peradaban daripada sekadar
keuntungan pribadi.
Kate Raworth menulis bahwa
untuk membangun ekonomi
yang benar-benar manusiawi,
kita harus berani mengganti
gambaran lama itu dengan
yang baru:
manusia sebagai makhluk
sosial, saling bergantung,
dan memiliki hati nurani.
Karena hanya dengan cara itu,
ekonomi bisa kembali menjadi alat
untuk melayani kehidupan bukan
sebaliknya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Si “Manusia Ekonomi Rasional”:
Tokoh Fiksi yang Kita Percaya
Terlalu Lama
Bayangkan ada orang yang
setiap kali mengambil keputusan
hidup, selalu pakai kalkulator.
Mau makan apa? Hitung dulu mana
yang paling untung.
Mau bantu teman? Lihat dulu,
ada manfaatnya nggak buat
diri sendiri.
Kalau nggak ada keuntungan
pribadi, dia langsung bilang,
“nggak usah deh.”
Nah, orang seperti ini adalah
gambaran dari “Rational
Economic Man” si manusia
ekonomi rasional yang sudah
lama jadi tokoh utama dalam
teori ekonomi.
Masalahnya, tokoh ini cuma
karangan.
Tapi entah kenapa, dunia ekonomi
modern sudah memperlakukannya
seperti manusia sungguhan.
Awalnya Bukan untuk Disembah
Zaman dulu, sekitar abad ke-18, para
ekonom seperti Adam Smith dan
John Stuart Mill ingin membuat
teori yang bisa menjelaskan
bagaimana manusia mengambil
keputusan ekonomi.
Mereka menggambarkan manusia
sebagai makhluk rasional yang
selalu mempertimbangkan untung
dan rugi
tapi awalnya, itu cuma model
sederhana, bukan kenyataan.
Namun seiring waktu, model itu
berubah jadi cara berpikir
tentang manusia.
Kita mulai percaya bahwa semua
orang pasti egois dan hanya peduli
pada diri sendiri.
Padahal, bahkan John Stuart Mill
yang ikut mempopulerkan
konsep itu pernah bilang kalau
gambaran itu terlalu sempit.
Ia mengkritik model tersebut karena
seolah-olah manusia hanya hidup
untuk mencari uang dan
menghindari kerja keras.
Mill menegaskan, manusia nyata itu
punya perasaan, cinta, dan
kebutuhan sosial bukan hanya
angka di kepala.
Dari Warga Menjadi
“Konsumen”
Yang menarik, ketika cara
berpikir ini menyebar, dunia
ikut berubah.
Kita mulai melihat diri sendiri
bukan lagi sebagai warga negara,
tapi sebagai konsumen.
Kata “citizen” (warga) mulai jarang
muncul di media sejak
tahun 1970-an, tergantikan
oleh kata “consumer.”
Perbedaannya besar:
Warga negara peduli pada
kepentingan bersama, ikut
memikirkan lingkungan, dan
punya tanggung jawab sosial.Konsumen hanya fokus pada
memilih barang dan harga
terbaik untuk diri sendiri.
Akhirnya, seluruh sistem ekonomi
dan budaya modern dibangun
di atas keyakinan bahwa kita semua
makhluk individualis yang selalu
ingin “lebih banyak.”
Tanpa sadar, kita jadi masyarakat
yang selalu membandingkan diri,
takut kalah, dan sibuk mengejar
untung.
Eksperimen yang Membongkar
Mitos Ini
Tapi apakah benar manusia
seserakah itu?
Ada satu eksperimen menarik yang
membantahnya: The Ultimatum
Game.
Permainannya sederhana:
Dua orang tidak saling kenal.
Orang pertama diberi uang
(misalnya Rp100.000) dan
diminta membagi ke orang
kedua dengan bebas.Kalau orang kedua tidak setuju
dengan pembagian itu,
dua-duanya tidak dapat apa pun.
Kalau kita pakai logika “manusia
ekonomi rasional,” orang kedua
seharusnya selalu menerima
berapa pun jumlahnya,
karena “sedikit uang lebih baik
daripada tidak sama sekali.”
Tapi kenyataannya?
Banyak orang menolak tawaran
yang tidak adil.
Kalau ditawari cuma Rp10.000 dari
Rp100.000, mereka lebih baik
kehilangan semuanya daripada
menerima pembagian yang
tidak seimbang.
Eksperimen ini dilakukan di banyak
negara dari Jerman sampai Amerika
dan hasilnya mirip:
manusia lebih menghargai
keadilan daripada keuntungan
pribadi.
Artinya, kita bukan mesin hitung
laba rugi. Kita punya hati.
1. Aturan Dasar Game
Ada dua pemain:
Pemberi (A) dan
Penerima (B).A diberi uang (misalnya
Rp100.000).A bebas membagi uang itu
sesuka hati
50:50, 70:30, 90:10,
bahkan 99:1.B boleh terima atau
tolak tawaran.Kalau B terima
→ uang dibagi sesuai
tawaran.Kalau B tolak
→ dua-duanya tidak
dapat apa-apa.
2. Teori Ekonomi Lama
(Rational Economic Man)
Menurut teori ekonomi klasik,
manusia dianggap rasional dan
serakah.
Jadi, B seharusnya selalu
menerima berapa pun tawaran,
karena “lebih baik dapat sedikit
daripada tidak sama sekali.”
Dengan logika ini, A biasanya akan
menawarkan pembagian kecil
(misalnya Rp90.000 untuk A dan
Rp10.000 untuk B).
3. Tapi Hasil Nyatanya Berbeda
Ketika game ini dilakukan ribuan
kali di seluruh dunia, hasilnya
tidak seperti teori.
Rata-rata orang justru
menawarkan 50:50
atau 60:40.Kenapa? Karena mereka takut
tawarannya dianggap
tidak adil dan ditolak.Penerima sering menolak
tawaran yang di bawah
20–30%, karena merasa
“dipermainkan” atau
“dihina.”
Dengan kata lain, manusia bukan
hanya makhluk yang
menghitung untung-rugi.
Kita juga peduli pada harga diri,
reputasi, dan rasa adil.
Contoh 1: Pembagian Rata dan
Mau Menerima
Bayangkan dua teman, Rina dan
Dewi, sedang ikut permainan
pembagian uang.
Rina adalah “pemberi”,
Dewi “penerima”.
Rina mendapat Rp100.000 dan
harus menentukan berapa yang
akan ia bagi.
Rina berpikir,
“Kalau aku kasih setengah,
Dewi pasti merasa adil.”
Ia lalu berkata:
“Dew, ini kita bagi dua ya
Rp50.000 buat kamu,
Rp50.000 buat aku.”
Dewi tersenyum, menerima
uangnya, dan mereka berdua
senang.
Tidak ada rasa curiga,
tidak ada rasa dirugikan.
Rasanya seperti kerja sama,
bukan persaingan.
Dalam kasus ini, keadilan terasa
jelas, jadi keputusan diterima
dengan senang hati.
Contoh 2: Pembagian Tidak
Adil dan Ditolak
Sekarang bayangkan situasinya
sedikit berbeda.
Masih Rina dan Dewi, tapi
kali ini Rina berpikir lain.
Rina berkata:
“Aku ambil Rp90.000 ya, kamu
dapat Rp10.000. Kan lumayan
daripada nggak dapat.”
Dewi menatapnya lama.
Dia tahu Rp10.000 tetap uang,
tapi merasa dipermainkan.
“Kok segitu? Nggak adil banget,”
katanya.
“Kalau gitu, mending nggak usah!”
Dewi menolak, dan akhirnya
dua-duanya tidak dapat apa-apa.
Rina kaget — dalam pikirannya,
Dewi “tidak rasional.”
Tapi sebenarnya Dewi hanya
menegakkan rasa adil dan
menunjukkan bahwa hubungan
sosial lebih penting daripada
uang Rp10.000.
Makna dari Dua Kisah Ini
Kate Raworth ingin menunjukkan
bahwa manusia bukan robot
ekonomi yang selalu mencari
keuntungan pribadi.
Kita ingin adil, dihormati, dan
diperlakukan setara.
Karena itu, dalam dunia nyata:
Orang cenderung menerima
tawaran jika pembagian
terasa wajar (seperti 50:50
atau 60:40).Tapi kalau pembagian terlalu
timpang, banyak yang lebih
memilih kehilangan uang
daripada kehilangan
harga diri.
4. Apa yang Ditunjukkan dari
Sini?
Eksperimen ini menunjukkan
bahwa:
Ekonomi tidak bisa dijelaskan hanya
dengan angka dan logika dingin.
Manusia punya hati, emosi, dan
moral yang ikut memengaruhi
keputusan ekonomi.
Kate Raworth menjadikan ini bukti
penting untuk menggugat model
“Rational Economic Man”, yang
menganggap manusia selalu egois
dan kalkulatif.
Nyatanya, kita juga punya naluri
untuk bersikap adil dan peduli
pada orang lain.
5. Contoh Sehari-Hari
Coba pikirkan saat kamu makan
bersama teman:
Ada satu potong ayam terakhir
di meja.
Secara “rasional”, kamu bisa saja
langsung ambil kan kamu juga lapar.
Tapi kebanyakan orang
justru berkata:
“Kamu aja deh, aku udah kenyang.”
Nah, keputusan itu tidak “rasional”
secara ekonomi,
tapi manusiawi secara sosial.
Dan itu lah yang ingin ditekankan
Doughnut Economics:
kita perlu membangun sistem
ekonomi yang memahami sifat
manusia seutuhnya,
bukan cuma versi egois yang
hidup di atas kertas.
Saat Teori Mengubah Cara
Kita Berperilaku
Yang agak mengerikan,
penelitian lain menunjukkan bahwa
belajar teori ekonomi klasik
bisa membuat orang jadi
lebih egois.
Mahasiswa ekonomi yang
terus-menerus diajarkan tentang
“manusia rasional dan egois”
akhirnya benar-benar mulai
berperilaku egois dalam
kehidupan nyata.
Mereka jadi lebih mendukung
sistem yang kompetitif, lebih
setuju kalau orang mementingkan
diri sendiri,
dan lebih jarang berbagi dibanding
mahasiswa jurusan lain.
Dengan kata lain, Cara kita dididik
membentuk siapa kita
di kemudian hari.
Kalau kita terus diajarkan bahwa
dunia penuh orang egois, kita pun
akan hidup dengan sikap curiga
defensif.
Jadi, Manusia Itu Sebenarnya
Siapa?
Kate Raworth bilang, sudah waktunya
kita “memecat” si Rational Economic
Man dari pusat teori ekonomi.
Karena dia tidak pernah nyata.
Kita bukan makhluk yang selalu
menghitung untung rugi; kita juga
makhluk yang peduli, adil, dan
suka bekerja sama.
Contohnya banyak di sekitar kita:
Ibu-ibu yang saling bantu
masak di dapur umum saat
bencana.Teman yang menjemput
kamu tanpa minta bensin
dibayar.Komunitas yang patungan
untuk bantu tetangga sakit.
Itu semua bukan tindakan “rasional”
versi ekonomi klasik.
Tapi itulah rasionalitas manusia
nyata logika yang digerakkan oleh
empati, bukan hanya keuntungan.
Ekonomi yang Lebih Manusiawi
Kalau teori ekonomi ingin relevan
dengan dunia nyata, kata Raworth,
maka ia harus kembali melihat
manusia apa adanya.
Bukan robot penghitung, tapi
makhluk sosial yang saling
terhubung dan ingin hidup
seimbang.
Ekonomi yang baru bukan soal
siapa yang paling kaya,
tapi bagaimana semua orang bisa
hidup cukup tanpa melampaui
batas bumi.
Itulah inti dari Doughnut
Economics: ekonomi yang tidak
sekadar menghitung angka, tapi
juga menghitung rasa kemanusiaan.
Kesimpulan
Selama ini, kita hidup dalam dunia
yang meyakini bahwa manusia
pada dasarnya egois.
Tapi bukti di sekitar kita dari
gotong royong sampai
tolong-menolong menunjukkan
hal sebaliknya.
Kita bukan “manusia ekonomi
rasional.”
Kita adalah manusia sosial, penuh
pertimbangan, emosi, dan rasa
keadilan.
Dan kalau kita mulai membangun
sistem ekonomi dengan
pandangan itu,
mungkin dunia bisa jadi tempat
yang lebih adil, tenang, dan
berkelanjutan untuk semua.
